Artikel: Temukan Kuncinya, Lalu Buka Peti Harta Karunnya
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Pernahkah Anda menyaksikan seseorang yang dapat melakukan sesuatu dengan sangat 
mudah, padahal Anda sendiri tidak bisa melakukannya? Saya sering begitu.  
Misalnya, saya tidak bisa bermain selancar air dipantai, tapi mengapa banyak 
orang yang bisa melakukannya. Ini hanyalah contoh kecil saja yang membuktikan 
bahwa ternyata; ada orang-orang yang bisa melakukan sesuatu yang kita anggap 
sulit. Namun demikian, kita tidak perlu berkecil hati, karena boleh jadi, kita 
bisa melakukan sesuatu yang menurut orang lain sangat sulit untuk dilakukan. 
Sehingga, ini semakin menegaskan kenyataan bahwa kita para manusia memiliki 
kekurangan dan kelebihan. Tetapi, bukankah kadang-kadang kita harus melakukan 
sesuatu yang sangat sulit itu untuk memenuhi keinginan kita? Buktinya, ada 
banyak keinginan dan angan-angan yang tidak bisa kita wujudkan. Sehingga kita 
sering menjadi frustrasi dibuatnya. Lantas, bagaimana kita bisa berkompromi 
dengannya?
 
Beberapa waktu lalu, saya menjadi sangat pusing karena kehilangan kunci lemari 
tempat saya menyimpan peralatan dan dokumen untuk mendukung aktivitas harian. 
Anak saya yang masih sangat kecil memain-mainkan kunci lemari itu sebelumnya, 
sehingga saya yakin dia menyimpannya disuatu tempat. Sayangnya, sekuat apapun 
saya berusaha untuk membuatnya ingat atau memberitahu keberadaan kunci-kunci 
itu; saya tetap gagal total. Padahal tanpa kunci itu, ’saya tidak bisa membuka’ 
lemari itu. Sehingga saya tidak dapat memperoleh apapun yang tersimpan 
didalamnya. 
 
Bayangkan seandainya lemari itu seperti peti harta karun. Tanpa kunci itu, dia 
tidak bisa dibuka. Bayangkan lemari terkunci itu seperti tempat asing yang 
berisi angan-angan yang kita inginkan. Tanpa kunci itu, kita tidak dapat meraih 
isinya. Lalu, kita mengatakan;  ”betapa sulitnya mewujudkan keinginan ini.....” 
Mungkin kita berpikir untuk membongkar paksa pintu lemari itu dengan 
menggunakan gergaji atau kampak. Jika isi lemari itu sedemikian pentingnya, 
mengapa mesti pusing dengan lemarinya? Hancurkan saja. Masalahnya, kita tidak 
tahu bagaimana menghancurkan ’lemari kehidupan’ yang menyimpan semua impian 
kita. Karena, tidak ada cara lain untuk meraih isinya kecuali dengan kunci 
untuk membuka pintunya.
 
Dilaci meja kerja saya ada seuntai kunci. Saya tahu bahwa kunci lemari yang 
menghilang itu tidak termasuk salah satunya. Namun, rasa putus asa mendorong 
saya untuk mencoba semua kunci itu. Dan tentu saja gagal. Persis seperti hidup 
kita. Untuk meraih apa yang kita inginkan itu ada kuncinya. Dan kunci itu 
sangat spesifik sehingga kita tidak bisa menggunakan sembarang kunci untuk 
membukanya. Mungkin, itulah penyebabnya mengapa segala usaha dan daya upaya 
yang kita lakukan selama ini tidak kunjung memberikan hasil yang diharapkan. 
Mungkin karena kita belum melakukannya dengan ’kunci’ yang tepat. Sehingga, 
sekeras apapun usaha yang kita lakukan, kita masih gagal maning, dan kemudian 
gagal maning.
 
Siang sudah berganti malam. Dan anak saya belum juga membocorkan rahasia 
tentang kunci itu. Sementara saya sudah semakin putus asa karena kunci itu 
tidak ada di kotak mainannya, tidak pula di celengan, ataupun tempat paling 
tersembunyi di rumah pondokan kami. Lalu, saya menyerah dihadapan anak kecil 
yang sekarang sudah tertidur pulas tanpa beban itu. Karenanya, saya memutuskan 
untuk rehat barang sesaat. Sebab, tidak mungkin membangunkan anak kecil hanya 
untuk memaksanya mengingat ’dimana dia menyimpan kunci lemari ayahnya’. 
Mungkin, ini saat yang tepat bagi saya untuk beristirahat setelah menjalani 
hari yang penat, agar besok bisa meneruskan pencarian itu dengan penuh 
semangat. Duh, kehidupan kita juga sering begitu. Kita sedang membutuhkan kunci 
yang mampu memberi akses untuk masuk atau menemukan sebuah jalan keluar. Namun, 
kunci itu sering tersembunyi entah dimana. Mungkin, ini saat yang tepat bagi 
kita untuk jeda sesaat, tanpa kehilangan hasrat
 untuk meneruskan perjuangan ini esok hari. 
 
Esoknya pagi-pagi sekali, saya menanti si kecil untuk bangun dengan penuh 
harap. Dan begitu dia menggeliat; saya memeluknya sambil bertanya;’kunci lemari 
ayah pergi kemana ya?’  Lalu, dia menjawab;”Sudah basah.....”
 
”Sudah basah?” saya benar-benar menjadi orang pilon. ”Kamu ngompol ya?” 
ternyata celananya tidak basah. ”Apanya yang sudah basah?” Saya bertanya dalam 
harapan dan kebodohan.
 
”Kuncinya sudah basah,” katanya. 
Hah?! Kuncinya sudah basah?  Apa maksudnya? Apakah kunci lemari saya 
dicemplungkan kedalam sumur? Atau masuk kedalam mangkuk sayur ibunya? Atau..... 
ah, lebih baik ditanya saja. ”Basah kenapa?”
 
”Sudah kecebur kolam....”  Glek, kunci lemari saya kecebur kolam.... Tapi kolam 
yang mana? Akhirnya dengan putus asa saya memintanya menunjukkan tempat 
’keceburnya’ kunci lemari itu. Lalu dia menuntun tangan saya, menuju kehalaman 
depan. Kemudian, dia menunjuk vas bunga berisi tanaman air kami. ”Dikolam itu,” 
katanya. Dan saya benar-benar menemukannya disana. Dengan kunci itu, saya bisa 
membuka lemari dengan teramat mudah. Lalu, saya mendapatkan semua benda yang 
saya butuhkan.
 
Jangan-jangan, hidup kita juga seperti itu ya. Setelah semua usaha yang kita 
lakukan selalu membawa kegagalan; mungkin yang kita perlukan adalah ’menemukan 
kuncinya’. Sehingga dengan kunci itu kita bisa membuka ruang rahasia dimana 
keberhasilan kita tersimpan. Sedangkan anak kecil itu bagaikan malaikat yang 
ditugaskan Tuhan untuk menyimpan kunci-kunci kehidupan yang kita butuhkan. 
Malaikat itu tidak memberi kita kunci sampai kita telah benar-benar mengerahkan 
segala kemampuan dan daya upaya yang kita miliki. Dan ketika kita sudah 
mengerahkan seluruh kemampuan itu hingga titik paling akhir, barulah dia 
memberi tahu kita kuncinya. Dan kunci itu, sering berupa ’pengetahuan’ mengenai 
bagaimana membuka ruang tertutup dinding yang membatasi kita dengan 
keberhasilan. 
 
Adalah tugas malaikat untuk menjaga kunci-kunci itu. Dan adalah tugas kita 
untuk menunjukkan kesungguhan dan dedikasi agar dipercaya untuk mendapatkannya. 
Sehingga, ketika Sang Pembuat Keputusan mengetahui bahwa kita 
bersungguh-sungguh; Dia Yang Maha Sempurna kemudian bersabda kepada para 
malaikat;”Aku sudah melihat kesungguhannya. Maka bantulah dia, dan berikan 
kunci-kunci itu kepadanya.” 
Semoga.
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Learning Facilitator IFSHA Strategic
http://www.dadangkadarusman.com/  
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
 
Catatan Kaki: 
Mungkin yang sesungguhnya kita alami itu bukanlah kegagalan, melainkan 
bertambahnya pengetahuan; untuk menemukan kunci keberhasilan, atas apa yang 
kita cita-citakan.
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 
 
Jika Anda membutuhkan Artikel Gratis untuk  Mading kantor silakan 
hubungi kami japri dengan subjek “Artikel Mading” ke [email protected] 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke