'istiadji [EMAIL PROTECTED] wrote :
RAABITHAH TARBIYYAH ALAMIL ISLAAM
TUNTUNAN KEROHANIAN ISLAM - MENUJU KEMULIAAN AKHLAK
..... DAN MASUKLAH KALIAN KEDALAM ISLAM SECARA KESELURUHAN ......
( SURAT 2-AL BAQARAH AYAT 208 )
Assalamu'alaikum WR. Wb.
INDONESIA MASIH TIDAK BERKAH KARENA TERLALU SEKULER .... DAN LIBERAL ...
Kesemuanya itu terjadi akibat secara umum kita umat Islam KURANG MEMAKNAI
KECINTAAN PADA ALLOH SWT. ... yang ada baru ketaatan untuk beribadah pada Alloh
swt... bahkan banyak larangan-larangan yang senantiasa dilanggar ... meskipun
ibadah ta'at ...
Nah marilah kita mulai memompa diri ( qalbu ) kita untuk mencintai Alloh swt
yaitu dengan :
Begitu bersemangat untuk ibadah kepada Alloh swt. sebagaimana bersemangatnya
kita dalam kehidupan mencari duniawi, seperti nafkah hiburan dsb ...
Apabila kita sudah demikian bersemangat untuk shalat berjama'ah di masjid
segera bila tiba waktunya, tanpa menunda-nunda saking cintanya kita pada shalat
jama'ah fardhu, melakukan shalat sunnah dan puasa sunnah, berdzikir, berdoa,
bertasbih pada Alloh kesemuanya dengan penuh semangat dan kesungguhan ...
semangat untuk mengikuti apa-apa yang dicontohkan Nabi kita ... misalnya selalu
memulai dengan do'a sunnah tertentu untuk suatu aktifitas dalam kehidupan
tertentu ... cara berpakaian nabi kita ..cara hidupnya ... cara makannya
..minumnya ...
dan yang terpenting BERSEMANGAT MENJAUHI LARANGAN-LARANGANNY A ... yang
sedikit banyak masih dilanggar .. gunjing, dengki, caci-maki, mencela, buruk
sangka, zinah, korupsi, narkoba ( khamer ), buka aurat, riba bunga bank, ...dll
Sebagaimana kita begitu semangatnya kalau mau nonton sepak bola final Piala
Dunia atau piala Eropa malam suntuk itu.. atau semangat ketika kita nonton
sinetron kesayangan, atau tayangan berita Metro tv, atau semangat melihat
penyanyi kesayangan kita tampil di tv atau di konser, semangat ketika kita
makan di restoran favorit kita ... semangat ketika berwisata melihat yang
indah-indah ..yang nyaman-nyaman ... semangat ketika kita ikut tender projek
besar yang pejabatnya sahabat kita pasti dimenangkan tender milyarannya itu,
semangat ketika mau berjumpa pacar kita, semangat ketika mencoba mobil baru bmw
kita atau motor honda kharisma baru kita, semangat ketika ada teman menawarkan
pekerjaan dengan gaji tinggi disuatu instansi ... dsb... dsb ..
Itu menandakan kita sudah mencintai Alloh swt.dan Rasulnya ... karena termasuk
mengerjakan yang sunnah-sunnah dengan selengkap-lengkapny a ....
Nah barang siap yang bersemangat dalam ibadah sebagaimana dia bersemangat
ketika meraih dunia ...niscaya Alloh swt. akan memberikan kepada kita
kebahagiaan dunia dan akhirat .. KEDUA ..DUANYA SEKALIGUS ..
Itu berarti kalau rakyat Muslim negeri ini secara umum sudah bisa berlaku
demikian ..maka aman makmur dan sejahteralah negeri ini..
Kita harus berintrospeksi kepada diri masing-masing setiap insan .. sudahkah
kita benar-benar mencintai Alloh swt. dan Rasulnya ?
Negeri ini ibaratnya tidak berkah .. meski sudah makmur .. tapi masih penuh
konflik dan intrik ... disebabkan kebanyakan umat Islam belum benar-benar
mencintai Alloh swt. .. lebih cinta dunia .. cinta nafkah .. cinta hiburan
...kalau cinta Alloh SWT... pasti akan takut pada-Nya .. dan menjauhi
larangan-laranganny a misalnya ... dan yang penting juga ...disebabkan karena
Syariah Islam tidak diperhatikan Presiden dan DPR untuk diupayakan diberlakukan
dinegeri yang mayoritas islam ini .. Karena Presidennya Islam .. Pimpinan2 DPR
nya Islam ... kan ? Itukan suatu tanda mereka mencintai Alloh SWT ...bukan ?
Syariah Islam tidak semata-mata semua penduduk harus beragama Islam... tapi
agama lain silakan hidup bersama .. sebagaimana yang dicontohkan Nabi saw.
setelah menaklukkan Yerusalem .. umat Islam-Kristen- Yahudi hidup berdampingan
secara damai dinegeri tersebut .. dan dinegeri manapun dimana Islam berkuasa ..
Berkahlah negeri ini ... berkahlah rakyatnya ... amiiin
Lihat negeri-negeri Arab yang menerapkan Syariah Islam ..aman ..makmur
..tenteram bukan ? .. Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Abu Dhabi, Yaman, Bahrein,
Iran, Malaysia, Brunei..
Sedangkan yang tidak menerapkan Syariah Islam seperti India, Pakistan,
Afghanistan, dan Indonesia sendiri ... keruh dan kumuh terus ... Berkah Alloh
SWT tidak turun ..rakyatnya kurang mencintai Alloh SWT...
Perhatikan hadits Nabi saw. dari Abu Hurairah RA, yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari RA.
TIDAKLAH SEORANG HAMBAKU MENDEKATKAN DIRINYA KEPADAKU DENGAN SUATU AMAL YANG
LEBIH AKU CINTAI DARI PADA YANG TELAH AKU WAJIBKAN PADANYA.
SENANTIASALAH HAMBAKU MENDEKATKAN DIRINYA KEPADAKU DENGAN AMALAN-AMALAN SUNNAH
HINGGA AKU MENCINTAINYA.
MAKA AKU AKAN MENJADI PENDENGARANANNYA DAN MENJADI PENGLIHATANNYA DAN MENJADI
TANGANNYA DAN MENJADI KAKINYA.
KALAU DIA MEMINTA PASTI AKU BERI DAN KALAU DIA MEMOHON PERLINDUNGAN PASTI AKU
LINDUNGI.
Coba anda renungkan Hadits itu ... luar biasa sekali bukan ...?
Dan itu terjadi dan pasti sudah diamalkan oleh Nabi kita sendiri .. sebab
Beliau sudah melihat apa yang akan terjadi sekarang ini .. YAITU SEKITAR 1400
YANG AKAN DATANG DILIHAT DARI MASA BELIAU HIDUP !!! ...Karena Beliau dapat
melihat DENGAN MATA ALLOH SWT ... Apakah itu ? kemaksiatan dimana-mana
..liberalisasi dimana-mana .. perlombaan kekayaan .. gedung-gedung tinggi
bermunculan ... dan beliau menyebut sekarang ini AKHIR ZAMAN ...
Dan itupun terjadi pada diri salah satu wali di Jakarta : Habib Abdurrahman
Assegaf ( Alm ) ... semasa mudanya ditahun lima puluhan sudah menyebut akan
banyak wanita-wanita hampir membuka bajunya ( di televisi di mal-mal di
panggung-panggung ) .. Karena beliau dapat melihat DENGAN MATA ALLOH SWT ..
puluhan tahun yang akan datang ...
Nah marilah ikuti jejak Rasulullah saw ... dan para Wali kita ... untuk
benar-benar MENCINTAI ALLOH SWT. SEPENUH HATI ... DENGAN PENUH KEYAKINAN ALLOH
ITU ADA DAN SELALU MEMPERHATIKAN DAN MENGURUS DIRI KITA ...
Amiin ..
Kurang lebihnya mohon dimaafkan .. wa bilahi taufik wal hidayyah ..
Wassalamu 'alaikum wr. wb.
ISTIADJI SUTOPO
Morry Infra <morry.infra@ gmail.com> wrote:
Tulisan bagus....
Tapi siapa yang nulis nich....
Tolong dong di-attach original message-nya or at least ada tulisan nama si
penulis...
Kecuali ini tulisan Pak Asep sendiri...
Ditunggu ya Pak...
Saya mau forward ke yang lain...
Wassalam,
Morry Infra
+966-533214840
2008/6/5 Asep Sumantri <asep_sumantry@ yahoo.com>:
--------Original Message----- ---
Sopir angkot berantem dengan sopir omprengan, advokat Peradi berkelahi dengan
advokat KAI, FPI bentrok dengan AKKBB, kepala desa menolak mengurus BLT, Depkeu
berseteru dengan BPK, PKB pecah menjadi dua, dan seterusnya. Itulah wajah
Indonesia akhir-akhir ini. Kita bukan hendak menebarkan aura pesimisme, tapi
mengajak kita semua untuk menerima fakta di depan mata kita. Mengabaikan semua
itu dengan terus meniup-niupkan segala yang optimistis bisa terjebak pada
kepalsuan dan menghindar dari kenyataan.
Memang, kita tak boleh larut dalam pesimisme, tapi kita harus menyelesaikannya
bukan seolah-olah tak ada masalah. Apa sebetulnya yang terjadi pada bangsa ini?
Kosongnya kepemimpinan? Tiadanya keteladanan? Tak tegaknya hukum? Miskinnya
moralitas? Belum kokohnya landasan world view? Kita melihat semua itu
memberikan sumbangan terhadap keruwetan yang kita hadapi saat ini. Jalan buntu?
Tentu tidak. Setidaknya kita harus selalu berikhtiar bahwa di sisi sana ada
titik terang.
Mentasnya negara-negara berkembang selalu dipicu oleh hadirnya seorang
pemimpin yang baik dan tepat. Dia bisa menghela bangsanya untuk melangkah.
Melampaui segala keterbatasan yang membelit negerinya. Melalui visi dan
kepemimpinannya, ia bisa mendobrak segala kegelapan. Di sana ada Lee Kuan Yew,
Mahathir Mohamad, Park Chung Hee, Deng Xiao Ping, dan sebagainya. Dalam banyak
hal, Vladimir Putin pun seperti itu. Mengapa di negara berkembang kepemimpinan
itu lebih utama?
Karena, tatanan negara-negara berkembang yang rata-rata sebagai negara
pascakolonial dihadapkan pada banyak kendala: kemiskinan, kebodohan,
keterbelakangan, kerapuhan sistem, labilnya moralitas dan world view, korupsi,
keterbatasan sumber daya manusia, maupun masih banyaknya aspek hukum yang
bolong. Dalam kondisi yang relatif tradisional, masyarakat mudah mengikuti apa
kata pemimpinnya. Terlihat simplistis, namun nyatanya faktor kepemimpinan
adalah yang paling dominan menjadi faktor pembawa kemajuan.
Biasanya, mereka relatif otoriter karena mereka membutuhkan efektivitas
kepemimpinan di tengah sistem dan tata nilai yang belum mapan. Memang itu
risikonya. Biasanya, mereka selalu memulai dan bertumpu pada capaian-capaian
ekonomi yang spektakuler. Setelah itu, mereka membangun sistem, moralitas, dan
world view tentang masa depan negara dan bangsanya.
Tentu saja, hal ini menjadi aneh jika dilihat dari perspektif teori-teori
demokrasi. Karena itu, untuk mementaskan negara berkembang selalu didikotomikan
antara hadirnya pemimpin dan membangun sistem yang demokratis. Namun faktanya,
negara pascakolonial 1945 yang berhasil mentas adalah negara-negara yang
beruntung mendapat pemimpin. Menghadirkan demokrasi dalam waktu cepat bukanlah
perkara mudah. Karena demokrasi berisi dua hal: hardware dan software.
Yang pertama berupa kelembagaan dan seperangkat aturan perundangan. Sedangkan
yang kedua adalah nilai-nilai dan budayanya. Menghadirkan yang pertama dalam
waktu cepat bisa tercapai, namun untuk yang kedua tak ada bilangan pastinya.
Saat ini, secara hardware, Indonesia adalah negara demokrasi. Namun, secara
software masih belum terbentuk. Sehingga, yang terjadi adalah segala sesuatu
selalu diakali, termasuk untuk lolos dari jerat korupsi. Sehingga, walaupun
penjara sudah dipenuhi koruptor, namun Indonesia tetaplah negara terkorup.
Karena itu, sambil menunggu maujud-nya nilai-nilai dan budaya demokrasi, kita
bisa memilih pemimpin yang baik dan tepat. Abaikan segala perbedaan dan
kelemahan yang bersifat teknis, tapi fokus pada visi ekonomi dan
kepemimpinannya. Senyampang pemilu dan pilkada bersifat langsung, kita sebagai
rakyat adalah penentunya. Kita butuh pemimpin yang berpijak pada bumi Indonesia.
[Non-text portions of this message have been removed]