Pemimpin

By: Prof. Dr. AChmad Mubarok MA

Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan antara yang satu dengan  
yang lain. Arti  Masyarakat itu sendiri yang berasal dari bahasa Arab 
musyarakah adalah saling bersekutu. Jadi masyarakat  adalah wujud dari 
kesepakatan umum bagaimana setiap warganya dijamin peluangnya untuk memenuhi 
kebutuhannya. Dalam sistem masyarakat, diatur yang kecil tidak dizalimi oleh 
yang besar, yang lemah dijamin memperoleh keadilan, yang memiliki kelebihan 
dijamin penghargaannya. Masyarakat juga sepakat untuk memberikan perlindungan 
kepada hak-hak azazi manusia, fisiknya, hartanya, fikirannya, jiwanya dan 
keyakinannya. Untuk itulah maka masyarakat membangun tradisi, membangun 
kebudayaan, membangun institusi seperti negara dan bahkan membangun badan dunia 
seperti Persatuan Bangsa Bangsa (PBB).

Cita-cita  bangsa Indonesia dengan mendirikan negara Republik Indonesia 
misalnya, seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 45  adalah untuk: (1) 
melindungi segenap warga negara, (2) hendak mewujudkan keadilan sosial bagi 
seluruh warganya, (3) menghargai kedaulatan rakyat, dan (4) berketuhanan Yang 
Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. 

Manusia secara pribadi adalah makhluk yang di satu sisi berfikir positif dan 
menyukai kebaikan, tetapi di sisi lain terkadang berfikir negatif dan kemudian 
melakukan perbuatan yang bukan saja merusak dirinya tetapi juga merusak atau 
mengganggu orang lain. Perilaku manusia juga ada yang bersifat individual dan 
terkadang bersifat sosial. Ada orang yang secara pribadi adalah pendiam, 
penakut dan cenderung patuh, tetapi ketika ia menjadi bagian dari perilaku 
sosial yang bringas maka ia bisa berubah menjadi pemberani, nekad dan agresif, 
satu perilaku yang sangat berbeda dengan perilaku individualnya.

Untuk menjamin terlaksananya kesepakatan sosial, maka masyarakat mengenal 
struktur pemimpin dan yang dipimpin. Pemimpin diberi kewenangan oleh orang 
banyak untuk mengorganisir dan mengatur strategi pencapaian tujuan, dan orang 
banyak harus membantu dan mentaati pemimpin yang telah disepakati. Manusia 
mengenal sistem kepemimpinan (leadership) pada setiap lapisan. Setiap orang 
adalah pemimpin bagi dirinya (kullukum ra‘in). Kemudian suami adalah pemimpin 
dalam rumah tangga, lurah adalah pemimpin satu desa dan seterusnya Presiden 
adalah pemimpin dari satu negara.  Tipologi pemimpin itu bermacam-macam, tetapi 
kontrak pemimpin dan yang dipimpin bersifat “universal”. Kepe¬mimpinan akan 
efektif jika rakyat yang dipimpin merasa mem¬peroleh sesuatu dari pe¬mimpinnya; 
memperoleh rasa keadilan,  rasa aman, dan  bimbingan menuju masa depan yang 
menjanjikan. Oleh karena itu seorang pemimpin haruslah orang yang memiliki 
banyak kelebihan dibanding yang
 dipimpin, karena seorang pemimpin harus bisa memberi. Jika tiga hal itu tidak 
bisa diberikan oleh seorang pemimpin, maka kepemimpinannya tidak akan efektif. 
Jika kepemimpinan tidak efektif maka kesepakatan umum bermasyarakat akan rusak, 
tatanan kehidupan menjadi tidak tertib, dan masyarakat manusia yang semestinya 
berbudaya tinggi akan berubah menjadi kerumunan binatang yang saling menyerang, 
apa yang sekarang disebut sebagai anarki.

Sebab-sebab terjadinya anarki 
Al Mawardi merumuskan sebab-sebab terjadinya anarki pada suatu masyarakat 
dengan kalimat yang sangat pendek tetapi jelas; La yashluhu al qaumu faudla la 
surata lahum, wala surata idza juhhaluluhum sadu. Artinya; Suatu bangsa tidak 
akan eksis jika masyarakatnya anarkis. Anarkisme terjadi karena mereka tidak 
memiliki tokoh teladan yang dapat dijadikan panutan dalam hidup sehari-hari. 
Dan masyarakat akan kehilangan panutan jika orang-orang yang menjadi pemimpin 
terdiri dari orang-orang bodoh. Kata juhhal tidak mesti berarti bodoh dengan  
IQ  rendah, tetapi juga bermakna, orang pandai yang melakukan perbuatan bodoh, 
bisa karena egois, karena buruk akhlaknya atau karena keliru cara berfikirnya.

Kekeliruan yang dilakukan oleh rakyat biasa, paling-paling hanya dicibirkan 
orang lain, tetapi kekeliruan dari seorang pemimpin (apalagi jika berulang kali 
dilakukan, karena kebodohannya) akan berdampak pada rusaknya tatanan sosial. 
Oleh karena itu periksalah seteliti mungkin sebelum mengangkat seseorang 
menjadi pemimpin. Wallahu a‘lam. v

sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com

Wassalam,
agussyafii


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke