Artikel: Menyelami Samudera Kehidupan Kita
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Kengerian macam apa yang membayangi anda ketika berhadapan dengan laut lepas?
Seandainya anda kecebur laut yang penuh ombak itu, kira-kira nasib apa yang
akan anda alami? Jangankan kecebur laut, mendengar debur ombaknya saja rasanya
sudah menggetarkan, bukan? Saat membayangkan betapa luas dan dalamnya lautan,
kita sering dihantui oleh pikiran-pikiran yang menyeramkan. Takut diserang ikan
hiu. Takut tenggelam ditelan gelombang. Dan beragam macam ketakutan lainnya
yang membuat hati kita ciut. Lalu, ingatkah anda bahwa selain untuk
menggambarkan laut luas, kita juga menggunakan kata ’Samudera’ untuk
menggambarkan betapa luas dan misteriusnya kehidupan kita? Kita menyebutnya
’samudera kehidupan’. Jika demikian, apakah hati kita juga diliputi kengerian
saat membayangkan betapa luas dan dalamnya samudera kehidupan ini?
Semua kengerian tentang laut benar-benar membanjiri hati istri saya ketika dia
telah mengenakan pakaian khusus penyelam. Maklum, ini adalah penyelaman pertama
yang dilakukannya. Tetapi, kami meyakinkan dirinya bahwa dibawah sana ada
keindahan yang dihamparkan Tuhan bagi mereka yang bersedia untuk menyelaminya.
Keindahan yang tidak pernah bisa kita tatap dari permukaan air laut yang penuh
gelombang dan tamparan ombak beriak-riak. Keindahan yang hanya bisa kita
nikmati, jika kita bersedia untuk menceburkan diri, dan menyibakkan kengerian
yang menyelimutinya.
”Embaknya kok tegang begitu?” goda instruktur diving yang memandu kami. ”Tenang
saja,Mbak,” katanya lagi. Sembari sekali lagi dia meyakinkan bahwa diving itu
adalah kegiatan yang sangat aman. Saya memegang erat tangan istri saya untuk
mengurangi kecemasan yang mengganggunya. Bagaimanapun juga, untuk ukuran orang
yang pertama kali diving, prestasi istri saya layak diacungi jempol. Gemetaran
sedikit masih bisa dimaklumi.
”Takut ya?” tiba-tiba saja penyakit iseng saya kambuh. Istri saya hanya
mencibir sambil menambah kencang pegangan tangannya ketika boat yang membawa
kami meluncur semakin jauh ke tengah laut. Dan ketika tiba saatnya untuk
menyelam, tidak ada lagi kesempatan untuk berpegangan tangan dengan saya.
Sehingga dia harus benar-benar percaya bahwa dia bisa menyelam bukan hanya
sekedar aman, tetapi juga menyenangkan. Didalam air, saya tidak melihat
ketegangan menyelimuti dirinya. Mungkin beragam ikan warna-warni yang
mengerubutinya telah memakan habis ketegangan itu. Meski tanpa kata, saya bisa
merasakan bahwa istri saya sangat menikmatinya. Sampai-sampai kantong plastik
berisi roti yang menjadi umpan ikan terlepas dari tangannya. Seekor ikan besar
menyambar dan membawanya pergi. Untung instrukturnya berbaik hati memberikan
umpan miliknya sehingga istri saya masih bisa merayu ikan-ikan itu untuk datang
mendekat.
Setelah penyelaman itu, sama sekali tidak terlihat ketegangan yang sebelumnya
saya baca diseluruh tubuhnya. Yang ada hanya tawa dan cerita ini itu tentang
pengalaman menakjubkan yang baru saja didapatkannya. Terlebih lagi tentang ikan
besar yang memiliki dua gigi menonjol dimulutnya. Istri saya bilang, ikan itu
cantik. Bahkan dia mengatakan kalau ikan itu seperti memiliki alis mata yang
diukir. Juga tentang pesona ikan- ikan yang cantik seolah mengenakan kosmetik.
Serta sejuta kisah lainnya dalam penyelaman itu. Diam-diam, saya bertanya pada
diri sendiri;”pergi kemana semua kengerian yang pernah menakuti dirinya?”
Tiba-tiba saja, saya jadi teringat akan Samudera Kehidupan kita. Mengingat
betapa luasnya ia, kita sering ngeri dibuatnya. Kita sering dibayangi oleh
ketakutan akan ada hal-hal mengerikan dalam hidup kita, seperti kita takut akan
ada hiu yang siap menyerang. Mengingat betapa misteriusnya dia, kita sering
khawatir atas apa yang akan terjadi esok. Mengingat betapa penuh teka-tekinya
dia, kita sering tidak berani melakukan sesuatu untuk menemukan keindahan hidup
yang sesungguhnya. Seperti ketakutan yang menyelimuti hati istri saya ketika
dia harus terjun ke laut lepas. Padahal, seandainya dia memutuskan untuk tidak
melakukannya, maka dia tidak akan pernah bisa bercerita tentang alis mata
ikan-ikan yang memanjakannya itu.
Ketika membayangkan untuk terjun ke laut, istri saya begitu takut. Namun,
setelah menyelam kedalamnya, dia seolah enggan untuk kembali ke perahu. Karena
ternyata, didalam laut yang membuat kita takut itu, terdapat keindahan yang
tiada terlukiskan. Ketika membayangkan untuk terjun kedalam samudera kehidupan,
kita sering begitu takut. Kita takut tidak bisa menyelam didalamnya. Kita takut
terseret gelombangnya. Kemudian tenggelam. Dan tidak bisa kembali ke permukaan.
Padahal, boleh jadi; dikedalaman samudera kehidupan kita yang penuh misteri
itulah keindahan hidup kita tersimpan. Sebab, seperti kita memandang lautan
dari atas; kita hanya mampu melihat deburan ombak dan hamparan gelombang. Kita
sama sekali tidak bisa melihat keindahan yang mereka sembunyikan dibawahnya.
Demikian pula halnya dengan hidup kita. Jika kita hanya berani memandang
permukannya saja; mungkin kita hanya bisa melihat gelombang-gelombang yang
mendebarkan. Kita sama sekali tidak bisa
melihat apa yang disembunyikan didalam gelombang kehidupan itu, jika kita
tidak bersedia untuk masuk kedalamnya.
Sungguh, laut itu indah. Namun, keindahan sesungguhnya hanya bisa kita temukan
ketika kita menyelam masuk kedalamnya. Sungguh, hidup ini indah. Namun, boleh
jadi keindahan hidup sesungguhnya hanya bisa kita temukan ketika kita bersedia
benar-benar menceburkan diri kedalam kehidupan itu sendiri. Sebab, seperti apa
yang kita alami sewaktu menyelam. Pemandangan didalam air, sungguh sangat
berbeda dari apa yang terlihat dipermukaan. Oleh karena itu, untuk menemukan
keindahan sesungguhnya dari hidup ini, barangkali; tidaklah cukup hanya dengan
melihat dan menjelajahnya dipermukaan saja. Barangkali, kita harus bersedia
’menahan nafas’ lalu terjun kedalam. Meskipun beresiko. Sekalipun pada awalnya
tidak nyaman. Namun, ketika kita sudah sampai kedalam, kita akan menemukan
sejatinya sebuah keindahan. Dan begitu kita berhasil menemukannya, kita menjadi
tahu bahwa keindahan itu tidak bisa didapatkan jika kita bersikukuh untuk tetap
tinggal dipermukaan.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator
http://www.dadangkadarusman.com/
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta
Catatan Kaki:
Kita sering menilai hidup ini dari tampak luarnya yang penuh dengan gelombang.
Padahal seperti laut, keindahan sesungguhnya dalam hidup akan ditemukan ketika
kita bersedia menyelaminya.
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo
atau gmail) lalu kirim ke [email protected]
[Non-text portions of this message have been removed]