Afganistan kontemporer nyaris identik dengan fanatisme agama, miskin, dan rusuh.
Tersuruk di Asia Tengah, negeri ini berbatasan dengan Pakistan
di selatan dan timur, Cina di ujung timur, Iran di barat, serta
Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan di utara. Membentang seluas
647.500 kilometer persegi dijamuri pengunungan dengan titik tertinggi
mencapai 7.485 meter di atas permukaan laut, negeri ini dihuni
bermacam-macam suku yang 99 persen adalah penganut Islam (sekitar 80
persen Sunni dan 19 persen Syi’ah) dan 1 persen lainnya. 

Sebelum invasi Uni Soviet pada Desember 1979, perseteruan
antarsuku umum terjadi. Dan hal inilah yang hingga kini tak
berkesudahan, yang kian membara jadi konflik sipil dan perang saudara
ketika Uni Soviet menarik seluruh kekuatan militernya pada Februari
1989.
Para pejuang yang sebelumnya bahu-membahu memerangi tentara
Soviet, berbalik saling seteru. Di tengah konflik itu Mujahidin
berhasil menguasai Kabul hingga datang Taliban, faksi bersenjata lain
beranggota umumnya pelajar Islam garis keras dari madrasah-madrasah di
wilayah berpenghuni mayoritas etnis Pashtun. 

Di bawah kekuasaan Taliban, 1996-2001, ajaran Islam ditegakkan
membabi-buta. Segala sesuatu yang dianggap tak sejalan, termasuk
warisan benda seni dan budaya, diluluh-latakkan. Bahkan dua patung
Buddha raksasa warisan budaya dunia yang dipahat di bukit batu di
Provinsi Bamiyan --dikenal sebagai Patung Buddha Bamiyang --pun tak
diluputkan.
Rezim Taliban berakhir setelah serbuan tentara Amerika Serikat
dan sekutunya, dengan alasan kelompok ini melindungi Pemimpin Al
Qaedah, Osama Bin Laden, yang dituduh mengotaki serangan teroris ke
menara kembar World Trade Center New York, 11 September 2001. Kekuasaan
Taliban memang berakhir, namun gambaran Afganistan sebagai negeri
berideologi Islam tanpa kompromi, penuh mullah fanatik, perempuannya
wajib ber-burqa membungkus rapat seluruh tubuh dan terlarang
berkegiatan kecuali mengabdi pada suami dan keluarga, serta pria-pria
berjenggot haus perang menenteng AK47, telanjur terpatri di benak warga
dunia. 

Di negeri yang mengundang miris dan simpati itulah, pada 2002,
Deborah Rodriquez menginjakkan kaki bersama satu tim aktivis lembaga
swadaya masyarakat (LSM). Atas nama kemanusiaan dan peradaban mereka
datang dan ingin mengabdikan diri menolong orang-orang Afganistan
keluar dari derita yang telah beranak-pinak. 

Mereka berasal dari berbagai latar yang memang dibutuhkan di
kawasan bergolak. Dokter, perawat, insinyur sipil, para ahli sosial,
ekonomi, dan praktisi pembangunan masyarakat umumnya. Tapi Deborah yang
akrab disapa Debbie justru menjadi anomali karena berlatar pendidikan
dan profesi yang tak terbayangkan relevansinya dengan masyarakat miskin
yang tak henti didera perang: penata kecantikan.
Kabul Beauty School (Random House, April 2007) yang di
Indonesia diterbitkan dengan judul sama oleh Bentang, Maret 2009,
berkisah tentang Debbie, kecintaannya terhadap tata-menata kecantikan,
serta simpati dan empati pada perempuan Afganistan dan dunia mereka.
Ditulis bersama Kristin Ohlson --penulis Stalking the Divine
(2003) yang memenangi penghargaan nonfiksi terbaik American Society of
Journalists and Authors' 2004-- buku ini bukanlah biografi utuh. Dia
hanya fragmen dari sepenggal periode kehidupan Debbie, lika-likunya
mendirikan dan mengelolah sekolah kecantikan (dan salon) di Kabul untuk
perempuan-perempuan Afganistan korban konflik perang dan budaya. 

Dilahirkan di Holland, Michigan, Debbie mengenal tata
kecantikan sejak masa kanak-kanak dari ibunya, pemilik dan pengelola
salon di kota lahirannya. Holland bukanlah kota besar, tapi Debbie yang
“modern” dan gaul dengan cepat matang dan menjalani hidup bak roller coaster. 
Menikah di usia muda, punya dua putra, cerai, lalu menikah lagi dengan seorang 
pengkotbah keliling. 

Di antara pasang surut itu, dia memperdalam tata rambut di
akademi kecantikan, bekerja sebagai anggota satuan pengaman di penjara
perempuan, gadis pesta, masuk kelompok keagamaan, hingga menemukan
dunia baru sebagai aktivis sosial-kemasyarakatan. Aktivisme yang
sesungguhnya tak ideologis, melainkan semata pelarian dari suami kedua
yang pencemburu dan gemar menganiaya. 

Ke Kabul pun adalah percampuran antara empati terhadap
perempuan di wilayah konflik dan keinginan meninggalkan suami yang kian
lepas kontrol setelah Debbie terlibat aktivitas membantu korban 11
September 2001 di New York. Dan kesempatan itu pun tiba ketika The Care
for All Foundation (CFAF) merekrutnya sebagai salah seorang sukarelawan
ke Afganistan. 

Sepanjang 430 halaman Kabul Beauty School, Debbia dan
Kristin Ohlson (yang di edisi Indonesia tak disebutkan sekata pun)
mengajak pembaca menapaktilasi cara pandang seorang perempuan Barat
terhadap kebudayaan dan puritanisme keagamaan Afganistan. Sekolah
kecantikannya sendiri kemudian hanya jadi wahana bagi Debbie memahami,
menilai, mengakrabi, dan mencoba mencintai Afganistan. 

Mungkin lewat pengetahuan dan pemahaman terhadap derita para
perempuan yang jadi murid-muridnya, problematika keseharian Kabul, juga
suami baru seorang Afgan mantan anggota Mujahidin yang hanya
diperkenalkan sebagai “Sam”, Debbie akhirnya sungguh telah mencintai
negeri ini. Kendati begitu, dan walau ditulis dengan ringan dan penuh
sentuhan humor, kita bisa mencecap kentalnya “kegeraman” Debbie,
terutama pada praktek tak adil terhadap kaum perempuan atas nama agama
dan budaya. 

Begitu geramnya dia hingga ada beberapa bagian yang menjadi
kurang masuk akal. Kisah tentang bantuan “menipu” suami salah satu
muridnya agar si lelaki tak tahu istrinya bukan perawan lagi di awal
buku, misalnya, secara tak langsung menunjukkan sikap memandang enteng
orang Afganistan. Apalagi mengingat latar si lelaki yang sudah hidup
cukup lama di tengah masyarakat Eropa, tepatnya di Amsterdam, Belanda. 

Namun, memahami perlakuan terhadap perempuan di beberapa negara
di mana praktek keagamaan ditafsirkan hitam-putih, kita bisa mahfum
bahwa cara pandang Debbie dengan latar Barat yang liberal dan
independen. Ekspresinya mungkin tidak segetas Woman at Point Zero
(1979) dari penulis Mesir, Nawal El Saadawi, yang menulis tidak dari
sisi penyaksi melainkan sebagai penanggung. Atau sefilosofis Lipstick Jihad 
(2005) dari Azadeh Moavani, penulis Iran yang tumbuh dan dewasa di Amerika 
Serikat. 

Boleh dibilang Kabul Beauty School adalah cara memandang perempuan dan 
fanatisme agama di antara Woman at Point Zero dan Lipstick Jihad
dengan bumbu humor ala Amerika. Resep yang jitu untuk menarik minat
Hollywood, yang lewat Columbia Pictures dalam waktu dekat akan
memfilmkan buku ini dengan bintang utama Sandra Bullock. Untuk itu, dia
menerima bayaran tak kurang satu juta dolar Amerika. 

Akhir bahagia? Ternyata tidak. Pada 18 November 2007 situs Timesonline Inggris 
mempublikasi artikel “Saviour ‘abandons’ Kabul’s salon Girls”
yang mengisahkan pada 2007 sekembali dari tur promosi buku Debbie
menemukan suami Afgan-nya terlibat pelecehan seksual. Dia juga menerima
ancaman penculikan. Maka dia pun angkat kaki dari Kabul. 

Debbie tak hanya meninggalkan sekolah kecantikan, salon, dan
keselamatan jiwa murid-muridnya yang terancam karena tuduhan “pelacur”
setelah riwayat mereka dibeber, tapi juga salah satu murid yang
terlunta-lunta di New Delhi, India, yang sebelumnya yakin Debbie bakal
mewujudkan mimpinya hidup tenteram dan bahagia di Amerika. 

Kabul Beauty School sungguh layak disimak. Akan halnya
kisah ikutannya, boleh dimaknai sebagai bual-bual romantika dan intrik
percakapan salon disela creambath, haircut, manicure, dan pedicure. Tak ada 
persoalan ideologi dan aktivisme. Yang terpenting tampil cantik dan menawan. 
(Katamsi Ginano, praktisi komunikasi dan business development, juga pecinta 
buku)
Judul Buku: Kabul Beauty School

Pengarang: Deborah Rodriguez

Penerbit: Penerbit Bentang, Maret 2009

Tebal: viii + 430 halaman

sumber: 
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/05/31/Suplemen/krn.20090531.166604.id.html
--------------------------  PT BENTANG PUSTAKA 
Jl. Pandega Padma No. 19 
Yogyakarta 55284 
Indonesia   Phone 62-274-517373 
Fax 62-274-541441
www.mizan.com
  www.klub-sastra-bentang.blogspot.com  www.cpublishing.blogspot.com   
--------------------------


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke