Turut Prihatin atas Peristiwa yang Menimpa Saudaraku !

Mengapa teman Anda merasa tidak berdaya (powerless) ?

Sesungguhnya teman Anda tidak sama sekali hilang kesadarannya, 
melainkan hanya merasa tidak berdaya (powerless) untuk keluar dari 
perangkap / labirin mental tersebut.

Sama seperti orang yang terperangkap dalam "alur cerita" sinetron / 
drama radio bersambung. Misal : Seseorang yang telah mengikuti alur 
cerita beberapa episode berturut-turut biasanya mulai hanyut 
dalam "alur cerita" dan jika harus kehilangan 1 (satu) episode 
ditengah akan merasa sangat tidak nyaman. 

Cara menyadarkannya : Anda telah menjadi korban Sutradara karena itu 
hanyalah sebuah cerita.

Sama seperti orang yang terperangkap pada "alur cerita" silat Kho 
Ping Ho, yang merasa tidak nyaman jika kehilangan 1 (satu) jilid 
ditengah tengah cerita. 

Katakan : Anda telah menjadi korban pengarang cerita karena itu 
hanyalah sebuah cerita.

Dan terhadap korban korban seperti teman Anda, katakan : Anda telah 
menjadi "korban" pemerasan / penipuan berkedok Agama atau bisa juga 
untuk tujuan pemurtadan, karena Islam tidak pernah :

1. mengajarkan jihad fisabilillah dengan meninggalkan jihad itu 
sendiri (meninggalkan kuliah)

2. mengajarkan jihad dengan meninggalkan sholat, melepaskan jilbab  

3. mengajarkan jihad dengan membuat keputusan meninggalkan keluarga 
secara terburu buru dsb.

Tehnik yang dipakai adalah membuat diri Anda bingung terlebih dahulu 
dan pada saat Anda bingung itulah Anda "dipandu".

Justru munculnya rasa bersalah / merasa diri kotor semakin 
menjerumuskan Anda dalam perangkap / labirin mental lebih dalam 
lagi. 

Tehnik ini hanyalah merupakan varian dari tehnik tehnik "hipnosis" 
seperti gendam, penggandaan uang, penipuan tawaran kerja, penipuan 
menggunakan SMS dsb. 

Cara Membebaskan Diri Dari Perangkap Mental :

1. Apabila kita sudah berada dibawah pengaruh, ciri cirinya : tetap 
sadar, tetapi merasa tidak berdaya (powerless) seolah terjebak dalam 
sebuah perangkap / labirin mental, katakan :

- "Tepat pada hitungan ketiga saya memegang kendali penuh atas 
pikiran dan perasaan saya." atau

- "Saya pegang kendali atas diri saya, mulai sekarang !   

Maafkan diri Anda atas kebodohan yang Anda lakukan sendiri dan 
rebutlah kembali kendali subjek atas diri Anda.

2. Temui atau SMS teman Anda yang pertama kali "mempengaruhi" Anda 
dan katakan, bahwa Anda kecewa karena mereka telah menciderai / 
menyalahgunakan kepercayaan Anda. 

3. Lakukan tuntutan secara hukum kepada pihak pihak yang telah 
memeras / menipu Anda. Sebelum melakukan penuntutan, mintalah 
dukungan dari keluarga, aparat berwenang, ulama/jama'ah di sekitar 
Anda. 

Cara Pencegahannya :

1. Dalam keadaan rileks misal : saat tidur tidur ayam di bis, saat 
menjelang tidur, ataupun menjelang bangun tidur katakan / niatkan 
dalam hati :" Saya menolak semua bentuk dominasi negatif atas diri 
saya dan mulai sekarang saya memegang kendali penuh atas pikiran 
pikiran dan perasaan perasaan saya!"

2. Bantulah menyebar-luaskan tulisan ini sebanyak banyaknya.

Abdi Cipta


--- In [email protected], "vitri dianawati" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> *Assalamualaikum Warahmatullah Wabaraktuh.*
> **
> *Sekedar sharing, barangkali bermanfaat bagi kita semua.*
> **
> *Wasslamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.*
> 
> -----------
> 
> Kali pertama saya mendengar pengakuan dari Ema, mahasiswa semester 
IV di
> Fakultas Sastra Universitas Diponegoro. Suatu kali ia diajak 
seorang
> temannya bernama Ratih untuk membeli flash disk di Java Supermall, 
salah
> satu mall terbesar di kota Semarang. Teman Ema itu bilang, ada 
pameran
> komputer di sana. Tanpa curiga, Ema menerima ajakannya.
> 
> Sesampainya di Java Supermall Ema diperkenalkan dengan teman Ratih 
yang
> secara tak sengaja bertemu dengan mereka. Beberapa saat mereka 
terlibat
> perbincangan. Tak lama kemudian datang dua orang teman Ratih. 
Salah satunya
> adalah teman lama Ratih di SMA. Salah seorang dari kedua teman 
Ratih itu
> kemudian bilang, hendak memperkenalkan Ratih dan Ema dengan 
seorang teman
> dari Jakarta. Namanya Wawan. Wawan ini telah beberapa kali 
mengikuti seminar
> tentang Islam hingga ke Malaysia. Tak lama kemudian datanglah 
orang yang
> dimaksud.
> 
> "Nah, mumpung lagi ketemu sama mas Wawan gimana kalau kita ngobrol 
sebentar.
> Soalnya dia banyak pengalaman. Sayangkan kalau kesempatan ini 
dilewatkan,"
> kata teman Ratih yang baru saja dikenalkan kepada Ema itu.
> 
> Mereka menuju ke restoran siap saji Mc Donald. Di sini Wawan 
menyampaikan
> pengalamannya selama mengikuti seminar tentang islam di beberapa 
tempat di
> tanah air hingga ke luar negeri.
> 
> "Anda muslim? Apa yang anda banggakan dari negara Indonesia ini?" 
Wawan
> membuka diskusi.
> 
> Menurut Wawan negara Indonesia bukan negara yang ideal bagi umat 
muslim.
> Produk-produk hukum yang ada bukan merupakan hukum Islam. Sebagai 
muslim
> yang taat, maka kita perlu menegakkan syariat Islam. Satu-satunya 
yakni
> dengan membentuk negara Islam. Untuk itu, kita perlu melakukan 
jihad
> menjadikan negara Indonesia sebagai negara Islam.
> 
> Wawan memberikan penjelasan dengan penuh semangat. Kata Ema, 
seperti orang
> yang tengah mempresentasikan bisnis MLM. Sesekali ia membuka Al 
Qur'an
> berukuran saku dan membacakan dalil-dalil untuk mendukung 
argumentasinya.
> 
> Dikatakan Wawan jika kita sepakat, maka kita perlu berjihad. 
Berjihad secara
> total, tidak setengah-setengah. Rela memberikan apa yang kita 
cintai untuk
> berjuang di jalan Allah.
> 
> "Sekarang, berapa kemampuan anda untuk bershodaqoh di jalan 
Alloh," tanya
> Wawan.
> 
> "Tiga juta," jawab salah seorang.
> "Tujuh juta," jawab lainnya.
> 
> Kini giliran Ema. Ia masih terdiam. Ia tak membawa uang sebesar 
itu.
> 
> "Sekarang, barang apa yang paling anda cintai. Jika anda mengaku 
sebagai
> umat muslim, maka kapanpun harus bersedia menyedekahkan untuk di 
jalan
> Alloh," tanya Wawan lagi.
> 
> "Radio. Salah satu barang milik saya yang saya sukai adalah 
radio," jawab
> Ema dengan lugu.
> 
> Tapi jawaban Ema itu dimentahkan oleh Wawamn. Menurutnya radio 
bukan barang
> yang layak untuk sedekah, selain barang itu kini tak ada di tangan 
Ema,
> nilai nominal radio relatif rendah. "Yang sekarang anda bawa?" 
tanya Wawan
> lagi.
> 
> Ema merasa terpojok. Satu-satunya barang yang dibawanya, yang 
paling
> disukainya, tak lain adalah Hand Phone Nokia N-Gage. Tapi dia 
berat untuk
> melepaskannya. Ini handphone satu-satunya.
> 
> "Handphone," jawab Ema, setengah terpaksa.
> "Tapi, handphone ini bukan milik saya. Ini punya kakak saya. Ia 
yang
> membelinya. Saya harus minta ijin dulu kepada kakak saya," 
jawabnya memberi
> alasan. Sebenarnya ia tak rela jika harus memberikan handphone 
itu, entah
> untuk jihad di jalan tuhan. Maka ia sebisa mungkin mencari alasan.
> 
> "Tidak, kalau anda mau sodaqoh tak boleh ditunda-tunda. Harus 
segera," jawab
> Wawan. Ia kemudian membacakan dalil yang menerangkan bahwa Nabi 
Muhammad
> bersedekah dengan memberikan harta miliknya yang sebenarnya sangat
> disayangi.
> 
> Maka, dengan berat hati Ema pun menyerahkan Handphone itu. Salah 
seorang
> mengatakan Handphone itu akan digadaikan. Uangnya nanti akan 
digunakan untuk
> keperluan jihad di jalan Alloh. Beberapa saat kemudian, kurang 
dari 15
> menit, seorang yang menggadaikan handphone itu kembali. Katanya, 
sudah
> beres. Eva mulai curiga, "kok secepat itu," pikirnya.
> 
> "Sekarang, anda harus segera membersihkan diri. Saya ajak anda 
untuk
> hijrah," kata Wawan. Hijrah kemana? Ke suatu tempat, di sana Ema 
akan
> dibersihkan diri. Hmm....
> 
> "Tapi saya harus pulang ke kos dulu. Saya belum bawa apa-apa. Saya 
perlu
> persiapan," kata Ema.
> 
> Lagi-lagi jawaban Ema ditolak. Dikatakan, jika hendak bertaubat 
maka harus
> dilaksanakan dengan segera, tak boleh ditunda-tunda. Anjuran 
hijrah ini
> katanya seperti yang dilakukan oleh Rosulullah saat berhijrah dari 
Makkah ke
> Madinah.
> 
> Salah seorang bilang kepada Ema jika dirinya akan diajak pergi ke 
Jakarta.
> Dari Java Supermall mereka kemudian mereka menuju ke stasiun 
kereta api
> Poncol. Sore menjelang maghrib mereka tiba di stasiun. Mereka 
memesan tiket
> kereta yang berangkat pukul 18.00, tapi rupanya tiket yang 
dimaksud sudah
> habis dipesan. Jam keberangkatan selanjutnya sekitar pukul 21.00. 
Artrinya
> mereka masih harus menunggu beberapa jam lagi.
> 
> Ema merasa ada yang tak beres. Ia meminjam handphone Ratih untuk 
menghubungi
> pacarnya. Selang beberapa menit kemudian sang pacar menelponnya 
dengan nada
> marah-marah setelah mengetahui Ema hendak pegi ke Jakarta. Tak 
lama kemudian
> sang pacar datang ke stasiun menemui Ema dan memarahinya. Ema 
diajaknya
> pulang. Teman Ema dan orang yang hendak mengajaknya ke Jakarta itu 
kabur
> entah kemana.
> 
> ****
> Mendengar cerita Ema itu, saya mulai curiga, ada yang tak beres 
dengan
> "gerakan jihad" yang hendak membawa Ema ke Jakarta itu. Pertama, 
ajakan itu
> terkesan memaksa. Kemudian, konsep shodaqoh itu saya artikan 
sebagai
> pemerasan. Lantas, jihad macam apa itu?
> 
> Saya menduga Ratih telah menyusun skenario untuk mempertemukan Ema 
dengan
> teman-temannya. Mulanya mengajak untuk membeli flash disk, di 
tempat yang
> dimaksud sudah disiapkan teman-teman yang akan memberikan 
presentasi kepada
> Ema tentang konsep Khilafah Islamiyah(Negara Islam). Ini jelas 
cara yang
> picik, licik, yang dipakai untuk sebuah tujuan berjuang di jalan 
kebenaran.
> 
> "Apa kamu tertarik dengan konsep negara Islam," tanya saya kepada 
Ema.
> "Saya penasaran, saya ingin tahu," jawab Ema, mahasiswa yang masih 
lugu soal
> wacana Islam ini.
> 
> Saya katakan, apa perlunya mendirikan negara Islam. Apakah untuk 
menjadi
> seorang muslim kita harus hidup di negara Islam. Apa di Indonesia 
sekarang
> muslim tak bisa menjalankan sholat, tak bisa melakukan ibadah?
> 
> Saya ajak dia kembali mengenang sejarah masuknya agama Islam ke 
tanah air.
> Waktu itu agama Islam dibawa oleh para pedagang dari Arab. Mereka
> menyebarkan Islam di daerah-daerah yang disinggahinya. Setahap 
demi setahap,
> agama Islam mulai berkembang di daerah pesisir. Sementara itu, di 
daerah
> lain, daerah perkotaan, pegunungan, yang belum dijamah oleh para 
pedagang
> Arab itu masih banyak yang memeluk kepercayaan Hindu-Budha.
> 
> "Kau ingat bagaimana Wali Songo memperkenalkan agama Islam kepada 
masyarakat
> Jawa. Masyarakat yang menurut Cliffort Geertz dibedakan ke dalam 
tiga
> golongan: Santri, Abangan, dan Priyayi," tanya saya kepada Ema.
> 
> Dalam menyebarkan agama Islam Wali Songo, terutama yang dimotori 
oleh Sunan
> Kalijaga menggunakan cara-cara yang begitu lentur, melalui 
pendekatan budaya
> dan kesenian. Ia menggunakan kesenian wayang untuk menyebarkan 
agam Islam.
> Tokoh-tokoh perwayangan yang sebelumnya dikenalkan dalam kebudayaan
> Hindu-Budha itu, diganti dengan tokoh-tokoh yang ada di sejarah 
islam.
> Kalijaga tak hendak membuang budaya yang selama ini telah melekat 
di
> masyarakat Jawa itu dengan menggantikannya dengan syariat Islam. 
Ia memakai
> cara-cara yang lunak, menyusupi budaya lama itu dengan nilai-nilai 
Islam.
> Ibarat tempurung, ia tak memecah tempurung itu, tapi ia cuma 
membuang
> isinya, dan mengisinya kembali dengan nilai-nilai dan ajaran Islam.
> 
> Dengan pemahaman Islam ala Sunan Kaljaga itu, menjadi Islam tak 
harus dengan
> menggunakan aturan-aturan yang saklek seperti di Arab, seperti 
yang tertulis
> di Al Qur'an. Agama Islam di Indonesia tak harus seperti yang ada 
di Arab.
> Agama mengenal budaya, agama bukan milik satu masyarakat berdasar 
letak
> geografis, tapi agama bisa masuk ke jenis masyarakat dengan jenis 
kultur dan
> budaya apapaun. Dan siapapun bisa menjadi Islam, termasuk orang 
Jawa yang
> masih percaya terhadap sedekah laut, misalnya.
> 
> ****
> Siapa teman yang mengajak Ema untuk menjadi jemaah yang hendak 
mendirikan
> negara Islam itu?
> 
> Saya terkejut bukan main mengetahui bahwa orang yang mengajaknya 
adalah
> orang yang saya kenal. Yunior saya, yang saya kenal memiliki latar 
belakang
> pesantren, dan beberapa kali terlibat diskusi soal pluralisme. Dan 
ternyata
> tak cuma Ema, masih ada korban-korban lainnya, Fauzi, Fani, 
Fatima, yang
> diantaranya sudah ada yang telah terlibat lebih jauh, telah dibawa 
ke
> Jakarta untuk dibersihkan. Modus yang dipakai hampir sama, dari 
mereka
> membuat janji bertemu di toko buku, di rumah makan; kemudian 
dikenalkan
> kepada teman; bershodaqoh alias memeras; diajak hijrah ke Jakarta; 
dicuci
> otak dan sepulangnya menjadi tertutup, sering menghilang dan lain-
lain.
> 
> Dari korban bernama Fani saya dapat cerita bagaimana dia sampai di 
Jakarta (
> (tapi belum bisa dipastikan, apakah benar di Jakarta. Cuma waktu 
itu korban
> menumpang kereta juruasan Jakarta, kemudian dijemput mobil, entah 
dibawa ke
> mana). Ia bersama Adi, diduga pemain lebih dulu yang mengajak 
Ratih,
> menumpang kereta kelas ekonomi. Ia berangkat dari Semarang lepas 
pukul 24.00.
> Tiba di Jakarta menjelang subuh. Seturun dari kereta ia dijemput 
sebuah
> mobil. Ia diminta menutup mata hingga sampai di tempat tujuan. 
Tibalah ia di
> suatu ruangan tertutup. Di sana ia "dicuci-otaknya".
> 
> Dari Fani pula saya tahu gerakan Islam itu dinamai NKA (Negara 
Karunia
> Allah), kadar keislaman dan ubudiyah mereka. Mereka menafsir ayat-
ayat Al
> Qur'an secara sepotong-potong untuk kepentingan mereka. Bahkan 
mereka tampak
> tak mengusai ilmu tafsir. Bani Israil dikatakan berasal dari kata 
Bani yang
> berarti anak, Isra+lail yang berarti perjalanan malam. Bagi anda 
yang
> mengetahui ilmu tafsir, pasti akan tertawa dengan penafsiran 
jemaah NKA ini.
> 
> Anggota Jemaah NKA yang mengaku hendak mendirikan Negera Islam itu 
dalam
> ubudiyahnya ternyata tak melakukan syariat Islam. Sepulang dari 
Jakarta,
> tempat yang disebutnya sebagai tempat hijrah mensucikan diri, Fani 
diajak ke
> satu tempat, yang saya duga di daerah Semarang atas, tepatnya 
Ngesrep yang
> terletak tak jauh dari Kampus Undip Tembalang. Entah atas pengaruh 
apa, Fani
> waktu itu yang diminta menutup mata ketika diboncengkan motor tak 
mencoba
> untuk mencari tahu hendak ke mana dia dibawa pergi. Ia tak mencoba 
membuka
> mata untuk mencari tahu. Apa mungkin ada pengaruh magis?
> 
> Setiba di suatu tempat, yang mirip tempat kos, dia bertemu dengan 
beberapa
> perempuan yang semuanya tak mengenakan Jilbab. Dia bertanya, 
kenapa tak
> mengenakan jilbab. Dijawab, mereka yang sedang berjihad tak 
diwajibkan
> memakai Jilbab. Begitu pula, ketika Fani bertanya kenapa mereka 
tak Sholat,
> dijawab orang yang lagi berjihad sholatnya sudah ditanggung oleh 
Imam. Kita
> ini lagi dalam kondisi darurat, seperti perang, kata lainnya. Baru 
setelah
> berhasil mendirikan Negara Islam, kita wajib menjalankan syariat 
Islam. Tak
> jauh dari kos perempuan itu, selang 100-an meter Fani dibawa ke 
tempat kos
> pria.
> 
> Apakah anda bisa menerima alasan itu, apakah alasan itu masuk akal?
> 
> Imam, siapa imam mereka. Kondisi darurat perang, perang melawan 
siapa.
> Jihad, jihad untuk apa?
> 
> Saya cemas, saya tak rela membiarkan kejadian ini berlarut-larut. 
Saya tak
> ikhlas menyaksikan korban-korban berjatuhan atas dasar mendirikan 
negera
> Islam dan berjihad di jalan Allah. Bagi saya, itu alasan politis, 
alasan
> yang sangat tolol, pemerasan, pendangkalan ajaran agama!
> 
> Dari cerita beberapa teman di kampus, dua orang yang kini diduga 
telah
> menjadi bagian dari jemaah Negara Islam, yang disebutnya Negara 
Karunia
> Alloh (NKA) itu kini dalam kesehariannya menjadi aneh. Ia menjadi 
tertutup.
> Beberapakali mereka menghilang, tak menampakkan batang-hidungnya 
di kampus.
> Padahal sebelumnya mereka tak seperti itu.
> 
> Suatu hari saya merencanakan skenario untuk menjebak dua orang 
itu. Saya
> minta salah seorang korban untuk membuat janji bertemu di kampus. 
Saya ingin
> mengajaknya diskusi. Tanpa rencana seperti ini, sulit bagi saya 
untuk bisa
> bertemu dengannya. Jam terbangnya sekarang sudah cukup tinggi. Ia 
cuma
> sesekali nongol di kampus. Itupun saya duga untuk mencari mangsa 
baru.
> 
> Saat Adi sedang menunggu korban, saya menghampirinya. Saya pura-
pura tak
> tahu. Saya ajak ngobrol hal remeh-temeh. Kemana saja kok jarang 
keliahatan.
> Gimana kabarnya. Saya singgung-singgung soal kondisi di Indonesia 
yang
> belakangan bermunculan gerakan-gerakan fundamentalisme Islam. Baru 
kemudian,
> saya minta dia untuk memberikan pengakuan atas apa yang dia 
lakukan selama
> ini.
> 
> Tapi, dia tak mau mengakuinya. Dia terus berkelit, kendati sudah 
ketangkap
> basah.
> 
> "Oke, kamu tak mau mengakuinya, tak masalah. Kukira kau saat ini 
sedang
> punya masalah. Jangan anggap aku ini musuhmu. Aku tetap 
menganggapmu sebagai
> teman, sebagai adikku. Kapanpun kau akan mengajak diskusi, aku 
siap.
> Kapanpun kau butuh perlindungan, aku siap bahkan untuk 
menggerakkan semua
> teman-teman di kampus untuk melindungimu," kataku kepada Adi.
> 
> Saya berkata demikian, karena saya merasa ada sesuatu yang 
disembunyikan.
> Dia memang tampak begitu tenang. Bisa saja dia sudah dicuci 
otaknya,
> sehingga seolah-olah ia tak sadar dengan apa yang dilakukannya 
kini. Atau
> sebenarnya dia sadar, tapi dia takut untuk keluar dari komunitas 
itu, karena
> ancaman yang mengerikan. Saya bisa menyimpulkan ini dari beberapa 
korban
> yang telah memberikan pengakuan kepada saya. Waktu itu mereka 
ketakutan
> karena sudah terlanjur memberikan biodata lengkap, termasuk nama 
orang tua
> dan alamat rumahnya. Beberapa kali para korban itu menerima SMS 
dari anggota
> NKA. Korban diminta untuk tetap berkomunikasi dan tetap menjaga 
rahasia.
> Adakah ancaman yang mengerikan jika korban membuka rahasia itu ke 
orang di
> luar kumintas NKA? Mungkin saja!
> 
> Dari pengakuan Ema dan para korban lainnya, serta modus-modus yang 
digunakan
> oleh orang-orang yang hendak mengajak korban, saya menduga mereka 
yang
> menamakan aktivis NKA itu tak jauh beda dengan jemaah Negara Islam 
Indonesia
> (NII) yang telah meresahkan banyak orang. Dari penelusuran di 
internet,
> ternyata sudah banyak korban semacam Ema dengan modus yang sama. 
Sudah
> banyak laporan dari keluarga korban ke pihak kepolisian. Lalu 
kenapa
> sindikasi ini hingga kini masih terus berkembang? Ada dugaan kuat, 
NII ini
> punya backing inteljen ataupun TNI. Silakan baca di
> sini<http://swaramuslim.net/EBOOK/html/014/index1.htm>.
> ****
> 
> Sumber :
> http://hanyaudin.blogspot.com/2007/04/negara-islam-yang-
meresahkan.html
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke