Benarkah Anda Bisa Melakukan Apapun Juga?  

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Salah satu impian terbesar umat manusia adalah; bisa melakukan apapun 
yang diinginkannya. Untungnya, orang-orang hebat sering 
mengatakan;"Anda bisa melakukan apa saja!". Sangat mudah untuk 
menyerap nasihat itu karena kedengarannya bisa mengantar kita kepada 
mimpi terbesar itu. Tidak heran jika kemudian didalam hati kita ada 
sebuah ukiran indah berbunyi: "Aku bisa melakukan apa saja!". Uuuh, 
kedengarannya ini bisa menjadi bukti pencapaian tertinggi umat 
manusia. Karena, jika kita bisa melakukan apa saja; maka tercapai 
sudah segala impian itu. Tapi, benarkah anda bisa melakukan apapun 
juga?  

Anda yang pernah menonton film The Land Before Time, tentu ingat 
tujuh sekawan hewan purba kecil yang bersahabat. Littlefoot si anak 
Apatosaurus berleher panjang menjadi pusat persahabatan itu. Cera si 
anak Triceratops, badak purba bercula tiga yang juga disebut sebagai 
Trihorn. Ducky si anak Saurolophus sang nenek moyang bangsa bebek. 
Petrie, si anak Pteranodon yang merawisi masa depan para burung. 
Spike si Stegosaurus sang leluhur buaya. Ruby si Oviraptor cilik. Dan 
Chomper anak Tyrranosaurus yang memilih untuk bersahabat dari pada 
harus memakan teman-temannya.

Ayah Cera yang raja Trihorn menasihatkan sebuah pelajaran 
penting. "Cera," katanya. "Trihorn itu adalah mahluk terhormat dan 
paling hebat. Karena," lanjutnya. "Kita keluarga Trihorn bisa 
melakukan apa saja!" Suaranya yang besar dan menggelegar menggema ke 
seluruh penjuru rimba purba. Sedangkan didalam dada Cera, nasihat itu 
menjelma menjadi semangat yang membara. Yang menjadikan dirinya 
begitu percaya bahwa; Seekor Trihorn seperti dia, bisa melakukan apa 
saja.

Pada suatu ketika, ketujuh sekawan mengadakan perlombaan yang unik. 
Yaitu, berdiri diatas sebatang kayu yang terapung diair. Siapa yang 
paling lama berdiri diatasnya, dialah pemenangnya. Littlefoot, tidak 
ikut bertanding. Dia memilih untuk menjadi pendukung para kontestan 
yang sedang berlomba. Karena dia tahu, binatang besar berkaki empat 
seperti dia tidak dirancang untuk melakukan hal semacam itu. 
Sedangkan Cera yang juga besar dan berkaki empat? Dia tahu bahwa 
seekor Trihorn bisa melakukan apa saja. Persis seperti yang selalu 
dikatakan oleh ayahnya. 

Sebelum pergi, Cera berpamitan kepada Ibunya. "Ibu, aku mau bermain 
sama teman-teman." katanya. "Akan aku menangkan pertandingan itu, 
karena seekor Trihorn bisa melakukan apa saja!" Semangat itu tentu 
membuat kedua orang tuanya bangga. Terutama sang ayah yang telah 
berhasil menjadikan anaknya seorang pemikir positif, penuh percaya 
diri, dan selalu optimis. Tapi, ibunya penasaran dan bertanya;"Kalian 
mengadakan perlombaan apa kali ini, Cera?". 

Pertanyaan itu menghasilkan sebuah jawaban yang sangat mengejutkan. 
Sampai-sampai, Ayah yang sedang mengasah tanduknya berhenti dan 
berteriak; "Perlombaan macam apa itu, Cera?" suaranya menggetarkan 
dada. "Kamu tidak boleh ikut perlombaan itu!" seraya berlari 
menghampirinya. 

"Mengapa aku tidak boleh ikut berlomba, Ayah?" tanya Cera. "Aku ingin 
memenangkan pertandingan itu..." lanjutnya.
"Itu permainan yang sangat berbahaya!" jawab Ayah dalam suara tinggi 
berbalut cemas.
"Ayah, bukankah Ayah bilang seekor Trihorn bisa melakukan apa saja?" 
Cera membalas diantara kebingungan dan kekecewaan.
"I, Iyya, tapi..." Ayah terlihat ragu-ragu. "Tapi, berdiri diatas 
sebatang kayu yang terapung diair sungai yang deras bukanlah salah 
satunya...."  
"Maksud Ayah..." kata Cera. "Seekor Trihorn tidak bisa melakukannya?" 
Jelas sekali dia kecewa. Namun, sekuat apapun Ayah menghalanginya, 
dia tidak bisa dihentikan. Ayah, tidak bisa semudah itu menghapuskan 
pelajaran yang sudah ditanamkannya didalam diri Cera. Sebab, 
pelajaran itu, benar-benar diserap, diyakini dan dijiwai olehnya. 
Hingga dia mengira bahwa memang seekor Trihorn bisa melakukan apa 
saja.

Kita, para manusia juga demikian. Begitu bertubi-tubinya pelajaran 
yang meyakinkan kita bahwa kita ini bisa melakukan apa saja. Jika 
kita mau. Pelajaran itu sungguh-sungguh kita dengarkan. Kita resapi 
didalam hati. Dan kita jadikan tenaga yang menggelora untuk 
menyemangati hidup. Namun seperti pengalaman Cera, ada banyak situasi 
dimana kita harus dihadapakan pada kenyataan bahwa tidak segala hal 
bisa kita lakukan. Itu membuat kita kebingungan; bukankah para guru 
motivasi saya mengatakan bahwa saya bisa melakukan apapun juga? 
Sekarang saya ingin melakukan ini, namun sekuat apapun saya berusaha, 
ternyata saya tidak bisa jua.

Ketika Cera pada akhirnya tenggelam dan hanyut terbawa arus sungai 
yang deras. Ayahnya menyadari bahwa kepada para pembelajar, tidak 
seharusnya dia meyakinkan bahwa mereka bisa melakukan apa saja yang 
mereka inginkan. Bukan. Bukan itu. Sebab, seekor Trihorn tidak 
didisain Tuhan untuk menjadi perenang hebat. Atau penerbang ulung. 
Seekor Trihorn, dirancang untuk menjadi dirinya sendiri. Mengenali 
potensi diri sejati yang dimilikinya. Lalu, menggunakan kemampuan itu 
untuk menjalani hidupnya. Dan. Itu tidak berarti melakukan apa saja 
yang diinginkannya. Melainkan, untuk. Menjalani fitrahnya. Mengikuti 
kodratnya. Memaknai keberadaan dirinya. Melalui aktualisasi atas 
kapasitas diri itu.  

Cera, bukanlah satu-satunya pembelajar penuh semangat yang haus akan 
pencerahan itu. Ada jutaan Cera lain yang merindukan pengarahan yang 
benar tentang apa yang patut dilakukan dalam hidupnya. Mereka 
membutuhkan seseorang yang bersedia mengatakan bahwa; kita bukanlah 
mahluk yang bisa melakukan apa saja. Tapi, kita bisa meraih 
kesuksesan hidup dengan melakukan apa saja yang sesuai dengan 
kemampuan dan kapasitas diri kita seutuhnya. Yaitu, ketika kita 
menjadi manusia yang bersedia mengakui betapa kita ini bukan mahluk 
yang sempurna. Namun, dibalik kesadaran akan ketidaksempurnaan itu, 
tumbuh keyakinan bahwa; Tuhan sudah menghadiahi kita dengan kemampuan 
untuk menjalani sebaik-baiknya hidup. 

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki: 
Ada dua alasan mengapa kita tidak perlu bisa melakukan segala hal. 
Pertama, diri kita tidak didisain untuk menjadi mahluk yang serba 
bisa. Dan kedua, kesuksesan bukanlah milik mereka yang bisa melakukan 
segala hal; melainkan kabar baik bagi orang-orang yang bersedia 
memberdayakan diri.


Kirim email ke