Anakku Suka Mengumpat
   
   
  Anak saya (sekarang 3,5 tahun) suka mengumpat.  Kata-katanya kasar kalau dia 
sedang marah.
   
  Mengapa hal ini bisa terjadi?
   
  Seru sekali ya, menjadi orang tua. Kita sebagai orang tua dihadapkan pada 
banyak dan berbagai masalah yang muncul diseputar anak-anak kita. Susah? Bikin 
Stress? Ya kalau mudah, tidak ada tantangannya bukan? Terus, kenapa harus 
dibuat stress? Dinikmati, karena masa mereka kecil kan Cuma sekali, bukan tidak 
mungkin lho suatu saat kita merindukan saat-saat seperti ini.
   
  Mengapa hal seperti ini (umpatan, kata-kata kasar/kotor) bisa terjadi? 
Jawabannya sederhana. Ini disebabkan karena memang selayaknya seorang anak 
kecil menyerap apapun yang ada di sekitarnya, serta menirunya. Ini adalah 
sebuah anugrah yang diberikan oleh Tuhan, tetapi semua hal di dunia ini 
bersifat seimbang, selalu ada dua sisi yang terkait, positif dan negatif 
(seperti halnya ada hitam, ada putih, ada gelap, ada terang, dll). Kemampuan 
seorang anak untuk menyerap informasi dan nilai-nilai dari sekelilingnya dengan 
cepat, dapat berakibat positif maupun negatif, baik bagi dirinya maupun 
mempengaruhi lingkungannya. Nah, tugas kita sebagai orang tua, adalah 
mengarahkan informasi yang bisa diterima oleh anak kita, sekaligus mengarahkan 
nilai-nilai yang ingin ditanamkan pada anak kita. Kedua hal ini (informasi dan 
nilai) dapat kita atur dan kendalikan, tetapi seringkali, justru banyak terjadi 
secara tidak kita sadari.
   
  Misalnya? Ketika seorang anak berkata-kata kasar, mengumpat, dan menghardik, 
bisa dipastikan bahwa ia mempelajarinya dari lingkungan di sekitar tempat dia 
paling sering bermain, atau dari tayangan televisi yang paling sering ia lihat 
(seperti sinetron yang banyak menampilkan adegan-adegan yang kurang baik bagi 
anak kecil). Kemudian tahap selanjutnya, setelah anak ”merekam” adegan-adegan 
atau kalimat-kalimat yang kasar itu di dalam pikiran bawah sadarnya, maka tahap 
berikutnya adalah ketika ia mengalami hal yang sama (seperti di kejadian yang 
direkamnya, baik ketika marah, sedih, dll), maka pikiran bawah sadarnya secara 
langsung akan mengeluarkan isi rekaman tersebut.
   
  Apakah si anak mengetahui arti dan nilai (kekasaran) dari kata-kata yang 
diucapkannya? Bisa jadi, tetapi lebih sering tidak. 
   
  Mengapa? Karena semua itu terjadi secara refleks, dengan proses: Rekam 
(kata-kata), Situasi sama? Keluarkan Rekaman. 
   
  Itu yang sebenarnya terjadi di dalam pikiran si anak kecil. Mengapa dia 
secara refleks mengeluarkan kata-kata seperti itu? Karena anak kecil (apalagi 
usia 3,5 tahun) masih dalam tahap eksplorasi, untuk menambah perbendaharaan 
(database) tentang dunia ini di pikirannya (yang kemudian digunakan untuk 
membentuk persepsi tentang dunia). Nah, mekanisme pikiran bawah sadar anak 
tersebut, ketika sebuah informasi atau nilai sudah masuk, maka yang terjadi 
adalah ketika ada kondisi/ keadaan yang sama ketika rekaman itu masuk (misalnya 
adegan kemarahan, dll), maka rekaman itulah yang akan diakses (secara refleks 
tentu saja) oleh pikiran si anak (walaupun misalnya ia belum tahu arti dari 
kata-kata tersebut). Nah, tugas kitalah sebagai orang tua untuk memberikan 
nilai dan pengertian dari kata-kata tersebut. 
   
  Susah? Belum tentu, tidak mudah? Iya, prinsipnya tetap: kalau cara yang sudah 
kita lakukan belum berhasil, coba cara yang lain/berbeda.
   
  Kita tidak bisa mengharapkan cara yang sama menghasilkan hasil yang berbeda 
bukan?
   
   
  Apa yang harus saya lakukan? (apakah saya harus marah, mendiamkan, atau 
pura-pura tidak tahu)
   
  Tentu saja sebagai orang tua, kita berhak merasa bingung, marah, sedih, 
apapun.. lha wong kata-kata yang menurut kita kasar itu diucapkan oleh seorang 
anak kecil, yang (mungkin) tidak tahu arti dan efek dari kata-kata itu.
   
  Ya, itu kuncinya, anak kita MUNGKIN bahkan tidak tahu arti dan efek dari 
kata-kata umpatan yang diucapkannya.
   
  Jadi, kitalah sebagai orang tua, yang punya kewajiban untuk mengarahkan nilai 
kata-kata yang anak kita ucapkan. Coba sebelum kita lanjutkan, kita bayangkan 
bahwa kita berada dalam posisi anak kita (pernah mengalami masa kecil kan?). 
Apa yang kita rasakan kalau kita mengucapkan/ melakukan sesuatu yang kita belum 
tahu itu benar atau salah (dilakukan karena proses mencari tahu), kemudian kita 
dimarahi atau bahkan dihukum untuk itu? Bagaimana rasanya? Apakah menurut kita 
itu adil? 
   
  Akan muncul berbagai macam perasaan seperti itu di dalam pikiran anak kita. 
Harap diingat, hindarkan untuk mengucapkan kata-kata ”dulu waktu saya kecil 
saya tidak seperti itu”, atau misalnya ”dulu kalau saya yang berkata seperti 
itu, pasti saya sudah dihukum berat”. Mohon dimengerti, memang ada nilai-nilai 
yang sifatnya kekal (berbuat baik, berkata-kata lembut, dll), tetapi zaman juga 
sudah berbeda, kemampuan dan daya tangkap anak berubah, sumber informasi juga 
bertambah (sangat) banyak. Saya jadi ingat, waktu jaman saya kecil, hanya ada 
satu channel TV, TVRI, setiap hari... sekarang? Waduh, belum kalau ditambah TV 
Cable, radio, majalah, dan internet.. kita dibanjiri jutaan informasi tiap 
harinya. Coba bayangkan, apakah kita masih akan menggunakan cara-cara ”tempo 
doeloe” di dunia yang makin modern? Belum tentu semua cara yang sama, akan 
berakibat yang sama pula.
   
  Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan? Begini, daripada anak kita merasa semakin 
mengulangi kata-katanya (karena merasa mendapat perhatian ketika mengucapkan 
umpatan dll tersebut), kita bisa hilangkan nilai perhatian yang diperolehnya. 
Mohon diingat, yang dihilangkan adalah nilai PERHATIANNYA, bukan didiamkan. 
Salah satu caranya? Ketika dia mulai melakukan hal yang sama (mengumpat, 
mencela, dll), berikan respon yang berbeda (dari yang diharapkan atau direkam 
di dalam pikiran bawah sadarnya), misalnya, kita justru tertawa tiap kali ia 
mengumpat. Selagi kita menertawai umpatannya, kita bisa bertindak (seolah-olah) 
kata-kata tersebut tidak berefek apapun pada kita. 
   
  Mau tahu yang terjadi di pikiran sang anak? Hang. Mengapa? Karena pola di 
kepalanya adalah ketika ia mengucapkan kata-kata itu, maka respons yang didapat 
adalah perhatian (entah dalam bentuk kemarahan, dll).
   
  Jadi, ketika respon nya berbeda, yang terjadi, pikirannya akan memprogram 
ulang dirinya sendiri, dan mulai meninggalkan penggunaan umpatan-umpatan 
tersebut. 
   
  Lho, tidak dikasih tahu bahwa kata-kata itu salah dan kasar? Coba saja kita 
letakkan kembali diri kita di pada posisi anak kita. Apakah (kira-kira) kita 
saat seusia 3,5 tahun, mampu menyerap secara lengkap penjelasan mengenai baik 
dan buruk, sedangkan setiap hari, kita di bombardir dengan informasi (TV, 
Radio, lingkungan) yang seperti itu terus? Yang terjadi kemungkinan adalah 
pertentangan yang terus menerus di pikirannya, atau justru makin terlihat 
menentang kita. 
   
  Jadi, ajari perlahan-lahan mengenai baik dan buruk, dengan contoh dan 
pengalaman langsung, seiring dengan makin bertambahnya usia anak kita, kita 
mampu beritahukan (secara) mana yang baik dan benar lewat kata-kata.
   
  Jadikan waktu kita dengan anak kita adalah eksplorasi bersama-sama dengan 
mereka, hadapi dengan fun.. selamat bereksperimen..
                                                      
  Kirdi Putra, CHI, CHt.
  Hypnotherapy Coach
  Hypnosis Training Institute of Indonesia (HTII)
  Phone. +62 21 739 7916
  [EMAIL PROTECTED]
  For things to change, I have to change
  
       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke