Selamat pagi Mas Agussyafii,

 

Saya sangat tertarik membaca tulisan-tulisan Mas Agussyafi, semoga kita bisa 
bertemu suatu saat nanti untuk mendengarkan langsung cerita-cerita lainnya.

 

salam,

Bambang N
 


To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Fri, 25 Sep 2009 19:11:01 -0700
Subject: TaManBinTaNG >>> Badut

  



Badut

By: agussyafii

Malam di bulan suci Ramadhan masjid nampak bermandikan cahaya. Riuh anak-anak 
berlarian dijalanan terdengar petasan, pedagang juga meramaikan dengan 
jualannya. Kumandang adzan Isya' sudah lama berlalu. Pengurus masjid 
mengumumkan pemasukan yang diperoleh pada malam kemaren dan juga pengumuman 
yang menjadi Imam sholat tarawih serta penceramah. Parmin duduk  terdiam 
membisu dibarisan belakang tak memperdulikan apapun yang terjadi disekitarnya. 
Bahkan ia menggeleng kepalanya keada seorang laki-laki yang memintanya untuk 
mengisi shaf didepannya yang kosong.

Hampir seminggu pada bulan puasa lalu Parmin tidak lagi bergairah untuk 
bekerja. Setiap hari dia sengaja untuk berangkat lebih siang daripada temannya. 
Tangannya seolah segan memakai topeng badut yang menemani selama hampir 
setahun. Ada sesuatu yang menyesakkan didadanya. Parmin ingin berhenti dari 
pekerjaannya sebagai badut keliling dari kampung ke kampung.

Saya mengenal Parmin sewaktu sholat berjamaah dimasjid. Biasa sehabis maghrib 
Parmin suka membaca al-Qur'an, katanya sambil menunggu adzan Isya, 'tanggung 
mas..' Bila mengaji bacaannya cukup bagus, saya suka mendengarkan, menurut 
pengakuannya dia pernah dipesantren. 'biar jelek-jelek begini aku jebolan 
pesantren lo mas..' tuturnya.  Setahun lalu Parmin terdampar di belantara 
Jakarta. Ketika tertipu calo TKI yang menjanjikan dirinya memberangkat ke Arab. 
Berbekal dengan sedikit bahasa arab yang dipelajari di pesantren Parmin 
memiliki kepercayaan diri untuk menjadi TKI di Arab yang terjadi malah tertipu. 
Maupulang ke kampung malu sementara Parmin tetap harus makan maka dia memilih 
pekerjaan jadi badut keliling. 'Aku iki iso opo to mas? Ya cuman jadi badut 
keliling dari kampung ke kampung.'

'jakarta itu kejam mas Agus..hidup disini bila malu tidak bisa makan. Aku ndak 
merampok, ndak mencuri, kenapa malu? Koruptor aja yang merampok uang rakyat    
nggak malu, aku yang cuman menjadi badut yang berjuang untuk hidup kok malu?' 
Begitu ucapnya berdalih dengan penuh semangat untuk membenarkan apa yang 
dilakukannya. Tetapi belakangan ada perubahan dalam sikapnya sejak Parmin 
mampir di Rumah Amalia melihat anak-anak yang sedang belajar. Terkadang bila 
Parmin habis pulang kerja, saya minta Parmin untuk mampir selalu menjawabnya 
'malu mas sama anak-anak Amalia.'

Parmin pernah bercerita, Dikampung dirinya memiliki adik laki-laki dan 
perempuan. Sejak bapak dan ibunya meninggal, mereka hidup bertiga. Keinginannya 
pergi ke Arab ditentang oleh kedua adiknya. 'Aku sudah bosan hidup begini 
terus.' tukas Parmin pada adik-adiknya. 'aku pengen koyok konco-konco 
kae..pulang bisa bawa motor, hanphone dan barang-barang mewah sehabis pulang 
dari Arab.' lanjutnya.  Dia ingin merubah nasib.  Tapi kini sudah setahun 
berlalu di Jakarta, dadanya mulai disesaki penyesalan. Ternyata dia tidak 
menemukan apa-apa yang ada malah berlumuran dosa, katanya. 'aku ngiri ambek 
sampeyan lo mas. Bisa ngurus anak-anak Amalia.' katanya pada suatu malam.

Setelah lebaran Parmin mengabarkan bahwa tekadnya sudah bulat mau pulang 
kampung saja mengurus anak-anak ngajarin ngaji kayak anak-anak Amalia. 'Mosok 
mau jadi badut seumur hidup? ya ndak to mas. Saya ingin melakukan apa yang 
diajarkan Kanjeng Nabi, Khairunnas anfa'uhum linnas, sebaik-baiknya manusia 
adalah yang berguna bagi orang lain.' Parmin berkemas, topeng badut, rambut 
palsunya, baju gombrong warna-warni telah diberikan temannya. 'Banyak hal yang 
bisa saya lakukan dikampung, selain jadi guru ngaji,  bisa ngurus sawah ama 
ngurus adik-adikku Mas,' kata Parmin.

Siang panas terik, motor melaju dengan kencang. Saya mengantarkan Parmin menuju 
terminal bus Lebak Bulus untuk pulang kampung. Tak terasa sudah sampai. Saya 
hendak membelikan tiket bus namun ditolaknya. Beberapa lembar lima puluh ribuan 
saya sodorkan untuk tambahan tetap ditolaknya, 'mbak rika lebih membutuhkan 
mas..'begitu ucapnya. Airmata tak terasa mengalir begitu saja seolah kehilangan 
saudara. Parmin memeluk saya, mengucapkan terima kasih telah menyadarkan 
dirinya untuk tidak menyerah pada kehidupan. "Matur nuwun mas..aku sudah banyak 
belajar dari mas agus, salam buat mbak Rika, Hana dan anak-anak Amalia.' 
Katanya. Bus tujuan ke Jawa tengah itu telah datang. Parmin berpamitan. 
Meninggalkan kota jakarta kembali ke kampung impiannya yang telah terwujud. 
'Selamat jalan Parmin, selamat berjuang kawan.' ucap saya dalam hati melepas 
bepergiannya.

--
Ayat ini sering dibaca Parmin ketika bulan suci Ramadhan kemaren: 'Orang-orang 
yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Alloh dengan harta benda dan 
diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya disisi Alloh dan itulah orang-orang 
yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan 
rahmatNya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang 
kekal. (QS At-Taubah: 20-21).

Wassalam,
agussyafii

--
Yuk, ikutan tebarkan cinta dan kasih sayang bersama Amalia. Dalam program 
kegiatan 'Cinta Amalia' (CINMA) pada hari Ahad, 11 Oktober 2009 di Rumah 
Amalia. Kirimkan dukungan dan cinta anda di http://agussyafii.blogspot.com atau 
http://www.facebook.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431 

[Non-text portions of this message have been removed]








                                          
_________________________________________________________________
See all the ways you can stay connected to friends and family
http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke