Kebaikan Berbuah Manis

By: agussyafii

Ketika hari berselimutkan gelap, pertanda hari sudah malam. Seorang dokter 
nampak sedang sibuk mengobati luka pasien yang cukup parah. Pasien itu 
terbaring lemah diruang gawat darurat rumah sakit dengan menderita luka tembak 
dibagian lututnya. Dokter muda itu gamang. Tugasnya sebagai dokter harus 
menyelamatkan pasiennya sementara disisi lain dia tahu laki-laki  dengan luka 
tembak itu seorang penjahat yang merampas motor dengan melukai pemiliknya. 

Sang dokter itu masih teringat benar, sebulan yang lalu laki-laki itu pernah 
ditolongnya ketika tubuhnya penuh luka karena dikoroyok masa setelah ketahuan 
mencopet di angkot. Wajahnya berkeringat, keraguannya masih menyelimuti 
dirinya. Keputusannya menyelamatkan nyawa pejahat itu telah membuat bahunya 
terasa menahan beban. 

Saya mengenalnya ketika saya mengantar salah satu anak Amalia sedang sakit. 
Pernah suatu hari dokter muda itu hadir ke Rumah Amalia untuk bersilaturahmi. 
'Sejak usia 4 tahun saya ditinggal ayah saya mas agus, saya dibesarkan ibu 
seorang diri, saya kagum dengan pengorbanan ibu untuk membesarkan kami, 
anak-anaknnya.' Katanya. Air matanya mengalir disaat dokter muda itu bercerita 
ibundanya tercinta. Itulah sebabnya hatinya mudah tersentuh dengan penderitaan 
orang lain.

'Mas Agus, apakah tindakan saya sudah benar menolong penjahat itu? Bagaimana 
bila setelah sembuh dan keluar dari penjara malah penjahat itu lebih kejam?' 
Ucapnya suatu malam di Rumah Amalia.  Saya katakan padanya bahwa apa yang 
dilakukan adalah benar. 'Pak Dokter, Dimuka bumi ini semua orang pada dasarnya 
baik, Prasangka baik kita adalah kekuatan untuk mengubah orang yang tidak baik 
menjadi baik. Jadi perbuatan baik yang telah kita lakukan tidaklah sia-sia.' 
Begitu saya menjelaskan padanya.

Dokter muda itu duduk terdiam, nampak berpikir cukup lama. Saya membiarkannya 
membisu sendiri. Anak-anak Amalia sedang sibuk membaca al-Qur'an. Tak lama 
kemudian dokter muda itu tersenyum, wajahnya berubah gembira. Dia lalu 
mengucapkan hamdalah, 'alhamdulillah, terima kasih Ya Alloh,' ucapnya. 'Saya 
menemukan energi yang begitu luar biasa, terima kasih Mas Agus atas 
pencerahannya.' Dokter muda itupun pamit.

Suatu hari Pak Dokter itu datang ke Rumah Amalia pada hari libur mengajak saya 
pergi kepinggiran kota Jakarta. Awalnya saya mengira hanya sekedar jalan-jalan. 
Kami mampir disebuah warung bakso. warung bakso sederhana, itulah nama warung 
baksonya. Ternyata warung bakso itu penjualnya mantan pasien yang pernah 
ditolongnya. 'Ini lo mas, penjahat yang saya pernah ceritakan tempo hari,' 
bisiknya lirih. Tak lama kemudian dua mangkok bakso telah tersedia untuk kami 
berdua. Penjual yang mantan penjahat itu menghampiri meja kami. 'Insya Alloh 
saya akan mengembangkan warung bakso saya, Pak Dokter. Supaya membantu 
anak-anak muda disekitar sini untuk membuka lapangan pekerjaan.' tuturnya. 
Berkali-kali Penjual bakso yang mantan penjahat itu berkali-kali mengucapkan 
terima kasih karena telah menyelamatkan nyawanya.  Wajah dokter muda terlihat 
gembira karena kebaikannya telah berbuat manis. Subhanallah...

---
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Alloh, dan janganlah kamu 
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena 
sesungguhnya Allloh mencintai orang-orang yang berbuat baik (QS, Al-Baqarah 
[2]: 195).

Wassalam,
agussyafii

--
Mari tebarkan cinta kasih dan kebaikan untuk sesama, 'Berbuat baiklah karena 
Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik (QS, al-Baqarah: 
195).  Dalam Rangka kampanye, 'Cinta Amalia'  Kirimkan dukungan dan komentar 
anda di http://agussyafii.blogspot.com atau http://www.facebook.com/agussyafii 
atau sms di 087 8777 12 431








      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke