Cabang-Cabang Akhlak
 
Manusia adalah makhluk sosial di samping sebagai individu yang unik. 
Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan orang lain sebagai medan 
aktualisasi diri. Tanpa orang lain manusia tidak akan menjadi 
manusia. Manusia akan menjadi siapa juga bergantung dengan siapa is 
hidup bermasyarakat. Pergaulan sosial masyarakat akan melahirkan 
norma-norma sosial, suatu nilai yang disepakati oleh masyarakat 
sebagai kebaikan atau keburukan, dan dalam hal ethics disebut etika 
sosial, dan dalam ilmu akhlak disebut al ma'ruf, yaitu sesuatu yang 
secara sosial diketahui umum sebagai kebaikan. Sesuai dengan luasnya 
lingkup pergaulan manusia maka dalam etika lahir cabang-cabang etika, 
seperti etika sosial, etika politik, etika bisnis, etika kedokteran 
dan sebagainya, yang kesemuanya merupakan tuntunan tentang apa yang 
sebaiknya dilakukan dan apa yang tidak selayaknya dilakukan dalam 
bidangnya masing-masing. Sesuai dengan ruang lingkup ethica yang 
bersumber kepada akal atau kebudayaan, maka cabang-cabang etika, 
kesemuanya mengatur tata nilai hubungan horizontal antar manusia.

Adapun akhlak yang bersumber kepada nilai-nilai universal wahyu, 
ruang lingkupnya mencakup hubungan horizontal antara manusia dengan 
manusia lain dan alam sekitarnya dan hubungan vertikal manusia dengan 
Tuhannya. Secara rinci akhlak manusia dalam perspektip hubungan 
vertikal dan horizontal adalah sebagai berikut:


1. Akhlak Terhadap Nabi
Tuhan memberikan petunjuk kepada manusia dalam empat tingkatan. Yaitu 
(1) instink, (2) panca indera, (3) akal, dan (4) wahyu. Petunjuk 
pertama dan ke dua disamping kepada manusia juga diberikan kepada 
hewan. Petunjuk ke tiga, yakni akal adalah hal yang menyebabkan 
manusia berbeda dengan hewan. Dengan akalnya manusia bisa memecahkan 
masalah yang dihadapi (problem solving) sehingga manusia mampu 
merencana, mengevaluasi dan merekayasa apa apa yang diperlukan. 
Meskipun manusia memiliki keterbatasan fisik, misalnya tidak dapat 
terbang seperti burung atau tidak dapat menyelam seperti ikan tetapi 
dengan akalnya, manusia mampu mengatasi kekurangan itu. Dengan 
akalnya manusia mampu mengerjakan semua hal yang dikerjakan binatang. 
Dengan teknologi yang dibuatnya manusia mampu menguasai bumi dan 
atsmosfirnya bagi keperluan hidupnya.

Disamping hal-hal yang bersifat teknis, manusia dengan akalnya dapat 
pula membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang secara 
etis harus dikerjakan dan mana yang tidak boleh dikerjakan. Oleh 
karena itu dengan akalnya manusia harus mempertanggungjawabkan 
perbuatanya, baik kepada masyarakatnya sebagai sistem sosial maupun 
kepada Tuhan kelak di akhirat. Meski demikian, akal tidak bisa 
menentukan kebenaran universal, karena setiap orang berbeda pula 
akalnya. Kebenaran menurut akal sangat relatip, karena manusia masih 
dipengaruhi oleh hal-hal yang subyektip sehingga manusia tidak bisa 
mencapai kebahagiaan hakiki jika hanya menggunakan akal. Akal hanya 
bisa menemukan kebenaran, bukan menentukan.Untuk melengkapi rahmat 
Nya, Tuhan memberikan hidayah ke empat, yaitu wahyu. Wahyu adalah 
kebenaran universal yang diturunkan Tuhan untuk membimbing manusia 
mencapai kebahagiaan hakiki. Sesuai dengan tingkat kemampuan manusia 
menyerap informasi, maka Tuhan mengirimkan Nabi atau Rasul sebagai 
pembawa wahyu sekaligus sebagai contoh teladan hidup yang benar. Jika 
dalam agama Kristen Yesus dikatakan sebagai firman yang hidup, maka 
dalam Islam, nabi

Muhammad dianggap sebagai perwujudan dari nilai-nilai kebenaran wahyu 
Al- Qur'an (kana khuluquhu al Qur'an) dan teladan utama manusia 
(uswah hasanah). Nabi adalah utusan Tuhan kepada masyarakat manusia. 
Ada Nabi yang diperuntukkkan bagi sekelompok masyarakat pada suatu 
zaman, ada yang diperuntukkan bagi ummat manusia secara keseluruhan 
dan sepanjang masa. Menurut pandangan Islam, Nabi Muhammad adalah 
nabi penutup atau Nabi terakhir yang ajarannya berlaku bagi seluruh 
ummat manusia hingga akhir zaman. Secara mendasar tidak ada 
pertentangan antara wahyu yang dibawa oleh Nabi terdahulu dengan yang 
dibawa oleh Nabi terkemudian, karena kesemuanya berasal dari sumber 
yang sama (min manba'in wahid).

Wujud Akhlak manusia kepada Nabi. Ketika seorang Nabi masih hidup, 
maka secara etis dan rasionil, perilaku manusia yang hidup pada 
masanya dalam menyongsong kehadiran seorang utusan Tuhan adalah 
menerima dan menghormati serta percaya kepadanya. Dalam Al Qur'an 
disebutkan bahwa seorang mukmin harus percaya kepada Nabi (Q/ 7:157) 
tidak boleh mendustakan Nabi (Q/3:184), tidak boleh berbicara terlalu 
keras di hadapannya atau sopan (Q/49:2),tidak boleh menyakiti 
hatinya, (Q/33:53) apalagi membunuhnya (Q/3:21). Selanjutnya manusia 
diperintahkan untuk mencintai dan membelanya dan mengikuti sunnahnya.

Setelah Nabi wafat, perilaku seorang mukmin terhadap Nabinya adalah:
(a) Mengikuti sunnahnya. Sunnah mengandung pengertian lebih luas 
dibanding hadis. Sunnah Nabi adalah perilaku keseharian yang 
dicontohkan oleh Nabi, baik ketika beliau sedang menjalankan ibadah, 
sedang menjadi kepala keluarga, sedang menjadi kepala negara, sedang 
menjadi sahabat, menjadi warga masyarakat, menjadi panglima perang 
dan seterusnya. Yang sering diperdebatkan adalah apakah sunnah Nabi 
yang harus diikuti itu terbatas kepada perbuatan Nabi sebagai Rasul, 
atau juga perbuatan nabi sebagai basyar, sebagai manusia biasa. 
Jumhur ulama berpendapat bahwa seluruh perilaku Nabi, baik ketika 
menjalankan tugas kerasulan maupun sebagai manusia biasa adalah 
sunnah yang harus diikuti, karena perbuatan Nabi sebagai manusia

(b) Mencintai Nabi. Wujud cinta kepada Nabi antara lain dalam bentuk 
mengikuti sunnahnya, membaca salawat kepada nya, memberi nama anak-
cucu dengan nama-nama yang berhubungan dengan Nabi, dan mengutamakan 
mengikuti sunnah nabi dari mengikuti hal-hal lain. Salawat adalah doa 
ma'tsurah, doa yang diajarkan Nabi bahkan diperintahkan dalam al 
Qur'an. Bagi Nabi sendiri sebagai Rasul yang ma'sum sebenanrnya doa 
ummatnya tidak berpengaruh apa-apa, tetapi salawat lebih merupakan 
kebutuhan orang yang membaca karena mengharap syafaat Nabi kelak di 
akhirat. Adapun memperingati maulid Nabi lebih merupakan kebudayaan 
dan kebutuhan sosial masyarakat Islam, bukan anjuran Nabi.

Wassalam,
agussyafii
==========================================================
Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui 
http://mubarok-institute.blogspot.com, [EMAIL PROTECTED]
==========================================================


Kirim email ke