Oleh: Nuruddien Asyhadie (Filosof dan Mistikus)

"Yang paling durhaka, adalah dia yang paling memuja Tuhan." (Meister
Eckhart)

Sang Raja Jin, novel karya Irving Karchmar adalah sebuah kesaksian
atas kembara cinta sufistik tujuh pribadi, yaitu Prof. Solomon
Freeman, Rebecca, Kapten Simach, Ali, Rami, dan Ishaq, serta si faqir.
Mereka mencari cincin Sulaiman, sebuah cincin bercap pentakel yang
mampu mengontrol jin. Pengembaraan ini membawa mereka pada rahasia
cinta tertinggi dan penemuan diri mereka.

Sebagai sebuah novel sufistik, sudah tentu ia bersifat alegoris, dan
kita bisa memastikan akan menemukan berbagai simbol atau metafora
berserakan di dalamnya.

Angka 7 yang merupakan jumlah dari para pencari itu, misalnya, dapat
kita asosiasikan dengan 7 tujuh tahap sufi dalam mencapai pencerahan,
7 putaran tawaf mengelilingi Kakbah (kuil hati), 7 perjalanan
bolak-balik Siti Hajar dari Sofa ke Marwah, yang menggambarkan jalan
spiritual. Ia bisa pula diasosiasikan dengan jumlah sab langit dan
lapisan bumi sebagaimana yang disebutkan Quran, jumlah ayat Al-Fatihah
yang merupakan pembuka sekaligus induk Quran, atau jumlah kata dua
kalimat syahadat dalam bahasa Arab. Di sini angka 7 merupakan
representasi dari jiwa suci, kesempurnaan, atau segel Tuhan.

Angka 7 sebagai representasi jiwa suci membuka kemungkinan lain akan
para pencari itu. Dalam tradisi Judaisme, terdapat 7 Ushpizin
(penggembala, yang juga disebut tamu), yaitu Abraham, Isaac, Jacob,
Moses, Aaron, Josep, dan David, yang turun ke dunia di minggu Sukkoth,
perayaan ziarah umat Yahudi untuk bahu membahu menciptakan perdamaian
dan dunia yang lebih baik. Ushpizin juga terkait dengan sefirah (laku
spiritual umat Yahudi). Tujuh Ushpizin itu secara berurutan
melambangkan cinta dan kebaikan, penahanan diri dan kekuatan pribadi,
kecantikan dan kebenaran, kekekalan dan kekuasaan, empati dan
penerimaan kebesaran Tuhan, kesucian dan keimanan, dan penegakan
kerajaan surgawi di bumi.

Sangat menggoda bagi saya untuk menghubungkan ketujuh pencari dalam
Sang Raja Jin dengan para Ushpizin. Pertama, para pencari itu
sesungguhnya adalah tetamu Syekh Amir al-Hadi. Kedua, paling tidak ada
dua nama yang berkaitan secara langsung, yaitu Isaac (Ishaq) dan Aaron
(Aaron Simach), serta satu nama yang terkait secara tidak langsung
dengan Rebecca, yaitu Jacob. Dalam tradisi Yahudi, Jacob adalah anak
Rebecca, dan kita melihat sifat kecantikan dan kebenaran yang
direpresentasikan oleh Jacob sesuai dengan karakter Rebecca yang
jelita, anggun, lagi tegas dalam novel ini.

Empati dan penerimaan kebesaran Tuhan Aaron termanifestasi secara
nyata dalam karakter Kapten Simach yang menyediakan dirinya sebagai
sebuah kendaraan, penyampai amanat Sulaiman kepada Raja Jin dan
bangsanya. Kedekatan itu bahkan tampak sangat artifisial, ketika kita
menyadari bahwa dalam bahasa Hebrew "aaron" selain berarti
"kehamilan", juga bermakna "tempat kematiannya", dan menghubungkannya
dengan penemuan kerangka Sulaiman oleh sang kapten ketika ia terjebak
badai gurun.

Ishaq, yang menjadi narator seluruh kisahan ini dalam sudut pandang
orang pertama tunggal dengan sangat mudah kita kenali
kualitas-kualitas ke-isaac-annya. Ia memang sering menggambarkan
dirinya sendiri sebagai orang sembrono, ceriwis, bahkan merasa sebagai
desertir ketika ia lintang-pukang berlari meninggalkan kawanan
pencarinya untuk memanggil sang Syekh, setelah insiden pembukaan sumur
di Tadmor. Tetapi si ceriwis dan pengecut inilah yang telah melintasi
gurun pasir tanpa air dan makanan untuk menemui gurunya, si "lemah"
inilah yang terus merekam segala peristiwa yang terjadi, dan fakta
bahwa rekaman itu kini sampai ke kita adalah bukti dari ke-isaac-annya.

Semua itu adalah hal-hal sadar yang dapat kita baca dari Ishaq, tetapi
ada sesuatu yang lebih mendalam, yang berjalan di alam bawah sadar.
Dalam tradisi Yahudi, Ishaq adalah suami dan saudara sepupu Rebecca
dari garis ayah. Dalam novel ini ia terkadang merasakan
kedekatan-kedekatan tertentu dengan Rebecca, bahkan kita dapat
merasakan api eros setiap kali ia menggambarkan "hubungan diam-diam"
antara Kapten Simach dan Rebecca. Hubungan itu, dalam novel ini, tak
pernah mencapai derajat erotika yang paling rendah sekalipun, dan
tampaknya lebih merupakan kecemburuan sang Isaac dalam diri Ishaq.
Justru erotisisme yang lebih mendalam menyelusup ke dalam diri saraf
kita ketika Ishaq menggambarkan kesan-kesannya akan Rebecca seorang,
atau ketika ia bertindak sebagai pandu pembaiatan Rebecca atau ketika
ia menggambarkan keakraban-keakraban kecil di antara mereka berdua.
Ada semacam 'memori reinkarnasi' bahwa Rebecca adalah seseorang yang
spesial bagi Ishaq, tetapi itu tak meledak, setidaknya tak
semeledak-ledak kehausannya akan pengetahuan.

Selanjutnya kita dapat membuat simpul antara sifat kekekalan dan
kekuasaan Moses dengan Prof. Solomon Freeman yang direktur Departemen
Peninggalan Purbakala Universitas Yerusalem (sesuatu yang bisa kita
kaitkan dengan kekekalan) yang memiliki hasrat begitu tinggi akan
misteri Sulaiman yang sesungguhnya adalah dirinya sendiri (perlambang
kekuasaan).

Rami adalah Joseph, kesucian dan keimanan. Tanpa ragu-ragu ia dan Ali
mencebur ke sumur yang telah terbuka, untuk menutup pintu penghubung
dunia bawah dan dunia atas. Di dalam injil dikenal nama Yousef Al Rami
atau Joseph of Arimathea, yang meminta langsung tubuh Yesus ke Pilatus
dan membawanya ke keluarganya dan menyediakan kuburan yang dipesan
untuk dirinya untuk Yesus. Yousef Al Rami dalam berbagai legenda juga
dikisahkan sebagai penjaga cawan suci.

Ali si peniup ney adalah penegak kerajaan surgawi di bumi. Tiupan
ney-nya adalah suara merdu David, adalah pengetahuan yang tak
terkatakan, yang mengatasi batas-batas nalar, mengatasi petikan lira
Apollo. Ali, tanpa cukup dipaparkan oleh Ishaq, adalah Harun bagi
Syekh Al-Hadi. Jika sang Syekh memberikan pencerahan melalui kata-kata
dan pengetahuannya, Ali dengan musiknya. Sangat besar kemungkinannya
jika tokoh ini merupakan penjelmaan Ali bin Abu Thalib. Imam dalam
ilmu hikmah dan kekesatriaan, sifat-sifat yang juga melekat pada
David, si bijak pelawan Goliath.

Dan sekarang siapakah si Faqir, yang memiliki berbagai nama, dari yang
mengerikan hingga yang suci, yang sesungguhnya adalah Ornias, jin
pencuri permata Sulaiman?

Ia memang mencuri batu-batu permata milik Sulaiman dan menghisap
cahaya di dalamnya, tetapi itu semua dilakukan karena kerinduannya
yang begitu mendalam akan surga. Ia mereguk cahaya fajar pertama yang
telah mengkristal menjadi batu-batu permata demi menghibur kesedihan
dan rasa kehilangannya.

Adakah atau para jin lainnya, atau setan adalah makhluk yang kufur
terhadap Tuhan? Adakah mereka adalah para pembenci Tuhan? Musuh Tuhan?

Selama bertahun-tahun, berabad-abad Ornias telah menunjukkan bahwa
dialah makhluk yang begitu mencintai Tuhan, dialah sang Qalandar, sang
Jasus al-Qulub, meskipun kedudukannya tetaplah faqir, mutasawwif,
kedudukan paling rendah nomor dua dalam tingkatan sufi, yang masih
setara dengan darwis.

Kecintaan yang sama juga ditunjukkan oleh Baalzeboul dan bangsanya.
Inilah yang dikatakan oleh si Raja Jin itu ketika sang Syekh
memberitakan bahwa buah penyesalan telah masak jika rantingnya telah
merunduk dan harapan rahmat Allah akan diberikan kepada mereka.

"Wahai pemimpin jin dan manusia," katanya, "ucapanmu mengandung ribuan
berkah. Sejak awal penciptaan, pembangkangan kami telah membuat kami
terusir, dan hanya menjadi pelayan Raja Sulaimanlah kami masih punya
harapan diampuni. Tapi ruhnya telah lama pergi. Racun Ifrit telah
menyebar seperti hujan, dan api hampir padam."

Kita terbiasa dengan gagasan-gagasan bahwa jin, iblis, setan, adalah
makhluk-makhluk jahat pengganggu manusia, musuh Tuhan, tetapi selalu
lupa mengingat mereka sebagai malaikat-malaikat paling afdhal yang
disebut Azazil atau Al-Harits atau Al-Jinnah.

Mereka dikutuk menjadi setan karena menolak bersujud kepada Adam,
bukan Tuhan.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk
tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, "Bersujudlah kamu
kepada Adam", maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak
termasuk mereka yang bersujud. (QS 7:11)

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada
Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik
daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan
dari tanah". (QS 7:12)

Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya
menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu
termasuk makhluk yang hina". (QS 7:13)

Iblis adalah Kerub, malaikat yang berada dekat Takhta Tuhan. Mereka
adalah pencinta sejati Tuhan. Kecintaan yang begitu besar itu membuat
mereka ingin mencicipi eksistensi Tuhan, berperilaku sebagai Tuhan.

Penolakan Iblis untuk menyembah Adam, yang kemudian kita kenal sebagai
kesombongan, dan menjadi karakteristik api yang ekornya selalu mencuat
ke atas, merupakan bentuk dari apa yang disebut Rene Girard, seorang
kritikus sastra utama Prancis hari ini, sebagai "hasrat mimetik"
(mimetic desire). Kita meminjam hasrat-hasrat kita dari liyan (the
other), dan tentu saja matriks atau model tertinggi dari hasrat ini
adalah Tuhan sendiri.

Melalui Tuhan (menyembah Tuhan) Iblis ingin menjadi Tuhan, inilah
hasrat metafisik Iblis, 'hasrat ingin menjadi', dan tentu saja Iblis
menolak bersujud pada Adam, sebab Adam bukanlah model yang
diinginkannya. Di sisi lain, perintah untuk bersujud pada Adam, akan
dipandang oleh Iblis sebagai kecintaan yang lebih dari Tuhan pada
Adam. Iblis merasakan rivalitas dalam merengkuh modelnya, ada
kecemburuan, kedengkian.

Di sinilah kita, juga para pencari itu seharusnya belajar.
Hasrat-hasrat kita akan Tuhan, kecintaan kita pada Tuhan, haruslah
diiringi oleh semangat pengorbanan, bukan kepemilikan, hasrat cinta
yang terlalu mencintai.

Pengorbanan hanya bisa dicapai melalui penghambaan, kesadaran bahwa
aku bukanlah siapa-siapa, bukanlah apa-apa. Bahwa aku adalah tanah,
adalah segumpal darah yang hina. Inilah artinya bersujud pada Adam.
Inilah artinya menjadi insan kamil. Menjadi khalifah di muka bumi,
bukan berdiri pongah di hadapan semesta.

Dengan bersujud pada Adam, dengan menyadari kemakhlukan dan
kemanusiaan kita, inilah hakikat dari cincin pentakel Sulaiman. Dengan
mengucap Mim, maut, Muhammad, maka nar menjadi nur.

Iblis khilaf melihat perintah sujud kepada Adam sebagai kepilihkasihan
Tuhan, ia seharusnya melihat perintah itu sebagai pembukaan gerbang
Lam, yang akan melengkapinya perjalanan nar-nir-nur-nya.

Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusannya. Inilah jalan
Mahabbah.
***


Judul : Sang Raja Jin (Novel tentang Cinta, Doa, dan Impian)
Penulis : Irving Karchmar
Penerbit : Kayla Pustaka (www.kaylapustaka.com), 300 hlm.
Harga : Rp 39.900,-
Pembelian Online : www.benggala.com (diskon 20%)
Facebook:
http://www.facebook.com/notes.php?id=687374793#/pages/Sang-Raja-Jin/53226007560?ref=ts


Kirim email ke