Kreativitas Pembelajaran Matematika Terus Berkembang
Kamis, 26 Maret 2009 | 16:44 WIB Laporan wartawan KOMPAS Ester Lince
Napitupulu


JAKARTA, KOMPAS.com - Kreativitas pembelajaran Matematika yang mudah dan
menyenangkan perlu terus dikembangkan. Karena itu, Matematika mesti
diajarkan secara menarik dan terhubung dengan dunia nyata sehingga siswa
senang.

"Belajar Matematika itu bukan sekedar mengajarkan anak tahu berhitung
dan mengasah logika anak. Tetapi Matematika itu juga bisa dimanfaatkan
untuk mengasah kreativitas otak yang dibutuhkan seseorang untuk berhasil
dalam hidup," ujar Stephanus Ivan Goenawan, pengajar di Universitas
Atmatajaya Jakarta, Kamis (26/3), di Jakarta.

Ivan menciptakan konsep pembelajaran Matematika yang dinamakannya metode
horisontal. Metode horisontal <http://www.sigmetris.com/>   ini
merupakan metode perhitungan di mana proses penyelesaian dilakukan
secara mendatar (horisontal) dari arah kanan menuju ke kiri. Bilangan
desimal biasa dikonversi dengan notasi pagar (I).


Upaya untuk mengenalkan konsep pembelajaran matematika dengan cara tidak
konvensional yang selama ini menggunakan metode vertikal dilakukan
dengan menggelar olimpiade kreativitas angka
<http://www.kompetisi-kreativitas.blogspot.com/>   yang diikuti siswa SD
hingga perguruan tinggi. Menurut Ivan, cara ini untuk mengembangkan
kreativitas seseorang karena potensi kreativitas dapat diasah melalui
angka dengan cara mengenali keteraturan polanya.

"Bila daya kreativitas angka meningkat maka daya ini dapat berimbas ke
jenis kreativitas yang lain, seperti pada pelajaran sekolah, seni,
strategi atau intuisi bisnis atau ilmu pengetahuan," ujar Ivan.

Pengembangan metode belajar Matematika untuk membantu proses
penghitungan yang cepat sehingga membuat anak tertarik belajar
Matematika juga sebelumnya dilakukan Septi Peni Wulandani dengan metode
jaritmatika. Penghitungan dilakukan dengan memanfaatkan tangan kanan
yang diibaratkan tangan satuan dan tangan kiri sebagai tangan puluhan.

S Hamid Hasan, Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia,
mengatakan untuk menciptakan pembelajaran Matematika yang selama ini
dianggap masih momok buat siswa sehingga menjadi menyenangkan, perlu
kreativitas guru tersebut. Guru bisa saja memanfaatkan metode
pembelajaran Matematika yang berkembang di luar kelas jika memang bisa
membantu terciptanya belajar matematiak yang menyenangkan.

"Apalagi jika metode belajar Matematika yang inovatif itu hasil
pemikiran anak bangsa, kenapa tidak untuk juga bisa diperkenalkan
sebagai salah satu metode belajar. Yang penting, anak-anak paham konsep
belajar MAtematika dan bisa menggunakannya untuk kehidupan," kata Hamid.






[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke