Doa, Untuk Apa? 

sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com


Sejak alam barzah, manusia sudah didesain oleh Sang Pencipta sebagai
makhluk yang mengakui adanya Alloh SWT Yang Maha Kuasa. (Q/7:172).
Oleh karena itu naluri manusia cenderung mencari perlindungan kepada
Yang Maha Kuat, terutama ketika sedang merasa terancam. Bukan hanya
orang beragama, orang atheis pun ketika melepas prajuritnya ke medan
perang, mereka mengucapkan "Semoga kalian menang". Kalimat semoga
adalah ungkapan religius, ungkapan doa, yakni mengharap campur tangan
kekuatan gaib yang diyakini lebih besar dibanding kekuatan manusia. 

Dalam perspektif way of life seorang muslim, kehadiran manusia di muka
bumi diberi status sebagai khalifah Alloh, sebagai wakil Alloh SWT
yang diberi amanat untuk menegakkan kebenaran dalam kehidupan manusia
untuk mencapai ridla Alloh SWT sebagai tujuan hidupnya. Untuk mencapai
tujuan itu manusia diberi alat hidup, yaitu dirinya, fisik maupun
psikis, dan harta atau alam yang memang disediakan Alloh SWT sebagai
fasilitas. Dengan potensi itu manusia menjadi "makhluk" yang paling
besar peluangnya untuk menjadi yang "terhebat" di muka bumi. 

Akan tetapi di sisi lain, manusia juga diberi status oleh Alloh SWT
sebagai `abdun, sebagai hamba, yang memiliki serba keterbatasan, dan
Alloh SWT tidaklah menciptakan manusia kecuali agar mereka mengakui
dirinya sebagai `abdun, yang harus meng abdi, atau beribadah,
menyembah kepada Sang Pencipta (Q/51:56). Inilah status kembar manusia
di hadapan Alloh SWT. Di satu sisi manusia adalah besar, memiliki
tanggung jawab dan kewenangan yang besar, karena menjadi wakil dari
Alloh SWT yang Maha Besar. Di sisi lain manusia adalah kecil, karena
ia tak lebih hanyalah seorang hamba yang lemah, terbatas dan hidupnya
sangat bergantung kepada berbagai faktor.

Manusia akan menjadi kuat apabila ia menempel kepada kekuasaan Alloh
SWT Yang Maha Kuat. Ia selalu berkata bahwa tiada daya dan kekuatan
yang efektif tanpa seizin Alloh SWT yang Maha Agung, La haula wala
quwwata illa billah al `Aliyy al `Azim. Sebaliknya manusia akan
diperdaya dan dipermainkan oleh perbuatan sendiri yang menipu, jika ia
jauh dari ridla dan rahmat Alloh SWT. Alloh SWT akan mengangkat
martabat manusia yang rendah hati, dan akan menjatuhkan ke dalam
kehinaan terhadap manusia yang menyombongkan diri. Di sinilah medan
seni antara usaha dan doa. 

Di satu sisi, Al Qur'an banyak sekali memerintahkan manusia agar
bekerja dan berusaha, tetapi di sisi lain Al Qur'an juga memerintahkan
agar orang bertawakkal (berpasrah diri kepada Alloh SWT) atas hasil
dari pekerjaan dan usahanya. Disamping menyuruh bekerja, Al Qur'an
juga menyuruh untuk berdoa kepada Alloh SWT, disertai jaminan bahwa
Alloh SWT akan mengabulkan doa manusia (Q/40:60), karena Alloh SWT
memang mendengarkan doa-doa hambanya (Q/14:39). Kata Nabi, doa adalah
sumsumnya ibadah.

Dalam realita kehidupan, sebagaimana yang sedang melanda bangsa ini,
bisa terjadi, banyaknya tentara tidak menjamin ketahanan nasional,
banyaknya polisi tidak menjamin keamanan, banyaknya sumberdaya alam
tidak menjamin kemakmuran, banyaknya orang pandai tidak menjamin
keberhasilan. Dalam perspektif psikologi Islam bahkan dikatakan,
penentu keberhasilan pembangunan suatu bangsa bukan ditentukan oleh
unsur-unsur bangsa tersebut diatas, tetapi oleh doa seorang hamba yang
dekat dengan Alloh SWT. 

Kata sebuah hadis, bahwa di muka bumi ini ada beberapa orang yang
performennya "kumuh", tidak memiliki status sosial, tetapi jika ia
sudah menengadahkan tangannya kepada Alloh SWT, maka doanya itulah
yang signifikan menyelesaikan masalah bangsa, bukan oleh elit-elit
bangsa. Siapakah orang itu? Kata hadis tersebut, dia adalah orang baik
yang takwa, tetapi ia menyembunyikan identitas sebenarnya. Jika dia
berada di dekat kita, tak seorangpun yang mengenalnya, tetapi jika ia
tidak ada, maka ia selalu dicari-cari.


sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com



Salam Cinta,
agussyafii

Sekiranya berkenan mohon kirimkan komentar anda melalui
[EMAIL PROTECTED] atau http://mubarok-institute.blogspot.com


Kirim email ke