Till The Death Do Us Apart  
 
"Sekali di Udara Tetap di Udara." 
-- Motto Radio Republik Indonesia 
 
MASIH ingat iklan deodoran di tahun 1980-an? Singkat tapi luar biasa 
indahnya. `Setia Setiap Saat' begitu bunyi iklannya. Deodoran 
berbentuk stik dan bola di ujungnya itu digadang-gadang ampuh untuk 
menghilangkan bau badan sampai kapan pun juga, alias setiap saat.  

Soal benar atau tidaknya, si pembuat iklan atau produk tersebut 
sudah punya jawaban tersendiri. Kalau baru sepuluh menit bau badan 
sudah muncul, pasti terjadi sesuatu. Apaan tuh? Salah pemakaian atau 
si pengguna deodoran terlalu aktif. Keringat meluncur deras, 
alhasil, aroma tak sedap dari ketiak pun menyembur. 

Setia pada akhirnya memang menjadi kosa kata yang bisa diperdebatkan 
dengan buih busa di mulut alias menjadi dialog yang bisa tidak 
berkesudahan. Terlalu banyak hal yang bisa mempengaruhinya.

Kesetiaan bukanlah harga mutlak dari sebuah ikatan. Bagaimana 
seorang karyawan dapat menjadi setia pada perusahaannya, bila dia 
mengetahui si bos ternyata tidak jujur dalam mengumumkan laba yang 
diterima kantornya. Padahal dia sudah mati-matian mendatangkan 
keuntungan bagi perusahaannya. 

Begitu pula dalam sebuah ikatan kasih sayang atau lebih sakral: 
perkawinan. Ikatan itu tentu didasari oleh sebuah kesepakatan di 
antara dua pelakunya. Mereka sepakat untuk bersatu dan berbagi peran 
untuk mencapai sebuah tujuan.  

Nah, kalau di antara kesepakatan itu sudah dilanggar, entah karena 
sakit atau lain hal, sehingga tujuan bersama tidak lagi bisa 
dicapai, apakah keliru untuk tidak sepakat lagi? Alhasil, jalan 
perpisahan atau perceraianlah yang diambil. Bukankah perpisahan juga 
merupakan bentuk kesepakatan untuk tidak sepakat lagi? Pilihan yang 
sulit tapi merupakan jalan keluar yang pahit, tapi tetap lebih baik 
ketimbang harus bersama namun salah satu pasangan sudah merasakan 
tidak ada lagi kecocokan. 

Alangkah sulitnya memahami sebuah ketidaksetiaan seseorang yang 
berada di luar dunia kita. Toh, hanya mereka berdua yang 
menjalaninya. Tentu tidaklah mudah bagi kita untuk menjaga 
kesepakatan itu bila kita sendiri yang menjalaninya.

Itulah yang terjadi ketika seorang perempuan muda menggugat cerai 
suaminya yang sudah tua renta, yang merupakan artis veteran di tahun 
1980-an. Padahal sebelumnya, dalam sebuah wawancara di televisi, 
perempuan muda itu mengatakan, dirinya akan mencintai dan tetap 
setia pada pasangannya. Jangan hanya mencintai pasangan ketika gagah 
dan masih berkecukupan saja, begitulah kira-kira pernyataannya 
ketika itu sebelum ia menggugat cerai suaminya.

Tentu orang luar melihatnya dalam kaca mata yang berbeda. Apalagi 
infotainment, kalau dipisah-pisahkan per kata, berarti `info' yang 
menghibur, tapi menghibur untuk siapa sebenarnya? justeru menggempur 
penontonnya dengan tayangannya itu, makin menyudutkan si perempuan 
tersebut. 

Cap negatif pun tercetak, ia dikatakan sebagai perempuan yang tidak 
setia. Padahal, tentu banyak faktor yang menyebabkan si wanita itu 
menjadi `tidak setia', seperti yang diembuskan infotainment. Namun, 
siapa pun lebih suka menjauh ketimbang berempati. 

Bagaimana pun ketidaksetiaan menjadi makanan yang lezat untuk 
digunjingkan. Sebaliknya, kesetiaan yang diagung-agungkan malah 
menjadi sekadar nyanyian sepi. 

Anda masih ingat dengan Christopher Reeve? Reeve merupakan aktor 
utama pemeran Superman. Reeve menikah dengan model cantik, Dana 
Charles Morosini, April 1992. Dana tidak hanya cantik, tapi juga 
cerdas. Ia lulus dengan predikat cum laude di Middlebury College. 

Pernikahan yang dijalani Dana Reeve pada awalnya berjalan begitu 
menyenangkan. Mereka dikarunia satu orang anak. Hingga akhirnya di 
tahun 1995, setelah 3 tahun menikah, Christopher Reeve mengalami 
kecelakaan yang mengubah perjalanan hidup pasangan itu selanjutnya. 
Reeve terjatuh dari kuda. Kecelakaan itu menyebabkan Reeve mengalami 
kelumpuhan yang menyebabkan ia harus terus berada di atas kursi 
roda. 

Dana Reeve membuktikan kesetiaan terhadap suaminya dengan merawatnya 
penuh kesabaran, tanpa menggerutu. Dana sepenuhnya sadar, bahwa ia 
tidak dinafkahi lagi secara lahir bathin oleh suaminya, walau saat 
itu usianya baru 34 tahun. Setelah merawatnya tanpa lelah sedikitpun 
selama 9 tahun, Dana harus berpisah juga dengan suaminya. 
Christopher Reeve menghembuskan nafas terakhir pada 10 Oktober 2004. 
Sepeninggal Reeve, Dana tetap membesar anak tunggalnya dengan penuh 
kebaikan dan kesabaran. Atas dedikasinya dalam membesarkan anaknya 
setelah kematian suaminya, tahun 2005, American Cancer Society 
menganugerahinya `Mother of The Year Award'. Bahkan sejak suaminya 
lumpuh, Dana menjadi pembicara motivasi bagi para penyandang cacat 
dan lumpuh. Dana akhirnya menyusul suaminya karena kanker paru-paru, 
ia meninggal pada 6 Maret 2006, atau 2 tahun setelah suaminya 
meninggal. 

Aktor Superman Christopher Reeve dalam hidupnya benar-benar mendapat 
karunia yang luar biasa. Ia menikahi Superwoman yang sesungguhnya. 
Dana Reeve memang terlahir cantik, cerdas, dan kaya. Dana bisa 
menikah kapan saja kalau ia mau. Kesetiaan terhadap suaminya telah 
membuktikan kisah kasihnya yang luar biasa. 

Kesetiaan Dana atau ketidaksetiaan perempuan yang disebut di atas 
intinya adalah cermin dari ketahanan mental seseorang dalam 
menjalani dan mempertahankan komitmen-komitmennya terhadap pasangan 
atau sesuatu yang diyakininya. Pada akhirnya, kita juga, manusia 
yang menjalaninya, yang bisa menjawabnya dengan pilihan dan sikap. 
(280708)

Sumber: Till The Death Do Us Apart oleh Sonny Wibisono, penulis, 
tinggal di Jakarta



Kirim email ke