Artikel: Kemana Lift Kehidupan Kita Menuju?
 
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
 
Kita semua tentu mengenal lift. Dengan alat itu kita bisa naik atau turun 
tingkat pada sebuah gedung tinggi. Jika kita ingin naik, tinggal menekan tombol 
naik; lalu lift membawa badan kita naik. Jika kita ingin turun, tinggal pencet 
tombol turun; lalu lift itu dengan patuh membawa tubuh kita turun. Secara kasat 
mata, lift membawa kita naik atau turun. Namun, apakah lift juga bisa membawa 
‘diri’ kita menuju ke tingkat yang kita inginkan?
 
Saya pernah berkantor di sebuah gedung perkantoran yang langka di jantung kota 
Jakarta. Gedung itu bernama GKBI yang letaknya persis diseputaran jembatan 
Semanggi. Mengapa saya sebut langka, karena gedung itu memiliki lift yang unik. 
Pada  kebanyakan gedung bertingkat lain, jika kita ingin menuju ke lantai 
tertentu, kita cukup menekan tombol up atau down saja. Jika ada orang lain yang 
sudah menekan tombol itu, maka kita tidak usah bersusah repot lagi untuk 
menekannya. Istilahnya, kita bisa nebeng kepada usaha orang lain, untuk tiba di 
tingkat yang kita inginkan. Ketika salah satu pintu lift akan terbuka. Lalu 
kita memasukinya. Didalam lift itu, barulah kita menekan tombol nomor lantai 
yang hendak kita tuju. Jika ada orang lain yang sudah menekan ke lantai yang 
kita ingin tuju, kita boleh berdiam diri saja. Kita sebut saja system seperti 
ini sebagai lift konvensional.
 
Di gedung GKBI tidak bisa begitu. Karena untuk menuju ke lantai tertentu kita 
harus ‘terlebih dahulu’ menekan nomor lantai yang kita inginkan secara digital 
‘diluar lift’. Setelah itu, sistem canggih tersebut memilihkan untuk kita lift 
mana yang akan membawa kita ke lantai yang kita inginkan. Contohnya, kita 
menekan angka 1 dan 0 untuk menuju ke lantai 10. Maka sistem itu akan 
mengarahkan kita kepada lift P, misalnya. Dan itu berarti bahwa kita harus 
menggunakan lift P untuk bisa sampai ke tempat yang akan dituju.
 
Ketika pintu lift yang bukan P terbuka, maka kita diam saja. Sekalipun lift itu 
masih kosong. Sekalipun kita sedang terburu-buru, kita tetap tidak memasukinya. 
Mengapa? Karena lift itu tidak akan membawa kita ke Lt 10 yang kita tuju. Dan 
karenanya kita akan tetap fokus kepada lift P. Dan kita hanya akan memasuki 
lift P, seperti niat kita semula. Ketika pintu lift P terbuka, kita memasukinya 
tanpa harus menekan apapun lagi. Karena, lift itu akan membawa kita ke lantai 
10 yang kita pilih diawal tadi. Saya menyebutnya lift kontemporer. 
 
Lift konvensional versus lift kontemporer. Di lift konvensional, kita boleh 
saja menyerahkan tujuan hidup kita kepada arus yang diciptakan oleh orang lain. 
Kita boleh ikut orang lain yang sudah terlebih dahulu menekan tombol. Tidak 
masalah apakah tujuan orang itu sama dengan tujuan kita atau tidak. Begitu 
tombol up atau down ditekan oleh orang lain, maka kita tinggal mengikuti 
arusnya saja.
 
Di lift kontemporer, kita tidak bisa lagi melakukan hal itu. Artinya, kita 
tidak bisa mengikuti saja apa yang orang lain lakukan dengan lift itu tanpa 
tahu tujuannya terlebih dahulu. Kita boleh mengikuti orang itu, hanya jika kita 
tahu persis bahwa tujuan orang itu adalah lantai yang sama dengan yang ingin 
kita tuju. Anda tidak boleh mengikuti orang lain jika tujuannya berbeda dengan 
Anda. Bahkan, Anda pun tidak boleh mengikuti orang lain dan menyerahkan tujuan 
Anda kepada orang lain yang Anda tidak tahu apakah tujuannya sama dengan Anda 
atau tidak.
 
Lift konvensional versus lift kontemporer. Di lift konvensional, kita tidak 
perlu merencanakan, kemana kita akan pergi. Di lift kontemporer, kita harus 
merencanakan, kemana kita akan pergi. Sebab, jika kita tidak merencanakan 
kepergian kita, maka begitu memasuki lift kontemporer ini, kita akan langsung 
tersesat. Sebab, lift itu tidak membawa kita ke tempat yang ingin kita tuju. 
Melainkan tempat antah berantah yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
 
Jika lantai yang ingin kita tuju itu adalah ‘tujuan hidup’ kita. Dan jika 
kehidupan kita ini adalah sebuah lift yang akan membawa kita kepada tujuan 
hidup yang ingin kita capai itu, maka kiranya layak jika kita mengajukan 3 
pertanyaan ini:  
 
Pertama, “Apakah kita bisa mengandalkan dan menyandarkan diri kepada orang lain 
yang belum  jelas kemana arah tujuannya?” 
 
Kedua, “Apakah kita bisa memasuki pintu lift peristiwa kehidupan mana saja, 
yang tidak jelas ke lantai kehidupan mana dia akan menuju?”
 
Ketiga, “Apakah kita bisa membiarkan diri kita dibawa oleh lift kehidupan itu 
tanpa harus menentukan terlebih dahulu, lantai dimana tujuan kehidupan kita 
didefinisikan?”
 
Kita tidak selama-lamanya berhadapan dengan lift kehidupan konvensional hingga 
kita boleh saja menyerahkan seluruh kepentingan hidup dan tujuan hidup kita 
kepada orang lain yang sudah terlebih dahulu men-set lift itu. Sebab, ada 
kalanya kita berhadapan dengan lift kehidupan kontemporer. Sehingga kita harus 
benar-benar melakukan sendiri, dan menentukan sendiri; tujuan yang ingin kita 
capai dalam hidup kita.
 
Kita tidak selama-lamanya berhadapan dengan lift konvensional hingga kita boleh 
saja memasuki lift kehidupan manapun yang terbuka lebih dahulu. Sebab, ada 
kalanya kita berhadapan dengan lift kehidupan kontemporer. Sehingga kita harus 
benar-benar fokus, hanya kepada lift kehidupan yang akan membawa kita kepada 
tempat tujuan yang sudah kita rencanakan saja. 
 
Kita tidak selama-lamanya berhadapan dengan lift kehidupan konvensional hingga 
boleh-boleh saja jika kita tidak menekan dan merencanakan tombol tujuan 
kehidupan sebelum memulai perjalanan ini. Karena didalam lift kehidupan 
konvensional, ‘akan ada kesempatan’ untuk menekan tombol itu. Nanti didalam 
lift. Namun, ada kalanya kita berhadapan dengan lift kehidupan kontemporer. 
Sehingga untuk bisa sampai kepada tujuan hidup yang kita inginkan; kita harus 
memulainya dengan merencanakannya terlebih dahulu. Sebab, didalam lift 
kehidupan kontemporer ‘tidak akan ada lagi kesempatan’ untuk menekan tombol 
itu. Semuanya serba terlambat. Dan kita akan segera tersesat. 
 
Namun demikian, lift kehidupan konvensional dan lift kehidupan kontemporer 
memberi kita inspirasi untuk menentukan; kapan saatnya kita boleh mengikuti 
arus yang dibuat oleh orang lain. Dan kapan saatnya untuk mengandalkan 
kemampuan diri kita sendiri. 
 
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator  
http://www.dadangkadarusman.com/  
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
 
Catatan Kaki: 
Kita tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa tak satupun dari pencapaian yang 
kita raih tanpa campur tangan orang lain. Namun, tidaklah masuk akal jika kita 
menyerahkan arah masa depan kita kepada orang lain.
 
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke