Hore,
Hari Baru!
Teman-teman. 

Disekitar kita; begitu banyak orang hebat yang mengagumkan. Mereka 
memiliki kemampuan diatas rata-rata. Sehingga terlihat unggul dari 
manusia lainnya. Ketika dihadapkan pada suatu pekerjaan atau tugas 
tertentu, mereka selalu bisa menyelesaikannya dengan lebih baik dari 
orang lain. Ketika mereka dihadapkan pada situasi sulit tertentu, 
mereka selalu bisa menangani kesulitan itu dengan lebih baik dari 
orang lain. Ketika prestasi mereka dievaluasi, track record-nya lebih 
cemerlang dari kebanyakan orang. Seolah-olah, mereka benar-benar 
manusia paling ideal untuk pekerjaan yang ditanganinya. Itu membuat 
kita bertanya; "Mengapa Tuhan memberikan talenta begitu hebatnya 
kepada dia? Sedangkan kepada saya tidak. Jika saya diberkahi 
kemampuan yang seperti itu, pasti saya akan berprestasi seperti orang 
itu." Benarkah demikian? 

Beberapa waktu lalu, saya merasakan bahwa kemampuan lap top saya 
sudah menurun sangat jauh sekali dari sebelumnya. Padahal, dia 
menggunakan processor yang pasti memadai untuk mendukung kinerja 
seorang perofesional. Kinerjanya yang semakin memburuk membuat saya 
tidak mampu menyembunyikan ketidaksabaran ini, sampai-sampai boss 
saya memergoki dan bilang; "Be patience Dadang, it is still 
processingÂ…" katanya. "She has to perform faster if she still wants 
to work with me," saya menyahut. Tapi, kecaman saya tidak membuatnya 
bekerja lebih cepat. Padahal, saya sudah melakukan clean disk, dan 
juga defrag. Akhirnya, minggu lalu saya mengirim memo kepada teman-
teman di BT, bahwa saya mau lap top yang bisa bekerja lebih cepat. 

Tak lama kemudian, lap top itupun masuk ke dalam klinik untuk 
diperiksa para dokter spesialis computer, sebelum kembali keruang 
kerja saya beberapa jam berikutnya. Tahukah anda, bagaimana 
kinerjanya sekarang? Wuish, she runs like a flash! Sampai-sampai saya 
terkejut dibuatnya. Sehingga saya tidak sabar untuk bertanya;"Man, 
elo apain tuch lap top gue?"

Teman BT saya berkata;"Ditambah RAM-nya jadi dua kali lipat, Pak."
"Cuma begitu doank?"
"Iya. Hanya itu." Jawabnya. Saya tahu dia bangga dengan hasil 
kerjanya. Dan saya sangat menghargai usahanya.
"Nggak elo ganti processornya?"
"Nggak Pak," katanya. "Masih bagus, kok." Lanjutnya.

Saat itu saya menyadari, bahwa processor adalah potensi atau 
kapasitas maksimal tentang apa yang bisa dilakukan oleh sebuah 
computer. Dalam diri manusia, itulah yang biasa kita sebut sebagai 
talenta atau bakat, alias kapasitas terpendam dalam diri seseorang. 
Dalam computer, fungsi processor itu penting pada saat kompuetr 
sedang diaktifkan untuk bekerja. Ini menentukan sampai sejauh mana 
fungsi computer itu bisa dimaksimalkan. Bagi manusia, fungsi talenta 
itu penting pada saat kita sedang bekerja atau melakukan suatu 
aktivitas. Ini menentukan sampai setinggi apa kita bisa berprestasi. 

Sekarang, RAM itu apa? Mengapa meningkatkan RAM dua kali lipat bisa 
menaikkan kinerja processor computer itu sedemikan bermaknanya? RAM 
adalah sebuah playing ground. Tempat dimana file-file ditarik dari 
hard disk dan siap untuk diaktifkan. Dioperasikan. Diolah. 
Dieksekusi. Ditambah gambar ini dan itu. Meskipun kemampuan 
prosesornya tinggi, namun jika RAM-nya terlampau kecil untuk 
menampung file-file yang sedang diaktifkan, maka kinerja computer itu 
akan menjadi sangat buruk. Dia tidak bisa menjadi computer canggih. 
Manusia juga demikian. Meskipun talentanya besar. Potensi dirinya 
tinggi. Namun, jika kapasitas playing ground-nya terlampau kecil 
untuk menampung seluruh potensi diri itu, maka kinerjanya akan buruk 
juga. Dia tidak akan bisa menjadi manusia unggul.  

Ngomong-ngomong, bukankah kita seringkali berbangga hati dengan 
menyebutkan bahwa; "manusia adalah super computer?" Jika klaim itu 
benar adanya; bukankah seharusnya kita bisa lebih hebat dari computer 
tercanggih sekalipun? Mungkin itu benar jika konteks yang kita maksud 
adalah talenta atau potensi diri yang kita miliki. Sebab, kita 
percaya bahwa kemampuan otak kita saja konon baru digunakan tidak 
sampai 5% saja. Tetapi, jika kita berbicara tentang actualized 
individual potential, maka kita harus bertanya ulang. Mengapa? 
Karena, kita sudah bertemu dengan begitu banyak orang yang 
sesungguhnya sangat berbakat, namun pencapaiannya tidak sampai kemana-
mana. Sebab, orang-orang ini telah membiarkan playing ground-nya 
menjadi begitu kecil. 

Pertanyaannya sekarang adalah; bagaimana caranya memperbesar playing 
ground diri kita? Ada banyak cara. Satu, melatih diri untuk sesuatu 
yang lebih tinggi. Berapa banyak dari kita yang bersedia menantang 
diri sendiri untuk menguasai keterampilan-keterampilan baru? 
Kenyataannya kita sudah cukup puas dengan kemampuan yang kita miliki 
saat ini. Melatih diri untuk sesuatu yang baru itu menguras tenaga. 
Membutuhkan waktu. Dan memerlukan komitment. Mengapa kita harus 
bersusah payah begitu jika kita sudah puas dengan keadaan sekarang?

Dua, meninggalkan comfort zone. Ada banyak peluang baru dalam jarak 
setengah sentimeter dari diri kita. Namun, untuk meraihnya kita harus 
bersedia keluar dari zona kenyamanan kita. Mungkin kita harus 
meninggalkan kestabilan menuju kepada hal yang tidak menentu untuk 
sementara waktu. Kita perlu menyesuaikan diri kembali. Kita harus 
merevisi asumsi-asumsi diri. Dan banyak hal lagi yang mesti kita 
ubah. Tetapi, berapa banyak dari kita yang bersedia meninggalkan 
comfort zone seperti itu? Jika kondisi sekarang sudah membuat kita 
enak, mengapa kita harus meninggalkan kenyamanan ini untuk sesuatu 
yang beresiko dan penuh teka-teki?

Tiga, bersedia membayar harganya. Ketika kita melihat orang lain 
berprestasi tinggi, seringkali kita hanya melihat hasil akhirnya 
saja. Yaitu, berupa pencapaian hebat orang itu. Lalu, kita 
berkata; "Beruntungnya dia. Tuhan telah berbaik hati memberinya 
talenta yang hebat." Kita tidak pernah tahu bahwa orang itu telah 
selama bertahun-tahun mengurangi jam tidurnya. Membuang kesenangannya 
bermain-main dengan game computer yang menyita begitu banyak waktu, 
tenaga dan biaya itu. Memeras pikirannya. Memaksa diri untuk 
berdisiplin tinggi. Dan hanya berfokus kepada hal-hal yang akan 
membawanya kepada peningkatan kualitas diri secara progresif. 

Kita tidak pernah mengetahui semua kerja keras yang dilakukan oleh 
orang itu. Karena kita terlampau silau oleh hasil akhir yang 
dicapainya, sambil sesekali menelan ludah. Yang sebenarnya terjadi 
adalah; `Hanya setelah orang itu bersedia membayar semua harganya 
sajalah, dia baru bisa sampai kepada pencapaian itu.' Lagi pula, 
kalau pun kita tahu pahit dan sulit serta terjal berlikunya jalan 
yang harus dia tempuh; belum tentu kita mau mengikuti jejak 
langkahnya, bukan? Padahal, ketiga hal itulah yang sesungguhnya telah 
berhasil menjadikan playing ground-nya menjadi semakin besar. 
Sehingga kapasitas dirinya juga menjadi semakin besar. Semakin besar. 
Dan semakin membesar. Sehingga tidak heran jika orang itu bisa 
meninggalkan manusia-manusia kebanyakan jauh dibelakangnya. 

Jika dalam computer kita menyebutnya RAM, bagaimana dengan manusia? 
Bolehkah saya menyebutnya HAM? Ya. HAM. Human Activated Memory. 
Yaitu, memory yang tersimpan dalam diri kita, yang bisa kita gunakan 
untuk berurusan dengan hal-hal yang kita hadapi secara spontan. 
Memori itu berbahan dasar talenta. Yaitu, potensi yang tersimpan 
didalam diri kita. Betul-betul dilatih dan diolah sampai menjadi 
kemampuan actual. Sehingga, kapan saja kemampuan itu dibutuhkan, kita 
bisa memanggil dan mendayagunakannya secara spontan.

Anda boleh saja mengklaim diri berbakat bermain piano, misalnya. 
Tapi, jika bakat itu tidak diasah dengan sungguh-sungguh. Maka klaim 
anda hanya akan menjadi bualan belaka. Permainan piano anda tetap 
saja jelek. Anda boleh saja mengklaim bahwa diri andalah yang paling 
layak mendapatkan promosi itu, bukan pesaing anda. Karena anda 
mengira bahwa anda lebih senior. Lebih pintar. Lebih rajin. Tapi, 
jika klaim anda itu tidak didukung oleh kapasitas actual yang bisa 
anda tunjukkan; maka anda tetap saja akan menjadi karyawan jelek. Dan 
hati anda juga jelek, karena dipenuhi rasa iri. 

Anda juga boleh menganggap diri sendiri kurang berbakat. Jadi, wajar 
saja jika pencapaian anda biasa-biasa saja. Anda tidak dilahirkan 
untuk menjadi pemenang. Karena Tuhan memberi anda begitu banyak 
keterbatasan. Hey, wake up! Bangun, bung! Tidak ada manusia yang 
dilahirkan tanpa keterbatasan. Dan tidak ada manusia yang dilahirkan 
tanpa membawa pesan dan seoles kemampuan. Wake up and realize that 
YOU; don't need to be a perfect person to succeed. YOU, just need to 
accept yourself just the way you are. And start to enlarge your own 
playing ground. Your Human Actualized Memory. Your HAM.  Would you?


Hore, 
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman.blogspot.com/
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki: 
Bukan ketiadaan bakat yang menimbulkan masalah bagi kita. Melainkan, 
kelalaian kita sendiri pada bakat-bakat yang telah kita warisi.


Kirim email ke