RESENSI BUKU

Judul   :       Harapan Itu Masih Ada
Penulis :       Titiana Adinda
Penerbit        :       Elex Media Komputindo
Genre   :       True Story
Terbit  :       2008    
Tebal   :       103 hlm.

HIDUP, SEPATUTNYA DIBELA!
Oleh: Y. Budi U*

Sedikit orang yang mampu menulis tentang "rahasia" dirinya, kecuali
untuk otobiografi dan kepentingan publikasi. Titiana Adinda, bagian
dari jumlah yang sedikit itu. Rahasia `penderitaan' hidup, apalagi
menyangkut eksistensi diri, memang tak seharusnya murah diumbar.
Pengakuannya dalam pengantar, Dinda menulis, "Sungguh tidak mudah
mengingat kembali peristiwa menyedihkan ini. Bahkan tak jarang
meneteskan air mata saat menuliskannya."

Datangnya cobaan
Meningoensefalitis adalah radang infeksi yang menyerang selaput dan
jaringan otak. Efek yang ditimbulkan berupa kelumpuhan tubuh bagian
kanan, kelopak mata mengecil, bahkan amnesia. Lebih dari itu, Dinda
mengalami meningoensefalitis Tb (tuberkulosis), dimana bakteri TBC
ikut andil menyerang selaput otaknya. Bisa dibayangkan bagaimana Dinda
`belajar keras' menerima keadaan dirinya. Dan, Dinda menuliskan semua
pengalaman itu dengan lugas, sekaligus menegaskan ketegarannya yang
luar biasa.

Pada tahap awal, Dinda hanya sering merasakan demam dan pusing,
sebagaimana gejala flu biasa. Seorang dokter menyarankannya untuk
segera operasi usus buntu. Dinda melakoninya. Namun, tak kunjung
sembuh. Hingga di awal tahun 2004, Dinda, yang saat itu masih aktif di
Komnas Perempuan, mengalami puncak sakitnya. Hasil pemeriksaan, baik
CT-scan maupun MRI, menyimpulkan adanya peradangan di selaput otak
(meningitis) dengan deskripsi meningitis Tb. Mulailah, hari-hari Dinda
dilalui di rumah sakit, ruang terapi, dan kamar rawat.

Rasa rendah diri Dinda yang pertama adalah kesulitan bicara. Dengan
kondisi bibir yang miring ke kiri dan bicara yang terbata, membuatnya
sedih. "Ya Tuhan, kalau begini terus, aku tidak tahan menerima cobaan
ini." Rasa percaya diri semakin hilang saat tahu dirinya terkena
amnesia, pandangannya jadi dobel, dan mata kirinya semakin mengecil.
Kehilangan ingatan merupakan satu siksaan tersendiri. Terutama bila
kenangan akan aktivitas menyenangkan yang pernah dilakukannya tak bisa
dilakukan lagi. Untuk melakukan hal-hal biasa (rutin) saja tentu
menjadi kerinduan luar biasa. Di bagian-bagian selanjutnya, Dinda
bercerita bagaimana ia harus belajar lagi mengoperasikan Mic. Word,
sebuah aktivitas biasa yang telah mahir dilakukannya jauh sebelum sakit.

Belum usai dari keterpurukan, Dinda harus menerima fakta pahit di
tempatnya bekerja. Maret 2005, selang ia sedang memulihkan keadaanya,
Dinda di-PHK tanpa prosedur semestinya. Dinda pun meradang. Ia
menuntut Komnas Perempuan secara hukum. Tidak main-main, hampir 15
bulan lamanya, Dinda berjuang mendapatkan haknya. Dan, untuk kesekian
kalinya, jauh di lubuk hatinya, Dinda makin merasa sangat sepi. Sakit
dan penderitaan yang dialaminya seolah membuatnya banyak kehilangan
teman dan juga "nasib" baik.

Masa pemulihan
Keakrabannya dengan penderitaan di saat sakit, membuat Dinda mulai
terbiasa dan bisa menerima keadaan dirinya. Perlahan-lahan, Dinda
bangkit sebagaimana ia sendiri mengeraskan hati untuk sembuh.
Aktivitas demi aktivitas dia lakukan, konsultasi, terapi, dan menulis
artikel di media massa.

Yang menarik adalah tumbuhnya kesadaran Dinda untuk melakukan
konsientisasi tentang meningoensefalitis, termasuk dituliskannya di
buku ini. Tentunya supaya jangan ada lagi orang yang terkena penyakit
ini. Menurut data dari berbagai sumber, angka kematian penderita
meningoensefalitis di Indonesia mencapai 18-40 persen, dengan angka
kecacatan 30-50 persen.

Meningitis sendiri, lebih sering terjadi pada anak-anak usia 1 bulan-2
tahun. Gejala yang umum terjadi adalah demam, sakit kepala, dan
kekakuan otot pada leher. Penderita ini juga mengalami fotofobia
(takut cahaya) dan fonofobio (takut dengan suara yang keras), mual,
muntah, sering tampak bingung, susah untuk bangun tidur, bahkan tak
sadarkan diri. Pada bayi, umumnya menjadi sangat rewel dan terjadi
gangguan kesadaran. Gejala lainnya adalah warna kulit menguning
(jaudice), tubuh dan leher terasa kaku, demam ringan, tidak mau makan
atau minum ASI. Tangisannya pun menjadi lebih keras dan bernada
tinggi, serta ubun-ubunnya terdapat benjolan atau bagian itu terasa
kencang.

Menjaga kebersihan diri adalah kiat pertama mencegah terjangkitnya
penyakit ini. Media penularan bakteri Neisseria meningitidis
meningokokus ini melalui udara. Hubungan langsung dengan terkena
lendir atau percikan hidung atau tenggorokan ketika orang bersin,
mencium, batuk, atau barang-barang pribadi seperti gelas dan sikat
gigi, juga rentan pada penularan.

Pencegahan lain bisa dilakukan dengan vaksinasi Hemophilus influenzae
tipe b untuk anak-anak. Sementara vaksin meningokukus diberikan untuk
orang dewasa. Para jamaah haji biasanya mendapatkan vaksin ini sebelum
masuk di negara Arab Saudi.

Akhirnya, Dinda menyadari bahwa di dalam penderitaanya, ia masih bisa
mensyukuri semua nikmat yang diberikan Tuhan. Perhatian orang-orang
dekat, keluarga, dan sahabatnya membuatnya semakin semangat menyalakan
api hidup. Dari balik kamarnya, lahir gagasan-gagasan indah, termasuk
menjadi penggagas beladiri SDFW (Self Defense for Woman) Indonesia di
Jakarta dan menuliskannya dalam buku dengan judul yang sama.

Rasanya, judul buku "Harapan Itu Masih Ada" ini bukan sekadar
puitisasi fonetik. Dinda, sang penulis telah benar-benar menaruh
harapan itu dalam hatinya, dalam hidupnya. Dan, sekarang tinggal
menjaga nyala harapan itu, agar tetap hidup untuk dirinya juga untuk
orang lain.

*Y. Budi U, Ketua Komunitas Studi INSPICIO



Kirim email ke