Pertanian
Tidak Satu Pun Masalah Petani Tuntas
Kamis, 19 Juni 2008 | 00:19 WIB

Jakarta, Kompas - Pemerintah tidak menyelesaikan satu pun masalah yang
dialami petani secara tuntas. Hal tersebut terungkap dalam rapat kerja
antara Menteri Pertanian Anton Apriyantono dan Komisi IV DPR, Rabu (18/6) di
Jakarta.

Masalah yang dihadapi petani selalu seputar kelangkaan dan tingginya harga
pupuk, benih palsu, kekeringan, kebanjiran, infrastruktur parah, kualitas
produksi, hingga sulitnya mengakses sumber permodalan.

"Masalah itu selalu muncul dan tidak satu pun yang diselesaikan tuntas,"
ujar anggota Komisi IV DPR dari Fraksi PDI-P Jacobus M Padang.

Menurut Jacobus, idealnya petani hanya memproduksi. Mereka tidak harus
berpikir bagaimana membeli pupuk, dari mana modal usaha, pupuk ada atau
tidak, harga gabah jatuh atau tidak, serta bagaimana sawah mereka tidak
kekeringan dan kebanjiran.

Azwar Chesputra, anggota Komisi IV dari Fraksi Partai Golkar mengungkapkan,
di Riau persoalan pokok yang dihadapi petani adalah sulitnya mendapatkan
benih kedelai unggul.

Masalah bibit karet juga menjadi isu penting. Tanaman karet menjadi
komoditas andalan petani di sebagian wilayah Sumatera, tetapi tanaman sudah
tua dan perlu segera ditanam kembali (replant).

I Wayan Sugiana, anggota Komisi IV dari Fraksi Partai Demokrat
mempertanyakan masih seringnya petani kesulitan mendapatkan pupuk
bersubsidi. Kalaupun ada, harganya lebih tinggi dari harga eceran tertinggi.

Idham, anggota Komisi IV dari Fraksi PDI-P, mengaku malu kepada petani.
Mereka sulit mendapatkan pupuk dan mengakses sumber permodalan. "Petani
miskin dan merana, tetapi Mentan masih bisa tersenyum," katanya.

"Khusus masalah kelangkaan dan tingginya harga pupuk, yang keliru bukan
subsidi pupuknya tetapi mekanisme distribusi sehingga tidak sampai," kata
Elvina, anggota Komisi IV.

Berbagai program pertanian terkait permodalan juga tidak menjangkau kawasan
timur Indonesia. "Jangankan petani, kepala dinas pertanian saja tidak tahu
ada skim kredit pelayanan pembiayaan pertanian," ujarnya.

*Kekeringan*

Di sejumlah daerah, petani tetap menghadapi berbagai persoalan. Di
Purwakarta, Jawa Barat, petani sawah tadah hujan khawatir hasil panennya tak
maksimal pada musim gadu tahun ini. Selain masalah ketersediaan air, mereka
juga menghadapi serangan hama.

Di Cirebon dan Majalengka, Jawa Barat, petani bersiap melewati musim gadu
pertama tahun 2008 dengan kehilangan 20 persen produksi padinya. Musim
kemarau tahun ini menyebabkan banyak bulir padi hampa.

Adapun di Banyumas, Jawa Tengah, kekeringan yang melanda sejumlah wilayah
pada musim kemarau ini dikhawatirkan akan memengaruhi kuantitas panen.
Kondisi itu akan mendongkrak harga beras hingga 15 persen mulai tingkat
penggilingan. (MAS/MKN/THT/A08/ A01/HAN/ACI)



sumber : kompas


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
http://reportermilist.multiply.com/
************************************


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke