Hari Ini Bawahan, Besok Atasan

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Pernahkah anda mendengar seseorang mengatakan:"Boleh jadi, bawahan 
anda akan menjadi atasan anda pada suatu saat kelak....". Tidak 
banyak atasan yang menyadari kenyataan ini, sekaligus bersedia 
menerima konsekuensi yang ditimbulkannya. Dan, lebih sedikit lagi 
atasan yang bahkan dengan 'sengaja' melakukan 'sesuatu' untuk 
membantu bawahannya menapak lebih tinggi dari dirinya sendiri. 
Meskipun pada kenyataannya, ada banyak bukti bahwa para bawahan 
cemerlang melejit karirnya hingga menjadi atasan bagi para mantan 
atasannya. Apakah anda menemukan fenomena serupa ini dilingkungan 
kerja anda?

"Gue resign aja deh...." begitu kata seorang teman. Dia lebih suka 
pindah ke perusahaan lain daripada harus menjadi bawahan bagi orang 
yang pernah menjadi bawahannya. Secara mental, dia tidak siap 
menghadapi situasi terbalik seperti itu. Sulit menerimanya karena ada 
ganjalan psikologis didalam dirinya. Dia dikuasai rasa gengsi. Merasa 
diri lebih senior. Lebih superior.  Dan rupanya, tidak sedikit orang 
yang bersikap seperti itu. 

Banyak orang yang mengatakan bahwa; promosi tidak dilakukan secara 
transparan. Sarat dengan kolusi. Dilatarbelakangi diskrimanasi. Dan 
penuh dengan perbenturan berbagai kepentingan. Akibatnya, orang 
mendapatkan posisi lebih tinggi tanpa didukung oleh kemampuan yang 
memadai. Sehingga;"berseliweranlah para `anak kemarin sore' dijajaran 
manajer senior perusahaan".  Mungkin betul begitu. Mungkin juga 
sekedar alasan belaka. Tapi, konteks diskusi kita saat ini tidak 
sedang membahas aspek itu. Jadi, mari kita fokuskan pembahasan kita 
kepada kenyataan bahwa :"Boleh jadi, bawahan kita akan menjadi atasan 
kita  pada suatu saat kelak...." Let's accept the fact, and let's 
deal with it. 

Bagi kita, hal ini memiliki dua implikasi. Pertama; seandainya kita 
adalah sang atasan itu. Bagaimana kita menghadapi kemungkinan seperti 
itu? Kemungkinan ketika bawahan kita menjadi atasan bagi kita. 
Mustahil? Tidak. 

Maka, penting bagi kita untuk memiliki paradigma positif. Jika ada 
bawahan yang memiliki kualitas dan kinerja yang lebih baik dari kita; 
bukankah itu baik bagi kita maupun organisasi itu sendiri? Memang, 
idealnya kita naik posisi terus menerus, sehingga setinggi apapun 
bawahan kita naik; kita masih berada diatasnya. Namun, bukankah 
didunia nyata tidak selalu terjadi hal sedemikian?

Mari cermati kalimat ini;"Guru yang baik bukanlah mereka yang mau 
mengajarkan semua hal yang diketahuinya. Melainkan, mereka yang 
bersedia membantu muridnya membuka tabir-tabir pengetahuan yang belum 
pernah terpecahkan."  Apa yang kita ketahui sangatlah terbatas. 
Sehingga, mengajarkan semua yang kita tahu tidak akan bisa menjadikan 
generasi masa depan lebih baik dari kita. Jika hal ini berlaku dalam 
hubungan antara guru dan murid, dapatkah juga terjadi dalam hubungan 
antara atasan dan bawahan?

Seorang guru sejati akan bahagia ketika mendapati muridnya lebih 
hebat dari dirinya sendiri. Demikian pula seorang atasan yang hebat. 
Dia bahkan membuka jalan, supaya bawahannya bisa menapak lebih 
tinggi. Tanpa ada rasa iri. Tiada pula kecemburuan. Yang ada, 
hanyalah kebanggaan didalam dirinya. Meskipun – biasanya - seseorang 
yang telah menapak tinggi lupa bahwa; ada peran atasannya dalam 
pencapaian yang diraihnya. Jadi, tidak mengherankan jika mereka kerap 
berkata;"I did it myself." Tapi, seorang  atasan sejati; tidak 
terlampau merisaukannya.

Implikasi kedua; seandainya kita sang bawahan itu. Bukti bahwa 
seorang bawahan bisa menapak jenjang karir yang lebih tinggi dari 
atasan, cukup untuk meyakinkan diri kita bahwa masa depan kita bisa 
jauh lebih baik dari yang dapat kita bayangkan. 

Sering kita dengar orang yang mengeluh bahwa karirnya tidak 
berkembang karena atasannya tidak cukup memberi bimbingan. Bisa iya. 
Bisa juga tidak. Lagipula, kita tahu bahwa tuntutan perusahaan 
semakin banyak, sementara jumlah karyawan bahkan semakin berkurang. 
Sehingga para pemegang posisi kunci semakin terbatas waktunya untuk 
menyuapi kita. Atau mengajarkan kepada kita tentang ini dan itu. 
Mengharapkan mereka selalu ada disamping kita membuktikan bahwa 
memang kita bukan orang yang bisa diandalkan. Lagipula, mengapa 
atasan kita harus memberi penilaian istimewa kepada orang-orang yang 
bisanya hanya bergelantung diketiak mereka? 

Disisi lain, kita juga sering terjebak pada anggapan 
bahwa; 'kemampuan teknis adalah segala-galanya'. Padahal, kemampuan 
teknis hanyalah satu dari sekian banyak faktor penting. Jadi, orang-
orang yang hanya hebat secara teknis, hanya layak untuk menjadi 
pelaksana. Bukan pemimpin. Itulah sebabnya, mengapa orang-orang yang 
hebat secara teknis; sering tersingkir. Repotnya, mereka merespon 
situasi ini dengan menyimpulkan bahwa manajemen telah pilih kasih. 
Mereka merasa; proses assesment tidak fair.

Kita, harus keluar dari pola pikir semacam itu. Sebab, jika terjebak 
didalamnya; kita tidak akan pernah mengetahui apa yang harus 
diperbaiki. Kita mengira bahwa semua kualifikasi itu sudah kita 
miliki. Padahal, ada orang lain yang lebih baik dari kita. Seperti 
halnya anda yang tidak ingin dipimpin oleh orang yang sekedar jago 
dalam hal-hal teknis; maka tentu orang lainpun tidak ingin anda yang 
hanya menguasai aspek teknis itu tampil menjadi pemimpin. Sebaliknya, 
ketika kemampuan teknis anda dipadukan dengan sikap positif, 
kemampuan membangun hubungan yang produktif baik dengan atasan, 
bawahan maupun rekan sekerja, serta loyalitas yang tinggi; maka 
mungkin, memang anda layak mendapatkan kesempatan untuk dipersaingkan 
dengan orang-orang hebat lainnya. 

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki: 
Akan tiba saat dimana para atasan harus digantikan. Siapkah kita, 
ketika kesempatan itu tiba? 


Kirim email ke