BERI
JALAN ORANG CINA
Subject:
Dari Gus Dur 19 tahun lalu
Interesting and still actual article dr 19 taon yg lalu.
Pasti banyak yang pernah baca artikel ini :-),
nah
artikel ini saya simpen terus, tapi boleh baca lagi....sebab masih aktual dan
masih berlangsung kejadiannya !
Judul: BERI JALAN ORANG CINA
Penulis: Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Sumber: Editor, 21 April 1990
Jadi orang Cina di negeri ini, di masa ini pula, memang serba
salah.
Walaupun sudah ganti nama, masih juga ditanyakn 'nama asli'nya kalau
mendaftarkan anak ke sekolah atau jika membuat paspor. Mungkin, karena
memang nama yang digunakan terasa tidak pas bagi orang lain, seperti
nama Nagaria. Biasanya naga menggambarkan kemarahan dan keganasan.
Apakah si naga yang riang gembira ini tertawa-tawa? Hartadinata,terasa
lucu,
karena
tidak klop antara kekayaan dan keanggunan jabatan, antara harta dan nata.
Ternyata bukan hanya karena nama baru orang-orang Cina terasa tidak
sreg di telinga orang lain. Tetapi karena keputusan politik, untuk
membedakan orang Cina dari pribumi. Memang tidak ada peraturan
tertulis, melainkan dalam bentuk kesepakatan memperlakukan orang
Cina tersendiri. Mengapa? Karena mereka kuat, punya kemampuan
terlebih, sehingga dikhawatirkan akan meninggalkan suku-suku bangsa
lainnya.
Apalagi mereka terkenal dalam hal kewiraswastaan.Kombinasi kemampuan
finansial
yang kuat, dan kemampuan lain yang juga tinggi, dikhawatirkan akan
membuat
mereka jauh melebihi orang lain dalam waktu singkat.
Secara terasa, 'kesepakatan' meluas itu akhirnya mengambil bentuk
pembatasan bagi ruang gerak orang Cina. Mau jadi tentara? Boleh masuk
AKABRI, lulus jadi perwira. Tetapi harus siap menerima kenyataan,
tidak akan dapat naik pangkat lebih dari kolonel.
Mau jadi dokter? Silakan, namun jangan mimpi dapat meniti karier hingga
menjadi kepala rumah sakit umum. Mau masuk dunia politik? Bagus,
tetapi jangan menduduki jabatan kunci. Di birokrasi? Jadi pejabat urusan teknis
sajalah, jangan jadi eselon satu. Apalagi jadi menteri.
Sialnya lagi, 'jalan buntu' itu ternyata tidak membawakan alternatif
yang memuaskan. Jalan terbuka satu-satunya adalah mencari uang. Dan
itu sesuai pula dengan kecenderungan sosiologis mereka sejak masa
lampau, karena di masa kolonial pun mereka hanya boleh cari uang.
Usaha berhasil, uang masuk berlimpah-limpah, kekayaan makin bertambah.
Celakanya, justru karena itu mereka disalahkan pula: penyebab
kesenjangan sosial. Akumulasi modal dan bertambahnya kekayaan ternyata
tidak membawa keberuntungan.
Cara mereka menggunakan uang dinilai sebagai penyebab kecenderungan
hedonistik di kalangan generasi muda kita, padahal permasalahannya
sangat kompleks. Kekayaan mereka dianggap diperoleh melalui pengisapan
si kecil, padahal orang Cina hanyalah satu saja dari sekian banyak
faktor kemiskinan. Dengan kata lain, orang Cina dipersalahkan bagi
kebanyakan hal yang dirasakan tidak benar dalam kehidupan kita.
Salah satu hukum kehidupan masyarakat adalah pentingnya kemampuan
bertahan. Potensi untuk survive ini dimiliki orang Cina, di mana pun
mereka berada. Dan potensi itu diwujudkan di negeri kita oleh mereka,
dengan memanfaatkan satu-satunya 'jalur kolektif' yang masih terbuka:
bidang ekonomi. Segala tenaga dan daya dicurahkan untuk mencari
kekayaan. Perkecualiannya hanyalah sedikit orang Cina yang menjadi
intelektual, akademisi, tenaga profesi, politisi dan sebagainya.
Kemampuan bertahan demikian tinggi bila dimampatkan ke dalam sebuah
'sasaran kolektif' mencari kekayaan, sudah tentu sangat besar
hasilnya. Apa pula dibantu oleh kemudahan disegenap faktor produksi
dan sektor usaha. Karenanya wajar-wajar saja bila mereka berhasil,
tidak perlu dikembalikan kepada sifat serakah, atau direferensikan
kepada rujukan akan licin dan sejenisnya. Bahwa banyak sekali orang
Cina melakukan hal-hal seperti itu, tetapi tentunya tidak dapat
dianggap sebagai watak rasial atau sifat etnis dari orang Cina. Orang
lain juga berbuat sama.
Dengan demikian, persoalannya bukanlah bagaimana orang Cina itu bisa
dibuktikan bersalah, melainkan bagaimana mereka dapat ditarik ke dalam
alur umum (mainstream) kehidupan bangsa. Bagaimana kepada mereka
dapat diberikan perlakuan yuang benar-benar sama di segala bidang
kehidupan. Tanpa perlu ditakutkan bahwa sikap seperti itu akan
memperkokoh 'posisi kolektif' mereka dalam kehidupan bangsa, karena
hal-hal seperti itu dalam jangka panjang ternyata hanyalah sesuatu
yang berupa mitos belaka. Keperkasaan orang putih ternyata dapat
disaingi oleh keperkasaan orang hitam di Amerika Serikat. Orang Melayu
di Singapura juga menyimpan kemampuan sama maju dengan orang Cina,
seperti semakin banyak terbukti saat ini.
Begitu pula bangsa-bangsa lain, baik yang menjadi minoritas maupun
mayoritas. Tesis pokoknya di sini adalah: dapatkah kelebihan kekayaan orang
Cina dimanfaatkan bagi usaha lebih memeratakan lagi tingkat pendapatan
segala lapisan masyarakat bangsa kita di masa depan? Jawabnya,
menurut penulis, adalah positif. Orang Cina, sebagaimana orang-orang lain juga,
dapat
di-appeal untuk berkorban bagi kepentingan masa depan bangsa dan negara.
Tentu
dengan tetap menghormati hal-hal mendasar yang mereka yakini, seperti kesucian
hak-milik dari
campur-tangan orang lain.
Pemindahan kekayaan secara masif bukanlah barang baru bagi orang Cina,
karena mereka pun baru saja melakukan hal itu, dalam bentuk merampungkan upaya
akumulasi modal yang bukan
main besarnya. Salah satu instink untuk tetap bertahan hidup bagi orang
Cina adalah realisme
sangat besar yang mereka miliki. Akal mereka akan mendiktekan keputusan
pemindahan kekayaan secara masif
kepada mereka yang lebih lemah, dalam upaya mendukung pihak lemah itu agar juga
menjadi kuat.
Tetapi itu semua harus dilakukan dengan menghormati kesucian hak-milik mereka,
bukan dengan cara paksaan atau
keroyokan.
Kalau begitu duduk perkaranya, jelas akses orang Cina kepada semua
bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau sekarang ada
tiga orang Arab menjadi menteri,
tanpa ada pertanyaan atau kaitan apa pun dengan asal-usul etnis atau rasial
mereka, hal yang sama juga harus diberlakukan bagi orang Cina kepada semua
bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun.
Kalau prestasi para dokter orang Cina sama baiknya dengan yang lain-lain,
mereka pun
berhak menjadi kepala rumah sakit umum. Begitu juga menjadi jenderal,dan
demikian seterusnya.
Cerita gurau yang luas beredar menyebutkan perbedaan orang Jawa dari orang
Cina. Orang Jawa, kata cerita itu, akan
senantiasa menanyakan kesehatan kita kalau bertemu: "Sampean waras?"
Bagi orang Jawa yang mudah masuk angin dan sebagainya, kesehatan adalah
perhatian utama.
Ini berbeda dengan orang Cina. Kalau berjumpa dengan orang lain, pertanyaan
yang diajukan: "Sampean apa sudah
cia?" alias apakah sudah makan atau belum. Mengapa? Karena mereka dahulu
datang kemari akibat bahaya kelaparan di daratan Cina, negeri asal mereka.
"Keanehan" seperti itu adalah karakteristik etnis, yang tidak boleh
mengganggu keserasiah hidup sebuah bangsa.
Apalagi bagi bangsa yang pada dasarnya sudah sangat heterogen, seperti bangsa
kita. Kita sudah harus dapat melihat karakteristik khusus orang Cina seperti
juga 'keanehan' suku-suku bangsa kita yang lain. Ini berarti kita harus
mengubah cara pandang kita kepada orang Cina. Mereka harus dipandang sebagai
unit etnis. Bukan unit rasial.
Kalau kita bisa menerima kehadiran orang Flores,
Maluku dan Irian sebagai satuan etnis - padahal mereka bukan
dari stok Melayu (karena stok mereka adalah Astromelanesia), maka secara jujur
kita harus melakukan hal yang sama kepada stok Cina. Juga stok Arab. Mereka
bukan orang luar, melainkan kita-kita juga.
Mudah dikatakan tapi sulit dilakukan. Itulah reaksi pertama pada ajakan
"menyatukan dengan orang Cina". Akan
banyak alasan dikemukakan dan argumentasi diajukan. Karena, memang, dalam diri
kita telah ada keengganan mendasar untuk menerima kehadiran orang Cina sebagai
"orang sendiri". Kita sudah terbiasa mau menerima uang mereka tanpa
merasakan kehadiran mereka. Boleh saja keengganan bahkan ketakutan seperti itu
kita beri sofistikasi sangat canggih. Tetapi, ia tetap saja merupakan
keengganan dan ketakutan. Sesuatu yang irasional.
Justru itulah yang harus kita perangi, kita jauhi sejauh mungkin. Mengapakah
hal itu
menjadi keharusan? Karena hanya dengan perlakuan wajar, jujur dan fair dari
kita sebagai bangsa kepada orang Cina sajalah yang dapat mendorong timbulnya
rasa berkewajiban berbagi kekayaan dan nasib antara mereka dan pengusaha kecil
kita. Ini kalau kita benar-benar jujur, lain halnya kalau tidak....
Kalau dilihat seperti contoh negara2 Singapore, Malaysia, Muangthai dll banyak
menteri2nya Cina, ini termasuk negara besar, lebih besar dari negara Indonesia
(Kesejahteraan, kemakmuran rakyatnya) walaupun Indonesia menang luas, menang
besarnya jumlah penduduk dan menang besar sumber kekayaan alamnya tapi menang
besar juga kemiskinannya ! Menteri2 dan pejabat2 pemerintah di Indonesia yg
Cina, mungkin hanya Ibu Marie Pengestu, yg lainnya masih "MISCUT" mungkin
dianggap mengandung virus penyakit "Sakit Kuning"! Aneh bin nyata..!
Comments :
Mungkin kurang banyak pemikir2 Bisnis yg berintergeritas dan kredibilitas
tinggi ! Sehingga daya saing keluar (export) menjadi kendor alias MELEMPEM !
Atau karena virus penyakit "Sakit Kuning" itu ????? Wallahualam bi
shawab..........
[Non-text portions of this message have been removed]