Hm...logika yang menarik. Kalo begitu jika saya nanti kena tilang dijalan, jadi saya "bayar" aja langsung ke polisi begitu yah. Toh kalau saya bayar lewat jalur resmi, kan buat pak polisi juga.
Jadi mendingan langsung bayar ke pak polisi yang nilang saya aja, kan itung2 "insentif" buat pak polisi juga gitu... From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of denta sugik Sent: Tuesday, June 16, 2009 2:26 PM To: [email protected] Subject: Re: TaManBinTaNG >>> Modus Pembuat Tekor Kereta Api Menyambung sedikit........ sebenarnya itu bukan kesalahan penumpang dan petugas, kalo dipikir jika kondisi kereta penuh misalkan saja kereta Binis ke solo dan ke jogja harga tiket 110 Rb, bagi mereka yg dapat tempat duduk tidak mengapa, tapi mereka yang tidak kebagian tempat duduk kankashinan sudah beli harga mahal tapi harus duduk di bawah dengan beralaskan koran dan desakdesakan lagi. Penumpang gelap itu sendiri saya pikir tidak juga merugikan KAI, kan kalopun beli tiket nantinya duitnya buat gaji pegawai juga kan. nah disini para penumpang malah bayar langsung kepada pegawai kereta dan memberikan insentif kepada petugas kereta. Kalo saya pikir wajar2 aja,,karena dimana 22 nya saling membantu...kalo dilihat dari hukum syah2 saja pemumpang tersebut juga bayar..... salam ________________________________ From: Reporter Milist <[email protected] <mailto:reportermilist%40gmail.com> > Sent: Friday, June 12, 2009 7:46:55 AM Subject: TaManBinTaNG >>> Modus Pembuat Tekor Kereta Api Modus Pembuat Tekor Kereta Api Sebut saja namanya Rusdi. Pegawai percetakan di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta, ini adalah pemakai setia jasa angkutan kereta api. Sejak 10 tahun lalu, pria 37 tahun ini rutin naik kereta api jurusan Jakarta-Semarang dua pekan sekali. Di "kota lunpia" itu, Rusdi melepas kangen pada anak dan istri tercinta. Guna memenuhi hasrat bertemu keluarga tercinta itu, Rusdi harus menyiapkan dana minimal Rp 200.000 untuk tiket kereta kelas bisnis pulang-pergi. Belum termasuk ongkos transpor menuju stasiun dan biaya lain-lain. Jadi, dalam sebulan, ia harus menyisihkan sedikitnya Rp 500.000 untuk ongkos ke Semarang. Dana sebanyak ini tentu saja tak sepadan dengan pendapatannya yang tidak menentu. Alhasil, Rusdi memilih naik kereta tanpa membeli karcis. ''Saya tak pernah beli tiket. Selalu membayar di atas kereta, cuma Rp 50.000 untuk kereta bisnis sekali jalan,'' ujar pria kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, itu. Seperti Rusdi, Dody juga "penggemar" layanan kereta api tanpa tiket. Mahasiswa perguruan tinggi negeri di Bandung ini tiap bulan naik kereta api Parahyangan pulang ke Jakarta. Menurut Dody, dia hanya perlu menyiapkan Rp 15.000 untuk "salam tempel" kepada kondektur kereta. Harga tiket kelas bisnis Parahyangan adalah Rp 25.000- Rp 30.000, tergantung hari keberangkatan. Lelaki berusia 22 tahun itu menuturkan, ada beberapa trik supaya lolos naik kereta tanpa tiket. Untuk menghindari pemeriksaan ketat petugas penjaga pintu (portir) Stasiun Kereta Api Bandung yang baru, Dody memilih masuk dari stasiun lama yang tak begitu ketat dijaga. ''Jika sedang ketat semua, beli saja tiket peron,'' tutur Dody, yang biasa naik kereta dengan jadwal keberangkatan pukul 08.45 WIB atau 12.45 WIB. Di atas kereta, ada tiga lokasi yang menjadi idola para penumpang tak bertiket, yaitu gerbong pertama, kereta makan, dan lokomotif. Menurut Dody, gerbong pertama kereta Parahyangan menuju Jakarta selalu kosong karena disediakan untuk penumpang yang naik dari Stasiun Cimahi. Ketika pemeriksaan tiket dimulai 15 menit setelah kereta berangkat, Dody langsung memberi salam tempel kepada kondektur. ''Habis itu, disuruh ke bordes dulu untuk antisipasi jika ada penumpang dari Cimahi yang naik. Bila tidak, ya, balik lagi,'' katanya. Pilihan lain adalah di ruang lokomotif bersama sang masinis. Meski tak nyaman, di sini terkadang tak perlu salam tempel, cukup memberi rokok. Malah tak jarang sang masinis menawarinya kopi. Seorang masinis di Stasiun Bandung, sebut saja Amar, mengakui bahwa banyak penumpang gelap di lokomotif, terutama selama musim Lebaran. Pada hari-hari biasa, jika dari Jakarta, para penumpang gelap umumnya naik dari Stasiun Jatinegara. ''Di Jatinegara kan banyak pintu masuk ilegalnya,'' kata Amar, yang tak pernah menarik setoran dari para penumpang gelap. Menurut Amar, penumpang gelap di lokomotif jarang yang berpenampilan perlente. ''Dari tampilannya saja sudah terlihat mereka /nggak/ mampu membeli tiket. Jadinya, kadang saya /nawari/ rokok dan kopi sekaligus menjadi teman /ngobrol/,'' ujarnya. Meski masinis jarang menarik setoran dari penumpang gelap, menurut Rusdi, semua petugas kereta api mendapat jatah pembagian dari hasil salam tempel. Sebab para penumpang gelap itu terorganisasi. ''Tiap satu kereta biasanya ada satu atau dua koordinator. Mereka mengumpulkan dan menyerahkan uangnya ke kondektur di ruang restorasi,'' tutur Rusdi, yang mengenal beberapa koordinator penumpang gelap kereta. Para penumpang gelap kereta ke berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur biasanya menempati gerbong terakhir. Jumlahnya sekitar 100 orang dalam satu kereta. Sang koordinator menarik ongkos sekitar 15 menit setelah kereta berjalan, dengan gaya khas: memegang lembaran uang di tangan kiri. Ongkosnya separo dari harga tiket resmi. Setelah itu, penumpang gelap bisa berpencar mencari gerbong yang lowong. Jika diperiksa kondektur, para penumpang ini biasanya hanya menyatakan, ''Rombongan, Pak.'' Kondektur akan menanyakan rombongan siapa dan mencatatnya untuk dicocokkan dengan jumlah setoran yang diterima dari koordinator. Anggota rombongan jarang sekali kena razia atau diturunkan dari kereta. Maklum, biasanya koordinator sudah mendapat informasi akurat dari petugas kereta api, kapan dan di mana akan dilakukan razia penumpang gelap. Untuk menyiasatinya, anggota naik dari stasiun kereta setelah razia dilakukan. Misalnya, untuk kereta Semarang ke Jakarta, mereka baru naik dari Stasiun Weleri. Menurut Rusdi, yang setahun belakangan memilih menjadi penumpang gelap bukan rombongan, uang yang dia berikan ke kondektur besarnya sama dengan setoran ke koordinator. Bedanya, ia memberikan dua kali sesuai dengan jumlah pemeriksaan. Pembayaran dilakukan di bordes agar tidak terlalu mencolok. *** Penumpang gelap memang menjadi masalah laten yang harus dihadapi PT Kereta Api (PT KA). Sepanjang tahun 2008, jumlah penumpang gelap itu mencapai 30 juta dari total penumpang 194,08 juta orang. Sebagian besar penumpang gelap ini berada di kereta api ekonomi dan komuter dalam kota (kereta rel listrik --KRL). Menurut perkiraan PT KA, mereka kehilangan pendapatan Rp 200 milyar akibat penumpang gelap itu. Tahun lalu, PT KA mencatat total pendapatan Rp 2,3 trilyun. ''Jika semua penumpang bayar tiket, mungkin /revenue/ PT KA bisa mencapai Rp 2,5 trilyun,'' ujar Kepala Hubungan Masyarakat PT KA, Adhi Suryatmini, di sela-sela peringatan Hari Buruh bersama Serikat Pekerja Kereta Api di Bandung. Direktur Komersial PT KA, Sulistyo Wimbo Hardjito, mengakui bahwa mengatasi masalah penumpang gelap tidak mudah dan tak bisa dilakukan hanya dalam waktu setahun. ''Dua atau tiga tahun belum cukup karena masalahnya kompleks,'' kata Wimbo, yang menerima laporan aneka modus penumpang gelap kereta api dari berbagai pihak. Menurut Wimbo, seluruh jajaran direksi PT KA yang baru dilantik pada akhir Februari lalu bertekad meningkatkan pendapatan PT KA dan menutup kebocoran semaksimal mungkin. Mereka melakukan serangkaian kebijakan untuk mempersempit ruang gerak para penumpang gelap dan petugas kereta api yang nakal. Mulai April, insentif perjalanan petugas kereta api dinaikkan 100%. Peningkatan ini diharapkan bisa mendorong petugas kereta api tak lagi menerima salam tempel. PT KA juga memperbanyak pemeriksaan serentak di seluruh jenis kereta, baik jarak jauh maupun komuter. Juga memberikan sanksi tegas kepada kondektur yang terbukti menerima salam tempel. ''Yang terbaru, ada satu kondektur di Cirebon yang di-/non-job/ -kan karena pelanggaran ini,'' kata Wimbo. Mereka juga mulai merenovasi dan mensterilkan stasiun-stasiun kereta sehingga nyaman, tidak semrawut, dan terpadu. Penataan ini mencakup sentralisasi pintu masuk sehingga menghambat akses masuk yang biasa digunakan penumpang tak berkarcis. Program ini dimulai dari 33 stasiun KRL di kawasan Jabodetabek. ''Akhir tahun ini, kami rencanakan sudah bisa menerapkan /e-ticketing/ untuk KRL. Harapannya, bisa mengurangi bahkan menghapus penumpang gelap,'' katanya. Kebijakan-kebijakan baru itu memang belum terbukti dapat menurunkan jumlah penumpang gelap. Namun setidaknya sudah membuat beberapa penumpang gelap KRL kapok. Pendi Suhanda, yang sejak tahun 2001 tak pernah membeli tiket jika naik KRL, mengaku kini lebih sering membeli tiket. ''Penjagaan di stasiun dan pemeriksaan di atas kereta sekarang ketat,'' tutur pria yang tinggal di Tebet, Jakarta Selatan, itu kepada Gandhi Achmad dari /Gatra/. Senada dengan Pendi, Aif Ramli, pedagang tahu di Stasiun Bogor, kini selalu membeli tiket setiap kali masuk stasiun. ''Saat ini juga sering diadakan penertiban pedagang asongan yang berjualan di atas kereta. Kita bisa ditangkap dan wajib bayar suplisi lima kali lipat tiket AC ekonomi, yang harganya Rp 5.500,'' kata Aif. *Astari Yanuarti, Syamsul Hidayat, dan Wisnu Wage Pamungkas (Bandung)* [*Ekonomi*, /Gatra/ Nomor 30 Beredar Kamis, 4 Juni 2009] http://gatra. com/artikel. php?id=127128 -- ************ ********* ********* ********* ****** Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya http://reportermili st.multiply. com/ ************ ********* ********* ********* ******* Reportermilist menerima penerbitan Iklan dengan tarif hanya Rp 20000/ 5 hari kerja terbit dalam setiap Email berita yang dikirim oleh reportermilist, bayangkan peluang murah dengan prospect yang besar, Berminat Hubungi Reportermilist@ gmail.com ============ ========= ======== (Iklan)Untuk Berita sekitar Banyumas Kunjungi situs www.Goleti.com ============ ========= ======== Search Engine Terpopuler Anak Bangsa http://djitu. com ============ ========= ======== revolusi produk skuter matik Suzuki "Skydrive" hubungi Dieler Suzuki terdekat http://suzuki. co.id/ ============ ========= ======= Space Iklan ============ ========= ======== [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
