Keysia dan Preman Tua

By; Erwin Arianto



Siang itu saat putri kecil ku pulang dari sekeloh.. "Assalamualaikum..."
teriaknya dengan muka lugu penuh dosa memberi salam kepada ku "Walaikum
salam... Kamu dah pulang Keysia" jawabku kepada keysia. "sudah bunda...bunda
masak apa?" tanya Keysia kepada ku sambil membuka sepatu dan mengganti
seragamnya. "bunda masak sayur sop dan goreng empal deging.." seru ku kepada
Keysia.



"bunda... kakek mana..?" Keysia menanyakan keberadaan kakeknya, bapakku,
memang Keysia begitu dekat dengan bapak, entah karena cucu pertama entah
karena adanya persamaan sikap yang sama-sama keras kepala. "kakek di
belakang sedang berbaring di balai-balai.." jawabku. memang rumah kami tidak
terlalu besar, tetapi di halaman belakang ada balai bambu tempat
beristirahat disamping sisi dari pohon durian yang rimbun.



Kulihat keysia dan bapak sudah bercanda bersama lagi, dan tampaknya keysia
sedang menceritakan tentang pengalaman sekolah yang dialami nya hari itu.
setelah puas bermain berdua Kulihat bapak terbaring di atas balai bambu
sambil bersenandung bersama keysia Cucu perempuannya tampak membaringkan
kepalanya di sisi bapak ikut menikmati nyanyiannya walaupun keysia itu jelas
tidakmengenal lagunya.dan kulihat keysia  menyodorkan sebuah Buku tata cara
sholat untuk kakeknya/bapakku. bapak hanya tersenyum, tahu akan apa yang
bakal dikatakan cucunya.



"Ayo kek, Keysia ajarin caranya sholat seperti diajarin ibu guru disekolah
ya" pintanya polos dengan mata berharap.



"lagi? Kemarin kan sudah…" elak bapak dengan nada bercanda, walau suaranya
terdengar parau, akibat tubuhnya yang kian melemah.



"kemarin kan kakek belum aku kasih tau ya" protes Keysia sebal.



"kakek ngantuk Keysia, kakek kan sakit" elak bapak lagi kemudian langsung
membalikkan tubuhnya pura-pura mendengkur.Keysia tidak melanjutkan
protesnya, dia percaya kakeknya benar-benar tidur. Gadis kecil itu berjinjit
untuk mencium kening kakeknya dengan sayang.



"maafin Keysia ya udah ganggu kakek, met bobo kakek sayang" bapak taampak
tetap pura-pura tidur.



Sebenarnya bapak sudah sejak lama Dulu selalu menjalankan sholat, bahkan
hampir semua sholat sunnah dikerjakanya. Bukankah dulunya Bapak Anak seorang
guru ngaji sebelum terjerembab dalam kehidupan sebagai pereman. bapak sering
bercerita  tentang peristiwa lalu, kejadian pahit yang telah merubah
hidupnya.



**********************



PAda awal pernikahanya dengan ibu, bapak bekerja sebagai buruh pabrik dan
mereka bahagia dengan kehidupannya walau dijalani dengan indah. dan aku pun
mendapat kasih sayang yang penuh dari bapak dan ibu. walau kami dulu tinggal
di rumah kontrakan yang terbilang sangat sempit tami kami bahagia, samapi
suatu saat pabrik garment tempat bapak dan ibu bekerja gulung tikar
dikarenakan

Krisis ekonomi dan kenaikan harga BBm yang mempengaruhi kenaikan harga bahan
baku, dan penurunan penjualan."Bu... Pabrik tempat kita bekerja tutup, kita
harus bagaimana ya bu" aku ingat ucapan bapak waktu itu, aku waktu itu msih
duduk di bangku kelas 5 SD, "Sabar pak, kita coba usaha saja" jawab ibu
dengan penuh kesabaran, ibu adalah seorang yang sabar dan penyayang terhadap
aku dan adikku.



Setelah tidak bekerja pada pabrik garment tersebut, kehidupan kami mengalami
penurunan yang drastis, ibu mencoba berjualan lauk matang di rumah, dan
bapak Mencoba menjadi pedagang kaki lima dan berjualan di depan perkantoran
elite.



Musibah yang datang tetap kami jalani sekeluarga dengan sabar, orang tuaku
begitu ihlas menjalani semuanya. dan bapak pernah berkata kepada kami
sekeluarga ""Hidup itu berat, tetapi tetap harus di jalanin, seberat dan
sesusah apapun. Jangan mengeluh dan merepotkan orang lain." itulah prinsip
bapak, aku salut kepada bapak, walau dalam keadaan susah beliau tetap tegar
sebagai tulang punggung keluarga.



Tetapi awan hitam masih menyelimuti keluarga kami, ketika aku pulang sekolah
dulu aku melihat banyak orang berlari-lari di dekat rumah kontrakan kami
sambil berteriak-teriak dan membawa ember untuk memadamkan api,
"kebakaran-kebarakaran..." begitulah orang-orang berteriak. Dan begitu pilu
melihat rumah kontrak kami habis di lalap si jago merah. Lalu aku pun
panik,mencari Ibu dan Bapak "bang roni..ibu mana.. bapak..., kemana" tanyaku
dan aku pun menangis sekencang-kencangnya melihat kejadian itu. dan seorang
yang kusapa bang roni, adalah seorang tetangga kami dalam rumah petak
kontrakan kami mengantarkan aku ke ibu.



Kulihat ibu sedang menangis sesedukan di pojok mushola, dan bapak masih
berusaha menyelamat kan barang berharga yang tertinggal dirumah kami, walau
memang kami sebenernya tidak memiliki apapun dirumah. "Gusti Allah...
Mengapa kau tidak berhenti memberi kami cobaan" begitulah ratap ibu kala
itu. sambil menggendong Adiku Budi, dan dalam kondisi hamil 6 bulan. Begitu
kulihat guratan kepedihan yang dialami ibu.



Setelah kebakaran padam, kami sekeluarga sekarang tidak mempunya tempat
tinggal lagi, "ibu lalu kita tinggal dimana...?" tanya budi dengan polos
menanyakan kemana kami akan tinggal. Ibu hanya diam tak bisa menjawab
pertanyaan budi ketika budi baru pulang sekolah kala itu dan diam
melihatrumah kontrakan kami habis di lalap api.



Kulihat bapak membawa beberapa benda berharga yang kami miliki, berupa radio
butut, dan beberapa pakaian kami sekeluarga, keringat dan air mata tampak
jelas di muka bapak kala itu. sungguh duniaseakan runtuh, dan bapak ku
seorang yang tegar pun seakan tidak kuat menanggung beban yang dihadapinya.



Dalam hati tangan mungil ku waktu itu hanya bisa mengadah menghadap langit
dan berdoa. "Tuhan kenapa rumah Ika dibakar.. sekarang ika,budi, bapak, dan
ibu harus tinggal dimana...?" aku pun menangis sekencang-kencangnya. Dan
bapak dengan tangan yang kasar memeluk aku dan budi seakan ingin begkata
"sabar nak.. bapak akan mencari jalan keluar terbaik untuk kalian".



********************************



karena tidak memiliki uang dan apapun, akhirnya dengan suatu pilihan berat,
diajak oleh pak nainggolan teman bapak sewaktu berjualan di emperan, kami
tinggal di bawah kolong jembatan,

"inilah rumah baru kita ka, bud" terlihat bapak dengan muka yang dibuat
seolah bapak bahagia dengan  sesuatu yang dibilangnya rumah, walau hanya
terdiri dari tumpukan-tumpukan kardus bekas dibawah kolong jembatan.



Walau terbuat dari kardus, rumah kami begitu nyaman, aku nyamana dengan
bekap kedua orang tua, bapak dan ibu begitu memberi rasa cinta meraka kepada
aku dan budi. bapak kini berusaha mencari nafkah dengan menarik becak. aku
dan budi karena tetap ingin sekolah kami berdua memutuskan untuk mengamen di
jalan, dan uang nya aku kasih ke ibu.



"bu ini hasil ngamen aku dan budi, bu.. ika mau sekolah lagi..." ucapku
sambil memberi uang receh sebesar Rp.10.000 "iya bu.. budi kangen sama
temen-temen budi, budi mau sekolah lagi..." ibu hanya diam dan menangis.



"bapak pulang..." teriak budi. "eh bapak.." ucapku menyambut kedatangan
bapak waktu itu. "bapak membawa Nasi bungkus nak, buat kalian makan" bapak
membawa nasi bungkus, plus tempe, tahu, dan krupuk. itulah yang biasa kami
makan. Nasi tersebut oleh ibu dibagi 4 untuk aku, bapak dan ibu.

Walau hanya makan seadanya, Alhamdulillah kami masih bisa makan 3 kali
sehari, dengan porsi seadanya.Dan kuliahat bapak tetap tegar menjalani
harinya, aku lihat bapak tetap menjalankan sholat lima waktu, bapak selalu
menggunakan baju koko kebesaran yang tersisa dari kebakaran rumah kami

yangdulu. "bapak.. kayaknya ibu sudah mau melahirkan deh 1 bulan lagi.."ucap
ibu waktu tengah malamsaat aku pura-pura tidur dan mendengar percakapan
bapak dan ibu. "Iya bu.. tapi melahirkan

dimana.. bapak tidak punya uang untuk biaya melahirkan gimana ya bu" kulihat
bapak melamun disana.



Sore itu sepulang mengamen dengan budi kulihat bapak duduk diam di pojok
rumah, "sore pak.. kok tidak narik pak" tanya ku polos kepada bapak. "Becak
Bapak di sita oleh  Polisi", katanya Bapakmelanggar peraturan lalu lintas
polisi mengatakan "Anda gak lihat di tiang depan sana ada gambar becak di
larang masuk di area sini?!" begitu kata bapak tentang kejadian diambilnya
becaknya.kulihat bapak menangis didepan rumah kardus kami.



Bapak mengepal tangannya sambil memukul tanah tanda kekesalannya, kekesalan
tentang garis hidup dan kemiskinan yang menimpa kami. dia berteriak "Aku
benci pada mu ya Allah.. tidak habis pikir aku, pekejerjaanku, rumah ku,
kini becakku kau ambil semua.. kenapa.. apa salah ku, aku benci pada mu ya
Allah" begitu lah teriak bapak menyalahkan Allah, karena mungkin tidak ada
siapapun atau Apapun yang bisa disalahkan lagi.Ibu hanya diam, tidak ada
sepatah kata, hanya tersenyum dan memeluk bapak dari belakang, seakan
berusaha menenangkan bapak.



Sudah tiga bulan ini Bapak menganggur, dan sejak saat itu kerjaan Bapak cuma
luntang lantung tidak jelas, ibu mencoba mencari nahkah kami dengan
memulung. dan aku dan adiku tetap mengamen. saat aku mengamen di prempatan
lampu merah, kulihat seseorang seperti bapak melakukan pencopetan, dan orang
tersebut dikejar-kejar oleh masa, tetapi untung nya orang itu berhasil
menyelamatkan diri dari amukan masa.



ketika dirumah aku bertanya kepada bapak, "pak tadi aku lihat seorang
pencopet dikejar masa, kasihan orang itu pak, kenapa dia mencopet ya pak"
tidak seprti biasanya bapak yang ku kenal ramah membentaku "Sudah lah anak
kecil tau apa sih.." bentaknya kuliahat bapak memegangi sebuah luka
dikakinnya, yang sama kulihat dengan pencopet yang kulihat sempat terjatuh
di lampu merah tadi.



PAda awalnya bapak tidak berterus terang kepada ibu, aku dan adiku, tapi
lama-lama kami tahu bahwa bapak telah bergabung dengan kelompok preman bang
hasan Palembang, sebuah geng preman yang sering merampok, menodong, dan
berbuat kekerasan lainya."ini uang untuk Ika dan Budi sekolah bu" suatu hari
bapak menyerahkan uang kepada ibu, "dan ibu tolong jangan memulung lagi,
sebentar lagi ibu sudah akan melahirkan" kata bapak kepada ibu. "ini uang
dari mana pak" tanya ibu kepada bapak, "sudah lah kamu tidak perlu tahu"
bentak bapak kala itu.



Tetapi suatu hari aku melihat tangan bapak berdarah-darah, seperti habis
berkelahi, dan banyak kawan-kawan bapak yang datang kerumah "Cung, aku nggak
nyangka kalau kamu tega membunuh lelaki itu!," "Itu masalah pilihan Met, aku
terdesak waktu itu, nggak ada pilihan lain!!," bapak membela diri."Tapi
tidak harus dengan membunuhnya kan?," "Aku tidak menyangka kalau sabetan ku
mengantarnya meregang nyawa,", "Bodoh kamu, hasil sabetanmu nyaris
memutuskan lehernya, mana mungkin nggak mati" "Oke oke.., aku mengaku salah
saya kira kita tidak usah memperpanjang masalah ini, Oke!," sahabat bapak
yang dipangil memet diam.



Aku bercerita kepada ibu tentang kejadian yang terjadi dan  bahwa bapak
menjadi preman, tetapi ibu diam, seakan tidak bisa berkata lagi. "sudah lah
ika, kamu sekolah saja, biarkan bapak mu mencari uang, kita doakan saja
bapak mu selamat" ucap ibu pasrah dengan penjelasan ku tentang bapak. Makin
lama nama bapak sebagai preman semakin berkibar dan bapak terkenal dengan
julukan si Kuncung dari semarang, apakah aku harus bangga atau sedih
perasaan yang tidak bisa aku deskribsikan, sekarnag aku anak jagoan, anak
preman, banyak orang takut terhadap aku, mungkin karena keangkeran nama
bapak.



PErnah suatu hari, aku menunggak membayar uang sekolah selama 5 bulan, dan
aku tidak bisa mengikuti ujian sekolah, aku menceritakan hal ini kepada ibu,
lantas ibu menceritakannya kepada bapak, dan ternyata bapak membawa
teman-temanya menyatroni rumah kepala sekolah kami, dan hampir melukai
kepala sekolah, walau pada akhirnya kepala sekolah tersebut dapat memahami
dan memperbolehkan aku mengikuti ujian. semenjak kejadian kepala sekolah di
datangi bapak, semenjak itu



 Dikelas aku pun ditakuti tidak ada orang yang berani menggangguku, karena
takut kepada bapak, semua teman-temanku dan guru-guruku tidak berani
menggangguku. tapi walau aku anak preman, aku bukan seorang yang menggunakan
nama bapak, prestasiku sangat bagus dan memuaskan pada kelas 1-3 SMP aku
selalu menjadi yang terbaikdi sekolah, begitupun budi adiku dia termaksud
anak yang cerdas.



Dan aku berhasil lulus smu dengan nilai yang sangat memuaskan, aku mencoba
mendaftar melamar kekelurahan dekat rumah kardusku, dan alhamdulillah aku
diterima menjadi pegawai honorer di sana. tetapi bapak ku masih tetap
seorang preman, walau seorang preman tetapi bapak tidak pernah main judi,
Minum-minuman keras atau pun main prempuan. bapak tetap seorang yang hangat
di keluarga, walau diluar bapak ditakuti.



******************************



Aku sangat beryukur karena aku bisa diterima sebagai karyawan di kelurahan,
walaupun aku mejadi pegawai rendahan dikelurahan, dengan begitu aku bisa
sedikit mengangakat kehidupan keluargaku, alhamdullah aku bisa mengontrak
rumah untuk kami sekelurga walau hanya sebuah rumah petak seperti dulu rumah
kontrkan kami yang kebakaran. memang itu tekadku semenjak dulu, yaitu
mengangkat martabat keluarga, dan ibu sudah tidak aku perbolehkan memulung
lagi. kini ibu mulai membuka usaha menjual makanan di depan rumah kontrakan.




Tetapi bapak, masih dengan kegiatanya menjadi preman jalanan, tetapi sudah
tidak seberingas dulu lagi, bapak kita hanya memegang lahan parkir, tidak
ikut mencopet, menodong atau tindak kekerasan lagi, dan kini bukan hanya aku
dan budi, aku memiliki adik juga bernama Andi, andi lahir ditengah kesusahan
ekonomi keluarga kami.



Sebagai pegawai kelurahan tugasku mengurus pembuatan  KTP, dari pengurus KTP
aku bertemu dengan Mas Sapto, seorang yang ternyata menaruh hati padaku,
memang banyak orang yang menyukai aku karena kata orang aku cantik, dengan
tubuh mungil, dan kulit putih. Tapi beberapa orang takut terhadap bapak,
atau meraka menghindar ketika awal aku bekerja aku tinggal dikolong
jembatan, memang aku telah biasa dilecehkan sebagai orang yang berekonomi
sangat rendah, mungkin kami yang hidup di kolong jembatan sudah tidak
dianggap dalam catatan pemerintah, hal ini aku ketahui setelah aku bekerja
di kelurahan.



Tentang Permalahan cinta, Ibu melarang aku untuk berpacaran, karena ibu
bilang jangan mau dipermainkan laki-laki, "laki-laki itu buaya semua nduk"
begitulah kata ibu dalam menasihatiku aku selalu mengikuti saran dari ibu,
dan aku ingin berbakti kepada kedua orang tua, karena aku tahu mereka sudah
susah bapak membesarkan aku dengan liku hidup yang begitu sulit.



"Nama kamu ika ya" begitulah pertemuan aku tidak begitu istimewa, dialah
Iwan Subrata, seorang pegawai bank swasta yang menaruh hati padaku, pada
awalnya aku hanya menanggapi dingin. karena aku takut berakhir kekecewaan.
tetapi iwan berhasil meluluhkan hati ku yang membeku.



"Ika, maukah kamu menikah dengan aku" pada suatu hari mas iwan bertandang
kerumahku, dan memberi sebuah kertas yang isinya sangat menggemparkan
hatiku, dia memintaku untuk menikah denganya, aku hanya diam dan bingung
dengan perasaan yang ada pada diriku.



"Kamu serius atau mau mainin aku, kalau kamu mau mainin aku, lebih baik kamu
pergi, aku takut kamu di hajar bapak, bapak ku preman mas, dan aku hanya
hidup sebagai orang yang tidak punya, apa kamu siap menikah dengan aku
dengan kondisi yang memprihatinkan" tulisku singkat dalam surat balasan ku
berikan kepada budi waktu itu.



"Aku tidak takut dengan bapakmu, seorang bapak akan melidungi anaknya, itu
pasti, tapi aku serius ika, aku ingin menikah dan menghabiskan sisa hidupku
dengan kamu, keluargamu adalah keluargaku, aku siap dengan kondisi seperti
apapun" sebuah inti surat yang dikirim kepadaku.akhirnya aku menyetujui
untuk menikah denganya, semua tidak berjalan mulus, aku tau bahwa

keluarga mas iwan datang dari keluarga yang terhormat, sedang aku dari
keluarga yang teramat miskin, pada awalnya ibu mas iwan sangat menentang
keinginan mas iwan, dia bilang aku berasal dari bibit, bobot,bebet  yang
tidak jelas, bapak ku preman, dan aku tnggal dirumah kardus. tapi hal itu
tidak menyurutkan tekad mas iwan untuk menyuntingku.



Mas iwan menemui bapak pada hari minggu sorre, "assalamualaikum" mas iwan
datang saat bapak ada dirumah, "masuk ada apa" tanya bapak dengan accuh,
"Begini pak, nama saya iwan subrata, saya datang dengan maksud ingin
menikahi putri bapak ika tapi sebelum orang tua saya datang, saya
memberanikan diri untuk menanykan kesedian bapak untuk memperbolehkan saya
menikahi anak bapak" jelas mas iwan kepada bapak kala itu. Bapak pada
awalnya sangat terkejut, tapi bapak adalah seorang yang bijaksana dan
memperbolehkan putrinya untuk dinikahi mas Iwan



Dan dalam waktu 6 bulan setelah pemintaan mas iwan itu akhirnya kami menikah
sebuah pernikahan sederhana dirumah itu, dan aku bahagia bersama dengan mas
iwan yang sanagat baik, berkat mas iwan adiku budi bisa melanjutkan kuliah
dan menjadi seorang Sarja Ilmu Komputer dan budi telah bekerja sebagai
seorang Staff IT di perusahaan Multinasional. sedang Andi adiku terkecil
bisa sekolah dengan baik, sekarang dia telah SMU, bapak dan IBu kini tinggal
bersama kami



Aku pun kini telah mempunyai seorang putri kecil yang cantik dan ceria, yang
bernama Keysia, seorang yang bersifat mirip seperti bapak, keras kepala.
bapak kini telah meninggalkan pekerjaannya sebagai preman, dia membuka usaha
bengkel dengan modal dibantu oleh Budi adiku yang telah bekerja. tetapi
mungkin rasa sakit hati bapak terhadap Tuhan masih membekas di hatinya,
sampaisaat ini bapak tidak mau untuk sholat.



Pada suatu hari bapak sakit, aku membawa bapak kerumah sakit. dan bapak
mendapat pernyataan bahwa bapak menderita penyakit paru-paru akut, dan bapak
sakit parah dan susah diobati. "pak…" Aku memandangnya lekat-lekat, ingin
memulai pembicaraan.Mataku sembab habis menangis.



"dokter bilang umur bapak tidak lama lagi kan?" tebak bapak. Aku menggeleng
lemah.



"dokter tidak bilang begitu, dia hanya bilang kalau bapak sakit parah dan
sulit diobati"



"itu sama saja" kata bapak Pandangan matanya mengabur seakan ada ribuan
kunang-kunang mengitari dirinya. dia lalu mengenang hidupnya yang sangat
keras.



Satu yang bapak pernah cerita kepada Ibu, bahwa bapak sanagat menyesali
bahwa bapak pernah mengutuk Allah dan bapak tidak pernah Sholat. Rasa ego
dan tekanan hidup masa lalu, bapak bercerita bahwa Dia takut ibadahnya tidak
diterima. Kini bapak bahkan hampir lupa bagaimana caranya Sholat.



Mas Iwan, Aku, Budi, bahkan Keysia berkeinginan kembali mengajarkan bapak
sholat, tapi kadang masih ada kegalauan dalam hati bapak. "bapak belajar
Sholat ya?" aku sering mengajak bapak, tapi teguran kut tadi membuat bapak
terkejut, karena selama bapak menganggap  aku tidak tidak pernah
mempermasalahkan keislamannya.



"bapak biarlah yang dulu kekerasan hidup dan cobaan hidup telah berlalu,
Allah selalu menguji kita karena Allah sayang kita kan pak, buktinya kini
Allah memberi sesuatu yang indah Budi tetap bisa kuliah seperti mimpi bapak
dulu, dan aku Telah menikah dengan Mas IWan orang yang menyangi aku dan
keluarga kita, serta Ada Keysia Cucu Bapak yan sangat mencintai bapak"
Ujarku



Tampak sebuah senyum dari wajah bapak seakan dia setuju tentang apa yang
telah aku terangkan kepadanyanya. dan setelah pembicaraan itu aku melihat
keysia masuk kedalam kamar "eh kakek udah bangun, sini Keysia ajarin Cara
sholat"



"boleh, tapi ajarinnya pelan-pelan ya" bapak pernah berkata tentang
harapanya bahwa dia ingin kembali berbakti kepada Allah dan menjalankan
printahnya sebelum dia Meninggal.Dan Suatu keajaiban telah terjadi dalam
Hidupku, Aku melihat Bapak telah melaksanakan sholat Ashar  berjamaah dengan
Keysia Putriku. Alhamdulillah. Seorang Preman tua, telah kembali insyaf dan
Sholat karena seorang putri kecil yang begitu mencintainya, Keysia putri
kecilku yang cantik yang bisa meluluhkan seorang preman tua itu, dan
menuntunnya kejalan Allah, bukan karena kepintaranya tapi ketulusan yang
pancarkan dari tubuh kecil itu.



Aku pun terharu atas kejadian yang kusaksikan,dan kupanjatkan doa kepada
Allah Atas semua Karunia yang telah diberikan kepadaku. "Ya Tuhanku,
tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan
kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh
yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada
anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku
termasuk orang-orang yang berserah diri Amin".



Cerpen ini hanya imaginasi penulis, kesamamaan nama, Pristiwa, adalah tidak
disengaja bila ada kritik saran, Komentar, Sanggahan harap ditujukan pada
[EMAIL PROTECTED]



Depok 16 Mey 2008

Erwin Arianto

http://coretanpena-erwin.blogspot.com/2008/05/keysia-dan-mantan-preman-tua.html










-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke