---- Forwarded Message ----

Istri Impian
Senin, 16 Februari 2009 11:00

Semalam ada film menarik di salah satu stasiun tivi, judulnya
"Stepford Wives". Isinya tentang sebuah komunitas di perumahan
Stepford dimana istri-istri mereka semua 'sangat ideal' menurut impian
suami seorang Amerika. Saya suka nonton film ini karena.. justru kisah
dibalik impian itu yang seru.

* * *

Digambarkan bahwa seorang istri ideal adalah istri yang gemar
membereskan rumah, selalu terlihat cantik, wangi dan ceria. Penurut
dan tidak pernah mempertanyakan ke mana suaminya pergi. Selalu
menyambut suaminya pulang, anak-anak mereka terawat dengan rapi dan
bersih. Serta beberapa poin yang digambarkan dalam film itu seperti
istri-istrinya cerdas tapi tidak punya otak, 'memuaskan' dalam segala
hal dan soal cinta? Ini poin terakhir yang justru bukan poin penting.

Saya senyum-senyum kalau nonton film ini (yang sudah kesekian kalinya).
Antara istri ideal dan istri impian

Tahun lalu saya sudah pernah menuliskan tentang percakapan dua orang
istri dalam bis yang saya tumpangi saat menuju kantor. Dan kali ini
dari film yang notabene bercerita tentang gambaran ideal Amerika
tentang istri-istri mereka, tampaknya menarik juga untuk dibahas.

Menurut mereka istri ideal adalah seperti yang sudah saya ceritakan di
atas tadi. Dan tiba-tiba saya teringat dengan FDA, seorang perempuan
keturunan Dayak yang sangat kepingin jadi jadi perempuan Jawa. Hal ini
karena bagi dia perempuan Jawa itu adalah gambaran seorang istri yang
sangat ideal. Kurang lebih mirip dengan kriteria 'istri ideal' dalam
gambaran film tersebut.

Tapi, seperti kebanyakan perempuan dimanapun di dunia ini, cinta tetap
nomor satu. Bagaimana mungkin seorang perempuan rela mengorbankan
dirinya dan karirnya untuk mengikuti kemana saja suaminya jikalau
bukan atas dasar cinta?

Bahkan seperti dalam tradisi di Jepang jaman dulu, walau suaminya
pulang dalam keadaan mabuk karena habis minum-minum dengan
rekan-rekannya, mereka tetap menyambut suaminya, membukakan sepatunya,
menggantikan bajunya dengan baju tidur dan setelah itu ditinggal
ngorok suaminya yang sudah 'terbang' ke alam mimpi akibat pengaruh
minuman sake.

Dan.. ini belum cerita soal istri-istri yang dipoligami.. Wah, bisa
tambah panjang deh pembahasannya..
Cerita dibalik istri impian

Saat dua pertiga film itu, barulah ketahuan seperti apa ternyata
dibalik keidealan para istri-itri itu. Ternyata adalah seorang ahli
genetika dan juga sibernetika dimana dia bukan cuma telah menjadi para
istri yang tinggal di Stepford itu seperti robot yang menurut saja
segala kemauan suami, tapi dia juga merekayasa robot untuk menjadi
suami impiannya.

Lho, memang suaminya sendiri kemana?

Suaminya, yang melihat bahwa istrinya adalah seorang 'wonder woman',
seorang 'supergirl', yang bisa segalanya, gajinya lebih besar, lebih
pintar darinya, punya kekuasaan, malah merasa bahwa dia hanyalah
'suami status'.

Istilah jawanya, 'suami tandonan' atau suami serep, suami cadangan.

Dan apa yang terjadi? Bukan bangga dan bahagia punya istri yang 'serba
lebih' begitu. Malahan akhirnya dia memilih asisten istrinya yang
cerdas dan cantik serta lebih 'menggairahkan' dibanding istrinya yang
selalu sibuk dan penuh dengan pikiran. Tapi tetap cantik sih.. dan
kelewat cerdas.

Akhirnya, karena dia sangat mengidamkan punya suami yang ideal menurut
dia, yang tidak pernah selingkuh, selalu setia dan sayang padanya,
dari pada susah-susah mencari satu di antara seribu atau mungkin malah
sejuta yang seperti itu, dia bikin saja robot yang bisa dia program
sesuai dengan keinginannya. Lalu dengan kecanggihan teknologi, bisa
dibuat semirip mungkin sehingga manusia pun menganggap dia adalah
manusia juga.

Gampang kan?

Lalu, karena dia merasa 'bersalah' telah mengabaikan suaminya sehingga
suami aslinya malah kabur dengan asistennya, dia terapkan teknologi
pengendali otak bagi para istri-istri hebat.

Maksudnya, yang datang ke perumahan itu tadinya adalah pasangan suami
istri dimana istrinya memegang tampuk tertinggi suatu perusahaan dan
suaminya hanya seorang pegawai rendahan atau tidak setinggi istrinya.

Lalu si suami merasa bahwa dirinya telah diabaikan oleh istrinya yang
karena sibuk dengan pekerjaannya, jadi tidak bisa dimintai 'sedikit'
saja kasih sayangnya.

Memang benar sih, sebetulnya para suami tidaklah butuh seorang
perempuan yang 'serba segalanya'. Yang mereka butuhkan seperti yang
tertuang dalam Quran, yaitu qurrota a'yun atau 'menyenangkan mata'.

Begitu pulang, suami disambut dengan wajah berseri, sudah wangi dan
penuh keceriaan. Bukan apa-apa, pastilah sepulang kerja badan penat
dan penuh pikiran bisa membuat suasana jadi kacau bila pulang
mendapatkan istri yang.. 'kacau' juga dalam penampilan.

First look is important kata orang bule sana. Dan saya setuju itu.
Begitu pula Mamah Dedeh (tau kan?)

Dan hal-hal yang seperti itu yang menimbulkan rasa cinta, yang lalu
berimplikasi dengan mudahnya 'dana taktis' mengalir dari kocek suami.

Bukan saya mengajarkan para istri jadi materialistis, tapi memang
wajarlah istri jadi 'cewe matre' sama suami sendiri. Toh bukan sama
suami orang lain, ya kan?

Bukan begitu, sodare-sodare?

Trims sudah membacanya..

Sumber: 'H.Noviar. D' <  http://d1-blog.blogspot.com/>

Kirim email ke