From:
"Mirzah" <[EMAIL PROTECTED]>

http://www.warnaisl am.com/umum/ renungan/ 2008/10/23/ 42876/Fenomena_
Baru_UIN. htm
 

Fenomena Baru UIN
Kamis, 23 Oktober 2008 11:54

Sebuah fenomena yang membuat hati terenyuh, kembali saya temukan di
UIN Jakarta. Awalnya memang sudah banyak berita-berita miring seputar
UIN yang menyoroti masalah berkembangnya SIPILIS (sekularisme,
pluralisme, dan liberalisme) disana. Saya sebagai mahasiswa UIN juga
memang sering mengalami pengalaman belajar dikelas dengan suasana yang
sangat tidak nyaman dan sungguh bertentangan dengan hati dan pikiran
saya, dalam artian, si dosen terlalu banyak menyampaikan "ilmu"nya
dengan pemikiran yang sangat liberal. Dan sayangnya mahasiswa di kelas
itu dan mungkin kebanyakan dikelas lain juga seperti tidak kuasa atau
tidak bisa menolak argument dari dosen-dosen tersebut.

Kebanyakan mahasiswa UIN (dalam hal ini yang saya alami di pasca)
cenderung diam dan hanya menggut-manggut ketika dosen seperti Kautsar
Azhari Noer, Suwito, atau Azyumardi Azra dan cs-nya memberi kuliah.
Padahal saya yakin mahasiswa UIN itu tidak bodoh, hanya mungkin kurang
memperdalam saja kajian keislaman yang shahih berdasarkan jumhur ulama.

Fenomena yang akan saya sampaikan ini berhubungan dengan masalah
penulisan dalam sebuah karya ilmiah. Di pascasarjana UIN Syahid
Jakarta akhir-akhir ini, tidak diperkenankan para mahasiswanya untuk
menulis kata "Allah" dengan lanjutan  "SWT", tidak boleh menulis kata
"Muhammad" dengan diakhiri "SAW". Tidak boleh menulis Muhammad dengan
sebutan "Nabi". Karena kan yang menganggap Nabi itu hanya orang Islam
saja, bagaimana dengan orang non-muslim yang tidak menganggap Muhammad
itu sebagai Nabi? Dan yang mengakui Allah itu Subhanahuwata'ala kan
hanya orang IslamÂ…yang bukan Islam apa akan mengakui juga?  Demikian
perkataan Prof. Suwito yang sehari-hari mengurus kampus pasca UIN. 

Begitu pula tidak boleh ada kalimat-kalimat "Islam sebagai agama yang
sempurna", atau "Islam sebagai agama yang haq" dan kalimat-kalimat
sejenisnya yang menunjukkan kemuliaan Islam dan bentuk penghargaan
seorang peneliti akan hasil telitiannya terhadap Islam. Jika didapat
kalimat seperti itu dalam karta ilmiah seperti makalah, tesis atau
disertasi, maka akan langsung dicoret! Saya sangat menyayangkan bahwa
dengan aturan demikian, sepertinya Islam itu sendiri menjadi tidak
dihargai, sebaliknya, pandangan orang-orang kafir menjadi lebih
dimuliakan dan dihargai.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa sebuah universitas Islam
yang terkenal menjadi anti-pati terhadap penulisa-penulisan seperti
itu? seolah penulisan seperti itu adalah hal yang memalukan dan aib
dihadapan warga dunia. sejak kapan pelarangan tersebut menjadi
peraturan? Apakah ada aturan resminya? Atau ada SK rektor atau dari
Depag ada instruksi demikian? UIN memang memiliki cita-cita besar
untuk menjadi universitas internasional, dan saya acungi jempol akan
mimpi tersebut. UIN memang ingin karya-karyanya diterima oleh
masyarakat dunia, saya tidak menolak harapan tersebut. Tapi kita tidak
bisa meninggalkan identitas sebagai Universitas Islam.

Saya pikir sangat wajar kalau sebuah Universitas Islam itu memakai
identitas Islamnya..bukan malah mencopot identitas islam dengan
kekhawatiran bahwa karya tersebut tidak akan dibaca oleh orang-orang
Barat, atau ketakutan bahwa tulian "SWT" dan "SAW" akan membuat orang
non-Muslim menjadi ill feel membacanya. Sekali lagi, sangat wajar jika
sebuah Universitas Islam memakai identitas Islamnya. Dan orang-orang
non-muslim yang membaca karya mahasiswa sebuah universitas Islam juga
harusnya bisa menerima semua itu. Tidak perlu berlebihan dalam
mengkahwatirkan hal-hal yang tidak perlu dikhawatirkan. Toh para
ilmuan Barat juga mengkaji karya-karya Ibn Taimiyah, Ibn Qayyim
al-Jauziyah, Imam Ghazali dan lain-lain yang dalam karya-karya mereka
semua justru sangat menjunjung dan sangat menunjukkan kemuliaan Islam.
Tapi tidak henti-hentinya mereka tertarik tuk mengkaji karya para
Ilmuan besar Islam tersebut. (MA)

Allahu ta'ala A'lam.

==============================================


"Jika cinta adalah ketertawanan, maka tawanlah cintaku hanya pada-Mu,
agar tiada cinta lain yang menawanku.

Jika rindu adalah rasa sakit, jadikanlah rasa itu untuk aku selalu
merindukan-Mu, hingga akhir nyawa meninggalkan raga di hatiku hanya
untuk satu cinta.

Bila tak bisa ku mencintai-Mu, kemana kusembunyikan wajahku, Bila
jumpa dengan-Mu ya Rabbku." 

New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!

Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic
Messages | Polls | Calendar

Kirim email ke