ceritanyamu sangat menyentuh hati....
aq sangat terharu tukmembacanya...
kmu sunguh beruntung....
aq berharap bisa terlahir ke dunia ini untuk ke2 kali
dengan ibu seperti itu...

--- In [email protected], "Evi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Subject: KEBOHONGAN IBU....
> Delapan Kebohongan Seorang Ibu Selama Hidupnya
> 
> 
> 
> Sayang ibu...sayang ibu....
> 
> 
> 
> Subject: [H W] (Artikel) Delapan Kebohongan Seorang Ibu Selama Hidupnya
> 
> 
> 
> It's a touching story..
> 
> 
> 
> Delapan Kebohongan Seorang Ibu Selama Hidupnya
> 
> Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan
> membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi
kisah ini
> justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari
> kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari
penderitaan,
> ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang
> paling indah di dunia.
> 
> Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak
> laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja,
> seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya
> untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata:
"Makanlah nak,
> aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
> 
> Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu
> senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap
dari
> ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk
> petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan
> mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di
sampingku
> dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang
merupakan
> bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati
> juga tersentuh, lalu menggunakan sendokku dan memberikannya kepada
ibuku.
> Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku
tidak
> suka makan ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
> 
> Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan
kakakku, ibu
> pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk
ditempel, dan
> hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan
> hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku,
melihat
> ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan
> pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah
> malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata
> :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek" ---------- KEBOHONGAN IBU
YANG KETIGA
> 
> Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi
> ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang
> tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa
jam.
> Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu
dengan
> segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam
botol yang
> dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan
dengan kasih
> sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku
segera
> memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata
> :"Minumlah nak, aku tidak haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
> 
> Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
sebagai
> ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus
> membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun
semakin susah
> dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang
> semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat
> rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil.
Tetangga
> yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara,
> seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang
memang keras
> kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak
butuh
> cinta" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
> 
> Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
> bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak
mau, ia
> rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk
> memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di
luar kota
> sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu,
> tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim
> balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya punya duit" ----------
KEBOHONGAN
> IBU YANG KEENAM
> 
> Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian
> memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat
> sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di
perusahaan
> itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk
> menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud
tidak mau
> merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa" ----------
> KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
> 
> Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung,
> harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra
> atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku
melihat
> ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi.
Ibu yang
> keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum
> yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang
ditahannya.
> Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga
> ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil
> berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam
kondisi
> seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "jangan menangis
anakku,
> Aku tidak kesakitan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
> 
> Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup
> matanya untuk yang terakhir kalinya.
> 
> Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa
> tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu !"
> 
> Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon
ayah ibu
> kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk
> berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita
yang padat
> ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan
ayah ibu
> kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di
rumah.
> 
> Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan
pacar
> kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas
apakah dia
> sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.
> 
> Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
> Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu
kita sudah
> bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan
kembali
> lagi..
> 
> Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita,
> lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di
kemudian hari.
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke