Keberadaan Kita adalah Harapan bagi Orang Lain
 
"Uang seratus-limaratus tidak akan membuat bapak-ibu
jatuh miskin," begitulah sering kita dengar pengamen mengatakannya dalam
bus kota. Jujur saja, kadang kita jengkel dibuatnya, karena ucapan tersebut
terasa begitu mengintimidasi dan memaksa. Tapi, sebenarnya kalau direnungkan
lebih jauh, kalimat semacam itu merupakan sebentuk pengharapan orang lain atas
diri kita. 
 
Sering kita tak menyadari, betapa beruntungnya kita.
Punya karir bagus, kesibukan bermakna, pergaulan penuh gengsi, gaji tetap tiap
bulan. Tanpa kita dasari, banyak orang memandang kita sambil mendongak, dengan
rasa iri. Tapi, kita sendiri justru senantiasa mengeluh dan merasa kurang dan
kurang terus. Tentu sudah teramat klise kalau dikatakan, bahwa ini semua soal
rasa bersyukur. Namun, jauh lebih penting dari itu sebenarnya, kita perlu lebih
menyadari bahwa keberadaan kita adalah harapan bagi orang lain.
 
Ketika kita melewati lapak-lapak kaki lima, para pedagang
itu menatap kita dengan pikiran, bahwa kita akan mampir ke lapak mereka,
membeli sesuatu. Di rumah, kita adalah tumpuan harapan anak-anak yang selalu
menunggu. Pendek kata, bagi dunia, kita mungkin hanyalah seseorang. Tapi, bagi
seseorang, kita adalah dunia mereka. Mari, sedikit lebih peka. Klik 
http://www.dicuekinsayang.com 

 
salam,


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke