Pencarian Identitas Imigran di Amerika

Jika Anda tengah patah hati, agaknya novel ini layak menjadi teman. Betapa 
tidak, novel ini, The Rug Merchant (Pedagang Permadani), juga mengisahkan patah 
hati Ushman Khan, sang tokoh utama, seorang pedagang permadani Iran yang 
beremigrasi ke Amerika atas cinta sejatinya.

Diceritakan Ushman beremigrasi ke Amerika demi kehidupan yang lebih baik bagi 
dirinya dan istrinya, Farak. Ushman selalu memimpikan suatu saat dapat membawa 
istrinya ke New York, meninggalkan Tabriz. Kebahagiaan Faraklah satu-satunya 
tujuan ia berkelana sejauh itu. Bayangannya akan Faraklah yang membuatnya 
bertahan menahan keras dan sepinya sendirian di negeri orang.

Apa mau dikata, Farak pujaan hatinya ternyata mengkhianatinya. Ia mengandung 
janin laki-laki lain setelah ditinggalkan suaminya merantau. Ushman sangat 
berharap janin itu tidak akan selamat, seperti lima janin lain darinya yang 
pernah dikandung Farak sebelumnya, yang selalu mengalami keguguran. Namun, 
takdir berkata lain, janin yang ini justru bertahan.

Kejadian ini ternyata tidak mampu menghapus cinta Ushman begitu saja. Ushman 
mau menerima keadaan itu dan masih meminta istrinya bergabung dengannya di 
Amerika. Ia berjanji akan merawat bayi itu seperti anaknya sendiri. Ushman tak 
pernah bisa membayangkan hidup tanpa istri.

Tapi istrinya menolak karena ia telah mengajukan perceraian dan akan hidup 
dengan ayah bayi itu di Istanbul. Ini membuat Ushman mengerti pada akhirnya, 
bahwa keengganan istrinya bergabung dengannya selama ini bukanlah karena tidak 
yakin Amerika akan cocok untuknya, tapi karena ia tidak yakin telah mencintai 
Ushman.

Cinta sejati sepertinya memang tak bisa dimusnahkan begitu saja, apa pun yang 
terjadi, karena jauh setelah kejadian itu, Ushman masih sering bolak-balik ke 
bandara, mengkhayalkan akan menemukan istrinya di antara para penumpang yang 
turun dari pesawat. Di bandara inilah --saat kesepian tak tertahankan-- Ushman 
bertemu Stella, gadis Amerika yang berusia separo usianya. Stella dengan jiwa 
mudanya mengingatkan Ushman akan keceriaan yang tak lagi dimilikinya. 
Stella-lah kemudian yang membuatnya sadar bahwa memaafkan --di samping 
pengorbanan-- adalah juga bagian yang tak terpisahkan dari cinta. Ushman pada 
akhirnya dapat berdamai dengan cinta yang tak pernah bisa digapainya.

Melalui novel yang segera akan difilmkan oleh Fox Searchlight Pictures, 
produser Slumdog Millionaire, ini sang penulis dengan fasih menuturkan 
lika-liku hidup imigran di Amerika. Tentang gegar budaya (culture shock) yang 
hampir selalu dialami mereka yang menjejakkan kakinya di negara yang mereka 
percayai sebagai ''tanah harapan'' yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik 
ini.

Meg Mullins, penulis jebolan Universitas Columbia ini, menggambarkan dengan 
lugas inferioritas dan kecanggungan yang kerap dirasakan para imigran di 
Amerika yang tak jarang menganggap diri mereka adalah warga negara kelas dua di 
negara adikuasa itu.

Perbenturan antara budaya konvensional serta restriktif khas Timur Tengah, 
khususnya Persia, tentang relasi antarinsan dengan budaya bebas, ekspresif, dan 
spontan gaya Amerika ditampilkan dengan menawan dalam novel ini. Riset penulis 
mengenai corak serta seluk-beluk sejarah permadani --background novel ini-- 
yang menjadi salah satu kekayaan dan kebanggaan Persia juga patut diacungi 
jempol.

Namun sayangnya, seperti novel-novel serupa, sebutlah The Kite Runner atau A 
Thousand Splendid Suns, novel ini juga menceritakan hanya sisi-sisi gelap serta 
sikap hipokrit (baca: munafik) sebagian budaya dan penduduk muslim Timur 
Tengah. Novel ini, misalnya, seperti juga dua novel yang tadi disebut, 
menceritakan bahwa perselingkuhan dan perzinahan toh ternyata juga bisa terjadi 
di negara yang memberlakukan hukum Islam dalam pemerintahannya.

Ini mungkin sah-sah saja dan tidak akan dianggap berpihak pada budaya Barat 
yang diklaim superior jika saja juga dibarengi dengan penggambaran mengenai 
sisi-sisi positif budaya serta perilaku muslim di negara-negara Islam seperti 
halnya Iran dalam novel ini atau Afghanistan dalam dua novel lainnya tadi. Tapi 
absennya hal ini dalam novel-novel tersebut bisa menjadi pembenaran anggapan 
sementara kalangan yang menuduh bahwa novel-novel semacam ini adalah alat 
propaganda untuk menyudutkan Islam dan mengagungkan budaya Barat.

Bagaimana pun, jika kita bisa mengesampingkan segala macam prasangka serta 
mampu melihat dari sudut pandang yang netral dan jernih, novel ini tetap layak 
dibaca karena mengingatkan kita untuk mengakui kelemahan-kelemahan dan 
sifat-sifat manusiawi kita. (*)

*) Eka Kurnia Hikmat, alumnus Fakultas Psikologi Unpad. Bekerja di Sekolah 
Cikal, Jakarta Selatan

Judul Buku : The Rug Merchant, Pedagang Permadani
Penulis : Meg Mullins
Penerbit : Bentang Jogja
Cetakan : I, Mei 2009
Tebal : viii + 314 halaman

sumber: http://www.jawapos.com/mingguan/index.php?act=detail&nid=79835

--------------------------  PT BENTANG PUSTAKA 
Jl. Pandega Padma No. 19 
Yogyakarta 55284 
Indonesia   Phone 62-274-517373 
Fax 62-274-541441
www.mizan.com
  www.klub-sastra-bentang.blogspot.com  www.cpublishing.blogspot.comĀ   
--------------------------


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke