Artikel: Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk    
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
”Enough is not enough when we can get more.” Mungkin anda pernah mendengar 
ungkapan itu. Cukup itu tidaklah cukup, jika kita bisa memperoleh lebih banyak 
lagi. Dalam konteks tidak cepat berpuas diri, kalimat itu sungguh sangat 
memotivasi. Karenanya, ketika kita berhasil meraih pencapaian hingga tahap 
tertentu, maka kita terus memacu diri. Namun, dalam konteks pengendalian hawa 
nafsu, kita perlu menggunakan sudut pandang yang berbeda sama sekali. Sebab, 
hawa nafsu yang tidak mengenal batas membentuk kita menjadi pribadi serakah 
(greedy), sehingga ’mengambil lebih banyak lagi’ menjadi dogma yang mesti kita 
patuhi. Sampai-sampai, kita tidak bisa membedakan antara semangat untuk terus 
mengeksplorasi kapasitas diri dengan keserakahan.
 
Dipenghujung musim hujan, para nyamuk menggeliat bangun. Sehingga, pada 
masa-masa awal musim kemarau seperti saat ini dirumah saya sudah mulai 
beterbangan mahluk haus darah itu. Jika sudah begitu, ketenangan malam-malam 
kami menjadi terusik. Kami sering dibuat tidak berdaya untuk menangkis 
serangan-serangan udara layaknya pesawat tempur canggih yang menggempur 
pemukiman penduduk yang tak berdaya. Hebatnya lagi, nyamuk jaman sekarang sudah 
semakin canggih melakukan manuver sehingga jangan harap bisa menepuknya ketika 
dia terbang. Bahkan, ketika dia menggigitpun tingkat kewaspadaannya tetap 
tinggi. Jadi, saat kita menepuk, dia cepat-cepat terbang lagi. Nyamuk lolos, 
malah paha kita yang terasa pedas karena terkena pukulan sendiri. 
 
Tapi, tentu Anda tahu bahwa ada ’saat dimana kita bisa menangkap’ nyamuk dengan 
amat sangat mudah. Yaitu, ketika nyamuk sedang kekenyangan. Ketika kenyang, 
nyamuk tidak bisa terbang. Boro-boro terbang, untuk sekedar bergerak saja sudah 
sulit. Sehingga, kita bisa menepuknya dengan teramat gampang. 
 
Setiap kali saya mendapati nyamuk kekenyangan seperti itu saya selalu memiliki 
dua perasaan yang bercampur baur. Pertama, perasaan puas, karena anda tahulah 
apa yang saya lakukan kepada nyamuk yang telah menyakiti anak-anak saya yang 
tengah tertidur pulas itu. Kedua perasaan miris. Miris? Iya. Karena saya 
melihat sifat nyamuk itu didalam diri saya. Setelah saya memikirkan 
dalam-dalam, ternyata bukan hanya nyamuk yang memiliki sifat serakah, tetapi 
juga manusia. Bahkan, mungkin manusia lebih serakah dari nyamuk. Nyamuk memang 
serakah. Tetapi, yang dia ambil hanya sebatas memenuhi isi perutnya. Tetapi, 
keberhasilan manusia untuk memenuhi seluruh rongga perutnya tidak akan pernah 
berhasil menghentikan hasratnya untuk ’mengambil lebih banyak’ lagi. Sebab, 
selain memiliki rongga perut untuk menyimpan, manusia juga memiliki bank, surat 
berharga, emas batangan, dan berbagai macam bentuk penyimpanan lainnya. Karena 
kapasitas tempat penyimpanan itu nyaris
 tidak terbatas, maka cocoklah dengan sifat rakus manusia yang tidak kenal 
batas ini.
 
Seandainya nyamuk itu tidak mengumbar nafsu serakahnya, misalnya dengan 
menghisap darah secukupnya saja, mungkin dia akan tetap bisa menyelamatkan 
diri. Tetapi, keserakahan telah menjadikan dirinya terlampau bernafsu untuk 
mengambil sebanyak-banyaknya sehingga perutnya kepenuhan. Dan karenanya dia 
menjadi tidak berdaya. Kita sudah melihat begitu banyak bukti bahwa 
manusia-manusia yang serakah seringkali pada akhirnya harus berhadapan dengan 
hukum, dan bermuara dibalik jeruji penjara. Jika pun mereka bisa meloloskan 
diri, mereka harus berpura-pura menjadi manusia terhormat, padahal namanya 
terpampang dalam DPO alias daftar pencarian orang dengan titel buronan. 
 
Sungguh beruntung bagi sang nyamuk. Sebab, dia hanya berurusan dengan dunia. 
Sedangkan manusia? Selain dunia, kita memiliki urusan dengan akhirat. Jika 
nyamuk serakah mati, maka mati pulalah semua ’dosa’ yang pernah diperbuatnya. 
Namun, jika manusia mati, maka abadilah ’semua amal perbuatannya’. Jika amal 
itu baik, maka kebaikan itu akan menjadi bekal kehidupan sesudah kematiannya. 
Namun, jika amal perbuatannya itu berupa keburukan; akan tetap menjadi beban 
bagi kehidupan keduanya kelak. Padahal, hidup kelak beda dengan hidup kini. 
Kini, uang bisa menjadi hakim pengganti hukum. Namun nanti, uang tidak bernilai 
lagi.
 
Tiba-tiba saja saya merasa beruntung karena ’tidak memiliki kesempatan’ untuk 
melampiaskan semua bentuk keserakahan itu. Saya bersyukur karenanya. Sebab, 
seandainya saja saya mendapatkan kesempatan itu; mungkin saya tidak akan mampu 
mengendalikan nafsu serakah ini. Tetapi, saya juga merasa miris lagi. Karena, 
meski tidak seserakah itu; saya masih memiliki bibit keserakahan dihati ini. 
Sehingga, kadang-kadang saya begitu egoisnya sampai berani mengabaikan 
kepentingan orang lain.  
 
Hari ini, saya belajar sesuatu dari sang nyamuk. Bahwa jikapun kita harus 
mengambil, maka kita hanya berhak mengambil sesuai dengan hak kita. Yaitu 
sejumlah kadar kepantasan tertentu. Jika kita mengambil melebihi tingkat 
kepantasan itu, maka kita telah berubah menjadi mahluk yang lebih rendah dari 
sang nyamuk. Sebab, keserakahan nyamuk dibatasi oleh ukuran perutnya. Sedangkan 
keserakahan kita, hanya dibatasi oleh kematian. Sifat serakah kita tidak mati 
sebelum kita sendiri yang mati. Sementara dalam serakahnya itu, sang nyamuk 
mati dalam seluruh kebaikan hidup. Sebab, ketika dia mati, dia datang menghadap 
Tuhan. Lalu dia katakan; ”Tuhan, saya sudah menunaikan tugas yang Engkau 
perintahkan.” Maka malaikat yang mendampinginya berkata;”Tuhanku, sesungguhnya 
kami menyaksikan hambamu ini menunaikan tugasnya seperti yang Engkau 
perintahkan....”
 
Lalu batin saya bertanya kepada sang malaikat. ”Wahai Malaikat suci, apakah 
sesungguhnya tugas yang Tuhan berikan kepada sang nyamuk itu?” Balas 
malaikat:”Tuhan menugaskan nyamuk untuk memberikan pelajaran kepada umat 
manusia, agar mereka menghindari sifat serakah dan berlebih-lebihan.....” Lalu 
pagi itu, saya terbangun dengan beberapa ekor nyamuk yang gemuk. Saya kesal 
karena dia telah mengambil darah dari tubuh ini. Namun, saya juga kagum 
kepadanya. Karena demi menjalankan perintah Tuhan, dia rela untuk mengorbankan 
dirinya. Sehingga para manusia, bisa menarik pelajaran penting darinya....
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence Learning Facilitator  
http://www.dadangkadarusman.com/  
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
 
Catatan Kaki: 
Memberi adalah membuka kesempatan bagi orang lain untuk menerima. Sedangkan 
menerima adalah membuka kesempatan bagi orang lain untuk memberi. Karenanya, 
kesediaan untuk memberi dan menerima menghindarkan kita dari keserakahan.  
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 
 
Kami akan mengundi 4 perusahaan untuk mendapatkan In-house GRATIS Workshop 4 
jam bertema ”Never Give Up, Never Surrender” untuk para karyawannya. Perlu 
diketahui bahwa program ini BUKAN preview untuk menarik minat peserta mengikuti 
program lanjutan. Ini adalah program yang dirancang khusus berdurasi ½ hari. 
Jika perusahaan Anda ingin mengikuti undian Workshop Gratis ini, silakan 
mendaftar/hubungi kami dengan subjek “Workshop Gratis” ke 
[email protected].  Penawaran gratis ini hanya untuk pelaksanaan di 
Jakarta, dan dijadwalkan pada bulan Agustus 2009. Pengumuman perusahaan hasil 
undian dilakukan pada  minggu ke-2 bulan July.


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke