Cibubur, 27 Feb 09

1-2 ato tiga tahun lalu agak lupa persisnya saya sempat membaca email panjang 
dari satu milis di Indonesia mengenai sekelompok saudara muslim saya di 
Indonesia yang percaya bahwa Matahari berputar mengelilingi bumi, sekali lagi 
MATAHARI berputar MENGELILINGI BUMI dan bukan sebaliknya. Uniknya adalah 
kepercayaan tersebut berasal dari keimanan mereka terhadap alquran yang menurut 
mereka secara letter-lux menyebutkan seperti itu, saya tidak hendak 
mendetailkan mengenai surat apa-ayat berapa yang mereka klaim menyebutkan itu, 
dan yang jelas kalau kita kaji secara mendalam sebenarnya tidak seperti itu 
yang dimaksudkan. Saya juga tidak hendak mengkaji baik secara ilmu fisika 
ataupun ilmu agama tentang hal ini karena rasa tidak perlu panjang lebar saya 
jelaskan hal-hal yang sudah dijelaskan teman-teman saya guru-guru EsDe. Bagian 
yang saya hendak saya highlight adalah ... Betapa bahwa sebenarnya 
saudara-saudara saya tersebut mempunyai tingkat keimanan yang
 sedemikian tinggi, sehingga bahkan demikian tingginya tingkat keyakinan mereka 
terhadap kebenaran dari setiap kata-kata dari Alquran ... yang rasanya setara 
dengan perumpamaan seandainya di al-quran disebutkan 1+1=3 maka mereka akan 
membenarkannya. Tidak berlebihan saya rasa perumpamaan saya tersebut, mengingat 
bukti-bukti kalau matahari yang mengelilingi bumi, eh ..sampai salah juga. bumi 
yang mengelilingi matahari bertebaran dan bisa ditelusuri pada semua jenjang 
keilmuan mulai TK sampai post-Doctoral untuk kosmologi, sampai lewat google 
atau kalau mau membuktikan langsung kalau punya cukup dana saya dengar sudah 
bisa dengan jadi turis luar angkasa .. keluar bumi dan silahkan amati matahari 
yang berputar atau bumi yang berputar sekali 24 jam.
Kembali lagi ke pokok pembicaraan, jadi intinya adalah keimanan mereka sangat 
tinggi terhadap kitabullah. titik. Dan saya rasa dengan tingkat keimanan 
seperti tsb. malaikat pun tidak akan menyalahkan mereka bahwa pikiran mereka 
ttg ilmu dasar seperti yang diajarkan di sekolah dasar tsb salah, buat malaikat 
tidak penting apakah mereka dapat rapor merah di pelajaran IPA, cuma agama yang 
biru atau apapun. 
Tapi mungkin kitalah yang seharusnya iri pada mereka (jangan salah, mungkin 
saja di akhirat nanti iri-iri-an ini benar-benar terjadi), sebabnya kenapa, 
salah satunya ini : dulu saya pernah dengar dari ceramah ustadz kalau selepas 
Nabi kita SAW  pulang dari Isra Mi'raj, beliau pagi harinya menceritakan pada 
sahabat utamanya AbuBakar RA bahwa semalam Beliau ada di Palestina dan selepas 
itu ke Langit ke Tujuh. Serta merta AbuBakar membenarkan, saya rasa tingkat 
keimanan kita atau sekian juta umat muslim yang beterbaran seantero jagad saat 
ini tidak (mudah-mudahan belum) mendekati seperti itu. Logika Abubakar sebagai 
Sahabat Nabi yang paling cerdas kalah oleh keimanan-nya bahwa apapun yang 
dikatakan Rasul pastilah benar, kita harus mengingat kendaraan tercepat pada 
waktu itu adalah (mungkin) kuda yang sprint, itupun paling-paling cuma beberapa 
kilometer sebelum kudanya     lemas, ke Palestina dari Mekah paling cepat 
beberapa minggu untuk perjalanan PP
 lewat padang pasir. Apalagi membayangkan perjalanan kelangit ke tujuh yang 
menurut ilmu mutakhir ke ujung langit dunia saja entah berapa milyar-tahun 
cahaya jaraknya.
Tapi kalau iman sudah bicara, apalah artinya semua itu untuk Allah Ta'ala, yang 
penting adalah bekal iman disertai amal yang dibawa ke  haribaan-Nya nanti. 
Tidak penting berapa jarak Mekah-Palestina, Bumi-Langit ke Tujuh, bumi 
mengelilingi matahari atau sebaliknya. 

Kalau iman sudah bicara - kita akan tahu bahwa bagi Allah matahari mengelilingi 
bumi tidak menjadi soal, tidak penting dan bisa di balik oleh Tuhan dengan 
mudah, Kun FayaKun.. toh sudah di jelaskan di Alquran bahwa concern-Nya 
menciptakan kita manusia beserta sarana pendukungnya (alam ini beserta matahari 
yang mengelilingi bumi) diciptakan hanya agar kita menyembah-Nya, mengagungkan 
hanya Dia, membenarkan kitab-Nya, meneladani Rasul dan sahabat2nya. Logika 
tidak penting dalam hal ini. Mungkin logika penting untuk mengurus dunia, 
tetapi logika bukanlah guidance yang baik terutama dalam hal keimanan. Saya 
garis bawah dan Bold: LOGIKA BUKAN GUIDANCE YANG BAIK UNTUK KEIMANAN  Contoh 
lain : Ustadz yang tadi menceritakan tentang Isra Mi'raj juga menceritakan pada 
saya juga tentang banyak perintah di Alquran untuk kita menginfakkan sebagian 
harta, agar harta yg tertinggal bersih, berkah dan bisa berlipat-lipat 
bertambahnya dengan zakat tersebut. Logika mana
 dengan RUMUSAN APA yang bisa menjelaskan berlipat-lipatnya harta. Lagi-lagi 
sahabat Abubakar bertindak sebagai tauladan dalam hal ini, dalam salah satu 
kesempatan beliau menginfakan SELURUH HARTAnya untuk dakwah, dalam hal ini 
tidak ada logika yang berperan, hanya keimanan bahwa bagi Allah urusan harta 
satu orang sangat mudah untuk Dia gantikan, asalkan tidak perlu pikir panjang 
kalau urusannya harta kita diperlukan (bacanya dipinjamkan) untuk urusan-Nya di 
dunia. Tidak pelu pikir panjang artinya tidak perlu pakai logika-kan...
Kalau logika masih kuat untuk urusan agama, itu artinya keimanan kita masih 
lemah .... atau perlu dipertanyakan... atau perlu olah raga (baca:olah iman) 
untuk memperkuatnya. Memang banyak bidang matapencaharian, atau matakuliah buat 
mahasiswa, matapelajaran buat adik2 pelajar yang membuat kita mau-tidak-mau 
KUAT dalam bidang logika, tapi rasanya kalau kita sadar bahwa logika kita 
terlalu kuat - atau terlalu dominan dalam memikirkan hidup sehari-hari terutama 
juga dalam bidang agama, maka rasanya PERLU buat kita untuk memperlemahnya, 
maaf kalau agak berlebihan 'lebai' kata anak muda karena LOGIKA YANG DILEMAHKAN 
rasanya jadi sarana agar IMAN JADI KUAT, bukannya Logika yang sudah lemah kita 
lemahkan ...atau yang memang logikanya lemah dari oroknya.. kayanya kalau ini 
perlu diperkuat dulu logikanya ... masuk sekolah dst sampai jadi sarjana sampai 
jadi orang sukses.. nah ini dia kalau SUDAH SUKSES dan LOGIKANYA TERLALU 
DOMINAN ... Zakat jadi Berat,Sholat
 berat sayang waktu, Puasa berat takut sakit,kalap cari duit terus kaya mo 
nimbun harta di kuburan ... atau kalau sudah bertimbun tabungan dibank yakin 
bahwa gga bakalan hilang, ada asuransi .. apalah artinya toh sekarang terbukti 
dunia diambang depresi dan terbukti perusahaan atau siapapun sekuat apapun bisa 
kolaps dan bangkrut kapanpun... disini saat yang tepat untuk memperlemah 
logika, Sebenernya sih kalau kita bisa memperkuat iman untuk mengalahkan logika 
rasanya lebih bagus, tapi berhubung yang saya omongon ini orang-orang sibuk 
yang kurang waktu .. maka cobalah .. mengalahkan logika dan mengolah-ragakan 
IMAN biar kuat. biar suksesnya dunia-akhirat.

Salam,

[email protected]
www.posisi.info

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke