Di Indonesia, organisasi seperti Darul Islam dan Negara Islam Indonesia
(DI/NII) telah mewariskan keturunan baik ideologis ataupun biologis terhadap
pelaku-pelaku teror saat ini. Secara resmi, organisasi DI/NII sudah lama tamat.
Namun para pelaku teror di Indonesia dari tahun 2000 tidak bisa dilepaskan dari
lingkaran organisasi ini, misalnya Fathurrahman Ghozi dan saudaranya Jabir
alias Gempur adalah putra dari M. Zainuri, tokoh Komando Jihad asal Jawa Timur
yang ditangkap pada zaman Ali Moertopo. Abu Durjana alias Aenul Bahri adalah
murid tokoh DI, Ustadz Dadang Hafidz. Pun Abdullah Sungkar dan Abu Bakar
Baasyir yang berasal dari lingkaran DI/NII. Lingkaran yang dimaksud adalah
organisasi: keluarga besar DI/NII, dan ideologi: mendirikan sebuah negara Islam
atau menegakkan syariat Islam di Indonesia.
ketokohan Noordin sebagai gembong teror sebenarnya tidak terlepas dari geliat
gerakan Negara Islam Indonesia (NII), yang juga populer dengan sebutan DI/TII
(Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Gerakan ini diproklamirkan oleh Sang
Imam: Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (SMK).
Seiring dengan penangkapan SMK pada tahun 1962 melalui sebuah operasi “Pagar
Betis” yang cukup legendaris di kalangan aktivis NII, gerakan NII mulai
terpecah menjadi beberapa faksi–meski ada yang bilang sebenarnya faksi itu
hanya merepresentasikan basis wilayah gerakan saja.
Nah, di era tahun 1970-an dan 1980-an, muncul beberapa nama tokoh NII lanjutan,
seperti Adah Djaelani (Mamak), Abu Darda, Rahmat Tahmid Basuki (keduanya putra
SMK), dan Ajengan Masduki yang berbasis di Priangan. Sementara di Jawa Tengah,
muncul nama Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir. Menurut kalangan dalam NII,
Abdullah Sungkar ketika itu adalah Amir NII Wilayah III Jateng, sedangkan Abu
Bakar Baasyir adalah figur kepercayaan Abdullah Sungkar. Menurut kalangan
dalam, baik Sungkar maupun Baasyir berbaiat kepada H. Ismail Pranoto (Hispran)
pada tahun 1976–meskipun kemudian hal itu dibantah dalam pleidoi mereka.
Sungkar dan Baasyir pun kemudian bahu membahu dengan para tokoh DI lain,
seperti Danu Muhammad Hassan, Aceng Kurnia, Adah Jaelani, dan Gaos Taufik.
Sebagai catatan, Danu Muhammad Hassan adalah ayah dari Ketua Majelis Syuro PKS,
Hilmi Aminuddin. Ketika para tokoh DI ini dituduh melakukan beberapa aksi
teror, seperti pemboman Gereja Methodis di Medan, pemerintahan Soeharto mulai
mengambil tindakan represif. Lebih dari 700 anggota dan tokoh DI di Sumatera
Utara, Palembang, Lampung, Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur ditangkap. Mereka
yang ditangkap di antaranya Haji Ismail Pranoto (Hispran), Gaos Taufik, Danu
Muhammad Hassan, Muhammad Darda, Timsar Zubil dll. Mereka dituding terlibat
gerakan Komando Jihad yang bercita-cita mendirikan NII.
Basis gerakan DI pindah ke Jawa Tengah terutama Solo dan Yogyakarta. Aparat
keamanan belum mengendus keterlibatan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir
dalam gerakan Darul Islam. Abdullah Sungkar masih aktif berceramah, sementara
Abu Bakar Ba’asyir lebih aktif mengurus pesantren. Ceramah-ceramah Sungkar
dikenal keras. Salah satu tema paling ia sukai soal aqidah. Konsep aqidah
Abdullah Sungkar sangat dipengaruhi pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri
gerakan Wahabi.
Kecenderungan Wahabiyah yang dikembangkan Sungkar ini memang agak lari dari
asal-usul DI itu sendiri, yang justru sama sekali tidak mengarah pada semangat
Wahabi.
Pertengahan dekade 1980-an, ketika Borobudur jadi sasaran bom, militer semakin
represif, Abdullah Sungkar dan Baasyir pun lari ke Johor, untuk kemudian ke
Selangor. Nah, setelah beberapa tahun berdakwah di Malaysia, duo kiyai pentolan
dari Ngruki ini kemudian mendirikan Jemaah Islamiyah (JI).. Sebelumnya,
beberapa kader DII atau NII telah lebih dulu bermukim di Malaysia. Salah
satunya, Abdussalam Rasyidi, yang kini lebih dikenal sebagai Syaykh A.S. Panji
Gumilang, pimpinan NII faksi Al-Zaytun–pengelola Universitas Al-Zaytun dan
Ma’had Al-Zaytun di Indramayu. Konon, menurut desas-desus di kelompok DI Zaytun
ini, Abdussalam punya andil dalam pelarian Sungkar dan Baasyir. Memang,
Abdussalam kemudian lebih banyak bermukim di Sabah (Malaysia Timur), sedangkan
duo Ngruki kemudian bermukim di Negeri Sembilan (Malaysia Barat).
Di Malaysia, dakwah Sungkar dan Baasyir berjalan mulus. Mereka mulai melakukan
perekrutan anggota DI. Beberapa nama yang berhasil berbaiat di hadapan Sungkar
dan Baasyir yakni: Hambali, Ali Ghufron, dan Imam Samudera. Di Malaysia,
Sungkar bertemu dengan Syaykh Rasul Sayyaf, salah seorang pimpinan Mujahidin
Afganistan. Dalam pertemuan itu tercapai kesepakatan kerjasama antara kelompok
Syaikh Rasul Sayyaf dengan DI pimpinan Sungkar dalam bentuk pelatihan militer
di Afganistan bagi para kader DI. Beberapa kader pun dikirim ke Afghan,
termasuk Hambali, Ali Ghufron, dan Imam Samudera.
Sayang, hubungan Sungkar-Baasyir dan tokoh-tokoh DI di tanah air merenggang.
Itu karena duet Sungkar-Baasyir dianggap lalai berkoordinasi dengan Amir NII di
tanah air, termasuk dalam pengiriman para kader DI ke Afghan.
Singkat cerita, Sungkar-Baasyir mendirikan Jamaah Islamiyah (JI). Keputusan itu
sungguh masuk akal karena nama JI jauh lebih universal ketimbang NII, yang
sangat Indonesia sentris. Langkah semacam ini juga diikuti oleh NII faksi
Al-Zaytun yang memodifikasi sebutan NII di Malaysia menjadi DIN (Daulah
Islamiyah Nusantara).
Johor Baru adalah salah satu basis JI pimpinan duet Sungkar-Baasyir. almarhum
Dr. Azhari dan Noordin M. Top adalah murid-murid Sungkar-Baasyir. Dari beberapa
informasi kalangan dalam, keduanya sudah bergabung dan berbaiat sejak gerakan
Sungkar-Baasyir masih bernama DI/TII atau NII.
Melompat jauh ke depan, pada 1998, Noordin menjadi Kepala Sekolah Madrasah
Luqmanul Hakiem, salah satu madrasah di Johor Baru yang dibidani kelahirannya
oleh Abu Bakar Baasyir, yang menjadi pimpinan tertinggi JI menggantikan
Abdullah Sungkar yang sudah mangkat. Ketika, pemerintah Malaysia mulai
mengendus aroma tak sedap kelompok pimpinan Baasyir itu, seluruh pesantren yang
dicurigai memiliki hubungan dengan Baasyir pun ditutup. Ketika itu, mereka
disebut sebagai KMM alias Kelompok Militan Malaysia. Baasyir cs, termasuk
Noordin M. Top, pun pindah ke Indonesia–kembali ke asal pergerakan JI bermula
ketika dahulu masih bernama DI/TII. Dalam pelariannya itu, Noordin memboyong
istri dan ketiga anaknya ke kampung isterinya di Desa Pendekar Bahar, Bangko,
Rokan Hilir, Riau. Letak Rokan Hilir memang berbatasan langsung dengan Malaysia.
Seperti sumbu ketemu tutup, di Indonesia para aktivis JI itu kembali bersinergi
dengan para aktivis DI, yang sejatinya merupakan kakak tua secara ideologis.
Menurut beberapa mantan aktivis JI di Jawa Tengah, pola tilawah (aktivitas
perekrutan) JI 90% serupa dengan pola tilawah di DI. Di antara 10% yang berbeda
adalah doktrin JI sudah diwarnai dengan semangat Wahabi. Berbeda dengan doktrin
DI yang jelas-jelas tidak mengidentifikasi diri sebagai Wahabi. Hal ini menjadi
penjelasan logis, mengapa para istri aktivis JI memakai cadar. Tak seperti
aktivis DI yang tidak menganjurkan cadar bagi jamaah perempuan DI.
Sementara itu, ketika sang guru (Baasyir) mulai memerankan pola perlawanan
politik yang lebih lunak–di antaranya dengan mendirikan Majelis Mujahidin
Indonesia, anak-anak JI lulusan Afghan mulai gerah. Bahkan, ketika perang
saudara di Poso dan Ambon meletus, tersiar kabar bahwa anak-anak JI lulusan
Afghan kemudian lebih memilih bergabung dengan para sejawat DI lulusan Afghan
untuk bertempur di dua daerah konflik tersebut.
Ketika dua perang lokal itu berakhir, mereka seolah kehilangan medan jihad.
Wajar jika mereka kemudian mencari medan jihad baru. Nah, ketika itulah,
Hambali berhasil memfasilitasi kerinduan mereka untuk berjihad. Apalagi, ketika
itu Hambali telah menjelma menjadi salah satu tokoh Al-Qaeda di Asia Tenggara.
Sejak itu, berhembus kabar bahwa JI pecah. Satu kelompok tetap setia pada JI
pimpinan Baasyir yang lebih moderat, sedangkan satu kelompok lagi JI yang
didukung Hambali yang lebih memiliki karakter kelompok paramiliter.. Kelompok
kedua inilah, yang kemudian berkembang menjadi kelompok yang kini dibesarkan
oleh Noordin M. Top cs.
Dari latar belakang itu, ada beberapa simpul yang bisa menjelaskan mengapa
Noordin tidak menebar teror di negerinya: Malaysia.
Pertama, basis ideologi JI adalah Indonesia karena JI lahir dari gerakan DI/TII
atau NII.
Kedua, karena alasan pertama itu, Noordin lebih mudah mendapat dukungan
ideologis dari para aktivis JI maupun DI di Indonesia. Memang, tidak semua
aktivis DI sepakat dengan cara-cara Noordin. Bahkan, Baasyir yang merupakan
guru sekaligus mentor, pun tak sepakat dengan teror ala Noordin. Apalagi di
Malaysia, jamaah DI maupun JI sudah semakin terdesak, yang pada akhirnya
membuat ke-DI-an dan ke-JI-an mereka semakin memudar.
Ketiga, jauh lebih mudah bagi Noordin untuk merekrut anggota baru di Indonesia
ketimbang di Malaysia. Karakter orang Indonesia jauh lebih mudah dikader untuk
menjadi militan ketimbang orang Malaysia.
Keempat, dalam doktrin DI–organisasi militan pertama yang dikenal
Noordin–Indonesia diyakini sebagai pusat dakwah dan kebangkitan Islam dengan
sebutan Madinah Indonesia. Karena itu, Indonesia memiliki kedudukan istimewa
dalam hati Noordin. Bahkan, bisa jadi Noordin merasa lebih nyaman menjadi JI
yang Indonesianis ketimbang sebagai JI yang Malaysianis.
Saya tak ingin menggunakan DI/NII ini sebagai stigmatisasi, ataupun menafikan
banyaknya mantan tokoh dan keturunan organisasi ini yang tidak ada kaitannya
lagi dengan aksi-aksi teror saat ini. Saya hanya ingin menekankan satu hal:
generasi terorisme lokal sangat berpotensi menjelma terorisme global.
Organisasi lokal adalah cikal-bakal dari organisasi global. Oleh karena itu,
warisan ideologi dan dendam kesumat dari generasi itu harus dipotong secara
tuntas, sembari melakukan antisipasi terhadap munculnya organisasi-organisasi
teror lokal baru di Indonesia. Karena terbawa arus melawan terorisme global,
sebagian masyarakat dan aparat pemerintah justru lengah
terhadap kemunculan organisasi-organisasi teror lokal baru yang dengan leluasa
melakukan kekerasan, pengrusakan, dan penyerangan terhadap kelompok-kelompok
dalam masyarakat yang dianggap berbeda pandangan.
Agar cerita DI/NII dan segala turunannya itu tak terulang lagi, dan agar
organisasi-organisasi lokal tidak bisa dimanfaatkan oleh jaringan global yang
memungkinkan terjadinya aksi-aksi kekerasan seperti yang kita saksikan saat
ini, maka diperlukan ketegasan aparat pemerintah untuk menindak
kelompok-kelompok teror lokal baru diantaranya adalah Negara Islam Indonesia
Komandemen Wilayah Sembilan ( NII KW9 ) yang berpusat di pesantren Al-Zaytun
Indramayu Jawa Barat.
New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/