rekan sekalian....,

ini ada tulisan mengenai saya di SWA....
liat QUOTE....UNQUOTE atau link di bawah ini...

http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=5890

semoga bermanfaat.

salam,
[EMAIL PROTECTED]

http://www.richdad.com/Forum/forum.aspx?g=posts&m=1342334#1342334

QUOTE...



Dan ... Modal pun Balik Lebih Cepat
Kamis, 26 April 2007
Oleh : Eva Martha Rahayu

Sejumlah franchisee berhasil mencapai waktu pengembalian modal lebih cepat dari 
yang ditargetkan franchisor. Apa rahasia suksesnya?

Tidak keliru Budi Rachmat lebih suka membeli hak waralaba dari hasil takeover. 
Berdasarkan pengamatannya, apabila mengambil alih usaha waralaba minimarket 
Alfamart yang sudah jalan, bisa diprediksi prospeknya. Dengan strategi itu, 
tidak mustahil ia mampu mencapai waktu pengembalian modal (pay back period) 
setahun lebih cepat dari yang ditargetkan franchisor, yakni selama 3,5 tahun.

Budi bercerita, pada mulanya prinsipal Alfamart menyodorkan beberapa alternatif 
lokasi. Namun, ia lebih tertarik di daerah Bendungan Jago, Kemayoran, yang 
dianggapnya lebih potensial karena letaknya di pinggir jalan besar. Benar saja. 
Begitu gerai Alfmart itu diambil alih olehnya tahun 2003, omset yang dibukukan 
cukup memuaskan: Rp 15-18 juta/hari atau Rp 300-450 juta/bulan. Dari omset 
sebesar itu, ia mengaku meraup keuntungan bersih Rp 5-5,5 juta/bulan. Adapun 
nilai investasi satu gerai Alfamart yang sudah diinjeksikan Budi tercatat Rp 
450 juta. Rinciannya: Rp 50 juta fee waralaba untuk masa kontrak lima tahun; Rp 
200 juta set up toko; dan Rp 200 juta untuk sewa tempat.

Sukses dengan waralaba yang pertama, Budi tergoda untuk membuka gerai Alfamart 
yang kedua dan lebih gede pada 2005 dengan investasi Rp 750 juta. Lokasinya di 
Kedung Halang, sekitar Jl. Raya Bogor-Jakarta. “Di gerai kedua ini untungnya 
lebih bagus lagi, bisa Rp 13 juta per hari, karena lokasinya di tepi jalan 
besar,” papar mantan karyawan Unilever yang kini memutuskan totalitas mengelola 
langsung usaha waralaba minimarket-nya. Itulah sebabnya ia yakin periode 
pengembalian modal di gerai kedua ini akan dicapai dalam tempo lebih cepat lagi 
dari (yang pertama) 2,5 tahun.

Keberhasilan yang dicapai Budi pun dirasakan Bambang Timur. Ia termasuk salah 
seorang investor waralaba bengkel Shop&Drive yang mencetak kinerja jempolan. Ia 
mampu mencapai titik impas atau break even point (BEP) dalam empat bulan, 
padahal periode yang ditargetkan franchisor 24 bulan. Sementara itu, pay back 
period diharapkan Bambang tercapai pada tahun kelima sesuai dengan yang 
dijanjikan PT Astra Otoparts selaku franchisor. “Yang menarik dari waralaba 
Shop&Drive yang dikembangkan Grup Astra ini tidak ada fee waralaba pada tahun 
pertama dan kedua. Biaya dipungut di tahun ketiga yaitu 2%; dan tahun keempat 
4%,” tambah Bambang.

Mantan supervisor PT Toyota Astra Motor ini mengawali usaha Shop&Drive di tahun 
2005 dengan total investasi Rp 3 miliar. Modal itu digunakan untuk membeli 
tanah seluas 541 m2 seharga Rp 1 miliar; bangunan dan kantor Rp 1 miliar; 
peralatan bengkel Rp 600 juta; dan beberapa produk Astra Rp 400 juta. “Modal Rp 
3 miliar itu belum termasuk dana Rp 200 juta untuk biaya software, sistem dan 
pembelian produk tertentu,” pensiunan yang getol mengelola bisnis resto dan 
bengkel ini menguraikan. Sementara itu, omset yang dicapainya berfluktuasi tiap 
triwulan. Contoh, di triwulan pertama rata-rata omsetnya Rp 125 juta/bulan; 
triwulan kedua Rp 138 juta/bulan; triwulan ketiga Rp 140 juta/bulan; dan 
triwulan keempat Rp 154 juta/bulan. Pengeluaran operasional terbesar untuk 
membayar gaji 14 karyawan dengan nilai total Rp 14 juta/bulan. Jadi, total laba 
kotor sekitar 25% dari omset sebelum dipotong biaya telepon, listrik, 
kebersihan dan lainnya.

Pembeli hak waralaba dengan investasi di bawah Rp 100 juta pun tak mau 
ketinggalan menikmati gurihnya bisnis ini. Sebut saja pengalaman Muhammad 
Parikesit yang lebih akrab disapa Ari. Meski statusnya masih mahasiswa di 
Universitas Brawijaya Malang, ia sudah menjadi master franchise kebab Baba Rafi 
di Malang. “Saya punya tiga gerai Baba Rafi di Malang,” ujar pria berumur 25 
tahun ini. Hebatnya, dengan lokasi strategis gerai perdana di kompleks rumahnya 
di Telogo Mas, Malang, ia mampu mencapai pay back period dalam waktu empat 
bulan (November 2005 hingga Februari 2006). Padahal, franchisor menargetkan 
investasi kembali di bulan ke-11 atau ke-12. Omset per hari yang dicapai waktu 
itu rata-rata Rp 600 ribu. Sayangnya, kini di gerai pertama milik Ari mengalami 
penurunan omset menjadi Rp 300-400 ribu per hari. Penyebabnya, “Sudah mulai 
banyak bertebaran cabang kebab Baba Rafi di Kota Malang, sehingga persaingan 
semakin ketat,” Ari mengeluhkan.

Ari menjelaskan, modal yang ditanamkan untuk membeli bisnis waralaba Baba Rafi 
ke pemiliknya di Surabaya senilai Rp 25 juta. Dari investasi itu, ia mendapat 
satu gerobak full set, lokasi, peralatan masak, sistem manajemen dan tenaga 
kerja siap pakai yang sudah terlatih. Fee royalti sebesar 5% dari omset tiap 
bulan. Untuk omset, kalau dipukul rata Rp 300-350 ribu per hari. Dari omset 
sebesar itu dikurangi pengeluaran untuk bahan baku 46%; komisi pegawai 6%; sewa 
tempat dan operasional 10%; fee royalti 5%; penyusutan barang 3%; maka laba 
yang dikantongi mencapai 30% dari omset.

Tak puas cuma punya satu gerai kebab Baba Rafi, pada April 2006 Ari membuka 
gerai kedua di Jl. Borobudur, Malang, dan yang ketiga di kawasan Batu, Malang. 
Berbeda dari yang pertama, untuk gerai kedua ini pengembalian total modalnya 
diakui agak lama, yakni 8 bulan atau tercapai pada Desember 2006. “Meski 
begitu, kalau mengacu pada proyeksi franchisor termasuk cepat. Sebab prediksi 
mereka untuk pay back period gerai kedua ini dijanjikan pada bulan ke-13,” kata 
Ari seraya menyebutkan rata-rata omsetnya sehari Rp 450 ribu.

Nasib Bambang Winarko, 43 tahun, juga seberuntung Ari. Meski hanya investor 
waralaba kecil, ia cukup sukses mengelolanya. Oktober 2006, ia membeli waralaba 
pisang goreng Ta B'nana dengan investasi Rp 17 juta. “Selain harganya 
terjangkau, saya sendiri juga suka produk Ta B'nana,” lelaki yang lebih suka 
dipanggil Bawi itu menuturkan alasan ketertarikannya pada waralaba ini. Modal 
Rp 17 juta digunakan untuk membayar fee waralaba dua tahun Rp 10 juta; 
peralatan Rp 3,5 juta; deposit bahan baku Rp 2,5 juta; dan pelatihan tiga 
karyawan Rp 1 juta. Berapa omsetnya? “Bervariasi, kalau sepi Rp 400 ribu/hari 
dan kalau ramai Rp 1 juta/hari,” papar Bawi yang menyatukan operasional gerai 
Ta B'nana dengan bisnis rumah makannya. Dengan omset sebesar itu, ia mengaku 
mencapai BEP dalam dua bulan. Artinya, lebih cepat dari waktu yang ditargetkan 
pewaralaba, dua-tiga bulan.

Di luar Bambang Timur, Budi Rachmat, Bawi dan Ari, masih ada sejumlah nama 
investor waralaba sukses yang patut diteladani. Umpamanya Imanuel Kusnadi, 
franchisee Multiplus di Kelapa Gading yang mampu BEP dalam tempo 8 bulan atau 
lebih cepat dari target pewaralaba 2-3 tahun. Lalu, Saut Sem Sinambela yang 
punya bisnis waralaba X4print di Rawamangun. Ia mampu meraih BEP dalam waktu 24 
bulan, padahal target prinsipalnya 30 bulan. Investor waralaba Smart Print tak 
mau ketinggalan. Semisal Devy Christianto mengelola cabang Smart Print di Jl. 
Yos Sudarso, Malang, mampu BEP di bulan kelima dari yang ditargetkan 12 bulan. 
Sementara itu, Simon Seputra menjalankan waralaba Smart Print di Bali berhasil 
BEP 6 bulan (lebih lengkap, lihat: Tabel).

Bagaimana mereka bisa mencetak BEP atau pay back period lebih cepat dari 
target? “Tergantung tujuan kami sebenarnya. Jika kami ingin mengembangkan area 
bisnis, ya beli saja hak waralaba utama di daerah tertentu, sehingga orang lain 
yang akan buka di sana harus seizin kami. Namun, kalau cuma punya satu tempat, 
kami lebih suka takeover yang track record-nya bagus. Dengan begitu, target 
cash flow lancar, tahun depan sudah dapat untung,” papar Budi buka kartu 
suksesnya. Hal terpenting kedua adalah lokasi. “Bangunlah gerai di daerah 
padat. Jangan cuma hitungan di atas kertas. Kami harus keliling daerah itu, 
amati tiap hari kalau perlu,” Budi menyarankan.

Pentingnya lokasi kian dipertegas Bawi. Ia sengaja memilih lokasi di pinggir 
jalan besar menuju kompleks permukiman Pekayon, Bekasi. Ramainya lalu lintas di 
sana cukup potensial menjaring pembeli pisang gorengnya yang harga sebuahnya Rp 
2 ribu. Juga, soal kontinuitas stok produk mesti diperhatikan. “Jangan sampai 
kehabisan stok bahan, walaupun cuma sekali. Sebab pelanggan bisa pindah ke 
pisang crispy lain yang banyak tersebar di sekitar daerah ini,” ia 
mengungkapkan.

Sementara itu, Bambang lebih rinci lagi dalam memaparkan rahasia suksesnya. 
Pertama, layout bengkel dibuat lebih efisien. Awalnya ia direkomendasikan 
mencontoh layout dari gerai pilot project Shop&Drive di Kelapa Gading. Namun 
dia tidak suka, karena menurut Bambang, tidak efisien. Beruntung lahan milik 
Bambang masih kosong, sehingga lebih fleksibel dibangun dengan desain yang 
lebih bagus dan efisien hasilnya. “Orang Astra sendiri mengakui dan mendapuk 
saya menjadi semacam penasihat bagi calon franchisee yang akan membuka bengkel 
Shop&Drive,” ujarnya bangga.

Kedua, pelayanan yang memuaskan. Artinya, pegawai bengkel tidak sekadar 
memperbaiki, tapi juga menjadi semacam konsultan bagi pelanggan. “Orang beli 
oli, kami periksa juga ban, aki, rem, suspensi dan yang lain. Kalau ada yang 
perlu diganti kami bilang sejujurnya,” kata Bambang. Ini pun harus dibarengi 
dengan produk yang berkualitas. Menurutnya, jaminan produk dari Astra yang 
bergaransi membuat konsumen tenang. Kemudian, jaga kebersihan tempat agar 
konsumen nyaman. Setiap selesai servis satu mobil, Bambang menginstruksikan 
anak buah supaya langsung membersihkan tempat servis, meski tidak ada tuntunan 
dari franchisor. Jangan lupa, beri nilai lebih pada gerai Anda. gJangan hanya 
terpaku pada konsep standar yang diberikan franchisor, berilah keunikan pada 
gerai Anda,h ucapnya sembari menyebutkan nilai lebih gerainya adalah kebersihan 
lokasi dan efektivitas penataan bengkel. Selain itu, pemilik harus terjun 
langsung mengelola waralaba agar paham dengan
 kondisi yang terjadi di bisnisnya.

Nah, sebelum terjun ke pengelolaan waralabanya, Bambang menyarankan agar calon 
investor, mempelajari betul sang franchisor. Alangkah lebih baik bila memilih 
yang sesuai dengan minat atau hobi Anda. Kemudian usahakan pilih yang fee 
waralabanya realistis. “Kami lebih suka kalau franchise fee dibayar tiap tahun 
ketimbang dibayar di muka. Kami kan belum tentu sukses kok sudah disuruh 
bayar,” cetusnya. Selanjutnya, investigasi lokasi yang strategis. Ia 
mencontohkan gerai Shop&Drive miliknya di tepi jalan Jl. Jatiwaringin yang 
ramai. Jalan ini tidak memiliki separator jalur, sehingga memudahkan dari kedua 
arah untuk masuk. Harga lahan juga tidak terlalu mahal. “Kalau saya beli lahan 
di Kelapa Gading, tentu harganya lebih mahal dan pasti waktu BEP-nya lebih 
lama,” ia menjelaskan.

Strategi yang dilancarkan Ari tak jauh berbeda dari Bambang dan Budi. “Pertama, 
jangan terlalu keenakan dengan sistem yang sudah ada,” katanya mengingatkan. 
Maklum, biasanya dengan sistem franchise SOP sudah ada, sehingga investor 
enggan mencari tahu lagi keinginan pelanggan seperti apa. Maka, Ari selalu 
mewajibkan diri sendiri dan rekannya untuk paling tidak 2-3 hari sekali 
mengecek kondisi di masing-masing gerai. “Dengan begitu, kami tahu langsung 
masalahnya di mana. Pegawai pun jika tidak didatangi langsung, tidak akan 
berterus terang kendala yang dialami apa saja,” kata Ari. Kiat kedua adalah 
ciptakan variasi atau kreasi baru yang lain dari standar yang sudah diberikan 
franchisor. Ari kerap memberi gimmick berupa hadiah kecil, seperti stiker bagi 
pelanggan loyal. “Kami melihat ini cukup efektif menarik konsumen. Dan baru 
kami saja investor yang melakukan model hadiah seperti ini,” Ari mengklaim 
dengan nada senang.

Setelah sukses mengelola dan mengembangkan waralaba masing-masing, sejumlah 
investor berniat untuk menambah gerai lagi, tapi sebagian tidak. Bambang dan 
Budi termasuk investor yang berminat ekspansi. Simak penuturan mereka. “Kami 
ingin buka outlet bengkel lagi, tapi belum pasti apa tetap memakai Shop&Drive 
atau membuat toko sendiri. Ini buat bisnis keluarga kami. Bengkel yang lain 
akan kami wariskan ke anak supaya dikelola,” ungkap Bambang. Hal senada 
dituturkan Budi. “Sistem pembagian keuntungan waralaba Alfamart kan tiap tiga 
bulan sekali. Sekarang saya sudah punya dua gerai. Kalau tambah satu lagi, saya 
bisa dapat keuntungan rutin tiap bulan kan,” ujar Budi.

Lain lagi dengan Bawi. Dengan pertimbangan ingin lebih fokus dulu mengembangkan 
Ta B'nana dan restonya, rencana buka gerai ditahan sementara. “Nanti sajalah, 
kalau kedua bisnis yang sudah ada stabil dulu,” ia menandaskan. Yang pasti, ia 
optimistis terhadap prospek Ta B'nana, lantaran banyak pelanggan yang melakukan 
repeat order baik pembelian langsung maupun delivery order, yang menyumbang 15% 
dari total omset.


Reportase: Afiff Maulana Dewanda. Riset: Leni Siskawati.


URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=5890
Print | Tutup Window


UNQUOTE....


      

Kirim email ke