SEJARAH BERDIRINYA PKS:
dari milis tetangga....
Soeripto, sekarang menjabat Ketua Dewan Pakar DPP PKS, anggota DPR RI dari PKS,
pada tahun 1967 bergabung dengan Kodam Siliwangi sebagai kader militer Sukarela
dan dibawah pembinaan Kharis Shuhud.
Soeripto kemudian menjadi kader intel binaan Pangkowilhan (Wijoyo Suyono,
Soerono dan Wahono), dan secara struktur di bawah komando Yoga Sugama di Bakin
yang waktu itu dipimpin Sutopo Juwono.
Soeripto pria kelahiran 20 November 1936 ini merupakan kader Partai Sosialis
Indonesia (PSI) dengan masuknya ia dalam keanggotaan Gerakan Mahasiswa Sosialis
(GMSos) pada tahun 1957. Ia sempat menduduki jabatan sebagai Kepala Staff Bakin
dan Sekretaris Lembaga Studi Strategis/Wanhankamnas dan menjadi utusan khusus
Pemerintah RI untuk normalisasi hubungan dengan RRC pada tahun 1981.
Soeripto dalam berbagai media menceritakan riwayat hidupnya dalam dunia
intelejen dengan gamblang, sekalipun sudah mengaku menjadi mantan sejak tahun
1970 akan tetapi beberapa sumber menerangkan bahwa Soeripto tetap mangkal di
kantor BAKIN yang lama karena mengikut dan tetap bersama Roedjito. Menurut
beberapa teman dekatnya Soeripto juga tak segan- segan nekad mengklaim mewakili
KADIN ketika berkunjung ke China agar dapat sambutan dan fasilitas istimewa
dari pemerintah China.
Dalam perkembangan pergerakan Islam di Indonesia, pada tahun 1984 muncul kubu
Helmi Aminuddin bin Danu Muhammad Hasan. Helmi Aminuddin, yang saat ini
menjabat sebagai Ketua Majlis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), pernah
menjadi Menlu NII komando Adah Djaelani. Pernah ditangkap oleh Kopkamtib pada
tahun 1980 dan sempat ditahan pihak militer selama kurang lebih 3 tahun namun
kemudian dilepaskan dari Rumah Tahanan Militer Cimanggis tanpa melalui
persidangan pada tahun 1984.
Selanjutnya Helmi Aminuddin menyatakan keluar dari struktur maupun ajaran NII
komando Adah Djaelani, kemudian ditampung dan dipelihara oleh mantan tokoh
Bakin (Soeripto). Soeripto menjadi sponsor sekaligus promotor dan bertindak
sebagai pemberi tugas kepada Helmi Aminuddin antara lain untuk mengadopsi
ajaran dan manhaj (metode) serta berhubungan langsung secara organisasional
dengan gerakan Ikhwanul Muslimin faksi Qiyadah Syaikh Sa'id Hawwa di Timur
Tengah sekitar tahun 1985.
Selepasnya dari penjara Helmy Aminuddin berada di bawah binaan Soeripto lalu
kemudian dikirim ke Timur Tengah untuk mempelajari mengadopsi ajaran dan manhaj
serta berhubungan langsung secara organisasional dengan gerakan Ikhwanul
Muslimin faksi Qiyadah Syaikh Sa'id Hawwa pimpinan Ikhwanul Muslimin cabang
Suriah sekitar tahun 1985.
Maka pergilah Helmi Aminuddin ke Timur Tengah untuk mengadopsi gerakan Ikhwan
tersebut, sekalipun Helmi mengatakan alasan kepergiannya ke sana untuk
menyelesaikan studinya yang belum rampung. Sepulangnya dari Timur Tengah Helmi
Aminuddin mulai mengibarkan bendera gerakan IM (Ikhwanul Muslimin) di Indonesia
seraya melakukan klaim sebagai representasi gerakan Islam kaffah, universal dan
menafikan seluruh gerakan Islam lain yg bersifat lokal di Indonesia.
Dimana sepulangnya dari sana dan dibawah dukungan Bakin di bawah komando
Soeripto dibentuklah Jamaah Tarbiyah pada antara tahun 1987-1988 dengan doktrin
utama dari pemikiran Sa'id Hawwa yang diterjemahkan menjadi beberapa seri buku
Allah, Ar Rasul , Al Islam dan Jundullah dan diterbitkan oleh Al Ishlahy Press
yang menjadi bacaan wajib para kader inti gerakan. Helmy Aminuddin sendiri
kemudian menjadi Mursyid 'Aam Jama'ah Tarbiyah pada tahun 1991.
Dengan pembinaan dengan metode cuci otak maka secara instan kader-kader
kelompok ini bisa dicetak dengan cepat. Untuk menunjang penyebaran ideologinya
maka diterbitkanlah majalah Sabili pada tahun 1987 kemudian juga penerbitan
Gema Insani Press yang menyebarluaskan paham radikal ini melalui media dan
penerbitan buku-buku ideologis dengan harga yang sangat murah padahal dengan
mutu cetakan yang cukup mewah karena mendapat subsidi.
Majalah Sabili sendiri beredar secara luas walaupun tidak dilengkapi dengan
SIUPP dan dijual dengan harga hanya 600 rupiah padahal dengan mutu kertas yang
bagus plus nyaris tanpa iklan. Dan buku-buku terbitan GIP padamasa itu dijual
dengan mulai harga 600-5500 rupiah saja (katalog tahun 1991) sehingga
terjangkau oleh kantong pelajar dan mahasiswa bahkan akhirnya bersama
penerbitan buku-buku sealiran yang lain, buku-buku harokah pun menggusur
buku-buku islam yang lain.
Pada tahun 1991 Helmi Aminuddin diangkat sebagai Mursyid atau elite komando
organisasi gerakan Ikhwanul Muslimin untuk kawasan Asia Tenggara. Eksistensi
gerakan ini cepat berkembang secara signifikan khususnya di kawasan Ibu kota
DKI Jakarta. Tetapi awal awal tahun 1998 nama Helmi Aminuddin tiba-tiba raib
dari blantika gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang bermarkas di Yayasan
Al-Hikmah di kawasan Jl. Bangka-Jakarta Selatan, juga di Yayasan Iqra' di
kawasan Pondok Gede Jakarta Timur sebagai basis sentral pemukiman elite mereka.
Kini Helmi Aminuddin mengonsentrasikan diri secara khusus mengelola pesantren
dan Islamic Village di kawasan Cinangka Banten atas kucuran dana di antaranya
sebagaian dari Bimantara (perusahaan milik Bambang Trihatmojo-Soeharto), dari
Timur Tengah, serta dari Soeripto sebagai akses dana Orde Baru Cendana.
Helmi Aminuddin mengendalikan gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia dari balik
layar. Pada tahun 1998 berkat dibidani tangan dingin Soeripto mantan Bakin
gerakan Tarbiyyah Ikhwanul Muslimin Indonesia berhasil ikut partisipasi
merayakan pesta demokrasi dengan menjadi salah satu kontestan. Saat itu gerakan
Tarbiyah Ikhwanul Muslimin Indonesia merubah manhajnya dan berubah bentuk
menjadi Partai Keadilan (PK) dan kemudian bermetamorfosis lagi menjadi PKS
(Partai Keadlian Sejahtera).
Para anggota level bawah kelompok radikal Islam ini dibuat untuk tidak banyak
tahu bahkan tidak tahu apa-apa tentang apa dan bagaimana keadaan di atas
mereka. Sampai saat ini hanya sangat sedikit anggota jama'ah tarbiyah bahkan
yang sudah belasan tahun bergabung sekalipun yang tahu bahwa Helmy Aminuddin
adalah mursyid 'aam gerakan mereka dari tahun 1991-1998, apalagi untuk tahu
latar belakangnya.
Ketika seseorang telah didoktrin oleh jama'ah tarbiyah maka dengan serta merta
ia pun kehilangan daya nalar dan pola pikir kritisnya.Yang ia tahu hanya
bertindak dan berbuat sesuai dengan keinginan kelompoknya dan berusaha mengapai
tujuan kelompok dengan semua cara.
Dan yang lebih menarik lagi adalah operasi cuci otak ini bisa dilakukan secara
massal dan cepat dengan hasil yang maksimal.
[Non-text portions of this message have been removed]