Lebih dari 70 ribu artikel ilmiah mengupas tentang bahaya rokok. Dinyatakan bahwa dalam setiap kepulan asap rokok mengandung 4000 racun kimia berbahaya yang 43 diantaranya bersifat karsinogenik (perangsang tumbuhnya kanker). Data menunjukkan lebih dari 90% kanker paru pada pria, 70% pada wanita, disebabkan oleh rokok. Data lain juga menunjukkan resiko kanker rahim, kanker darah, kanker hati, gangguan asma, bronchitis, darah tinggi, resiko stroke, serangan jantung, gangguan kesuburan pada wanita dan impotensi pada pria, resiko pada janin dsb.
Namun mengapa resiko "dahsyat" diatas tidak menimbulkan rasa takut bagi pecandu rokok ? Sama seperti pecandu narkoba, pecandu seks dan pecandu lainnya, kenikmatan rokok letaknya ada di tabula "rasa", sementara nasihat berhenti merokok terbaik tempatnya ada di "pikiran". Belum lagi sensasi "tipuan" yang dibangun iklan rokok yang menggambarkan seolah "jantan", "gaul" dan "modern". Ditambah efek nyaman bawah sadar akibat sel syaraf di daerah mulut di stimulir (seolah pengganti kebiasaan menyusui waktu kecil). Lengkaplah sudah "kebodohan" yang ditimbulkan oleh rokok. Sekalian mau nanya kepada para ulama, apabila kemudharatan rokok sudah lebih besar daripada manfaatnya maka apakah masih cukup disebut "makruh" ? Disinilah peran keluarga dan pendidik sebagai pembentuk "cara" berfikir seseorang serta peran pemerintah sebagai pemegang regulasi menjadi sangat penting. Tetapi itu semua berada diluar zona yang dapat kita kendalikan. Satu satunya cara dan yang paling mungkin kita ubah adalah bagaimana kita tidak membiarkan diri kita menjadi "korban" rokok dan menjadi "model" pelaku hidup sehat bagi keluarga dan lingkungan sekitar kita. Ingin Cepat Berubah ? KLIK Disini >> http://klinikservo.wordpress.com/kesaksian/
