Pertarungan Terakhir Sang Pendekar Nomor Wahid

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Kita tentu masih ingat tentang ilmu padi. Semakin berisi, semakin 
merunduk. Semakin seseorang bertambah ilmunya, semakinlah dia 
menyadari betapa dia mesti lebih banyak menundukkan kepalanya. 
Sehingga matanya tidak tertuju keatas untuk mendongak. Melainkan 
melihat kebawah kearah hati. Mungkin itu pula sebabnya kita mengenal 
istilah `rendah hati'. Tentu, rendah hati itu tidak sama dengan 
rendah diri. Sebab, rendah diri membawa kita kepada sikap inferior. 
Sedangkan sifat rendah hati menjadikan kita orang yang yakin kepada 
kemampuan diri tanpa harus membusungkan dada. Atau sekedar merasa 
diri lebih hebat dari orang lain. Kita kemudian berkata; "Apa 
salahnya orang hebat seperti gue membangga-banggakan diri?"  Apalagi 
jika kehebatan dan kesuksesan kita ini, dihasilkan dari `jerih payah 
sendiri'. Tidak salah. Namun, padi tidaklah bersikap demikian. 

Dulu. Ketika keunggulan manusia diukur oleh kemampuannya memainkan 
pedang. Orang-orang hebat saling berlomba untuk menjadi pendekar 
nomor wahid. Sehingga, mereka berlatih tanpa henti dengan tujuan 
utama; mengalahkan pemegang gelar `pendekar nomor wahid' yang ada. 
Dan merebut gelar itu. Mereka tidak keberatan jika harus bertarung 
hingga mati. 

Pada suatu ketika, kesaktian sang pendekar nomor wahid sudah mencapai 
tingkatan yang paling tinggi. Sehingga, tidak ada lagi orang yang 
berani menantangnya. Lama-lama, dia merasa bosan sendiri. Tak ada 
lagi pertarungan. Tak ada lagi kemenangan. Dan akhirnya, tidak ada 
lagi nilai dari gelar yang selama ini dibangga-banggakannya. Lalu, 
hati kecilnya berbisik; "Benarkah aku ini seorang pendekar nomor 
wahid?"  Mengingat tak ada lagi yang berani menantangnya, seharusnya 
tak seorangpun meragukannya. Tetapi, hati kecilnya kembali 
berbisik; "Bagaimana seandainya dibelahan dunia lain ada orang yang 
lebih sakti. Apakah aku layak menyandang gelar ini?"

Kegelisahan itu membawanya kepada pengembaraan yang teramat panjang. 
Dia melintasi bukit. Menyeberang lautan. Menjelajah padang pasir yang 
gersang. Semuanya hanya untuk mendatangi orang-orang sakti dan 
mengalahkannya satu demi satu. Akhirnya, sampailah dia disebuah 
perguruan terakhir untuk ditaklukan. Jika dia berhasil mengalahkan 
orang paling sakti diperguruan itu, maka dia berhak menyandang gelar 
pendekar nomor wahid secara mutlak.

"Siapakah orang paling sakti diperguruan ini?" hardiknya, sesaat 
setelah dia mendobrak pintu gerbang. Dengan sekali tendang.

"Disini tidak ada orang yang seperti itu, Tuan" jawab orang-orang 
itu. 
"Perguruan macam apa ini?" sergahnya. "Masa, tidak ada orang yang 
paling sakti disini!" sang pendekar nomor wahid kembali 
menghardik. "Memangnya apa yang kalian pelajari selama ini dengan 
pedang, tombak, dan toya itu.?" 

"Disini," jawab para murid. "Kami belajar tentang kerendahan hati," 
katanya dengan serempak.

Sang pendekar nomor wahid terlihat gusar dengan omong kosong itu. 
Tidak ada perguruan yang mengajarkan kesia-siaan semacam itu. 
Kesaktian. Kehebatan. Dan kekuatanlah yang seharusnya diajarkan. 
Karena, hanya dengan cara itu kemuliaan seseorang ditentukan. Orang-
orang saktilah yang kedudukannya tinggi. Orang-orang hebatlah, yang 
pantas dihargai. Orang-orang kuatlah yang layak ditakuti dan 
dihormati. "Antarkan aku kepada guru kalian," pintanya.

Orang-orang diperguruan itu saling pandang. Lalu berkata; "Tuan sudah 
berada dihadapan guru kami,".  

Sang pendekar kebingungan; "Apa maksud kalian?" katanya.

"Disini," jawab para murid. "Kami menjadi guru untuk orang lain." 
Mereka diam sejenak. "Sekaligus menjadi murid bagi mereka." Lanjutnya 
serempak.

Sekarang sang pendekar mulai mengerti bahwa diperguruan itu, setiap 
orang diperlakukan sebagai guru. Karena setiap orang ditempat itu 
mengajari orang lain tentang apa saja yang diketahuinya. Para ahli 
pedang mengajarkan pedang. Para ahli panah, mengajari cara memanah. 
Para ahli tombak, membuka rahasia tentang permaian tombak. 

Sang pendekar nomor wahid itu juga mengerti. Bahwa diperguruan itu 
setiap orang menempatkan dirinya sendiri sebagai murid. Sehingga 
tidak peduli kesaktian dirinya setinggi apa; mereka bersedia untuk 
belajar dari orang lain tentang sesuatu yang tidak diketahuinya. Para 
ahli pedang belajar bagaimana melempar tombak. Para jago toya belajar 
tentang cara memegang busur panah. Jadi, siapakah gerangan yang 
pantas menyandang gelar sebagai `orang yang paling sakti' itu?

Sang pendekar nomor wahid tertegun. Dia menatap satu persatu wajah 
demi wajah yang ada dihadapannya. Menanyakan nama-nama mereka. Dan 
mengingat-ingat apa yang dikenang orang tentang nama-nama itu. Betapa 
terkejutnya dia, ketika menyadari bahwa mereka adalah nama-nama yang 
sangat harum mewangi didunia kependekaran. Merekalah legenda-legenda 
kesaktian. Namun, betapa terharu kalbunya ketika mengetahui 
bahwa; "bahkan orang-orang sekualitas merekapun tidak saling belomba 
untuk memperebutkan gelar terhormat itu." Oh, inikah rupanya yang 
diajarkan oleh keredahan hati. Mereka merunduk. Ketika isi dan 
kualitas dirinya semakin meninggi. Mereka tambah merendah. Disaat 
pencapaian mereka menanjak dan mengangkasa. Seperti sang padi. 
Semakin merunduk. Ketika butir bulirnya semakin berisi. 

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman.blogspot.com/
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki: 
Tidaklah penting siapa guru, dan siapa murid. Karena kenyataanya; 
tidak ada manusia yang sempurna.


Kirim email ke