setuju mbak rini, hidup di jakarta kita sudah kehilangan "human interest" 
terhadap orang-orang sekelilingnya. itu bisa dilihat dari hilangnya bertegur 
sapa dengan teman sekerja atau tetangga sebelah. 

saking sibuknya mbak..

Best Regard,
Rahma

--- In [email protected], Rini Wulandari <rini_wulandari1...@...> 
wrote:
>
> Benar Mas agus, berjalan kaki itu benar2 sehat & bisa bertegor sapa dengan 
> orang2 yang bisa kita temui di sepanjang jalan. banyak manfaatnya loch... 
> 
> --- Pada Rab, 11/3/09, muhamad agus syafii <agussya...@...> menulis:
> 
> 
> Dari: muhamad agus syafii <agussya...@...>
> Topik: TaManBinTaNG >>> Berjalan Kaki Itu Sehat
> Kepada: agussya...@...
> Tanggal: Rabu, 11 Maret, 2009, 1:34 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Berjalan Kaki Itu Sehat
> 
> By: agussyafii
> 
> Merupakan kegiatan yang amat menyenangkan buat saya ketika hendak berangkat 
> ke kantor. Sehabis sholat subuh, bermain sejenak dengan Hana setelah itu 
> sarapan sambil menonton berita. Berangkat ke kantor dipagi hari berjalan kaki 
> dengan diantar anak dan istri bertegur sapa dengan tetangga. Oleh sebab itu 
> berjalan kaki terasa lebih bermakna sebagai silaturahmi. Sedangkan 
> silaturahmi, menurut ajaran Nabi Muhammad SAW ada dua manfaat. Pertama, 
> memanjangkan usia dan yang kedua menambah rizki. Berjalan kaki buat saya 
> sebuah aktifitas yang murah dan menyenangkan.
> 
> Pernah suatu ketika saya berbincang dengan “Gondrong” Si penjual bubur, 
> dengan bangganya dia bercerita bahwa dirinya selama 15 tahun berjalan kaki 
> kalau pergi ke pasar atau berjualan bubur. Katanya, berjalan kaki adalah 
> sebagai bentuk rasa syukur karena Allah SWT telah memberinya “kekayaan” 
> dengan wujud kaki yang kuat, yang lebih
> berharga dari kendaraan bermotor jenis apapun. Sejauh apapun kita jalan, kita 
> tidak akan terasa lelah melainkan kaki bertambah kuat, badan menjadi sehat. 
> Begitulah katanya.
> 
> Amatlah sederhana yang diucapkan “Gondrong” Si penjual bubur dengan 
> menyebut kaki sebagai “kekayaan” yang tak ternilai harganya. Seringkali 
> kaki diabaikan dan disepelekan begitu kehadiran kekayaan dengan wujud 
> kendaraan membuat kita menjadi enggan dan malas berjalan kaki. Tubuh menolak, 
> berjalan sedikitpun kaki terasa menjadi kesemutan. “Ah, buat apa berjalan 
> kaki. Udah ada tukang ojek ini. Nyapek2in aja jalan kaki.” Begitulah kata 
> saya pada istri kalau pas lagi malasnya datang. Sungguh betapa sulitnya 
> mendidik diri sendiri. 
> 
> Berjalan kaki buat saya kegembiraan tersendiri, biar kuat ataupun sehat tapi 
> juga sebagai upaya mendidik diri sendiri agar senantiasa mensyukuri nikmat 
> apa yang oleh Allah SWT telah berikan.
> 
> Ternyata berjalan kaki itu sehat dan menyenangkan ya..
> 
> Wassalam,
> agussyafii
> 
> --
> Tulisan ini dibuat dalam rangka program kegiatan "Amalia Cinta Rasul" (ACR), 
> Hari Kamis, tanggal 26 Maret 2009 di Rumah Amalia, Jl. Subagyo Blok ii 1, 
> no.23 Komplek Peruri, RT 001 RW 09, Sud-Tim, Ciledug. TNG. silahkan kirimkan 
> dukungan dan komentar anda di 087 8777 12 431 atau http://agussyafii. 
> blogspot. com
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>       Apa dia selingkuh? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers. 
> http://id.answers.yahoo.com
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke