Kawan Sangkakala,
Tokoh yang paling konsisten dalam berbicara tentang Ekonomi Pancasila adalah
almarhum Prof Dr Mubyarto salah satu putera terbesar Universitas Gajah Mada.
Sampai menjelang akhir hayatnya beliau tetap gigih dengan
pandangan-pandangannya tentang Ekonomi Pancasila. Tokoh lain adalah Prof Dr
Arif Budiman yang sekarang masih bertugas di University of Melbourne Australia.
Akan tetapi berbeda dengan Pak Muby , Bung Arif sudah terbilang lama tidak lagi
bicara tentang "ekonomi Pancasila".Dihadapan kedua tokoh besar ini saya adalah
sekedar "seorang kurcaci ekonomi". Namun dalam banyak kesempatan bertemu dengan
Pak Muby saya selalu coba "mengganggu" beliau tentang konsep beliau mengenai
Ekonomi Pancasila. Bukan karena saya tidak setuju dikembangkannya konsep dan
sistem Ekonomi Pancasila tetapi lebih sebagai sikap dan upaya mengkritisi
"senior" agar konsep dan gagasannya tidak berhenti kepada sesuatu yang "belum
operasional" meskipun tidak dapat dikatakan sebagai "utopia". Pada
perjumpaan terakhir saya dengan almarhum Pak Muby saya "ledek" beliau dengan
pernyataan :" Jangan-jangan konsep bapak tentang Sistem Ekonomi Pancasila
sekedar suatu "SISTEM YANG BUKAN-BUKAN!" Artinya Sistem Ekonomi Pancasila itu
"bukan Kapitalisme" dan "bukan juga Sosialisme". Lalu yang mana dong?. Kita
yang tahu dan meyakini tidak cocoknya "sistem Kapitalisme" bagi negeri seperti
Indonesia dan "terbukti ambruknya Sistem Sosialisme" di negara-negara ex "TIRAI
BESI" tentu harus sangat kriti s didalam mencoba mencari/menemukan dan
mengembangkan Sistem Ekonomi Alternatip yang paling cocok bagi rakyat dan
masyarakat Indonesia yang begitu pluralis dan berdiam di belasan ribu
pulau-pulau Nusantara. Deng Tsiao Ping menyiasati "potensi ambrugnya Sistem
Ekonomi Sosialis" di China dengan mengembangkan apa yang dia namakan " One
Country Two Systems!" yang pada kenyataannya "semakin hari porsi dan bobot"
kontribusi Sistem Ekonomi Berdasarkan Mekanisme Pasar alias Kapit alisme semakin
besar di negeri China yang masih diperintah Partai komunis itu! Pada
kesempatan ini kita boleh bertanya bagaimana dengan Universitas Gajah Mada
dengan ribuan "empu" yang bermukim disana yang ketika rektornya dijabat Prof Dr
Sofian Efendi pernah menyatakan diri sebagai "KAMPUS PANCASILA". Masihkah klim
itu berlaku. Kalau memang masih berlaku tentu pengembangan konsep sistem
ekonomi Pancasila lebih lanjut sehingga mencapai tataran yang implementatip
dengan kehandalan yang sangat dapat dipertanggung jawabkan tentu haruslah
menjadi agenda utama/ misi darma dari Universitas Gajah Mada. Kita tak sabar
menunggu. Salam Perjuangan Tjuk Kasturi Sukiadi
"sangkakala ." <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya ndak bisa bayangkan apa the end of the system of Capitalisme...
Yg saya tahu pasti.. bumi tidak mencukupi semangat konsumtifisme umat yg terus
bertambah... sekarang lebih 6 milyar dgn kebutuhan dan juga hasrat dan syahwat
yg makin beragam... gembar-gembor ttg kemiskinan yg harus dihilangkan, sama
artinya dgn gembar-gembor ttg melejitnya permintaan ttg produk konsumsi
apapun...
artinya semakin kaya dan cukup isi kantongnya, artinya dia akan makin melahap
apa saja dan dunia industri akan segera sediakan berbagai produk yg bikin dia
berselera dan tentunya akan berujung pada kepulan-kepulan asap CO2 pabrik
industri yg akan makin berbahaya bagi alam bumi secara keseluruhan...
dan berujung pada kacaunya kondisi iklim dunia lalu timbul berbagai bencaana ..
yg pasti adalah hujan yg terlalu deras atau musim kering berkepanjangan..
minimal gunung meletus akibat komposisi perut bumi yg perlu memuntahkan hawa
panas yg berbentuk letusan gunung... dn pasti bertambah orang miskin yg
mengalami rusak harta benda.. sebagian kehilangan mata pencaharian..
Jadi kemiskinan orang Indonesia adalah tersebab kerjaan global, bukan nasib
buruk dari pemerintahan SBY-JK... Konsumsi global sudah kelewat batas, dan
harus dikontrol...
Artinya sistem kapitalisme adalah biang kerok nomer satu atas rusaknya
ekosistem global yg berujung bencana disemua tempat penjuru dunia.. makin besar
energi dasar semacam minyak bumi yg keluar dari perut dunia, makin besar
peluang bencana alam akibat pemanasan global.. .....itu pasti!
Lalu dimana harus ditempatkan sistem ekonomi pancasila yg tujuannya sama yaitu
kesejahteraan bersama, sementara kemiskinan dalam kontemplasi saya adalah
satu-satunya cara dalam menciptakan keseimbangan permintaan....
Mungkin itulah makanya tetap ada orang miskin,.. miskin artinya tidak cukup
uang untuk beli apapun dan itu artinya permintaan tertahan.... Yg berarti
ikhlas menjalani hidup tanpa harus memenuhi semua impian dan imajinasi...
Dan itu artinya adalah peluang bagi sistem ekonomi Pancasila untuk bisa jadi
sebuah alternatif pengganti bagi sistem amat merusak gaya kapitalisme... Siapa
punya gagasan operasional di Indonesia??? belum ada... yg amat banyak adalah
tukang-tukang wacana .. mungkin termasuk saya...
Sang
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
[Non-text portions of this message have been removed]