Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini,
(lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – wafat di Rembang, Jawa
Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) adalah seorang tokoh Jawa dan
Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan
perempuan pribumi.

 *Biografi*
Ayah Kartini, R.M. Sosroningrat. Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari
kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario
Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi
bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti
Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan
kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang
bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya
menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja
Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di
Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A.
Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua
saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran
Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini,
Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12
tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di
sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12
tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar
sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari
Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari
buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir
perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi,
dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial
yang rendah.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter
Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko
buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu
pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche
Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat
di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja
dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang
Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat.

Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga
masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh
kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang
lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat
judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November
1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya
Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta
de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong
Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen
Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.


*Makam R.A. Kartini di Bulu, Rembang.*
Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M.
Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga
istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti
keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan
sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten
Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13
September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal
pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu,
Rembang.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan
Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang,
Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah
Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang
tokoh Politik Etis.

Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108
Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan
Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21
April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian
dikenal sebagai Hari Kartini.

*Surat-surat*
Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan
surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa.
Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan
Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang artinya
"Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan
pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir
terdapat tambahan surat Kartini.

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan
judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan
oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah
Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru, dengan pembagian
buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir
Kartini sepanjang waktu korespondensinya. Versi ini sempat dicetak sebanyak
sebelas kali. Dalam bahasa Inggris, surat-surat Kartini juga pernah
diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga
pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Sunda.

Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik
perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah
pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa.
Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi
inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R.
Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.

*Pemikiran*
Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi
sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar
surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di
Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita
memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan
cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf-
vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar
Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan
Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan
Nasionalisme (cinta tanah air).

Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari
luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini
mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan
penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas
duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang
tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam
surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa
kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami.
Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak
ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan
saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi
berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini
mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki
untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa
yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.

Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus
dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski
memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan
anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu
untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata
cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala
besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan
begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk
belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini
untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di
Betawi.

Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang
terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan
berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini
membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya
kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke
Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh
Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk
melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat
kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia
sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak
mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal
saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan
bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat
Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa
keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi
para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan
bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan
ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga
disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

*Buku
Habis Gelap Terbitlah Terang*
**
 Sampul buku versi Armijn Pane.
Pada 1922, oleh Empat Saudara, Door Duisternis Tot Licht disajikan dalam
bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Buku
ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane, salah seorang sastrawan
pelopor Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemah surat-surat
Kartini ke dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Ia pun juga disebut-sebut
sebagai Empat Saudara.

Pada 1938, buku Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan kembali dalam
format yang berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door Duisternis Tot
Licht. Buku terjemahan Armijn Pane ini dicetak sebanyak sebelas kali. Selain
itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan
bahasa Sunda. Armijn Pane menyajikan surat-surat Kartini dalam format
berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat
tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Pembagian tersebut ia lakukan untuk
menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama
berkorespondensi.

Pada buku versi baru tersebut, Armijn Pane juga menciutkan jumlah surat
Kartini. Hanya terdapat 87 surat Kartini dalam "Habis Gelap Terbitlah
Terang". Penyebab tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada dalam buku
acuan Door Duisternis Tot Licht, adalah terdapat kemiripan pada beberapa
surat. Alasan lain adalah untuk menjaga jalan cerita agar menjadi seperti
roman. Menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah
roman kehidupan perempuan. Ini pula yang menjadi salah satu penjelasan
mengapa surat-surat tersebut ia bagi ke dalam lima bab pembahasan.

*Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya*
Surat-surat Kartini juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Pada mulanya
Sulastin menerjemahkan Door Duisternis Tot Licht di Universitas Leiden,
Belanda, saat ia melanjutkan studi di bidang sastra tahun 1972. Salah
seorang dosen pembimbing di Leiden meminta Sulastin untuk menerjemahkan buku
kumpulan surat Kartini tersebut. Tujuan sang dosen adalah agar Sulastin bisa
menguasai bahasa Belanda dengan cukup sempurna. Kemudian, pada 1979, sebuah
buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap Door Duisternis Tot
Licht pun terbit.

Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul Surat-surat
Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Menurut Sulastin, judul
terjemahan seharusnya menurut bahasa Belanda adalah: "Surat-surat Kartini,
Renungan Tentang dan Untuk Bangsa Jawa". Sulastin menilai, meski tertulis
Jawa, yang didamba sesungguhnya oleh Kartini adalah kemajuan seluruh bangsa
Indonesia.

Buku terjemahan Sulastin malah ingin menyajikan lengkap surat-surat Kartini
yang ada pada Door Duisternis Tot Licht. Selain diterbitkan dalam
Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, terjemahan
Sulastin Sutrisno juga dipakai dalam buku Kartini, Surat-surat kepada Ny RM
Abendanon-Mandri dan Suaminya.

*Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904*
Buku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah Letters from
Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904. Penerjemahnya adalah Joost Coté.
Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam Door Duisternis Tot
Licht versi Abendanon. Joost Coté juga menerjemahkan seluruh surat asli
Kartini pada Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir. Pada buku
terjemahan Joost Coté, bisa ditemukan surat-surat yang tergolong sensitif
dan tidak ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Menurut Joost
Coté, seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya sudah saatnya
untuk diungkap.

Buku Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 memuat 108
surat-surat Kartini kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan suaminya
JH Abendanon. Termasuk di dalamnya: 46 surat yang dibuat Rukmini, Kardinah,
Kartinah, dan Soematrie.

*Panggil Aku Kartini Saja*
 Sampul Panggil Aku Kartini Saja.
Selain berupa kumpulan surat, bacaan yang lebih memusatkan pada pemikiran
Kartini juga diterbitkan. Salah satunya adalah Panggil Aku Kartini Saja
karya Pramoedya Ananta Toer. Buku Panggil Aku Kartini Saja terlihat
merupakan hasil dari pengumpulan data dari berbagai sumber oleh Pramoedya.

*Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya*
Akhir tahun 1987, Sulastin Sutrisno memberi gambaran baru tentang Kartini
lewat buku Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya.
Gambaran sebelumnya lebih banyak dibentuk dari kumpulan surat yang ditulis
untuk Abendanon, diterbitkan dalam Door Duisternis Tot Licht.

Kartini dihadirkan sebagai pejuang emansipasi. Dalam kumpulan itu,
surat-surat Kartini selalu dipotong bagian awal dan akhir. Padahal, bagian
itu menunjukkan kemesraan Kartini kepada Abendanon. Banyak hal lain yang
dimunculkan kembali oleh Sulastin Sutrisno.

*Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella
Zeehandelaar 1899-1903*
Sebuah buku kumpulan surat kepada Stella Zeehandelaar periode 1899-1903
diterbitkan untuk memperingati 100 tahun wafatnya. Isinya memperlihatkan
wajah lain Kartini. Koleksi surat Kartini itu dikumpulkan Dr Joost Coté,
diterjemahkan dengan judul Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme.
Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.

"Aku Mau ..." adalah moto Kartini. Sepenggal ungkapan itu mewakili sosok
yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan perbincangan. Kartini
berbicara tentang banyak hal: sosial, budaya, agama, bahkan korupsi.

*Kontroversi*
Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H.
Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa
surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit
saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia
Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik
etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui
keberadaannya. Menurut almarhum Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H.
Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.

Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak
diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak
hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari
Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih
dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan
wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini. Menurut mereka, wilayah
perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga
tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan
lainnya.

Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh
emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja,
melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya
tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah
melingkupi perjuangan nasional.

Sumber : Wikipedia


-- 
*********************************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
http://reportermilist.multiply.com/
**********************************************
=========================================================
Reportermilist menerima penerbitan Iklan dengan tarif hanya Rp 20000/
5 hari kerja terbit dalam setiap Email berita yang dikirim oleh
reportermilist, bayangkan peluang yang murah dangan prospect yang
besar.. Berminat Hubungi [email protected]
=========================================================
(Iklan) Kunjungan Kapal Perang TNI AL
Hari/tanggal : Minggu, 03 Mei 2009
Jam : 08.30 – 14.00 ( datang tepat waktu untuk daftar ulang )
Tempat : Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok Jakarta
Acara : Kunjungan ke Kapal Laut TNI-AL
Kapasitas : Terbatas, maksimal 250 orang
Biaya : Rp 75.000 per orang. Tetapi bila mendaftar dan membayar sebelum
tanggal 22 April , maka akan didiskon 15 ribu,
Ikka W. Widowati (021)-5260758 – [email protected]
Erwin Arianto (021) 8970061 - [email protected]
=========================================================
Search Engine Terpopuler Anak Bangsa
http://djitu.com
Gunakan Untuk Kepentingan Anda
=========================================================
Ruang Iklan Untuk disewakan
=========================================================


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Usaha Berubah, Selalu Kalah ?

Apakah Anda merasa diri Anda sia sia dan tidak berdaya karena semakin Anda 
ingin berubah, Anda semakin kalah, semakin Anda ingin berprestasi justru 
semakin frustrasi ? 

Apakah Anda merasa hidup Anda buruk dan terpuruk karena semakin Anda berusaha, 
Anda semakin menderita, semakin Anda menahan diri justru semakin tidak 
terkendali ? 

No Problem ! Di SERVO Aja !

S.E.R.V.O™ membebaskan Anda dari "jerat” atau “penjara" emosional, menemukan 
potensi dan jati diri Anda serta mengaktifkan "mesin" sukses otomatis Anda 
seperti milik para BINTANG. 

Dengan Terapi S.E.R.V.O™ :
 
- Lebih sehat tanpa obat. Anda tidak lagi perlu mengalami gangguan psikosomatis 
seperti pusing, berdebar debar, leher kaku, sakit perut, insomnia 

- Lebih bahagia tanpa fobia. Anda tidak perlu merasa cemas, takut, gugup, 
panik, bingung, lupa, marah, gangguan seksual 

- Lebih bergairah tanpa masalah. Anda tidak perlu terjebak pada kebiasaan buruk 
seperti kecanduan rokok, obat, makan, tidur, belanja, korupsi 

- Lebih mudah tanpa menyerah. Anda tidak perlu lari dari masalah, merasa malu, 
bersalah, gagal, bernasib sial, depresi, putus asa, malas dan menunda pekerjaan 

- Lebih percaya diri tanpa iri. Semakin awal Anda menemukan potensi dan jati 
diri, semakin cepat Anda menjadi diri sendiri dan menjadi yang terbaik 
dibidangnya 

- Lebih berprestasi tanpa korupsi. Memanfaatkan seluruh waktu produktif Anda 
untuk membuat “cetak biru” kesuksesan pribadi, keluarga dan kehidupan sosial 
Anda.  

Kesaksian !

Nana, Pengusaha. ...Tadinya saya kurang yakin dengan pengobatan ini, tetapi 
setelah saya coba benar benar luar biasa. Saya sudah seperti orang biasa yang 
tegar menghadapi tantangan hidup ini. ... 

Hubungi : http://klinikservo.com/
 
(021) 5574 5555, 554 6009

---

TERAPI GRATIS !

FOBIA terhadap BENDA NYATA seperti Karet, Pepaya, Bulu Ayam, Karpet, Susu, 
Sayur, Nasi dsb. Hanya untuk Peserta Pertama, dari masing masing Fobia !Yahoo! 
Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/TaManBinTaNG/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke