MOSUL - Tony Bardinin, 31 tahun, adalah salah satu dari ribuan kaum Nasrani 
yang terbang dari Mosul, kota di utara sekitar 390 kilometer dari ibu kota 
Baghdad. Warga Kristen Irak mengungsi akhir-akhir ini setelah serangan 
kekerasan mendadak kerap dilakukan terhadap komunitas mereka.

"Kami merasa seperti Gypsies, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan 
dilihat sebagai kriminal daripada korban," ujar Tony seperti yang dilansir oleh 
IslaOnline.net.(15/10). "Anak-anak kami sakit, putus sekolah dan kami bahkan 
tak bisa mengklaim bantuan karena kita tidak tahu siapa yang bersama kami, atau 
yang menyerang kami," keluh Tony.

Serial penyerangan dengan target minoritas warga Nasrani di Mosul sejak 28 
September lalu, menewaskan sedikitnya 12 anggota komunitas.

Pemerintah telah menempatkan lebih dari 1.000 personel polisi untuk mengamankan 
situasi di Mosul, kota paling berbahaya di Irak yang diduga menjadi benteng 
kota terakhir milik Al Qaeda. Namun pihak berwenang belum mengumumkan siapa 
yang mereka yakini berada di balik tindak kekerasan, meski kecurigaan terbesar 
ditujukan pada Al Qaeda.

"Setelah berpuluh tahun hidup damai di negara ini, kami sekarang menjadi korban 
para ekstrimis yang tidak dapat menerima ide agama lain berbagai tempat yang 
sama dengan Islam di Irak," kata Tony. "Kami hanya ingin hidup damai lagi dan 
mencegah serangan serupa terjadi lagi," imbuh Tony

Paling sedikit 200 warga Nasrani telah terbunuh dan beberapa gereja diserang 
sejak Amerika Serikan memimpin invasi di tahun 2003. Ada sekitar 800 ribu warga 
Nasrani di Irak, angka yang telah menyusut sepertiga dari jumlah warga sebelum 
perang.

Serangan terhadap warga Nasrani Mosul, mengundang kecaman dari para ulama 
Muslim di Irak. Para ulama itu pun menawarkan bantuan, mendesak pemerintah 
untuk mengintensifkan perlindungan di wilayah keluarga-keluarga Nasrani. 

Masyarakat Palang Merah di Irak (IRCS)  juga berjuang mengirimkan bantuan 
makanan dan air kepada keluarga-keluarga Nasrani baik yang mengungsi mapun yang 
tetap tinggal. "Kami meminta bantuan personil keamanan Irak untuk 
mendistribusikan makanan dan air kepada keluarga yang kelaparan akibat 
serangan," ujar salah satu petugas IRCS.

Mereka kini juga tengah bergiat mencari donasi selimut, tenda, makanan, dan 
obat-obatan untuk bantuan. Banyak keluarga Muslim yang juga berlomba-lomba 
mendonasikan makanan, kepada keluarga pengungsi di area dekat rumah mereka.

"Sangat jelas sekali jika hanya sedikit orang yang meinginkan kami keluar dari 
Irak," ujar Yehia Nauwadisin, 43 tahun, ayah dari empat anak yang juga 
meninggalkan Mosul dua hari lalu menuju Ebil.

Muslim telah menjadi teman kami selama berabad-abad dan juga saat ini. Mereka 
membuktikan itu dengan membantu dan memberi cinta kasih serta dukungan," kata 
Yehia./it

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke