[baca: Buruh Bersiap Menyambut May Day]

Sehari menjelang peringatan hari buruh 1 Mei atau lebih dikenal May Day, banyak 
pekerja sudah menggelar aksi. Di Depok, Jawa Barat, umpamanya. Hari ini (30/4), 
mereka berkonvoi mendatangi Kantor DPRD Kota Depok. Aksi serupa digelar 
sebagian buruh di Bogor, Jabar, dengan tuntutan agar tanggal 1 Mei dijadikan 
hari libur nasional .  Dengan dikawal ketat polisi, ratusan buruh Depok yang 
tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional Kota Depok. Sejak jam sembilan pagi, 
mereka konvoi dari persimpangan Depok, Jatijajar, Cimanggis menuju gedung wakil 
rakyat setempat. Konvoi ini merupakan rangkaian peringatan Hari Buruh yang akan 
digelar serentak pada 1 Mei, besok. Tepat di Kantor Dewan, para pekerja itu 
menegaskan kembali apa yang menjadi tuntutannya.
  Tuntutan lainnya, pemerintah diminta mengawasi penggunaan dana Jaminan Sosial 
dan Tenaga Kerja atau Jamsostek. Rencananya, buruh dari Depok itu bertolak ke 
Kota Bandung. Di sana, mereka bakal bergabung dengan pekerja lain agar bisa 
memperingati May Day di Lapangan Gasibu, esok hari [baca: Besok Bandung Lautan 
Buruh].
  Rencana peringatan Hari Buruh ditanggapi Menteri Tenaga Kerja dan 
Transmigrasi Erman Suparno. Menteri Erman meminta para buruh untuk tak 
menggelar aksi yang anarkis dan melanggar hukum.
  Setiap tanggal 1 Mei, para pekerja di banyak negara biasanya menyambut Hari 
Buruh Dunia dengan satu harapan, yakni nasib mereka akan jauh lebih baik. Dan 
contoh kecil kehidupan para buruh dapat dilihat di Tangerang, Banten.
  Desa Bunder di Kecamatan Cikupa, Tangerang, adalah salah satu wilayah hunian 
bagi puluhan ribu kaum buruh. Di wilayah yang masuk Provinsi Banten itu paling 
tidak ada puluhan pabrik. Pabri memang banyak, tapi kehidupan para buruh di 
sana tetap memprihatinkan. Mereka rata-rata hidup bersahaja atau penuh 
kesederhanaan.
  Siti, misalnya. Seorang buruh di sebuah pabrik garmen itu sudah enam tahun 
tinggal di kamar sewaan berdinding bilik bambu. Ia bertahan hidup bersama suami 
dan dua anaknya dengan upahnya sebagai buruh yang hanya sebesar Rp 880 ribu per 
bulan.
  Rumah kontrakan yang sedikit lebih nyaman dibanding tempat tinggal Siti 
adalah yang dihuni oleh Ali. Lelaki ini sudah sebelas tahun menjadi buruh. Tapi 
sebagai konsekuensinya, ia harus mengeluarkan uang kontrakan dua kali lipat 
lebih besar dari Siti.
  Siti dan Ali hanyalah sekelumit potret buram kehidupan buruh di negeri ini. 
Dan pada Hari Buruh Dunia 1 Mei besok, Ali berencana turun ke jalan, 
memperjuangkan kehidupan buruh agar lebih baik.
(ANS/)

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke