Tulisan ini buah karya Erie Sudewo (Social Entrepreneur ) yang dimuat oleh
Repbulika Kamis, 6 November 2006
Potensi tak selalu konstruktif. Yang kerap luput destruktifnya. Sebagai
contoh, bandingkan zakat dengan sumber daya alam. Jika dibiarkan, sumber
daya alam cenderung aman terpendam. Sedang zakat yang tertahan di kocek
Muslim, langsung merusak kehidupan. Kerusakan pertama, hidup 'ingkar muzaki'
tak berkah. Zakat yang bukan haknya, melenyapkan barokah seluruh hartanya.
Kerusakana kedua, akibat tertahan fakir miskin yang harusnya tertolong,
malah makin melarat dilumat kemiskinan. Lantas kerusakan ketiga, harmoni
sosial seperti apa yang dipenuhi 'ingkar muzaki' dan 'mustahik penuh
dendam'. Bakalkah tergapai impian 'masyarakat Madani'?

Bicara potensi memang kerap menjebak. Celakanya justru kita termasuk bangsa
yang suka bicara potensi saja. Ibarat mimpi, potensi itu indah saat
terlelap. Usai siuman, kita kembali terjebak dalam rutinitas hidup. Lupa
untuk sungguh-sungguh berijtihad, bagaimana bisa mewujudkan sosok potensi.
Terus saja kita bicara potensi di berbagai forum seminar dan diskusi.
Kekayaan alam negara ini melimpah-ruah namun mengapa makin miskin. Negara
ini mayoritas dihuni Muslim, tapi mengapa zakat amat jauh dari harapan.

Potensi
Jumlah penduduk Indonesia 220 juta orang, yang 80 persen Muslim. Total
dibulatkan 180 juta jumlahnya. Jika separuh Muslim diasumsikan miskin,
berarti ada 90 juta yang kaya. Dari jumlah itu, berapa yang jadi muzaki?
Lalu berapa zakat yang tertunai? Saat ini ada tiga pendapat yang sering
diacu seputar potensi zakat. Pendapat pertama, saat menjabat Menteri Agama,
Said Agil Munawar menyatakan potensi zakat sekitar Rp 7 triliun per tahun.
Pendapat kedua, PIRAC yakin zakat mencapai Rp 9 triliun. Pendapat ketiga,
PBB UIN menegaskan per tahun zakat bisa terhimpun di angka Rp 19 triliun.

Dari ketiga pendapat itu, kalkulasinya masih sayup-sayup sampai. Kini kita
coba rinci. Jumlah 90 juta Muslim kaya adalah data perorangan. Data jiwa ini
harus dijadikan keluarga. Asumsikan dalam satu keluarga, diisi 3 anak dan
ibu bapak. Bagikan angka 90 juta jiwa dengan 5 anggota keluarga. Maka kini
ada 18 juta keluarga Muslim kaya di Indonesia. Dari jumlah itu, kita coba
kuak kekuatan zakatnya. Katakan ada tiga potensi, yang tergambar sebagai
potensi terburuk, potensi progresif dan potensi ideal.

Asumsi potensi terburuk, dilandaskan pada penunaian zakat sebesar Rp 50 ribu
per bulan. Itu 2,5 persen dari penghasilan muzaki yang Rp 2 juta per bulan.
Dengan jumlah 18 juta keluarga Muslim yang kaya, potensi terburuk mencatat
zakat terkecil sekitar Rp 90 miliar per bulan. Total setahun terhimpun Rp
1.08 triliun. Yang perlu digarisbawahi, jumlah ini hanya 10 persen dari 90
juta orang kaya Muslim. Selebihnya, yang 81 juta, merupakan 'Muslim kaya
yang belum mau jadi muzaki. Jika yang kaya mau berubah pikiran jadi muzaki,
per bulan bakal terhimpun zakat Rp 900 miliar. Setahun terhimpun Rp 10,8
triliun.

Potensi progresif didasarkan pada kewajiban zakat Rp 100 ribu per bulan.
Berarti penghasilan muzaki berkisar Rp 4 jutaan. Himpunan zakat terkecil
dari potensi ini mencapai Rp 180 miliar per bulan yang dengan jumlah muzaki
10 persen dari 90 juta Muslim. Total setahun Rp 2,16 triliun. Lantas, jika
81 juta Muslim kaya mau berderma Rp 100 ribu, per bulan zakatnya Rp 1.8
triliun. Setahun mencapai zakat Rp 21.6 triliun. Sebuah angka yang tak
pernah terbayangkan sebelumnya.

Landasan potensi ideal adalah zakat Rp 150 ribu per bulan. Ini angka wajib
bagi muzaki yang berpenghasilan Rp 6 jutaan. Dari 10 persen pembayarnya,
terkumpul Rp 270 miliar per bulan. Setahun tercapai angka Rp 3,24 triliun.
Lantas juga seperti di harapan sebelumnya, andai 81 juta Muslim kaya mau
bayar zakat, terhimpun angka Rp 2,7 triliun per bulan yang bakal
menggelembung jadi Rp 32,4 triliun per tahun. Allahu Akbar, Islam memang
telah menyiapkan solusi untuk penanggulangan kemiskinan.

Karakter Muslim
Mencermati potensi tersebut, bukan hanya harapan yang sontak berbunga-bunga.
Sulitnya hidup pun seolah pupus. Sementara faktanya? Dari rumor yang
berkembang, tahun 2005 katanya terhimpun zakat, infak, sedekah (ZIS) sebesar
Rp 400-an miliar. Entah dari mana angka ini lahir. Ada pula yang bilang,
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menyatakan zakat mencapai Rp 850 miliar.
Namun tak satupun personil BaznasS bisa menjelaskan 'info liar' itu.
Sementara Forum Zakat (FOZ) mencatat, total himpunan Badan Amil Zakat (BAZ)
dan Lembaga Amil Zakat (BAZ) Rp 250 miliar di periode 2005.

Dari info tersebut, harap-harap cemas pun menggayut. Yang dikhawatirkan
akhirnya memang mesti terjadi. Akurasi data FOZ, agaknya yang paling
mendekati kesahihan. Tak bisa tidak, data FOZ-lah yang mesti diacu. Maka
sungguh amat memilukan. Semua lembaga zakat di Indonesia tahun 2005, cuma
mampu menghimpun Rp 250 miliar. Rata-rata per bulan, hanya Rp 12.5 miliar.
Tragisnya lagi, jumlah tersebut juga sudah termasuk infak sedekah dan wakaf.

Jika dikupas lebih jauh, komposisi dana ini bisa jadi cermin karakter Muslim
Indonesia. Pertama, dari data yang ada, 80 persen lebih perolehan dana rutin
lembaga zakat berasal dari zakat. Kedua, infak sedekah lebih mudah
terhimpun, jika terjadi bencana alam. Namun penyumbang terbesar dana
kemanusiaan seperti ini, adalah berbagai perusahaan. Ketiga, yang
memperjelas karakter Muslim Indonesia, zakat yang dihimpun, separuhnya
terjadi di bulan Ramadhan.

Makna apa yang bisa disingkap dari kondisi ini? Pertama, jika zakat tak
wajib, berapa banyak Muslim yang mau jadi muzaki. Kedua, jika Ramadhan bukan
bulan penuh berkah, jangan-jangan yang sudah jadi muzaki pun setengah hati
berzakat. Ketiga, jika zakat tak wajib, berapa banyak lembaga zakat yang
bakal tumbang. Artinya lembaga zakat bisa eksis, kebanyaan memang bukan
karena kehebatan mengemas program. Sekali lagi, karena zakat itu wajib.

Keempat, karena program lembaga zakat cuma sekadar santunan, jangan-jangan
itu hanya mengambil alih peran muzaki. Yang tadinya langsung disalurkan oleh
muzaki, kini ditangani lembaga zakat. Patut dicatat, hanya menyalurkan. Maka
makna kelima, itulah yang terjadi. Minimnya dana infak sedekah, jadi bukti
betapa minim kreativitas lembaga zakat. Tak kreatifnya lembaga zakat juga
tampak dari pengelolaan wakaf. Berapa banyak lembaga zakat yang telah berani
terjun mengelola wakaf? Jika sudah, berapa yang sukses?

Sebagai pembanding, Save The Children, sebuah NGO yang terjun di Aceh,
membawa 150 juta dolar AS untuk lima tahun. Menurut Ismail Husaini, salah
seorang program director-nya, per tahun Save harus mengalokasikan 30 juta
dolar AS. Per bulan sekitar 2,5 juta dolar AS. Maka per hari, Save musti
menggelontorkan dana 83 ribu dolar AS, setara Rp 750 juta jika dikalikan Rp
9.000.

Siapa bisa jawab?
Entah bagaimana menjelaskan kesenjangan potensi dan kondisi riil zakat di
Indonesia. Angka ketiga potensi tersebut sungguh amat gagah. Hanya dengan Rp
150 ribu, total 18 juta orang kaya Muslim menyumbang Rp 2 triliun. Per bulan
Rp 150 ribu artinya identik dengan menyisihkan uang Rp 5.000 per hari. Bagi
orang kaya Muslim, angka itu tentu amat ringan.

Himpunan zakat juga makin fantastik jika muzaki berzakat di atas Rp 150 ribu
per bulan. Tapi seperti ditengarai di awal tulisan, potensi itu punya sisi
positif dan negatif yang sama kuatnya. Positifnya, makin tinggi angka zakat
makin memberi harapan. Negatifnya, kondisi sesungguhnya ternyata makin jauh.
Nah bukankah ini sebenarnya aib.

Sakit hati rasanya. Zakat yang Rp 250 miliar setahun, hanyalah seperempat
dari perolehan Rp 1 triliun. Angka Tp 1 triliun berada di peringkat terbawah
dari potensi terburuk. Lantas bagaimana menjelaskan angka yang hanya Rp 250
miliar setahun? Bukankah angka ini berada di bawah peringkat terbawah dari
potensi terburuk. Dan itulah wajah kita. Angka Rp 250 miliar yang terhimpun,
tidak masuk dalam daftar potensi terburuk. Lalu, di mana sesungguhnya posisi
Muslim kaya Indonesia?

Jika dana yang tak terhimpun itu memang langsung tersalur pada fakir miskin,
Allahu Akbar. Jika tidak, Astaghfirullah. Apakah Muslim kaya Indonesia
benar-benar merupakan kumpulan orang-orang kikir? Seorang pengusaha Cina
pernah berkata, "Jika orang Islam patuh mau bayar zakat, tak akan ada Muslim
miskin yang berkeliaran meminta-minta. " Siapa bisa jawab pertanyaan tersisa
ini?
Wassalam,
widyawati
markom manager
081536428788


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke