Akal dan Kapasitasnya

By: Prof. Dr Achmad mubarok MA

Kata akal dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab (al-'aql) yang 
mengandung arti mengikat atau menahan, tapi secara umum akal dipahami sebagian 
potensi yang isiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan.  Dalam psikologi modern 
akal dipahami sebagai kecakapan memecahkan masalah (problem solving capacity). 
    
Berbeda dengan kalimat al-qalb, dalam al-Qur’an kalimat al-aql tidak pernah 
disebut dalam bentuk kata benda, tetapi selalu dalam bentuk kata kerja, baik 
kata kerja fi'madli maupun fi'lmudlari'. Dalam al-Qur'an, kalimat 'aql disebut 
dalam 49 ayat sebagai contoh, penyebutan al-'aql dalam al-Qur'an adalah seperti 
yang ada pada surat al-Baqarah / 2:75:
    
…kemudian mereka palsukan setelah mereka pahami, dan mereka sebenarnya tahu 
(Q., s. al-Baqarah / 2:75).

Apakah mereka tidak melakukan perjalanan di permukaan bumi dan mereka mempunyai 
kalbu memahami, atau telinga untuk mendengar: sesungguhnya bukanlah mata yang 
buta tetapi kalbu di dalam adalah yang buta (Q., s. al-Hajj / 22:42).


Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya bagimu, mudah-mudahan kamu mengerti 
(Q., s. al-Baqarah / 2:242).

Menurut Lisan al-Arab, al-aql juga berarti  menahan, sehingga yang di maksud 
dengan orang berakal adalah orang yang menahan diri dan mengekang hawa nafsu.  
Al-Qur’an juga menyebut orang berakal dengan beberapa istilah, seperti 
(uli-al-nuha) yang berarti orang yang memiliki pencegah atau akal yang mencegah 
dari keburukan,  (ulu al-ilm), orang yang berilmu, (ulu al-albad) orang yang 
mempunyai saripati akal, (ulu al-abshar), orang yang mempunyai pandangan 
tajam,  dan (dzi hijr), orang yang mempunyi daya tahan. 

Dari 49 ayat yang menyebut al-'aql kata ‘aql mengandung pengertian mengerti, 
memahami dan berpikir. Tetapi pengertian berpikir juga diungkap al-Qur'an 
dengan kata yang lain, seperti nazhara yang artinya melihat secara abstrak 
seperti tercantum pada surat-surat (Q., s. Qaf / 50:6-7, Q., s. al-Thariq / 
86:5-7, Q., s. al-Ghasyyiah / 88:17-20), tadabara yang artinya merenungkan 
seperti terdapat dalam surat (Q., s. Shad / 38:29, Q., s. Muhammad / 47:24), 
tafakara yang artinya berpikir seperti yang ada dalam surat (Q., s. al-Nahl / 
16:68-69, Q., s. al-Jatsyiah / 45:12-13), faqih-tafaqqaha yang artinya mengerti 
Q., s. al-Isra' / 17:44, Q., s. al-Nahl 16:97-98, Q., s. al-Tawbah / 9:12, 
tadzakkara  yang artinya mengikat, memperoleh pengertian, mendapatkan 
pelajaran, memperhatikan dan mempelajari terdapat pada surat (Q., s. al-Nahl / 
16:17 Q., al-Zumar / 39:9, Q., s. al-Dzariyat / 51:47-49), dan kalimat fahima  
yang artinya memahami, terdapat pada surat (Q.,
 s. al-Anbiya / 21:78-79).

Meskipun banyak istilah dalam al-Qur'an yang berhubungan dengan aktivitas akal, 
tetapi kata ‘aqala mengandung arti yang pasti, yaitu mengerti, memahami dan 
berpikir. Hanya saja al-Qur'an tidak menjelaskan bagaimana proses berpikir 
seperti yang dibahas dalam psikologi,  tidak juga membedakan di mana letak daya 
berpikir dan di mana letak alat berpikir seperti yang dibicarakan oleh 
filsafat  tidak juga menyebut pusat kegiatan berpikir itu di dada atau di 
kepala, tapi menyebut bahwa qalb yang di dada juga berpikir seperti akal. Hal 
itu disebutkan antara lain dalam surat al-A'raf / 7:179, dan diisyaratkan dalam 
surat al-Tawbah / 9:93 dan surat Muhammad / 47:24. Jadi menurut al-Qur'an, 
aktivitas berpikir atau merasa, bukan hanya menggunakan akal atau hati saja, 
tetapi kesemuanya akal, nafs, qalb dan bashirah, yang bekerja dalam sistem 
nafs. Hanya saja al-Qur'an tidak membicarakan teknis kerja sistem nafs secara 
rinci.

Sementara itu psikologi membahas teknis kerja sistem jiwa dengan kajian yang 
sudah sangat rinci. Tentang otak misalnya, psikologi membahas anatomi otak 
sebagai alat berpikir dengan sangat rinci, lengkap dengan pembagian kerjanya. 
Otak kiri misalnya berkerja untuk hal-hal yang bersifat logis, seperti 
berbicara, bahasa, hitungan matematika, menulis dan ilmu pengetahuan, sementara 
otak kanan berkerja untuk hal-hal yang bersifat emosi, seperti seni, apresiasi, 
intuisi dan fantasi. 

sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com

Wassalam,
agussyafii




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke