Artikel: Mengapa Banyak Ilmu Kita Yang Menghilang?
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Jika anda termasuk orang yang suka mengumpulkan sertifikat dan ijasah, sekali
waktu coba perhatikan berapa banyak jumlah sertifikat yang anda miliki itu.
Kemudian, perhatikan kembali sertifikat itu satu demi satu, sambil mengingat
kembali event apa yang anda ikuti sehingga anda berhak mendapatkan
sertifikatnya. Selanjutnya, coba ingat-ingat kembali; topik, ilmu atau
keterampilan apa yang anda pelajari dalam event itu. Lalu, tanyakan kepada diri
sendiri; berapa banyak ilmu atau keterampilan itu yang masih anda miliki hingga
saat ini? Jika anda masih mengingat keseluruhan ilmu yang diwakili oleh
sertifikat itu, anda termasuk orang istimewa. Sebab, kebanyakan orang hanya
memiliki sertifikatnya saja, namun sudah tidak lagi memiliki ilmunya. Mengapa
bisa demikian?
Di komplek perumahan yang saya tinggali terdapat beberapa unit rumah kosong.
Kata orang, rumah-rumah tersebut sudah belasan tahun tidak ditinggali. Dulu,
rumah-rumah itu tampak cantik dan tertata rapi. Namun setelah ditinggalkan,
debu-debu yang dibiarkan lama kelamaan menyebabkan menempelnya segala kotoran.
Lantas, hujan dan panas yang datang silih berganti menyebabkan kayu-kayu rumah
itu menjadi lapuk. Sekarang, bahkan atapnya nyaris ambruk. Semua jendelanya
hancur, pintu dan kusen-kusen tak lagi berujud. Beda sekali dengan rumah-rumah
lain disekitarnya yang terus dihuni. Meskipun umurnya sama tak muda, namun,
rumah-rumah berpenghuni tampak tetap indah tak kurang suatu apapun.
Saya menjadi teringat akan frase ’use it, or loose it’. Rumah kita akan lebih
cepat hancur jika tidak digunakan. Hey, bukankah pepatah itu biasa kita gunakan
untuk otak kita? The brain; use it, or loose it. Kita hanya memiliki dua opsi
atas otak kita; (1) Menggunakannya, atau (2) Kehilangannya. Memang, kita tidak
secara signifikan kehilangan ukuran fisik otak, namun mungkin kita kehilangan
’isinya’. Ukuran otak kita boleh saja besar. Dan kedalam otak yang besar itu
boleh saja kita sudah memasukkan segala macam ilmu dan pengetahuan. Dan sebagai
bukti bahwa kita pernah memasukkan banyak hal kedalam otak itu, kita memiliki
sertifikatnya. Namun, ketika segala sesuatu yang sudah kita masukkan kedalam
otak itu terlalu lama tidak digunakan, mungkin akan lenyap juga.
Sekarang, mari kita bahas 3 kemiripan rumah kosong tadi dengan ilmu pengetahuan
kita. Pertama, sertifikat diklat identik dengan sertifikat kepemilikan
properti. Kedua, tanah tempat rumah itu dibangun identik dengan otak tempat
kita menyimpan ilmu pengetahuan. Ketiga, rumah yang dibangun ditanah itu
identik dengan ilmu yang disimpan dalam otak kita.
Meskipun rumah itu tidak digunakan, sang pemilik rumah tidak serta merta
kehilangan sertifikatnya. Dia tetap memiliki sertifikat itu. Sama dengan kita.
Meskipun kita tidak menggunakan ilmu pengetahuan itu, namun kita masih memiliki
sertifikatnya. Ukuran tanah rumah-rumah itu tidak berkurang. Mungkin ukuran
otak kita juga tidak berkurang. Namun, rumah yang dibiarkan kosong itu kini
nyaris tidak berbentuk lagi, hingga lebih cocok disebut ’reruntuhan’. Boleh
jadi, ilmu pengetahuan kita yang bersertifikat itu pun kini tinggal
’reruntuhan’ karena sudah terlalu lama tidak digunakan.
Bayangkan jika sang pemilik rumah kosong tadi membeli properti dimana-mana.
Mengumpulkan sertifikatnya. Lalu membiarkan semua properti yang sudah dibelinya
tidak digunakan. Sekarang, bayangkan perusahaan memiliki komitment untuk
mengirim kita mengikuti diklat ini dan itu, hingga mendapatkan banyak
sertifikat. Namun, kita seperti sang pemilik rumah yang tidak menggunakan
rumah-rumah yang telah dibelinya tadi. Boleh jadi, itulah sebabnya; mengapa
banyak ilmu kita yang menghilang. Meskipun kita masih menyimpan sertifikatnya
dalam map dan figura-figura yang indah; namun. Kita sudah tidak lagi memiliki
ilmunya.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator
http://www.dadangkadarusman.com/
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
Catatan Kaki:
Uang dan waktu yang sudah kita investasikan untuk berbagai program pelatihan
sering menguap begitu saja kerena kita tidak berhasil mempertahankan ilmu yang
kita dapatkan melalui penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo
atau gmail) lalu kirim ke [email protected]
[Non-text portions of this message have been removed]