Duh Pak saya sangat terharu atas tulisan anda.
semoga anda kuat untuk menjalaninya demi putra anda.
Dan Jangan lupa selalu berdoa,agar Tuhan senantiasa
memberikan kekuatan kepada bapak.



--- Gorang Garing <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>
http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=42210&section=95
> 
> ISTRIKU
> (Didi - Cilangkap Jakarta Timur)
> 
> Saya mulai dari mana ya. Saya mengenal Istri saya
> (sebut saja Dina) karena kami satu kantor. Kami
> sama2 bekerja sebagai pengajar. 
> 
> Usianya 5 tahun di atas saya. Ketika saya kenal dan
> mulai dekat terjadi justru setelah saya lulus (jadi
> bukan mahasiswa yang naksir dosennya) dan menjadi
> staf di lembaga kami. Dina terkenal "galak=judes"
> sama mahasiswa dan relatif dingin terhadap
> cowok-cowok di kantor walau dia baik dan ramah
> sekali. 
> 
> Awalnyapun tidak amat khusus, sama2 kerja, ngobrol
> dan kegiatan2 ringan. Entahlah (menurut saya) dia
> sangat baik sekali dan selalu menanggapi apa yang
> saya usulkan, bahkan kemudian kita mulai pulang
> bersama. Dia tidak keberatan meskipun di kantor saya
> hanya juniornya dan dia sudah punya posisi
> tersendiri. 
> 
> Hal tersebut sangat menbuat tercengang teman2
> selevel (umur) dan senior2 saya, tapi secara umum
> mereka sangat mendukung (paling tidak yang saya tahu
> dan didepan saya). Kami semakin dekat, dan ketika
> dia harus dioperasi (usus buntu) saya dengan "setia"
> menemani (lagi PDKT ya). Tapi ini awalnya saya yakin
> pada diri saya bahwa kalau dia setuju pada proposal
> saya nantinya maka saya akan segera melakukan
> lamaran kepadanya. 
> 
> Awalnya dia memang agak ragu, maklum dari segi usia
> saya lebih muda dan apakah saya serius. Saya hanya
> mengatakan bahwa dalam hidup saya suatu keputusan
> yang saya ambil, akan saya jalani sepenuh hati walau
> banyak resikonya. Saya bersungguh-sungguh. Dia tidak
> bilang ia, tapi kami menjadi sangat dekat sekali. 
> 
> Orang tua saya tidak keberatan dengan Dina, dan
> begitu pula dengan orang tuanya (pada awalnya dia
> mereka tidak tahu kalau saya berusia di bawah
> anaknya tetapi ketika kemudian tahu juga sangat
> tidak keberatan). 
> 
> Sampailah pada suatu kondisi, bahwa Dina mendapatkan
> bea siswa ke Amerika unuk S2 nya. keputusan itu
> sangat dekat sekali, dan kemudian timbul suatu
> pilihan yang sulit apakah kami harus menikah dulu
> atau menundanya sampai dia selesai sekolah. Karena
> waktu yang sangat terbatas dan pada saat itu bukan
> bulan baik untuk menikah (versi Jawa), maka kedua
> keluarga dan kami ssepakat untuk tunangan sebelum
> Dina berangkat. 
> 
> Dua hari setelah tunangan Dina berangkat ke Amerika.
> Pada saat itu walaupun jalur komunikasi sudah baik
> tetapi internet masih sangat langka.  Baru 1 bulan
> saya dapat nomor telepon Dina di Amerika (dia tidak
> segera mengabari saya karena selain jadwal
> sekolahnya sangat sibuk dan mengurangi kerinduan
> bila kontak). Di telepon yang sangat singkat (50.000
> hanya untuk 8 menit pada tahun 1995 dan 50.000 suatu
> angka yang relatif mahal pada masa itu). Kami
> kehilangan waktu beberapa menit karena sama2
> menangis. 
> 
> Setelah itu komunikasi kami lakukan melalui surat
> kilat (waktu tempuh 2 minggu, sehingga ketika Dina
> menjawab surat saya, saya sudah lupa apa yang saya
> tulis 1 bulan yang lalu), fax (saya membeli mesin
> fax untuk di rumah) dan kalau ada uang lebih saya
> menelpon atau Dina yang menelpon, itupun maksimal
> hanya 1 minggu sekali. 
> 
> Saya akhirnya mendapat kesempatan untuk summer
> course di Amerika selama 5 minggu, dan kantor
> memperbolehkan pada saya untuk menambah 2 minggu
> lagi bagi saya untuk mengunjungi tunanngan saya
> tersebut. 
> 
> Dua minggu saya di Amerika, Dina mengunjungi saya
> (cukup jauh jarak kami, Saya di Wisconsin, Dina di
> Florida). 
> 
> Pertemuan yang saya bayangkan sangat penuh emosi
> tersebut memang terjadi, tetapi kami lebih banyak
> bertengkar, entahlah kenapa, walau tidak sampai
> bermusuhan dan bukan juga karena Dina memiliki WIL
> di sana. 
> 
> Beberapa waktu kemudian, Dina akan segera
> menyelesaikan studinya (1,5 th), dan kembali saya
> mendapat izin dari pimpinan lembaga kami untuk
> menjemputnya. Dari rencana hanya 2 mingguan, molor
> menjadi 3 bulan karena beberapa kendala dalam
> penyelesaian akhir thesisnya, tetapi juga sambil
> menghabiskan beasiswa yang didapat oleh Dina. 
> 
> Awal Desember 1996 kami menikah dan selang dua tahun
> kami memperoleh putra (Dina sempat mengalami
> keguguran sehingga diperlukan pemulihan sebelum
> hamil lagi). 
> 
> Anak kami lahir ditengah kondisi ekonomi yang sangat
> berat, harga2 melambung sangat tinggi (susu naik
> hampir 10 kali lipat). Kami bertahan dengan segala
> cara, dan alhamdulilah kami mampu hidup yang wajar. 
> 
> Di akhir 1999, Dina mulai mengeluh kok rasanya ada
> tonjolan pada payudaranya (Kedua payudara Dina sudah
> diangkat sebagian pada tahun 1989 karena tumor,
> waktu itu belum dideteksi sebagai kanker), dari
> diagnosa awal di shin se, tonjolan akibat "sisa
> susu" yang tidak keluar ketika masa menyusui dan
> dapat diobati. Karena kesibukan, kami tidak sempat
> datang lagi ke shin se tersebut dan karena suatu
> kecelakaan shin se tersebut meninggal. Ada
> penyesalan karena kami tidak sempat mengobati
> tonjolan tersebut. 
> 
> Awal 2001 Dina mulai mengeluhkan tonjolan tersebut
> walau dia sangat takut untuk periksa (pengalaman
> ketika tumornya diangkat). Kembali hal tersebut
> diabaikan. Pertengahan 2002, dengan dana yang
> berhasil kami tabung, kami mulai membangun rumah,
> dan kembali kesehatan Dina terabaikan. 
> 
> Awal 2003, Dina sudah sempat mendaftar pada salah
> satu dokter kanker terkenal dan dia sudah menunggu
> di ruang tunggu, tetapi kemduain dibatalkan (saya
> tahunya hampir 1 tahun setelah itu). 
> 
> Sambil konsentrasi membangun rumah, kami mulai
> mencari pengobatan alternatif, karena benjolan yang
> ada di payudara tersebut sudah berair dan tidak bisa
> disetop (selalu menetes). Berbagai alternatif coba
> kami datangi, dari pengobatan menggunakan jamu,
> mahkota dewa (Dina tidak cocok dan menyebabkan
> kulitnya terbakar), buah merah papua, reiki, tenaga
> dalam, bedah gaib, pijat refleksi, doa-doa sudah
> kami datangi. 
> 
> Dalam satu hari kami bisa datang ke dua sampai tiga
> alternatif. Saat itu kami sudah menempati rumah
> baru, dan "belum" sempat menikmati, saya sangat
> konsentrasi mengobati istri saya. Keadaannya makin
> parah, karena benjolan tersebut yang awalnya
> mengeluarkan air (cairan) menjadi mengeluarkan
> darah. Kondisinya semakin buruk. 
> 
> Awal 2004, kami ke dokter ahli bedah kanker (dokter
> yang pernah didatangi dahulu) diantar oleh seorang
> senior yang telah sukses operasi kankernya (stadium
> 2). Dina harus diperiksa banyak hal dan dari
> kesimpulan awal (berdasarkan data)Dokter menyatakan
> (hanya kepada saya) bahwa kemungkinan untuk bertahan
> (bukan sembuh) hanya 40%.
> 
> Mulailah pengobatan kemoterapi dimulai (tidak bisa
> dioperasi/diangkat karena sudah stadium 4).
> Perjuangan yang sangat berat buat Dina. Saya mencoba
> selalu menguatkan dan selalu disampingnya.
> Kemoterapi dilakukan secara seri sebanyak 6 kali. 
> 
> Kemo pertama merupakan "neraka" yang sangat berat
> sekali, karena tubunya yang tidak tahan, maka
> "hancurlah" segala organ tubuhnya, artinya dampaknya
> sangat dasyat sekali. Dalam dua hari setelah kemo
> (ketika kemo dirawat 2 hari), Dina kembali masuk RS
> karena kondisinya drop. Dina mengalami diare, hampir
> 5 menit sekali dia buang air besar di RS, semalaman
> saya menungu, hampir 3 hari, setelah itu kondisinya
> mulai membaik. 
> 
> 2 minggu baru bisa pulang dan di jadwal untuk kemo
> berikutnya. Hantu kemo menjadi sangat menakutkan.
> Untuk mendapakan cairan kemo saya mendapatkannya
> melalu ASKES yang secara luar biasa bisa mendapatkan
> obat no 1 dan gratis (harga obat kemo-nya saja
> menurut apotik sekitar 15 juta), belum perawatan
> dsb. 
> 
> Hari hari saya hanya untuk merawat Dina. Anak kami
> tentu tetap mendapat perhatian, tetapi dia sadar
> bahwa Ibunya sedang sakit. Dia tidak pernah marah
> karena ditinggal Ibu nya untuk dirawat dengan
> ditemani oleh Bapaknya. Kadang kala memang dia agak
> rewel, tapi selalu saya bawa ke rumah sakit pada
> jam-jam besuk. Kemo ke 2 sukses, tidak terjadi
> dampak apa-apa. 
> 
> Kemo ke tiga, juga tidak apa3, tapi seluruh
> rambutnya sudah habis. Anak Kami selalu meledek
> ibunya dengan laki2, kok di rumah jadi laki2 semua
> ya bu. Rambut Dina sangat baik ketika sebelum
> rontok, tetapi semua kami relakan untuk pengobatan.
> Pengobatan lain jalan terus, obat cina, konsultasi
> dengan 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________
Need a vacation? Get great deals
to amazing places on Yahoo! Travel.
http://travel.yahoo.com/

Kirim email ke