http://epriabdurrahman.multiply.com/journal/item/135



 SALEMBA

 
Alma Mater, janganlah bersedih
Bila arakan ini bergerak perlahan
Menuju pemakaman
Siang ini
 

Anakmu yang berani
Telah tersungkur ke bumi
Ketika melawan tirani


 
                                    Taufiq Ismail [Tirani dan
Benteng], 1966
 

 
Membaca sajak ini membuat saya teringat tragedi melawan orde baru yang
dialami para mahasiswa menuju era reformasi salah satu di antaranya 
adalah dari kampus perjuangan Trisakti di bulan Mei tahun 1998. Enam
kuntum muda berjaket alma mater biru tua yang bersimbah darah gugur di
halaman kampusnya sendiri, ditembus peluru 'karet' yang pastinya
sangat tajam hingga dada-dada para pemuda harapan bangsa itu penuh
darah dan roboh sebagai pahlawan.
 

Anakmu yang berani
Telah tersungkur ke bumi
Ketika melawan tirani
 
 
Sejarah yang senantiasa berulang, begitulah adanya kisah itu diputar
kembali melalui sajak yang ditulis Taufiq Ismail yang ditulisnya pada
era perlawanan mahasiswa melawan orde lama, melawan kemiskinan yang
menjepit rakyat, melawan tirani. Sejarah kembali diputar dengan
lakon-lakon berbeda nama. Sekali lagi melawan tirani, meski dengan
sikap itu para mahasiswa itu harus tersungkur ke bumi.

 
Buku kumpulan puisi Tirani dan Benteng ini sendiri adalah buku yang
'terselamatkan' dengan itikad baik sahabat Taufiq yakni Arief Budiman
melalui edisi khusus majalah Gema Psicology. Ada kutipan dialog
mengenai hal ini pada kata pengantar buku puisi ini yang diberi judul
'Sehabis Jam Malam di Stasiun Gambir'.

 
"Hei Fiq, biar aku terbitkan puisi-puisimu ini!" bujuknya. "Tunggu
dulu" jawab Taufiq, "Jangan cepat-cepat. Biar aku endapkan dulu dan
biasanya aku revisi. Ini ditulis masih seperti snapshot saja, belum
diamplas. Belum sempat dihaluskan. Biar aku bawa dulu ke Pekalongan,
besok aku mau pulang ambil batik dagangan."
 

Arief tidak mau melepaskan puisi-puisi taufiq itu dari tangannya dan
bersikeras menerbitkannya, hingga akhirnya Taufiq mengalah.
 
 
Esoknya ketika di stasiun Gambir sedang menawar becak untuk pergi ke
Pal Putih 6, bungkusan batik dan ransel yang berisi naskah naskah
puisi tulisan tangan dalam map semuanya hilang dicuri orang.
Keterkejutan dan kesedihan Taufiq itu menjadi rasa syukur ketika ia
mengingat bahawa ada sebagian naskah puisinya yang sempat dibawa Arief
Budiman dan sekarang terangkum dalam buku Tirani dan Benteng ini.
Alhamdulillah, Alhamdulillah...gumam Taufiq. Dan inilah dia naskah
yang selamat itu buku kumpulan puisi Tirani dan Benteng yang mengalami
3 kali penerbitan yakni oleh Penerbit Faset [judulnya Benteng],
kemudian kumpulan itu disatukan dan ditambahkan 32 puisi yang ditulis
antara 1960-1965 [Puisi-puisi menjelang Tirani dan Benteng] dan
terakhir oleh Yayasan Indonesia, 2005.
 
 
Puisi-puisi yang sarat dengan tema sosial ini berisi kecemasan,
kesangsian, kebebasan, harapan dan angan-angan, cita-cita dan tekad,
setidaknya begitulah menurut Taufiq.
 
Ia yang memang mengalami masa-masa demonstrasi ini mengabadikan
sejarah itu melalui puisi-puisinya dalam buku ini.

 
Coba bisa simak puisi berikut ini :
 

BENDERA
 

Mereka yang berpakaian hitam
Telah berhenti di depan sebuah rumah
Yang mengibarkan bendera duka
Dan masuk dengan paksa
 

Mereka yang berpakaian hitam
Telah menurunkan bendera itu
Di hadapan seorang ibu yang tua
"Tidak ada pahlawan meninggal dunia!"
 

Mereka yang berpakaian hitam
Dengan hati yang kelam
Telah meninggalkan rumah itu
Tergesa-gesa
 
Kemudian ibu tua itu
Perlahan menaikkan kembali
Bendera yang duka
Ke tiang yang duka
 

                                    1966
 

Terasa sekali ini puisi ini adalah sebuah kesaksian terhadap kegalauan
suasana politik yang terjadi ketika itu, sebuah kesaksian terhadap
kedukaan seorang ibu yang boleh jadi juga mewakili seluruh negri ini
karena sekumpulan mereka liris yang berpakaian hitam itu telah
mengibarkan sekaligus menurunkan bendera duka itu sambil mengatakan
dengan congkak bahwa "Tidak ada pahlawan yang meninggal dunia!", yang
pergi dengan tergesa-gesa. Kemudian ditutup dengan paragraf terakhir
yang begitu mendung, kemudian Ibu tua itu/ perlahan menaikkan kembali/
Bendera yang duka/ Ke tiang yang duka.
 

Bangsa yang kembali berduka atas tragedi kemanusiaan, kemiskinan dan
situasi politik yang panas pada masa peralihan orde lama ke orde baru.
Sebagaimana kini menjadi sangat aktual dengan kenyataan hari ini
setelah era reformasi yang masih menyisakan banyak masalah meski untuk
melewatinya kita telah mengorbankan 6 nyawa para mahasiswa di ujung
peluru dalam kasus Semanggi 1 pada Mei 1998 dan sampai kini masih saja
terkatung-katung kasus peradilannya padahal sudah 4 presiden
berganti-ganti.
 

Dari penguasa ke penguasa, hal-hal mendasar yang menjadi hak rakyat
samakin sulit untuk dijangkau oleh rakyat negri kita. Hari ini
barang-barang kebutuhan pokok kembali melonjak, rakyat sebagaimana ibu
tua dalam puisi Taufiq itu seperti 'dipaksa' lagi untuk menaikkan
kembali bendera yang duka ke tiang yang duka.
 
 
Yang menarik, Taufiq yang mantan ketua senat mahasiswa FKHP UI pada
tahun 1960 -   1961, Wakil Ketua Dewan Mahasiswa UI  (1961-1962) ini
dikenal juga sebagai salah satu pendiri majalah sastra Horison yang
paling lama bertahan di negri ini dan sampai hari ini masih eksis,
dalam kumpulan buku ini membuat sebuah puisi dengan judul yang sama
dengan majalah sastra yang didirikannya sebagai penanda semangat yang
harus terus dipupuk meski semua badai riuh menghadang negri ini.

 
HORISON


Kami tidak bisa dibubarkan
Apalagi dicoba dihalaukan
Dari gelanggang ini
 

Karena ke kemah kami
Sejarah sedang singgah
Dan mengulurkan tangannya yang ramah
 

Tidak ada lagi sekarang waktu
Untuk merenung panjang, untuk ragu-ragu
Karena jalan masih jauh
Karena Arif telah gugur
Dan luka-luka duapuluh satu
 
                                                1966
 

Puisi ini juga menyelipkan catatan tentang kematian Arif Rahman Hakim
yang telah menjadi semacam tumbal bagi buah perjuangan yang harus
ditegakkan dan menjadi sejarah yang akan terus dicatat untuk terus
diingat bahwa kami tidak bisa dibubarkan/ apalagi dihalaukan/ dari
gelanggang ini.
Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto yang juga menjadi saksi
sejarah masa itu melalui jasa baik Dr. Suroso Soerojo dan Dr. Rushdy
Husein dan konon pernah juga dipamerkan dalam pameran foto Kebangkitan
Generasi Muda di Universitas Indonesia [Ismid Hadad dari Biro
Penerangan KAMI Pusat yang mengkoordinir], dengan perancang
artistiknya kawan-kawan mahasiswa Seni Rupa ITB.
 

Puisi terkadang memang terlalu sulit untuk dilepaskan dari kehidupan
pengarang pada zamannya. Melalui 63 sajaknya dalam Tirani dan Benteng,
Taufiq telah memberikan tanda penting kepada kita bahwa melalui sastra
kita juga memberikan kontribusi bagi bangsa, bukan hanya dengan
mengolah karya berkesenian atau bahkan sekedar merekam sejarah, akan
tetapi juga mengobarkan semangat berjuang, melawan ketertindasan dan
kezaliman penguasa dengan caranya sendiri yakni melalui sastra. Tidak
sedikit karya sastra yang bisa menjadi abadi dengan keberaniannya
menerjemahkan cita-cita banyak orang untuk bangkit dari berbagai
persoalan yang menghadangnya. Sebagaimana ajakannya dalam baris-baris
Salemba dengan mengatakan Alma Mater janganlah bersedih/ Bila arakan
ini bergerak perlahan/ Menuju pemakaman/ Siang ini. Atau baris-baris
bernada kuat dalam Horison bahwa Kami tidak bisa dibubarkan/ Apalagi
dicoba dihalaukan/ Dari gelanggang ini/ Karena ke kemah kami/ Sejarah
sedang singgah.

 
Bukankah saat ini kita juga tak boleh dibubarkan begitu saja dengan
berbagai tekanan dan kondisi hari ini? Bukankah saat ini, di
gelanggang inilah waktunya kita tak boleh ragu-ragu melawan segala
bentuk kesewenang-wenangan Tirani dan para antek-anteknya yang jelas
tidak punya nurani dengan mempertontonkan ketidakpeduliannya terhadap
rakyat dengan masih sempatnya seorang mentri dan pejabat menonton
konser 'Diana Rose' bertiket puluhan juta di barisan depan sementara
rakyatnya sulit makan, tak mampu beli minyak tanah dan harga-harga
kebutuhan pokok terus melambung serta anak-anak berwajah pucat satu
persatu mati kelaparan didera busung lapar di setiap sudut negrinya?

 
Saya yakin dalam kondisi sekarang ini, Taufiq sepakat dengan rekannya
sesama penyair yang 'hilang' tak jelas rimbanya pada orde baru dengan
goresan puisi terkenalnya, "Hanya satu kata, Lawan!". Sebuah puisi
yang juga menjadi abadi karena diniatkan melawan Tirani yang
membelenggunya.
 
 
"Apakah anda masih mau ambil bagian bersama dengan para penyair itu
sekarang?"
 
 
"Bukankah boleh jadi sejarah sedang singgah ke kemah kita? dan anda
para mahasiswa dan siapapun kaum intelektual negri yang besar ini,
sedang ditantang menjadi pelaku dari sejarah itu sendiri?
 
 

 
Wallohu 'alam bissawab

 
 
Epri Tsaqib, Penyair
Maret 2008
www.epriabdurrahman.multiply.com

 
Judul : Tirani dan Benteng, Dua Kumpulan Puisi
Penulis : Taufiq Ismail
Penerbit : Yayasan Indonesia
Cetakan : I, 2005
Tebal : 172 halaman

_____________________________________

Info : Anda tertarik mengoleksi buku ini? Caranya? Silahkan pesan
melalui toko buku online dengan mengklik 
http://epriabdurrahman.multiply.com/photos/album/58

Testimoni Andre Hardjana di belakang buku ini, "Sebagai penyair dia
tidak tergelincir pada slogan-slogan "demi Ampera, demi revolusi, demi
rakyat dan lain-lain. Di dalam pengungkapannya ia berhasil melahirkan
suatu bahasa sederhana yang segar sehingga orisinilnya kemilau
lantaran adanya daya penciptaan yang kuat." [Majalah Basis, Juni 2006]

Harga Rp 30.000,- 

Kirim email ke