<http://mediacare.blogspot.com/2005/01/sirikit-syah-apa-pentingnya-bahasa.ht
ml> Sirikit Syah: Apa pentingnya Bahasa? 

Seseorang ditembak mati karena penggunaan bahasa. Seorang menteri di 
pemerintahan Israel itu sebelumnya berpidato yang dikutip media 
massa, bahwa "Bangsa Arab itu adalah two-legged beasts (binatang 
berkaki dua). Bahkan melihat caranya beranak pinak, mereka sama 
dengan lice (kutu)." Tak berapa lama kemudian, dia ditembak mati oleh 
gerilyawan Palestina. 

Tak terhitung perang antar suku, antar bangsa, kerusuhan di kota 
besar yang plural, disebabkan oleh penggunaan bahasa. Hate speech. 
Pernyataan kebencian. Di Pasuruan, misalnya, tahun 1996, seorang 
pendeta menerbitkan selebaran gereja yang mengatakan "Nabi Muhammad 
adalah buta huruf penghuni goa." Maka terjadilah kerusuhan dan 
pembakaran sejumlah gereja di wilayah Pasuruan hingga ke Situbondo, 
yang tentu saja pemberitaannya tak seheboh di era reformasi karena 
kami -para redaktur- dipanggil Bakortanasda dan diwanti-wanti untuk 
tidak melaporkannya. Atau kalau terpaksa dimuat, muatlah di halaman 
belakang, tanpa foto. Crew TV, jangan ekspos wajah sang pendeta, dst. 

Sampai sekarang surat kabar prestisius The Christian Science Monitor 
tak mau menggunakan kata "insurgent" untuk me-label gerilyawan Irak. 
Kata redakturnya, "Insurgent itu artinya pemberontak pada 
pemerintahan yang sah. Lha, di Irak ini, mana pemerintahannya yang 
sah?" Sementara itu, ketika terjadi serangan 9/11 2001, CNN dalam 
pemberitaannya menggunakan banner "America under Attack". Ketika 
menyerang Afghanistan, CNN menggunakan banner "War on Terrorism". 
Betapa tidak adilnya. Mengapa tidak "America Attacks Back", 
atau "Afghanistan under Attack too". 

Kalau saja semua media berperilaku santun dan menghormatti bahasa 
seperti the Christian Science Monitor, mungkin Jake Lynch dan Annabel 
McGoldryck tak perlu meneruskan kampanye Johan Galtung tentang 
perlunya Peace Journalism. Dalam ajaran mereka (kami telah melatih 
lebih dari 200 wartawan di wilayah konflik di Indonesia dalam kurun 
waktu 2000-2002), penggunaan bahasa merupakan salah satu faktor 
penting pemicu konflik. Peace Journalism menganjurkan wartawan 
menghilangkan sterotye (seperti contoh di atas tentang bangsa Arab), 
membuang label (Tomy Winata marah besar kepada Tempo ketika disebut 
pemulung), menghilangkan kata sifat, tidak menggunakan kata-kata 
konotatif atau bermakna ganda, tidak hiperbola, dan seterusnya. 

Media massa suka menulis adanya massacre (pembantaian) untuk sebuah 
pertempuran antar suku atau bahkan sekadar pembunuhan. Padahal yang 
dimaksud pembantaian hanya bila korban berjumlah banyak, dan para 
korban itu sedang tidak sadar akan diserang, dan tidak membawa 
senjata. Kalau para korban itu tengah berjaga-jaga dengan membawa 
senjata, itu bukan pembantaian, itu pertempuran. Apalagi kalau sopir 
angkot Kristen berkelahi dengan preman Islam, lalu keduanya terbunuh. 
Ini bukan pembantaian Islam atas Kristen atau sebaliknya (kasus 
konflik Ambon). 

Media massa juga suka menggunakan kata 'sadis'. Misalnya, "Perempuan 
itu membunuh pemerkosanya dengan sadis." Perempuan itu korban 
perkosaan dan dia membunuh karena membela diri. Tentu tidak sama 
dengan perbuatan yang dapat dikatagorikan 'sadis', seperti membunuh 
karena merampok, mencuri, atau balas dendam, melakukan mutilasi pada 
tubuh korban dengan penuh kesadaran, menikmati proses pembunuhan, dst. 

Pemimpin Redaksi Harian Rakyat Merdeka Jakarta divonis bersalah oleh 
pengadilan dan dihukum penjara hanya karena penggunaan bahasa yang 
ceroboh (menggunakan metafor untuk tokoh riil). RM menulis "Mulut 
Mega bau solar" dan "Mega lebih kejam daripada Sumanto". 

Bahasa dan logika 

Salah satu syarat utama menjadi wartawan seharusnya penguasaannya 
atas bahasa, bukan sekadar ketrampilannya melakukan wawancara (lihat 
hasilnya di talk show TV dan radio, bagaimana mereka menjadikan diri 
mereka pusat perhatian dengan kelincahannya 'menginterogasi' 
narasumber). Masih sering kita baca: "Pencuri itu berhasil ditangkap 
polisi". Siapa yang berhasil? Kalau pencuri berhasil, dia tak akan 
ditangkap polisi, bukan? Pernah juga saya dengar di televisi: "Sistem 
lalu lintas yang baru ini dapat memperlancar kemacetan." Kemacetan 
kok diperlancar? 

Beberapa surat kabar menuai gugatan hanya karena menulis "koruptor", 
bukannya "diduga korupsi". Untuk kasus Laksamana Sukardi, beberapa 
media menulis "Lari", atau "Kabur". Harian Nusa menulis judul "Laks 
Diisukan Kabur". Bahasa yang digunakan Nusa sudah benar, tapi karena 
Laks terlanjur marah, Nusa digugat juga. 

Noam Chomsky, linguist yang sangat kritis terhadap media barat, terus 
menerus mencatat penggunaan bahasa yang menyesatkan oleh media barat. 
Salah satu bukunya "International Terrorism" banyak mengupas pilihan 
kata media barat yang justru menimbulkan kekisruhan dunia. Dia 
menandai bagaimana seorang anak pelempar batu di Palestina 
disebut "teroris" dan tentara Israel menggempur kamp pengungsian 
disebut "tindakan pencegahan". Siapa pula yang diberi label "Negara 
Arab Moderat" (tentu saja yang setuju dengan kebijakan AS!) dan siapa 
yang "fundamentalis". 

Filsuf China Kong Hu Cu (Confusius, 1551-479 SM), ketika ditanya "Apa 
yang pertama kali dilakukan, seandainya terpilih menjadi pemimpin 
negara?", menjawab, "Tentu saja meluruskan bahasa." Jawaban ini 
mengejutkan. Lalu dia menjabarkan: "Jika bahasa tidak lurus, apa yang 
dikatakan bukanlah apa yang dimaksudkan. Jika yang dikatakan bukan 
yang dimaksudkan, apa yang seharusnya diperbuat tidak diperbuat. Jika 
tidak diperbuat, moral dan seni merosot. Jika moral dan seni merosot, 
keadilan akan tidak jelas arahnya. Jika keadilan tidak jelas arahnya, 
rakyat hanya berdiri dalam kebingungan yang tak tertolong. Maka, tak 
boleh ada kesewnang-wenangan dengan apa yang dikatan. Ini paling 
penting di atas segala-galanya." 

Pada akhir tahun 2002, sebuah perhelatan Miss World membuat 200 orang 
tewas dan puluhan bangunan hancur di Nigeria. Pasalnya, publik yang 
mayoritas Islam telah menolak penyelenggaraan Miss World itu. Apalagi 
di bulan Ramadhan. Namun pemerintah tetap mengizinkan pelaksanannya. 
Mengkritik para pemrotes kontes Miss World itu, seorang penulis 
menulis di harian Today. "Seandainya Nabi Muhammad masih hidup, 
mungkin dia akan memilih satu di antara kontestan untuk menjadi 
istrinya." Rakya marah, terjadi kerusuhan, bentrokan dengan tentara, 
200 orang tewas, puluhan mobil dan bangunan dibakar. Contoh ini 
menggambarkan apa yang dimaksudkan oleh Kong Hu Cu. Kepala negara, 
penulis yang berpengaruh, jurnalis, mesti hati-hati menggunakan 
bahasa. Bila bahasa tidak lurus (Nabi Muhammad tidak pernah 
memperistri orang karena daya tarik fisik!), dunia kisruh dan porak 
poranda. Nigeria telah mengalaminya. 

Seorang kawan mengatakan, "Bahasa adalah dasar peradaban. Pembentuk 
karakter. Alat ukur logika. Persoalan pendidikan di Indonesia adalah 
lemahnya pengajaran bahasa. Tanpa penguasaan bahasa, sains dan 
tehnologi mustahil berkembang." Anda tentu mengira kawan saya itu 
seorang ahli atau sarjana bahasa. Bukan. Dia seorang insinyur. 
Menurutnya, insinyur adalah manager, dan manager mesti menggunakan 
bahasa yang benar agar komunikasi efektif dan pekerjaan berjalan 
lancar. Tulisan ini saya persembahkan untuk dia sebagai penghormatan 
saya atas penghormatannya terhadap bahasa. 

Sirikit Syah 
Waka Stikosa-AWS 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke