Artikel: Benarkah Atasan Saya Menyebalkan?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Dalam situasi krisis seperti saat ini, banyak perusahaan yang menerapkan 
kebijakan tidak populer. Misalnya, mengurangi beberapa pos pengeluaran penting 
seperti pemotongan biaya promosi, penundaan kenaikan gaji, dan penghematan lain 
disana-sini. Karena itu, tidak sedikit karyawan yang naik darah hingga 
keubun-ubun. Dan tentu saja, cara termudah untuk melampiaskan kekesalan adalah 
dengan menimpakan semua itu kepada atasannya. Padahal, seringkali atasan tidak 
berada pada posisi sebagai pengambil keputusan. Yang sebenarnya terjadi adalah; 
sang atasan tengah berusaha untuk menjadi pemimpin yang baik bagi bawahan 
sekaligus menjadi karyawan yang baik bagi perusahaan. Jadi, apakah cukup fair 
untuk memvonis atasan kita sebagai orang yang menyebalkan?

Dalam salah satu episode komik favorit saya digambarkan seorang CEO mengatakan 
kepada para eksekutif bahwa berdasarkan analisis para ahli ekonomi, krisis 
keuangan global ini akan berlangsung cukup panjang. "Oleh karena itu," demikian 
kata Pak CEO "perusahaan harus melakukan 'uji cermat' struktur biaya...." 

Mendengar petunjuk bos besar itu, salah seorang eksekutif mengatakan: "Baik 
Tuan, akan kita lakukan penghematan." Sang CEO tersenyum puas karena 
'maksudnya' telah berhasil diterjemahkan oleh sang eksekutif dengan baik. 
"Lantas," sang eksekutif melanjutkan, "bagaimana dengan bonus dan tunjangan 
yang biasa kita dapatkan?"

Kemudian Pak CEO bilang; "Ah, sudahlah, kamu jangan menyinggung-nyinggung soal 
itu ....."

Dialog ini memang berasal dari dunia komik. Namun, kita tahu bahwa dalam 
konteks dunia bisnis gemerlap gaya Amerika dialog itu mewakili perilaku 
sebagian pemimpin bisnis kelas dunia yang meneriakkan penghematan kebawah, 
namun tidak menunjukkan keteladanan dengan kesediaan mengurangi kenikmatan dan 
beragam gelimang yang memanjakan bagi mereka sendiri. Bahkan, kita tahu bahwa 
pemerintah dan rakyat Amerika pun geram dengan sikap mereka yang 
menghambur-hamburkan uang untuk kemewahan para eksekutif puncak padahal 
pemerintah harus mengeluarkan dana talangan untuk menyelamatkan perusahaan itu 
dari kebangkrutan.

Sampai disini kita baru saja membahas dua situasi dimana para atasan sama-sama 
menyerukan penghematan. Namun, atasan pertama melakukannya untuk kepentingan 
perusahaan supaya semua karyawan mengambil peran dan tanggungjawab untuk 
melakukan penyelamatan. Sedangkan kisah kedua dari dunia komik adalah atasan 
yang bersedia melakukan apapun juga demi kebaikan perusahaan asal segala 
kepentingan dan kenyamanannya tidak terganggu.

Kedua situasi ini bisa menjadi titik tolak bagi kita untuk mencari jawaban atas 
pertanyaan tadi; "apakah cukup fair untuk memvonis atasan kita sebagai orang 
yang menyebalkan?"  

Yang jelas, ketika atasan menuntut kita untuk melakukan sesuatu dengan 
memberikan keteladanan; kita melihat ada ketulusan disana. Dan kita tahu bahwa 
aturan yang dibuat sang atasan tidak hanya berlaku kebawah, melainkan juga 
kepada dirinya sendiri. Dan jika semua itu dia lakukan demi kepentingan 
perusahaan, maka sesungguhnya itu juga demi kepentingan kita. Jadi sudah 
selayaknya kita turut mendukung dan berdiri dibelakang atasan yang seperti itu. 
'Tapi, itu kan membuat hidup kita sulit!' Mungkin kita berpikir begitu. Tetapi, 
memang patut jika kita berbagi kesulitan yang dihadapi perusahaan dengan 
memikulnya sesuai porsi kita masing-masing. Sebab, jika atasan melakukannya 
sendirian; akan semakin panjang jarak yang harus ditempuh oleh perusahaan.

Bagaimana jika keputusan atasan kita salah? Memang, tidak setiap niat baik 
selalu bisa diterjemahkan kepada keputusan atau strategy yang tepat. Namun, 
jikapun ini terjadi tidak berarti itu menjadi pantas bermuara kepada kebencian 
kita kepada sang atasan. Mungkin yang diperlukan sesungguhnya adalah dialog 
bisnis biasa dimana sebagai bawahan kita membantu atasan untuk menemukan solusi 
terbaik bagi perusahaan. Jadi, ini tidak lebih dari soal perbedaan pendapat 
yang bisa diselesaikan melalui berbagai kesepakatan. Bukankah antara atasan dan 
bawahan mesti saling melengkapi dan menyokong satu sama lain untuk kepentingan 
bersama?
 
Jika para bawahan ingin disukai atasan maka atasan pun ingin disukai oleh 
bawahan. Disukai oleh atasan sedikit banyak berpengaruh terhadap hasil 
appraisal tahunan yang menentukan berapa banyak bonus yang akan kita terima, 
dan berapa persen kenaikan gaji tahun depan yang layak untuk diusulkan kepada 
pengambil keputusan. Sebaliknya, disukai oleh bawahan pun sedikit banyak 
mempengaruhi rapor sang atasan, terutama sekali ketika dilakukan survey tentang 
kualitas kepemimpinannya. Kadang-kadang atasan kebakaran jenggot karena hasil 
survey diluar harapannya. Bahkan, tidak  jarang mereka kecewa kepada bawahannya 
karena dengan semua hal yang telah dilakukannya untuk para bawahan, ternyata 
ratingnya tidak terlampau menggembirakan. 

Kecuali ada bukti bahwa atasan menindas kita; sesungguhnya kita tidak memiliki 
cukup alasan untuk membencinya. Sebab, setiap atasan akan ditanya oleh 
atasannya yang lebih tinggi; "apa yang kamu perjuangkan untuk para bawahanmu?" 
Dan pertanyaan itu terus beruntun hingga ke posisi paling tinggi. Karena para 
stakeholders tahu, bahwa; jika seorang atasan menyia-nyiakan bawahannya, maka 
kepentingan investasi mereka tengah dipertaruhkan. Jadi, kita perlu menguji 
mana yang lebih mendekati kebenaran; atasan yang menyebalkan, atau bawahan yang 
tidak memiliki sense of crisis?


Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki: 
Mungkin atasan kita memang tidak sempurna. Tetapi, apakah kita juga sudah 
menjadi bawahan yang bisa diandalkan bagi mereka? 


Kirim email ke