Salam,
Memang benar demikian adanya.
Sesuai dengan agama dengan sumber yang sama  yaitu nabi dan malaikat Yahudi, 
seperti Abraham,Moses, Noach dan Gibrail dsb, yang berdasarkan doktrin 
keselamatan  dari derivatnya, semua manusia di dunia harus masuk  dua agama 
yang berasal dari Timur Tengah.
Dengan demikian maka sangat dipermudah .Cukup dengan menyebutkan dua kalimat 
syahadat saja guna dapat mencapai tujuan tersebut dan mencapai mayoritas.
Wasalam,
Wal Suparmo
--- Pada Sab, 11/7/09, Mujiarto Karuk <[email protected]> menulis:

Dari: Mujiarto Karuk <[email protected]>
Judul: -:: Milist NB::- Islam mempunyai karakter sebagai agama yang penuh 
kemudahan
Kepada: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected]
Cc: [email protected]
Tanggal: Sabtu, 11 Juli, 2009, 2:49 AM











    
            
            


      
      Islam mempunyai karakter sebagai agama yang penuh kemudahan seperti telah 
ditegaskan langsung oleh Allah Swt. dalam firmanNya:
 
وماجعل عليكم في الدين من حرج     
        
    “…dan Dia tidak menjadikan kesukaran dalam agama atas diri kalian.” 
 
 
Sementara dalam sebuah haditsnya, Nabi Saw. pun bersabda: 
 
إن الله لم يبعثني معنتا ولامتعنتا ولكن بعثني معلما ميسرا 
 
“Sesungguhnya Allah Swt. tidak mengutusku untuk mempersulit atau memperberat, 
melainkan sebagai seorang pengajar yang memudahkan.” (HR. Muslim, dari ‘Aisyah 
ra.) 
 
Visi Islam sebagai agama yang mudah di atas termanifestasi secara total dalam 
setiap syari’atnya. Sampai-sampai, Imam Ibn Qayyim menyatakan, “Hakikat ajaran 
Islam semuanya mengandung rahmah dan hikmah. Kalau ada yang keluar dari makna 
rahmah menjadi kekerasan, atau keluar dari makna hikmah menjadi kesia-siaan, 
berarti itu bukan termasuk ajaran Islam. Kalaupun dimasukkan oleh sebagian 
orang, maka itu adalah kesalahkaprahan.” 
   
             Ada beberapa prinsip yang secara kuat mencerminkan betapa Islam 
merupakan agama yang mudah. Yaitu di antaranya:  
            
Pertama, menjalankan syari’at Islam boleh secara gradual (bertahap). Dalam hal 
ini, seorang muslim tidak serta-merta diharuskan menjalankan kewajiban agama 
dan amalan-amalan sunnah secara serentak. Ada tahapan yang mesti dilalui: 
mulanya kita hanya diperintahkan untuk melak sana kan kewajiban-kewajiban pokok 
agama. Setelah yang pokok-pokok berhasil dilakukan dengan baik dan rapi, kalau 
punya kekuatan dan kesempatan, maka dianjurkan untuk menambah dengan 
amalan-amalan sunnah.
 
Izin untuk mengamalkan syari’at Islam secara bertahap ini telah dicontohkan 
oleh RasululLah Saw. sendiri. Suatu hari, seorang Arab Badui yang belum lama 
masuk Islam datang kepada RasululLah Saw. Ia dengan terus-terang meminta izin 
untuk sementara menjalankan kewajiban-kewajiban Islam yang pokok saja, tidak 
lebih dan tidak kurang. Beberapa Sahabat Nabi menunjukkan kekurang-senanganny a 
karena menilai si Badui enggan mengamalkan yang sunnah. Tapi dengan tersenyum, 
Nabi Saw. mengiyakan permintaan orang Badui tersebut. Bahkan beliau bersabda: 
“Dia akan masuk surga kalau memang benar apa yang dikatakannya.”   
   
Kedua, adanya anjuran untuk memanfaatkan aspek rukhshah (keringanan dalam 
praktek beragama). Aspek Rukhshah ini terdapat dalam semua praktek ibadah, 
khususnya bagi mereka yang lemah kondisi tubuhnya atau berada dalam situasi 
yang tidak leluasa. Bagi yang tidak kuat shalat berdiri, dianjurkan untuk 
shalat sambil duduk. Dan bagi yang tidak kuat sambil duduk, dianjurkan untuk 
shalat rebahan. Begitu pula, bagi yang tidak kuat berpuasa karena berada dalam 
perjalanan, maka diajurkan untuk berbuka dan mengganti puasanya di hari-hari 
yang lain.
 
            Dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt. berfirman: 
 
إن الله يحب أن تؤتي رخصه كما يكره أن تؤتي معصيته 
 
“Sesungguhnya Allah suka kalau keringanan-keringan anNya dimanfaatkan, 
sebagaimana Dia benci kalau kemaksiatan terhadap perintah-perintahNy a 
dilakukan.” (HR. Ahmad, dari Ibn ‘Umar ra.)
 
Dalam sebuah perjalanan jauh, RasululLah Saw. pernah melihat seorang Sahabatnya 
tampak lesu, lemah, dan terlihat berat. Beliau langsung bertanya apa sebabnya. 
Para Sahabat yang lain menjawab bahwa orang itu sedang berpuasa. Maka 
RasululLah Saw. langsung menegaskan: “Bukanlah termasuk kebajikan untuk 
berpuasa di dalam perjalanan (yang jauh).” (HR. Ibn Hibbân, dari Jâbir bin 
‘AbdilLâh ra.)   
 
            Ketiga, Islam tidak mendukung praktek beragama yang menyulitkan. 
Disebutkan dalam sebuah riwayat, ketika sedang menjalankan ibadah haji, 
RasululLâh Saw. memperhatikan ada Sahabat beliau yang terlihat sangat capek, 
lemah dan menderita. Maka beliau pun bertanya apa sebabnya. Ternyata, menurut 
cerita para sahabat yang lain, orang tersebut bernadzar akan naik haji dengan 
berjalan kaki dari Madinah ke Mekkah. Maka RasululLâh Saw. langsung 
memberitahukan, “Sesunguhnya Allah tidak membutuhkan tindakan penyiksaan diri 
sendiri, seperti yang dilakukan oleh orang itu.” (HR. Bukhâri dan Muslim, dari 
Anas ra.) 
   
            Demikianlah, Islam sebagai agama yang rahmatan lil’ ‘alamin secara 
kuat mencerminkan aspek hikmah dan kemudahan dalam ajaran-ajarannya. Dan kita 
sebagai kaum muslimin, telah dipilih oleh Allah Swt. untuk menikmati 
kemudahan-kemudahan tersebut. Diceritakan oleh ‘Aisyah ra. bahwa RasululLâh 
Saw. sendiri dalam kesehariaannya, ketika harus menentukan antara dua hal, 
beliau selalu memilih salah satunya yang lebih mudah, selama tidak termasuk 
dalam dosa. (HR. Bukhâri dan Muslim)
 
Akan tetapi, kemudahan dalam Islam bukan berarti media untuk meremehkan dan 
melalaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan. Rukhshah tidak untuk 
dijadikan apologi, keringanan-keringan an dari Allah bagi kita jangan sampai 
membuat kita justru menjadi jauh dariNya. Karakter Islam sebagai agama yang 
mudah merupakan manifestasi nyata bahwa ajaran Islam bukanlah sekumpulan 
larangan yang intimidatif, melainkan ajaran yang mewedarkan kasih-sayang. 
Sehingga dengan demikian, ketika kita menjalankan ajaran-ajaran Islam, 
motivasinya bukan karena kita takut kepada Allah Swt., tapi lebih karena kita 
rindu dan ingin lebih dekat denganNya. Bukan karena kita ngeri akan nerakaNya, 
namun lebih karena kita ingin bersimpuh di haribaanNya –di dalam surga yang 
abadi.   
  Ustadz Abdullah Hakam Shah, Lc



      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      &quot;Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang! 
http://id.mail.yahoo.com&quot;

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke