Hmm.. aneh sekali yah. Kenapa partai yang mengaku berazaskan Islam ini
sepertinya bangga sekali menjadi ikon penegak demokrasi?

Partai Islam menjadi pilar penegak hokum Thagut? Dan bangga pula...

Wow...dunia memang menjelang kiamat

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Asep Sumantri
Sent: Sunday, March 08, 2009 11:24 PM
To: [email protected]; fl; fs; ks; ms; pk; TB;
[email protected]
Subject: TaManBinTaNG >>> Trs: Fyi: ISLAM, DEMOKRASI dan PKS !

 

Sumber dari  :  Firman Noor
Mahasiswa Program Master
Faculty of Asian Studies, The Australian National University (ANU),
Australia, 
(Saat ini tengah mempersiapkan thesis mengenai Partai Keadilan
Sejahtera)
Dalam kiprahnya selama tujuh tahun ini, Partai
Keadilan Sejahtera (PKS) yang dulu bernama Partai Keadilan (PK) telah
menjadi ikon tersendiri bagi kehidupan demokrasi bangsa.

Pengamat asing seperti Anthony Buballo dan Greg Fealy (2005) mengakui
PKS telah memberikan contoh gamblang tentang bagaimana demokrasi telah
dipraktikkan oleh partai yang menjadikan Islam sebagai landasannya.
Catatan penting kedua pengamat Islam dan Indonesia itu bukanlah omong
kosong. Komitmen PKS terhadap demokrasi dibuktikan dengan demikian
nyata dan terasa. Antara lain melalui sikap resmi partai dan pandangan
politik para elitenya. Refleksi demokrasi 
Hingga
saat ini PKS mampu memberikan contoh standar tentang implementasi
kehidupan demokrasi yang mengedepankan aspek penghargaan terhadap
perbedaan dan pluralitas, pengedepanan rasionalitas, serta kesantunan
berpolitik sebagai cerminan ketaatan terhadap aturan main. 
Sikap
penghormatan terhadap pluralisme, tidak saja dapat terlihat dari
platform partai, namun juga pandangan para tokohnya. Dalam sebuah
pertemuan di Australian National University, Hidayat Nur Wahid
mengatakan bahwa hakekat kaffah seorang Muslim sejatinya tecermin dari
kesediaan dirinya untuk menerima Islam sebagai sebuah ajaran yang
menghormati nilai-nilai universal dan keberagaman. Pernyataan semacam
ini akan menjadi sekadar lip service jika dalam praktiknya sikap itu
tidak terlihat. 
Usulan bersama PK dan PAN --yang
bergabung dalam Fraksi Reformasi pada DPR periode lalu-- mengenai
kebebasan menjalankan ajaran agama bagi seluruh pemeluk agama sebagai
alternatif amandemen Pasal 29 UUD 1945, merupakan contoh kecil yang
monumental bagi penghormatan terhadap pluralisme. Begitu pula dengan
kesedian PKS bekerjasama dengan kalangan lintas agama dan ideologi di
dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). 
Sementara
dalam konteks rasionalitas, PKS tidak segan menawarkan sebuah solusi
jernih dan bersikap kritis, meski itu berarti harus bertentangan dengan
kelompok mayoritas. Hal itu misalnya terlihat dari sikap Fraksi PKS di
DPR yang menolak kenaikan tunjangan anggota DPR. Pada pemerintahan
lokal, sikap ini terlihat dari penolakan untuk menghambur-hamburkan
uang rakyat. Misalnya kasus pengembalian uang kadeudeuh di Jawa Barat,
penolakan tunjangan Dewan hingga ratusan juta di Banten, dan
pengembalian uang siluman di Sumatera Selatan.
Sementara
sikap kritis tecermin pada penolakan LPJ kepala daerah di berbagai
wilayah yang kinerjanya kurang memuaskan --dimana kebanyakan dari kasus
itu wakil PKS menjadi 'sendirian'. Hal itu memperlihatkan penggunaan
nurani dan rasio, seperti keberpihakan kepada kepentingan rakyat.Semua
idealisme itu dibungkus dalam sikap yang mengedepankan kesantunan
berpolitik, baik di dalam maupun di luar parlemen. Hingga satu dekade
keberadaannya di pentas nasional maupun lokal, PKS mampu menjaga
dirinya untuk tidak terpancing melakukan tindakan anarkis. Kenyataan
yang merefleksikan sikap menghargai aturan main, sebagaimana yang
dipersyaratakan oleh kehidupan demokrasi, telah menjadi sebuah
milestone bagi partai yang kerap diidentikan dengan gerakan Ikhwanul
Muslimun di Mesir ini.
Kartu as
Sebagai sebuah partai
yang menjadikan Islam sebagai asasnya, PKS menunjukan bahwa pergaulan
Islam dan politik dengan demokrasi, tidaklah sehitam yang dituduhkan.
Dengan karakter pemahaman yang khas mengenai peran agama dalam
kehidupan --termasuk didalamnya kehidupan berpolitik-- PKS memandang
demokrasi sebagai realitas objektif.
PKS memandang
demokrasi sebagai media yang efektif dalam menerapkan idealisme dan
terciptanya sebuah kondisi yang terbaik berdasarkan kehendak dan
kepentingan bersama (general will). Sehingga berbeda dengan tuduhan
banyak pihak, demokrasi justru telah menjadi sebuah 'kartu as' bagi
kiprah politik partai yang mendapatkan dukungan relatif meluas di
kalangan terpelajar ini.
Dan dalam upayanya ini, PKS
tidak saja berhasil memberikan contoh yang baik namun juga menimbulkan
simpati dan image positif. Tidak saja bagi kalangan internal umat Islam
namun juga dari beragam kalangan. Dukungan beragam kalangan kepada
kandidat kepala daerah yang diusulkan PKS --baik dari kalangan NU,
Muhammadiyah, non-Muslim, bahkan dari pengurus PDIP Pro-Mega. Misalnya
di Sumatera Utara ataupun Depok.
Pilihan memandang
demokrasi sebagai strategi bukanlah sesuatu yang asing, mengingat
pandangan aktivis pergerakan dan juga pemikir muslim seperti Hasan
al-Banna ataupun Mohammad Natsir, yang menyatakan demokrasi tidak mesti
dipandang melulu sebagai sebuah jalan hidup (way of life). Di dalam
batasan ini, tidaklah salah jika PKS menempatkan dirinya sebagai
demokrat dalam konteks praktis ketimbang sebagai jalan hidup. Meski
dalam situasi seperti ini kerap memunculkan spekulasi tentang hadirnya
sebuah demokrasi yang tegak tanpa adanya demokrat (democracy without
democrats), sebagaimana dilansir Ghasan Salame (1994). Namun yang
pasti, PKS dalam kiprah politiknya telah dengan sadar mempraktikkan
model demokrasi dan hal ini diakui oleh banyak pihak. 
Mengharapkan konsistensi
Sikap
PKS ini telah memberikan harapan bagi perkembangan demokrasi pada
khususnya dan perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya
di Tanah Air. Kondisi ini memunculkan sebuah harapan akan adanya
konsistensi sikap PKS. Harapan itu tentu bukan sesuatu yang mudah
diwujudkan. Sebab hakikat demokrasi belum seutuhnya dapat diterima
seluruh kalangan di pelosok negeri, hingga perlunya menjaga ketahanan
mental dan kesabaran tinggi.
Selain itu, secara internal
kepartaian, perdebatan tentang posisi ideologis demokrasi dan tarik
ulur kepentingan strategis dengan segenap konsekuensinya --yang
berpotensi untuk dirasakan terlalu moderat bagi sebagian pendukungnya--
memberikan peluang terhadap situasi setengah hati bagi perkembangan dan
pelaksanaan demokrasi di kemudian hari. Kondisi ini dipersulit dengan
kecenderungan 'wajar' sebuah partai untuk berubah sikap ketika sudah
menjadi bagian dari kekuasaan. 
Studi Daniel Brumberg
(1997) yang mengambil kasus beberapa Partai Islam di Timur Tengah,
sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kecenderungan untuk mengubah
orientasi terlihat manakala sebuah partai Islam dan para elitenya telah
berada di lingkar dalam kekuasaan. Dengan demikian, pertanyaan yang
cukup mendasar ialah sampai sejauh mana PKS dapat menjaga sikap
demokratnya ditengah godaan kekuasaan, lingkungan politik yang masih
kurang ramah terhadap 'demokrasi rasional', serta perdebatan idelogis
di dalam tubuh partai. Tantangan seperti ini bukannya tidak disadari
oleh PKS. Kenyataan bahwa PKS merupakan metamorfosa dari sebuah gerakan
dakwah, memang menuntut kedewasaan sikap dan pemikiran dalam menyikapi
situasi yang terus berkembang. Dan PKS tampak cukup cerdas mengambil
pelajaran dari pengalaman partai-partai Islam dan situasi politik
nasional saat ini. 
Tak kurang Presiden Partai Tifatul
Sembiring dengan arif menengarai perlunya kesadaran untuk tetap menjaga
konsistensi dalam sikap positif, sembari menyadarkan pentingnya
beradaptasi dengan situasi baru, di mana PKS sejatinya telah menjadi
bagian dari elemen pembuat kebijakan. Dalam pesannya itu, sejatinya
sang presiden mengajak partainya untuk bersikap lebih akomodatif dan
realistis. Itu dapat diartikan terus melanjutkan sikap demokrat, tanpa
harus kehilangan jati dirinya sebagai partai yang memperjuangan
nilai-nilai religius keislaman. Adanya kesadaran seperti itu membuat
peluang PKS untuk terus mewarnai kehidupan bangsa melalui demokrasi,
berpotensi kuat untuk tetap terjaga. 
Sejarah bangsa
sendiri telah mencatat kiprah Masyumi yang mampu memertahankan
konsistensinya sebagai monumen pembela demokrasi yang tangguh, sebelum
akhirnya dibubarkan akibat tekanan situasi politik dan penguasa. Dan
dengan segenap pandangan politik dan kiprah PKS sampai kini, bukan
tidak mungkin jika catatan sejarah tentang kiprah positif partai Islam
di tanah air akan terulang. ***

[Non-text portions of this message have been removed]





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke