Ilmu Ghaib Hanya
Milik Alloh SWT

Ditulis oleh Abu Ja'far Al Atsary 

 

Definisi Ghaib

Ar-Raghib Al-Asfahany berkata:”Apa saja yang lepas dari (jangkauan) indra
dan pengetahuan manusia adalah ghaib.”

Al-Baji berkata:”Ghaib adalah apa yang tidak ada dan apa yang tidak tampak oleh
manusia.”

Hanya Alloh yang Mengetahui

Ilmu ghaib adalah khusus milik Alloh. Cukup banyak ayat-ayat dan hadits yang
mengatakan tentang hal tersebut. Di dalam surat Al-An’am ayat 59, Alloh
berfirman:

” Dan pada sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan
di lautan dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya
(pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu
yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh
Mahfuzh).”

Rasul ShallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” Kunci-kunci ghaib ada lima,
tidak ada yang mengetahuinya selain Alloh. Sesungguhnya di sisi Alloh terdapat
ilmu tentang kiamat, Dia menurunkan hujan, dan Dia mengetahui apa yang ada di
dalam rahim. Tidak ada jiwa (manusia) yang mengetahui apa yang bakal ia peroleh
(alami) besok. Dan tidak ada jiwa yang mengetahui di negeri mana ia akan mati.
Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui dan Maha Teliti. ” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad
dari Ibnu Umar, lafazhnya Ahmad)

Aisyah berkata: “Barangsiapa menyangka bahwa Rasulullah ShallAllohu ‘alaihi
wa sallam bisa memberi tahu apa yang bakal terjadi besok pagi, maka ia
benar-benar telah berdusta besar kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala karena Alloh
telah berfirman: “Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang
mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Alloh.” (An-Naml : 65)

Hukum Menyandarkan Ilmu Ghaib Kepada Makhluk

Siapa yang mengklaim bahwa dirinya mengetahui salah satu dari kunci-kunci
ghaib, maka ia kafir. Siapa yang mengatakan; “Besok pasti hujan,” ia adalah
kafir, kecuali jika ia tidak memastikan dan mengandalkan kepada ilmu
pengetahuan alam yang didasarkan kepada eksperimen atau hukum kebiasaan, maka
ia tidak kafir. Seperti juga mengabarkan akan adanya gerhana berdasarkan ilmu
hisab atau ilmu falak.

Ibnul Haj menukil kesepakatan ulama atas kafirnya orang yang mengatakan
bahwa para wali mengetahui apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi
sampai hari kiamat nanti.

Bid’ah Rafidhah dan Shufiyah

Imam Ibnu Qutaibah, penyambung lidah Ahlus Sunnah pada abad ketiga, telah
menjelaskan kebid’ahan dan kekufuran orang yang menyandarkan ilmu ghaib kepada
makhluk. Dalam risalah Al-Ikhtilaf fil Lafzhi , beliau berkata: “Rafidhah
(syi’ah) telah keterlaluan di dalam mencintai Ali RadhiAllohu anhu, mereka
mengunggulkannya melebihi orang yang diunggulkan oleh Rasulullah ShallAllohu
‘alaihi wa sallam dan oleh seluruh sahabatnya (termasuk oleh Ali RadhiAllohu
anhu sendiri). Mereka mengklaim bahwa Ali derajatnya sejajar dengan Nabi 
ShallAllohu
‘alaihi wa sallam dalam kenabian. Mereka menganggap bahwa para imam dari
anak-anaknya memiliki ilmu ghaib.” Ucapan tersebut disamping dusta dan kufur
adalah kebodohan yang terlalu.

Kemudian bid’ah syi’ah ini menyebar ke kalangan shufiyah (orang tasawuf)
karena eratnya hubungan dua kelompok tersebut, sehingga kita dapati orang-orang
shufi meyakini bahwa termasuk karamah para wali adalah melihat Lauhul Mahfuzh
dan membaca isinya. Sampai Asy-Sya’rani (tokoh shufi) mengatakan bahwa Muhyiddin
Ibnu Arabiy (pelopor faham menyimpang yang disebut “wihdatul wujud” , yakni
bersatunya Alloh dengan alam/makhluq) diberi tahu oleh Alloh perbedaan antara
apa yang ditulis di Lauhul Mahfuzh dengan tulisan para makhluk. Dan Abdul Karim
Al-Jiliy mengklaim bahwa dirinya telah dimi’rajkan dan berkumpul dengan seluruh
para Nabi, wali dan malaikat dari berbagai macamnya dan dibukakan untuknya
tabir ghaib sehingga mengetahui hakikat segala sesuatu dari sejak azal sampai
kepada jaman yang tak bertepi. Sampai Yusuf An-Nabhani mengatakan: “Lauhul
Mahfuzh adalah hati seorang arif, artinya hati orang yang ma’rifat itu bagaikan
kaca cermin yang dihadapkan kepada Lauhul Mahfuzh, apa yang tertulis di Lauhul
Mahfuzh bisa terekam di hati seorang arif.”

Hanya Para Rasul yang Diberi Tahu

Alloh berfirman dalam surat
Al-Jin ayat 26-27:

“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihat-kan
kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang
diridlai-Nya.”

Orang-orang shufi demi mengesahkan kebid’ahannya, mereka berani menambah
ayat (dalam tafsirnya), mereka mengatakan:

“Kecuali kepada rasul (yang diridhai-Nya) dan wali.”

Mengetahui perkara ghaib melalui jalan “Ithla’” khusus untuk para rasul Alloh
Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan firman Alloh: “Dan Alloh sekali-kali tidak akan
memperlihatkan kepada kamu ( hai orang-orang mukmin orang-orang mukmin) hal-hal
yang ghaib, akan tetapi Alloh memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara
rasul-rasul-Nya. ” (Ali Imran : 179)

Ilham, Firasat dan Mimpi Para Wali

Ilham dan mimpi para nabi adalah haq dan ma’shum (terjaga dari kesalahan),
pasti benar. Hal tersebut adalah termasuk ilmu ghaib yang diberitahukan oleh 
Alloh
Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka.

Berbeda dengan para wali, ilham dan mimpi mereka tidak mutlak benar, tidak
ma’shum, maka tidak disebut “ilmu ghaib” selama belum terbukti. Dan ketika
terjadi hilanglah hukum ghaib darinya. Mimpi para wali yang kedudukannya lebih
tinggi daripada ilham dan firasat itu ternyata dijadikan oleh Rasulullah 
ShallAllohu
‘alaihi wa sallam sebagai satu bagian yang lemah dan kecil dari kenabian, hanya
satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.

Adalah sebuah kesalahan jika yang bukan ma’shum disejajarkan dan
disandingkan dengan para nabi yang ma’shum. Begitu pula jika menyamakan yang
pasti benar dengan sesuatu yang belum tentu benar.

Tepat apa yang dikatakan oleh Asy-Syathibiy dalam kitab Al-Muwafaqat: “Jika
seorang wali diperlihatkan sesuatu dari perkara ghaib, maka hal itu bukan
berbentuk sebuah ilmu pasti dan keyakinan tanpa sangsi, akan tetapi bersifat
penglihatan dan perkiraan biasa, maka jika terjadi sesuai dengan kenyataan,
maka pemberitaan-nya setelah terjadinya kenyataan itu bukan lagi merupakan
suatu perkara yang ghaib…

Jadi yang mengetahui ilmu ghaib hanya Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Dan Dia
memberitahukan sebagian perkara ghaib kepada rasul-Nya yang Dia kehendaki
melalui wahyu yang sudah mutlak benar. Sekalipun demikian tidak boleh dikatakan
bahwa para rasul itu mengetahui ilmu ghaib, apalagi para wali yang hanya diberi
ilham atau mimpi yang belum mutlak kebenarannya itu.

(Abu Hamzah As-Sanuwi)

Maraji’:

Risalah Asy-Syirku wa Madhahiruhu, Mubarak bin Muhammad Al-jiliy Al-Jazairi,
hal. 126-136

Al-Fatawa Al-Haditsiyah, Ibnu Hajar Al-Haitamiy (311-313)

Tafsir Al-Qurthubi, 7/1-3

Mawaqif Ahlissunnah, Utsman Ali Hasan 59,71

Syawahidul Haq, Yusuf An-Nabhani, hal. 427, 428

Fathul Bari, Ibnu Hajar 8/291,514

Al-fikrush Shufi, Abd. Rahman Abd Kholiq 231 dan 632

Kifayatul At-Qiya wa Minhajul Asfiya’, As-Sayyid Bahri, hal. 27

 

Artikel Fatwa :

Hukum Meminta Bantuan Kepada Jin Untuk Mengetahui
Perkara-perkara Ghaib





Apa hukum Islam mengenai orang yang meminta bantuan kepada jin untuk
mengetahui perkara-perkara ghaib? Apa hukum Islam tentang menghipnotis, yang
dengannya kekuasaan peng-hipnotis untuk mempengaruhi orang yang dihipnotis
menjadi kuat. Selanjutnya dia menguasainya dan membuatnya meninggalkan yang
haram, menyembuhkan dari penyakit kejiwaan, atau melakukan pekerjaan yang
diminta oleh penghipnotis? Apa pula hukum Islam tentang ucapan si polan:
Bihaqqi fulan (dengan hak si fulan); apakah ini sumpah atau tidak? Berilah
penjelasan kepada kami. 



Jawaban: 



Pertama, ilmu tentang perkara-perkara ghaib hanya dimiliki oleh Alloh secara
khusus. Tidak ada seorang pun dari makhluknya yang mengetahuinya, baik jin
maupun selainnya, kecuali apa yang Alloh wahyukan kepada siapa yang
dikehendakiNya dari para malaikat atau rasul-rasulNya. Alloh Subhannahu wa
Ta'ala berfirman, 



"Katakanlah, 'Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui
perkara yang ghaib, kecuali Alloh', dan mereka tidak mengetahui bila mereka
akan dibangkitkan." (An-Naml: 65). 



Alloh Subhannahu wa Ta'ala berfirman mengenai NabiNya, Sulaiman Alaihissalam,
dan jin yang ditundukkanNya untuknya, 



"Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang
menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan
tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersung-kur, tahulah jin itu bahwa kalau
sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa
yang meng-hinakan." (Saba': 14). 



Dia berfirman, 



"(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak
memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul
yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat)
di muka dan di belakangnya." (Al-Jin: 26-27). 



Diriwayatkan secara sah dari an-Nawwas bin Sam`an Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam bersabda, 

"Jika Alloh hendak mewahyukan suatu perkara Dia berfirman dengan wahyu,
maka langit menjadi takut atau sangat gemetar karena takut kepada Alloh r. Jika
ahli langit mendengar hal itu, maka jatuh dan bersungkur dalam keadaan bersujud
kepada Alloh. Mula-mula yang mengangkat kepalanya adalah Jibril, lalu Alloh
berbicara kepadanya dari wahyuNya tentang apa yang dikehen-dakiNya. Kemudian
Jibril melintasi para malaikat. Setiap kali melewati suatu langit, maka para
malaikat langit tersebut ber-tanya, 'Apa yang difirmankan oleh Tuhan kami,
wahai Jibril?' Jibril menjawab, 'Dia berfirman tentang kebenaran, dan Dia
Mahatinggi lagi Mahabesar.' Lalu mereka semua mengucapkan seperti yang
dikatakan Jibril. Lalu Jibril menyampaikan wahyu ke tempat yang diperintahkan 
Alloh
kepadanya.'" 



Dalam ash-Shahih dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Nabi Shalallaahu
alaihi wasalam, beliau bersabda, 

"Jika Alloh memutuskan suatu perkara di langit, maka para malaikat
meletakkan sayap-sayapnya karena tunduk kepada firmanNya, seolah-olah rantai di
atas batu besar. Ketika telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, maka
mereka bertanya, 'Apakah yang difirman oleh Tuhan kalian.' Mereka menjawab 
kepada
yang bertanya, 'Dia berfirman tentang kebenaran dan Dia Mahatinggi lagi
Mahabesar.' Lalu pencuri pembicaraan (setan) mendengarkannya. Pencuri
pembicaraan demikian, sebagian di atas sebagian yang lain -Sufyan menyifatinya
dengan telapak tangannya lalu membalikkannya dan memisahkan di antara
jari-jarinya-. Ia mendengar pembicaraan lalu menyampaikannya kepada siapa yang
di bawahnya, kemudian yang lainnya menyampai-kannya kepada siapa yang di
bawahnya, hingga ia menyampaikannya pada lisan tukang sihir atau dukun.
Kadangkala ia mendapat lemparan bola api sebelum menyampaikannya. Kadangkala ia
menyampaikannya sebelum mengetahuinya, lalu ia berdusta bersamanya dengan
seratus kedustaan. Lalu dikatakan, 'Bukankah ia telah berkata kepada kami
demikian dan demimkian, demikian dan demikian.' Lalu ia mempercayai kata-kata
yang didengarnya dari langit." 



Atas dasar ini maka tidak boleh meminta bantuan kepada jin dan makhluk-makhluk
selainnya untuk mengetahui perkara-perkara ghaib, baik berdoa kepada mereka,
mendekatkan diri kepada mereka, membuat kemenyan, maupun selainnya. Bahkan, itu
adalah kesyirikan, karena ini sejenis ibadah. Padahal Alloh telah memberi tahu
kepada para hambaNya agar mengkhususkan peribadatan kepadaNya seraya
mengikrarkan, 



"Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon
pertolongan." (Al-Fatihah: 5). 



Telah sah dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bahwa beliau bersabda kepada
Ibnu Abbas,

ÅöÐóÇ ÓóÃóáúÊó ÝóÇÓúÃóáö Çááåó æóÅöÐóÇ ÇÓúÊóÚóäúÊó ÝóÇÓúÊóÚöäú
ÈöÇááåö 

"Jika kamu meminta, maka memintalah kepada Alloh dan jika kamu meminta
pertolongan, maka memintalah pertolongan kepada Alloh." 



Kedua, hipnotis adalah salah satu jenis perdukunan dengan mempergunakan jin
sehingga penghipnotis memberi kuasa kepa-danya atas orang yang dihipnotisnya.
Ia berbicara lewat lisannya dan mendapatkan kekuatan darinya untuk melakukan
suatu pekerjaan lewat penguasaan terhadapnya, jika jin tersebut jujur bersama
penghipnotis itu. Ia mentaatinya sebagai imbalan "pengabdian"
penghipnotis kepadanya. Lalu jin itu menjadikan orang yang dihipnotis tersebut
mentaati kemauan penghipnotis terhadap segala yang diperintahkannya berupa
pekerjaan-pekerjaan atau informasi-informasi lewat bantuan jinnya, jika jin itu
jujur ber-sama si penghipnotis. Atas dasar itu maka menggunakan hipnotis
sebagai sarana untuk menunjukkan tempat pencuri, barang yang hilang,
menyembuhkan penyakit, atau melakukan aktifitas lainnya lewat jalan
penghipnotis adalah tidak boleh bahkan kesyirikan, berdasarkan alasan yang
telah disebutkan. Dan, karena itu berarti kembali kepada selain Alloh, dalam
perkara yang diluar sebab-sebab biasa yang disediakan Alloh Subhannahu wa
Ta'ala untuk para makhluk dan diperbolehkan untuk mereka. 



Ketiga, ucapan seseorang: Bihaqqi fulan (demi/ dengan hak polan), mengandung
makna sumpah. Maksudnya, aku bersum-pah kepadamu demi polan. Ba' di sini adalah
Ba' al-Qasam (kata yang mengandung arti sumpah). Bisa juga mengandung makna
tawassul dan meminta bantuan kepada diri fulan atau kedu-dukannya. Jadi, Ba'
ini untuk Isti`anah (meminta bantuan). Pada kedua hal ini, ucapan ini tidak
boleh. 



Adapun yang pertama, bersumpah kepada makhluk oleh makhluk adalah tidak boleh.
Bersumpah kepada makhluk sangat dilarang oleh Alloh, bahkan Nabi Shalallaahu
alaihi wasalam menetapkan bahwa bersumpah kepada selain Alloh adalah syirik.
Beliau bersabda,

ãóäú ÍóáóÝó ÈöÛóíúÑö Çááåö ÝóÞóÏú ÃóÔúÑóßó 

"Barangsiapa bersumpah kepada selain Alloh, maka ia telah syirik."
(HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim; ia menilainya sebagai hadits 
shahih).




Adapun yang kedua, karena para sahabat tidak ber-tawassul kepada diri Nabi a
dan tidak pula kepada kedu-dukannya semasa hidupnya dan sesudah kematiannya.
Padahal mereka itu manusia yang paling tahu tentang maqam dan kedudukan beliau
di sisi Alloh serta lebih tahu tentang syariat. Berbagai penderitaan telah
mereka alami semasa hidup Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan setelah
kematiannya, namun mereka kembali kepada Alloh dan berdoa kepadaNya. Seandainya
bertawassul dengan diri atau kedudukan beliau Shalallaahu alaihi wasalam itu
disyariatkan, niscaya beliau telah mengajarkan hal itu kepada mereka; karena
beliau tidak meninggalkan suatu perkara untuk mendekatkan diri kepada Alloh
melainkan beliau memerintahkannya dan memberi petunjuk kepadanya. Dan, niscaya
mereka mengamalkannya karena me-reka sangat antusias mengamalkan apa yang
disyariatkan kepada mereka, terutama pada saat mengalami kesulitan. Tiadanya
kete-tapan izin dari beliau Shalallaahu alaihi wasalam mengenainya dan petunjuk
kepadanya serta mereka tidak mengamalkannya adalah bukti bahwa itu tidak
diperbolehkan. 



Yang sah dari para sahabat , bahwa mereka bertawassul kepada Alloh dengan doa
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam kepada Tuhannya agar permohonan mereka
dikabulkan semasa hidupnya, seperti dalam Istisqa' (meminta hujan) dan
selainnya. Tatkala beliau telah wafat, Umar Radhiallaahu anhu ketika keluar
untuk Istisqa' mengatakan, 



"Ya Alloh, dahulu kami bertawassul kepadaMu dengan Nabi kami lalu Engkau
memberi hujan kepada kami. Dan sesungguhnya kami sekarang bertawassul kepadamu
dengan paman Nabi kami, maka berilah kami hujan." 



Maka, mereka diberi hujan. 

Maksudnya doa al-Abbas kepada Tuhannya serta permo-honannya kepadaNya, dan yang
dimakud bukan bertawassul kepada kedudukan al-Abbas; karena kedudukan Nabi
Shalallaahu alaihi wasalam lebih besar dan lebih tinggi darinya. Kedudukan ini
tetap berlaku untuknya sepeninggalnya sebagaimana semasa hidupnya. Sean-dainya
tawassul tersebut yang dimaksudkan, niscaya mereka telah bertawassul dengan 
kedudukan
Nabi a daripada bertawas-sul kepada al-Abbas. Tetapi, nyatanya, mereka tidak
melakukannya. Kemudian, bertawassul kepada kedudukan para nabi dan semua orang
shalih adalah salah satu sarana kesyirikan yang terdekat, sebagaimana yang
ditunjukkan oleh fakta dan pengalaman. Oleh karenanya perbuatan ini dilarang
untuk menutup jalan tersebut dan melindungi tauhid. Semoga shalawat dan salam
senantiasa Alloh limpahkan atas Nabi kita, Muhammad, keluarganya dan para
sahabatnya. 



Majalah al-Buhuts al-Islamiyah, vol. 30, hal. 78-81, al-Lajnah ad-Da'imah.


DIarsipkan di bawah: buletin An Nur 

 

 

Sumber: Yayasan Al-Sofwah

Jl.Raya Lenteng Agung Barat No.35, Jagakarsa,  PostCode:12810 Jakarta
Selatan - Indonesia

Phone: 62-21-78836327. Fax: 62-21-78836326

 

 




      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

Usaha Berubah, Selalu Kalah ?

Apakah Anda merasa diri Anda sia sia dan tidak berdaya karena semakin Anda 
ingin berubah, Anda semakin kalah, semakin Anda ingin berprestasi justru 
semakin frustrasi ? 

Apakah Anda merasa hidup Anda buruk dan terpuruk karena semakin Anda berusaha, 
Anda semakin menderita, semakin Anda menahan diri justru semakin tidak 
terkendali ? 

No Problem ! Di SERVO Aja !

S.E.R.V.O™ membebaskan Anda dari "jerat” atau “penjara" emosional, menemukan 
potensi dan jati diri Anda serta mengaktifkan "mesin" sukses otomatis Anda 
seperti milik para BINTANG. 

Dengan Terapi S.E.R.V.O™ :
 
- Lebih sehat tanpa obat. Anda tidak lagi perlu mengalami gangguan psikosomatis 
seperti pusing, berdebar debar, leher kaku, sakit perut, insomnia 

- Lebih bahagia tanpa fobia. Anda tidak perlu merasa cemas, takut, gugup, 
panik, bingung, lupa, marah, gangguan seksual 

- Lebih bergairah tanpa masalah. Anda tidak perlu terjebak pada kebiasaan buruk 
seperti kecanduan rokok, obat, makan, tidur, belanja, korupsi 

- Lebih mudah tanpa menyerah. Anda tidak perlu lari dari masalah, merasa malu, 
bersalah, gagal, bernasib sial, depresi, putus asa, malas dan menunda pekerjaan 

- Lebih percaya diri tanpa iri. Semakin awal Anda menemukan potensi dan jati 
diri, semakin cepat Anda menjadi diri sendiri dan menjadi yang terbaik 
dibidangnya 

- Lebih berprestasi tanpa korupsi. Memanfaatkan seluruh waktu produktif Anda 
untuk membuat “cetak biru” kesuksesan pribadi, keluarga dan kehidupan sosial 
Anda.  

Kesaksian !

Nana, Pengusaha. ...Tadinya saya kurang yakin dengan pengobatan ini, tetapi 
setelah saya coba benar benar luar biasa. Saya sudah seperti orang biasa yang 
tegar menghadapi tantangan hidup ini. ... 

Hubungi : http://klinikservo.com/
 
(021) 5574 5555, 554 6009

---

TERAPI GRATIS !

FOBIA terhadap BENDA NYATA seperti Karet, Pepaya, Bulu Ayam, Karpet, Susu, 
Sayur, Nasi dsb. Hanya untuk Peserta Pertama, dari masing masing Fobia !Yahoo! 
Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke